Saturday, July 23, 2016

INILAH DAKWAH KAMI, AKIDAH KAMI, AKIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah

1. Kita beriman kepada Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menurut apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa tahrif (menyimpangkan maknanya), mentamsil (memisalkan dengan makhluk), mentasybih (menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa menta’til (meniadakan atau menghapus sifat itu dari Allah)

2. Kita berkeyakinan bahawa berdo’a kepada orang mati, meminta tolong kepada mereka dan begitu juga terhadap orang yang masih hidup pada masalah yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah adalah syirik. Begitu juga keyakinan terhadap azimat-azimat, bahawa ia dapat memberikan manfaat bersama Allah atau tanpa Allah adalah syirik. Dan membawanya tanpa keyakinan adalah khurafat.

3. Kita berpegang dengan zahir ayat dan Sunnah. Kita tidak menta’wilkannya kecuali ada dalil yang membolehkan untuk melakukan itu dari Al-Qur’an dan Sunnah.

4. Kita beriman bahawa kaum mukminin akan melihat Rabb (Tuhan) mereka pada Hari Akhir tanpa mentakyif (menanyakan bagaimana). Dan kita beriman dengan syafa’at dan akan dikeluarkan orang-orang yang bertauhid dari neraka.

5. Kita mencintai para Sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan membenci orang-orang yang mencela mereka. Kita meyakini bahawa menghina mereka bererti menghina agama ini. Ini kerana merekalah yang membawanya kepada kita. Kita mencintai Ahlul Bait Nabi dengan kecintaan yang berdasar syariat.

6. Kita mencintai Ahlul Hadis dan seluruh para salaf (pendahulu) umat ini dari kalangan Ahlus Sunnah.

7. Kita membenci Ilmu Kalam. Dan kita berkeyakinan bahawa ia adalah penyebab terbesar perpecahan umat ini.

8. Kita tidak menerima keterangan dari kitab-kitab fekah, tafsir, cerita-cerita lampau dari sejarah Nabi sallallahu alaihi wa sallam, kecuali yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukan bererti kita membuangnya dan tidak perlu kepadanya, tetapi kita mengambilnya dari kesimpulan para ulama kita yang faham dan yang selain mereka. Dan kita tidak menerima hukum kecuali yang berdasarkan hujah yang sahih.

9. Kita tidak menulis dalam kitab-kitab dan pelajaran-pelajaran kita serta kita tidak berkhutbah kecuali dengan Al-Qur’an atau Hadis yang sahih untuk berhujah. Kita membenci apa yang terdapat dalam kebanyakan kitab-kitab para pemberi nasihat, iaitu cerita-cerita bohong dan hadis-hadis lemah, bahkan palsu.

10. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim kecuali kerana kesyirikan atau kerana meninggalkan solat atau murtad. Semoga Allah melindungi kita dari perkara-perkara tersebut.

11. Kita beriman bahawa Al-Qur’an adalah Kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk

12. Kita berpendapat wajib saling tolong-menolong sesama muslim mana sahaja dalam kebenaran. Dan kita berlepas diri dari dakwah-dakwah jahiliyah.

13. Kita berpendapat tidak boleh memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin selama mereka masih muslim. Kita tidak berpendapat bahawa revolusi adalah cara yang membawa kebaikan, bahkan itu adalah cara yang merosak masyarakat. Adapun sikap kita terhadap penguasa ‘Aden (Penguasa yg berhaluan komunis/sosialis), maka kita berpendapat bahawa memerangi mereka adalah adalah wajib hingga mereka mahu bertaubat dari penyelewengan mereka iaitu sosialisme dan mengajak manusia untuk beribadah kepada Lenin, Karl Mark dan tokoh-tokoh kafir lainnya.

14. Kita berpendapat bahawa jama’ah-jama’ah yang baru dan banyak sekarang ini adalah penyebab perpecahan kaum muslimin dan yang melemahkan mereka.

15. Kita berpendapat bahawa dakwah "Ikhwan Muslimin" tidak sesuai dan tidak baik untuk membaiki masyarakat, kerana dakwah mereka adalah dakwah politik, bukan dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki jiwa. Dan ia juga dakwah bid’ah, kerana ia adalah dakwah untuk membai’at orang-orang jahil. Dan dakwah "Ikhwan Muslimin" juga adalah dakwah fitnah, kerana berdiri dan berjalan diatas kejahilan.

Kita menasihati sebahagian teman-teman kita yang masih bekerja di dalamnya agar mereka segera meninggalkannya, hingga dengan itu dia tidak mensia-siakan waktunya pada masalah yang tidak bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Serta wajib bagi setiap muslim meyakini bahawa Allah akan menolong Islam dan kaum muslimin melalui mana-mana sahaja tangan muslim dan juga mana-mana jama’ah.

16. Adapun tentang "Jama’ah Tabligh", silakan Anda membaca penuturan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wusobi, beliau berkata:

  1. Mereka mengamalkan hadis-hadis dhaif (lemah), maudhu’ (palsu) dan yang tidak ada asalnya.
  2. Tauhid mereka penuh dengan bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah kerana dakwah mereka dasarnya adalah Al-Faqra iaitu khuruj (keluar). Dan ini diwajibkan setiap bulan 3 hari. Setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan. Setiap minggu ada 2 Jaulah…Jaulah pertama di masjid yang didirikan solat padanya. Dan yang kedua berpindah-pindah. Di setiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang didirikan solat padanya. Yang kedua di rumah. Mereka tidak senang terhadap seseorang kecuali bila ia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahawa ini adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan oleh Allah.
  3. Mereka berpendapat bahawa dakwah kepada tauhid itu memecah belah.
  4. Mereka berpendapat bahawa mengajak manusia kepada sunnah itu memecah belah umat.
  5. Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahawa: bid’ah yang dapat mengumpulkan manusia lebih baik daripada Sunnah yang memecah belah manusia.
  6. Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara halus atau terang-terangan.
  7. Mereka berpendapat bahawa manusia tidak akan selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang tidak naik akan hancur. Mereka berkata: "Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh." Saya sendiri yang mendengarkannya di Jordan dan di Yaman.
  8. Mereka tidak menaruh perhatian terhadap Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat.
  9. Mereka tidak mahu menuntut ilmu dan berpendapat bahawa waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu hanya sia-sia belaka

17. Kita mengikat pemahaman kita dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan pemahaman Salaf (pendahulu) umat ini dari kalangan ahli hadis tanpa fanatik terhadap individu mereka, tetapi kita mengambil kebenaran dari orang yang membawanya. Kita tahu ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Salafi (pengikut Salaf), padahal Salaf berlepas tangan dengan mereka, sebab dia berteman dengan orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah

18. Kita berkeyakinan bahawa politik termasuk dalam bahagian dari agama ini. Dan orang-orang yang memisahkan antara agama dan politik berarti ingin menghancurkan Dien (agama) ini dan ingin menyebarkan kekacauan seperti yang terjadi disebagian negeri kaum muslimin. Mereka mengatakan “Agama untuk Allah dan negara untuk bersama”. Ini adalah slogan-slogan jahiliyah

19. Kita berkeyakinan bahwa tidak ada izzah (kemuliaan) dan pertolongan bagi kaum muslimin, hingga mereka mau kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

20. Kita membenci kelompok-kelompok baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar dari Islam. Kita berpendapat bahwa manusia sekarang menjadi 2 golongan, yaitu golongan Hizbur Rahman (kelompok Allah), yaitu orang-orang yang melaksanakan rukun-rukun Islam dan Iman tanpa menolak sedikitpun syariat Allah, dan Hizbusysyaithan (kelompok setan), yaitu yang memerangi syariat-syariat Allah

21. Kita mengingkari orang yang membagi agama menjadi “kulit” dan “inti”. Dan ini adalah dakwah yang menghancurkan

22. Kita mengingkari orang yang merasa tidak butuh kepada ilmu Sunnah dan mengatakan “Ini bukan waktu mempelajarinya”. Beginilah orang yang enggan mengamalkan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

23. Kita berpendapat handaknya kita mendahulukan yang paling penting dari yang penting. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh memperbaiki aqidah, kemudian membinasakan komunisme dan Ba’tsiyyah dan itu bisa tercapai dengan persatuan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

24. Kita berpendapat bahwa jama’ah yang merangkul Rafidhah, Syi’ah, Sufi, dan Sunni tidak bisa menghadapi musuh karena itu tidak akan tercapai kecuali dengan ukuwwah (persaudaraan) yang jujur dan persatuan dalam aqidah

25. Kita mengingkari orang yang berkata dan menyangka bahwa para da’i yang mengajak manusia kembali kepada Allah adalah orang-orang Wahhabi. Kita tahu bahwa mereka memiliki maksud yang sangat jijik dan kotor yaitu ingin memisahkan para ulama dengan masyarakatnya

26. Dakwah kita dan aqidah kita lebih kita cintai dari diri-diri, harta-harta dan anak-anak kita. Kita tidak akan rela menjualnya dengan emas dan uang…Kita suarakan terus dakwah ini sampai pupus harapan orang yang ingin memperalat dakwah ini. Dia mengira dia bisa mendikte kita dengan uang dan harta. Oleh sebab ini, mereka menjadi putus asa untuk membujuk kita dengan harta dan kedudukan

27. Kita membenci pemerintah-pemerintah yang ada, sekedar (sesuai dengan) kejahatan yang mereka lakukan dan kita mencintai sekedar (sesuai dengan) kebaikan yang ada padanya. Kita tidak boleh memberontak kecuali bila kita telah melihat adanya kekafiran yang jelas pada pemerintahan-pemerintahan itu berdasarkan burhan (bukti nyata) dari Allah

Pemerintah yang paling kita benci sekarang adalah pemerintahan ’Aden yang berhaluan komunis lagi Atheis, semoga Allah segera membinasakannya dan menyucikan negeri-negeri Islam darinya

28. Kita menerima bimbingan dan nasehat dari siapa saja, karena kita adalah para penuntut ilmu yang bisa benar dan salah

29. Kita mencintai Ulama Sunnah yang hidup sekarang. Dan kita ingin mengambil faedah dari mereka. Dan kita merasa sedih karena kejumudan sebagian mereka

30. Kita tidak menerima fatwa kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang tsabit (kokoh)

31. Kita mengingkari kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dan sektor lainnya dengan adanya usaha mengunjungi kuburan Lenin dan tokoh-tokoh sesat lainnya untuk menghormati mereka

32. Kita mengingkari pemerintah muslim yang melakukan kerja sama dengan musuh-musuh Islam, baik itu antek-antek Amerika atau komunis

33. Kira mengingkari dakwah-dakwah jahiliyah seperti kesukuan dan fanatisme Arab. Kita menggolongkannya sebagai dakwah-dakwah jahiliyah dan termasuk sebab yang memundurkan umat Islam

34. Kita menunggu seorang mujaddid yang Allah akan memperbaharui agama ini melaluinya. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam sunannya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi umat ini disetiap 100 tahun orang yang akan memperbaharui untuk mereka agama mereka” Dan kita berharap agar kebangkitan Islam menjadi mudah karenanya

35. Kita berkeyakinan bahwa orang yang mengingkari hadits tentang Al-Mahdi dan Dajjal serta turunnya Isa bin Maryam adalah sesat. Dan bukan yang kita maksudkan imam Mahdi dari kalangan Rafidhah, akan tetapi dari Ahlul bait Nabi yang tergolong Ahlus Sunnah. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi ini telah dipenuhi dengan kezaliman. Kita katakan “yang tergolong Ahlus Sunnah”, karena orang yang mencela Sahabat tidak dianggap adil

36. Ini sekilas tentang aqidah dan dakwah kita. Kalau disebut dengan dalil akan memperpanjang kitab ini. Dan telah kusebut dengan panjang lebar dalam kitab “Al-Makhraj minal Fitnah”. Dan siapa yang memiliki keyakinan yang sebaliknya dari yang telah kita sebutkan ini, maka kami bersedia menerima nasehat jika dia benar dan kami bersedia berdebat jika dia salah serta berpaling darinya jika dia membangkang

Ini yang perlu kita ketahui. Dan ini bukan seluruh dakwah dan aqidah kita, karena dakwah kita berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dan mengajak kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Demikianlah aqidah ini. Cukup Allah bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik tempat bertawakal. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

(Diambil dari kitab “Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna hal 11-23 dan dialihbahasakan oleh Muhammad ‘Ali ‘Ishmah Al-Medani).

Sumber: http://sunniy.wordpress.com/2008/05/14/inilah-dakwah-kita-dan-aqidah-kita-ahlus-sunnah-waljamaah/ 

Tuesday, April 26, 2016

TUHAN YANG MAHA MEMELIHARA

Allah SWT berfirman:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

Sesiapa yang memberikan syafaat yang baik nescaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya; dan sesiapa yang memberikan syafaat yang buruk, nescaya ia akan mendapat bahagian (dosa) daripadanya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Surah An-Nisa' 4: 85)

Al-Muqit bermaksud Dialah (Allah) yang Maha memelihara segala sesuatu di atas 'ArasyNya. Dia mempunyai kesempurnaan yang mutlak di dalam memberikan makanan dan mengagihkan rezeki makhlukNya. Dia memberi makan dan rezeki kepada setiap makhluk sesuai mengikut batas-batas yang telah ditetapkanNya, yang sepadan dengan kuantiti dan kualiti makhlukNya, sejalan dengan hikmahNya.

Ada yang Allah berikan kepada makhluk makanan asasnya yang mencukupi untuk jangka waktu yang lama. Ada juga yang hanya cukup dalam jangka waktu yang singkat. Boleh juga Allah mengujinya dengan tidak diberikan makanan kecuali cukup dalam jangka waktu yang sangat singkat. Boleh juga Allah mengujinya dengan tidak diberikan makanan kecuali melalui kepayahan yang sangat berat. Allah SWT menciptakan makanan dengan pelbagai jenis dan warna serta memudahkan cara untuk mengambil manfaat daripadanya bagi manusia dan haiwan. Allah SWT juga Maha Memberi rezeki makanan untuk hati, melalui ilmu pengetahuan dan keimanan.

Seorang Muslim yang mengesahkan Allah dengan nama ini dia seharusnya memberikan kesan kepada segenap kaum Muslimin secara umumnya, seperti kepercayaan dan keyakinan bahawa pada hakikatnya makanan iu bersumber daripada Allah, Tuhan semesta alam.

Bahkan ketika sedang ditimpa bencana dan semputnya jalan untuk melakukan usaha mencari rezekiz, seorang Muslim seharusnya memanfaatkan makanan utamanya sebagai makanan yang seimbang. Ertinya tidak terlalu kedekut dan tidak pula terlalu berlebih-lebihan. Allah memerintahkan untuk bersikap pertengahan di dalam segala sesuatu, dan bersabar di atas rasa lapar sebagai ujian yang tidak boleh dihindari oleh manusia. Allah tidak memerintahkan untuk memaparkan diri dan menyeksa tubuh badan dengan meninggalkan makan. Makan itu ada waktunya menjadi wajib, jika sekadar untuk meluruskan tulang,dan menjadi sunat jka sekadar untuk mendapatkan rasa kenyang sehingga memberikannya kekuatan untuk bergerak dan bekerja, serta menjadi makruh ketika melebihi itu semua. (Dr. Mahmud Abdurrazak Al-Ridhwani (2005), Ad-Du'aau bil-Asmaail Husna, ms 97).

Di antara doa yang sesuai dengan nama ini adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: "Barang siapa yang Allah berikan makanan kepadanya, hendaklah dia berdoa:

اللهم بارك لنا فيه وارزقنا خيرا منه

Ya Allah! Berkatilah kami pada makanan ini dan berikanlah kepada kami rezeki yang lebih baik daripada ini." (As-Silsilatu As-Sahihah, no: 2320)

Semoga kita dapat manfaat bersama.

Wednesday, February 10, 2016

Hadis Abu Hurairah Ada yang Hilang?


Segudang Hadis Abu Hurairah yang Hilang?

Benarkah ada hadis Abu Hurairah yang hilang? Dalam arti secara sengaja tidak disampaikan Abu Hurairah.

Dan benarkah alasan orang sufi bahwa itu dalil adanya ilmu batin.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ

Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua bejana ilmu. untuk satu bejana sudah saya sampaikan kepada kalian. Untuk bejana yang kedua, andai saya sampaikan kepada kalian maka kepalaku akan dipenggal. (HR. Bukhari 120)

Dalam riwayat lain, orang-orang mengkritik Abu Hurairah,

أَكْثَرْتَ أَكْثَرْتَ

“Kamu terlalu banyak menyampaikan hadis.”

Lalu Abu Hurairah mengatakan,

فَلَوْ حَدَّثْتُكُمْ بِكُلِّ مَا سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَرَمَيْتُمُونِي بِالْقَشْعِ ، وَلَمَا نَاظَرْتُمُونِي

Andai aku sampaikan semua yang pernah aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kalian  akan melempariku dan kalian tidak akan mendebatku. (HR. Ahmad 10959 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Hadis Apa Yang Disembunyikan Abu Hurairah?

Hadis yang disembunyikan Abu Hurairah bukanlah hadis yang berkaitan tentang hukum. Tapi hadis yang berkaitan dengan fitnah dan kejadian di masa mendatang. Yang informasi ini sama sekali tidak mempengaruhi agama seseorang. Dalam arti, ketika orang itu tahu, tidak akan menambah ketaqwaannya kepada Allah. bahkan bisa jadi, jika masyarakat awam itu tahu, justru akan menimbulkan kekacauan di tengah mereka.

Seperti, besok akan terjadi pemberontakan, pembunuhan, si A membnuh si B, ada fitnah di Karbala, fitnah peperangan, dst.

Berita-berita fitnah ini, ketika hanya diketahui oleh orang yangn berilmu maka akan berada di posisi aman. Namun jika dipegang orang bodoh, akan bisa membahayakan. Karena itulah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merahasiakannya sampai beliau meninggal. Karena jika beliau sampaikan, bisa jadi beliau akan dibunuh.

Al-Qurthubi mengatakan,

قال علماؤنا : وهذا الذي لم يبثه أبو هريرة وخاف على نفسه فيه الفتنة أو القتل إنما هو مما يتعلق بأمر الفتن ، والنص على أعيان المرتدين ، والمنافقين ، ونحو هذا مما لا يتعلق بالبينات والهدى ، والله تعالى أعلم

Para guru kami mengatakan, “Ilmu yang tidak disebarkan Abu Hurairah dan beliau khawatir akan terkena fitnah dengannya atau bahkan dibunuh, adalah pengetahuan tentang masalah fitnah yang akan terjadi. Atau keterangan  tentang orang-orang yang murtad, nama-nama orang munafik. Dan ilmu semacam ini tidak ada kaitannya dengan agama dan petunjuk taqwa. Allahu a’lam.” (al-Jami’ Li Ahkam al-Quran, 2/186).

Keterangan semisal juga disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar,

حمل العلماء الوعاء الذي لم يبثه على الأحاديث التي فيها تبيين أسامي أمراء السوء وأحوالهم وزمنهم ، وقد كان أبو هريرة يكني عن بعضهم ولا يصرح به خوفا على نفسه منهم

Para ulama memahami bahwa hadis-hadis yang tidak disebarkan Abu Hurairah, adalah hadis yang menyebutkan tentang nama-nama pemimpin yang jelek, keadaan mereka dan kondisi zaman ketika pemimpin itu berkuasa. Abu Hurairah terkadang menyebutkan sebagiannya secara isyarat dan tidak beliau tegaskan, karena beliau khawatir akan menimbulkan kekacauan di masyarakat dan ancaman masyarkat kepadanya.

Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan pendapat yang lain,

وقال غيره : يحتمل أن يكون أراد مع الصنف المذكور ما يتعلق بأشراط الساعة وتغير الأحوال والملاحم في آخر الزمان ، فينكر ذلك من لم يألفه ، ويعترض عليه من لا شعور له به

Ulama lain mengatakan, kemungnkinan, yang dimaksud dengan ilmu yang disembunyikan adalah informasi terkait tanda-tanda kiamat. Terjadi perubahan besar dan kekacauan di akhir zaman. Sehingga jika disampaikan akan diinkari orang yang tidak bisa menerimannya, dan ditolak oleh orang yang tidak menyadarinya. (Fathul Bari, 1/216)

Bukankah ini Menyembunyikan Ilmu?

Menyembunyikan ilmu dalam arti menyembunyikan kebenaran adalah sesuatu yang tercela. Bahkan ini karakter Yahudi. Allah berfirman menceritakan karakter Yahudi,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang Kami turunkan, setelah kami jelaskan kepada umat manusia dalam al-Kitab, mereka itulah orang yang dilaknat Allah dan dilaknat semua yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

Namun yang dimaksud menyemnunyikan ilmu di sini adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah iman dan hukum, yang jika orang itu tidak tahu, dia akan terjerumus ke dalam kesesatan atau dia akan melanggar syariat.

Sementara menyembunyikan ilmu dan informasi agama yang tidak ada hubungannya dengan ketaqwaan, orang tidak tahu sekalipun, tidakan akan membat dia jadi sesat atau melanggar syariat, maka menyembunyikan ilmu semacam ini tidak tercela.

Sebagaimana yang dialami Hudzaifah bin al-Yaman. Beliaulah satu-satunya sahabat yang mengetahui daftar oranng munafik di Madinah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, hanya Hudzaifah satu-satunya sahabat yang tahu daftar orang munafik di Madinah. Namun sampai Hudzaifah meninggal, beliau tidak membocorkan pengetahuan itu kepada orang lain. Karena itulah Hudzaifah digelari, ‘Shohibu sirrn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Ketika ad-Dzahabi menjelaskan tentang sikap Abu Hurairah ini, beliau mengatakan,

هذا دال على جواز كتمان بعض الأحاديث التي تحرك فتنة في الأصول أو الفروع ، أو المدح والذم ، أما حديث يتعلق بحل أو حرام فلا يحل كتمانه بوجه ، فإنه من البينات والهدى

Sikap Abu Hurairah ini dalil bolehnya menyembunyikan hadis yang bisa menimbulkan fitnah di masyarakat, baik terkait prinsip atau masalah cabang, isinya pujian atau celaan. Adapun hadis yang terkait masalah halal-haram, jelas tidak boleh disembunyikan sama sekali. Karena ini bagian dari ilmu dan kebenaran. (Siyar A’lam Nubala, 2/597)

Pengakuan Orang Sufi

Orag sufi mengklaim bahwa hadisnya Abu Hurairah adalah hadis tentang wihdatul wujud atau ilmu bathin yang hanya diwariskan kepada wali-wali sufi. Mereka tidak pernah belajar hadis, tapi ngaku punya hadisnya Abu Hurairah melalui ilmu bathin. Kata para ulama, alasan ini dalam rangka menghiasi kebodohan sufi terhadap ilmu agama, agar mereka terlihat berilmu.

Benarlah apa yang disampaikan Imam as-Syafii,

أسس التصوف على الكسل

Ajaran-ajaran sufi dibangun di atas prinsip malas. (Hilyatul Auliya, 9/137)

Dalam islam tidak ada pembagian ilmu bathin dan ilmu dzahir. Karena semua ilmu yang berkaitan dengan iman dan taqwa seseorang, wajib untuk disampaikan.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil keterangan Ibnul Munayir,

قال ابن المنير : جعل الباطنية هذا الحديث ذريعة إلى تصحيح باطلهم ، حيث اعتقدوا أن للشريعة ظاهرا وباطنا ، وذلك الباطن إنما حاصلة الانحلال من الدين

Ibnul Munayir mengatakan, kelompok sufi bathiniyah menjadikan hadis Abu Hurairah ini sebagai alasan untuk membenarkan kesesatan mereka, di mana mereka meyakini bahwa syariat dibagi dua: lahir dan batin. Dan ilmu yang bathin itu, terpisah dari agama. (Fathul Bari, 1/216).

Keterangan lain disampaikan Syaikh Rasyid Ridha,

فجهلة المتصوفة يزعمون أن ما عندهم من علم الحقيقة هو من قبيل ما في الوعاء الآخر من وعاءي أبي هريرة ، وبعضهم يظن أن لشيوخهم سندا في تلقي علم الباطن ، ينتهي إلى بعض الصحابة أو أئمة آل البيت عليهم الرضوان . والذي عليه المحققون أن أبا هريرة يعني بما كتم من الحديث أحاديث الفتن

Orang bodoh di kalangan sufi menganggap bahwa ilmu batin yang mereka miliki itu bersumber dari bejana Abu Hurairah yang tidak beliau sampaikan. Sebagian mereka bahkan meyakini bahwa imamnya (tokoh sufi) memiliki sanad dalam menerima ilmu batin yang sampai kepada sebagian sahabat dan imam ahlul bait radhiyallahu ‘anhum.

Padahal yang dijelaskan para ulama ahli tahqiq, bahwa hadis yang disembunyikan Abu Hurairah adalah hadis-hadis tentang fitnah. (Tafsir al-Manar, 6/390).

Allahu a’lam..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Wednesday, November 18, 2015

KEIMANAN IBUBAPA RASULULLAH S.A.W

Pada suatu pagi, saya membelek-belek surat khabar semalam yang tak sempat dibaca. Tiba-tiba saya terbaca suatu artikel yang mengatakan bahawa ibu bapa Rasulullah s.a.w. adalah di kalangan Ahli Fatrah yang beriman dan tidak kafir. Tidak lama selepas itu sayapun membuat sedikit pencarian di dalam alam maya dan saya dapati memang ada di kalangan umat manusia yang berkepercayaan demikian iaitulah golongan al-Syi'ah di samping sebahagian ulama Ahli al-Sunnah wa al-Jama'ah. Teringat saya kepada beberapa hadith yang sahih membincangkan perkara ini, lalu saya membuat carian lagi dan saya mendapati pendapat JUMHUR (di antaranya ialah al-Imam al-Nawawi) ialah ibu bapa Rasulullah s.a.w. bukan di kalangan Ahli Fatrah dan mereka tidak beriman. Saya terpanggil di sini untuk mengemukakan soal jawab tersebut yang telah pun saya terjemahkan agar dapat dimanfaatkan bersama:

(Sumber dirujuk dahulu dan juga pada 3 Mac 2010: http://www.islamqa.com/ar/ref/47170):

Adakah ibu bapa Rasulullah s.a.w. di dalam syurga atau neraka? Kami mohon jawapan berdasarkan hadith yang menunjukkan perkara tersebut.

Segala puji bagi Allah jua.
Terdapat hadith daripada Nabi s.a.w. yang menunjukkan kedua ibu bapanya berada dalam neraka.

1. Muslim (203) meriwayatkan dengan sanadnya daripada Anas r.a. bahawa seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?" Jawab Nabi, "Di dalam neraka." Apabila lelaki itu berpusing untuk pergi, Baginda memanggilnya lalu berkata, "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka."

Berkata al-Imam al-Nawawi r.a.:

"Petunjuk dalam hadith ini: bahawa sesiapa yang mati dalam keadaan kafir maka dia di dalam neraka dan dia tidak dapat disyafaatkan oleh hubungan kekeluargaan ahli keluarganya yang dekat. Petunjuk lain: bahawa sesiapa yang mati dalam tempoh 'fatrah' berdasarkan amalan masyarakat Arab yang menyembah berhala maka dia adalah di kalangan ahli neraka; ini bukan merupakan hukuman sebelum tibanya dakwah kerana sesungguhnya mereka itu telahpun sampai dakwah Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lain kepada mereka a.s. "

2. Muslim (976) meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu Hurairah katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, "Aku telah meminta izin Tuhanku agar aku boleh meminta ampun untuk ibuku tetapi Dia tidak mengizinkan untukku. Aku juga telah meminta izinNya agar aku dapat menziarahi kuburnya lalu Dia mengizinkan untukku."

Berkata Pengarang 'Awn al-Ma'bud:

"tetapi Dia tidak mengizinkan untukku" kerana ibunya adalah kafir dan meminta ampun untuk orang kafir adalah dilarang."

Berkata al-Imam al-Nawawi:

"Petunjuk dalam hadith ini: larangan meminta ampun untuk orang-orang kafir."

Berkata Shaykh Bin Baz r.a.:

"Apabila Nabi s.a.w. berkata "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka," baginda menyebutnya berdasarkan ilmu, kerana baginda s.a.w. tidak menuturkan sesuatu berdasarkan hawa nafsu, seperti yang disifatkan Allah tentangnya dalam firmanNya {1. Demi bintang semasa ia menjunam, -2. rakan kamu (Nabi Muhammad yang kamu tuduh dengan berbagai tuduhan itu), tidaklah ia menyeleweng (dari jalan yang benar), dan ia pula tidak sesat (dengan kepercayaan yang salah). 3. dan ia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri. 4. Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadaNya.} (Surah al-Najm 53:1-4).

Jika tidak kerana Abdullah bin Abdul Muttalib yang merupakan ayah Nabi s.a.w. telah tertegak hujah ke atasnya, pasti Nabi s.a.w. tidak akan mengatakan tentangnya seperti itu. Maka kemungkinan telah sampai kepadanya perkara yang menegakkan hujah daripada agama Nabi Ibrahim s.a.w. Ini kerana mereka iaitu masyarakat Arab dahulunya mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim sehingga mereka membuat amalan baru yang dipelopori oleh Amr bin Luhayy al-Khuza'i. Amalan Amr telah berleluasa dalam masyarakat; iaitu penyebaran patung-patung dan berdoa kepadanya bukan kepada Allah.

Kemungkinan yang ada ialah Abdullah (Ayah Rasulullah) telah sampai kepadanya maklumat bahawa apa yang diamalkan Quraish iaitu penyembahan patung-patung adalah batil akan tetapi dia tetap mengikuti mereka; dengan ini telah tertegaklah hujah ke atasnya. Begitu jugalah keadaanya dengan hadith yang menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah meminta izin untuk meminta ampun untuk ibunya tetapi tidak diizinkan Allah, kemudian Baginda meminta izin untuk menziarahi kubur ibunya lalu diizinkan Allah; tidak dibenarkan Baginda meminta ampun untuk ibunya, berkemungkinan kerana telah sampai kepada ibunya penjelasan yang tertegak dengannya hujah. Ataupun kerana urusan orang-orang jahiliyyah adalah seperti urusan orang kafir pada hukum-hukum dunia di mana tidak didoa untuk mereka dan tidak juga diminta ampun untuk mereka kerana pada zahirnya mereka adalah kafir dan mereka pada zahirnya bersama orang-orang kafir lalu urusan mereka adalah urusan orang kafir, dan kesudahan mereka di akhirat nanti diserahkan kepada Allah jua." Fatawa Nur 'ala al-Darb.

Al-Imam al-Suyuti r.a. berpendapat bahawa kedua ibu bapa Rasulullah s.a.w. selamat daripada kebinasaan di mana Allah Ta'ala telah menghidupkan mereka selepas mereka wafat dan mereka telah beriman dengannya. 

Pendapat ini adalah pendapat yang disanggah oleh kebanyakan ahli ilmu. Mereka menghukum hadith-hadith yang mengatakan demikian sebagai samada hadith yang palsu atau amat lemah.

Berkata Pengarang 'Awn al-Ma'bud:

"Semua hadith yang berkenaan penghidupan semula ibu bapa Rasulullah s.a.w. dan keimanan mereka berdua serta keselamatan mereka kebanyakannya adalah palsu, bohong lagi direka dan sebahagiannya pula adalah sangat da'if. Ianya tidak sahih sama sekali dengan kesepakatan imam-imam hadith ke atas pemalsuannya, seperti al-Daraqutni, Ibn Shahin, al-Khatib, Ibn 'Asakir, Ibn Nasir, Ibn al-Jauzi, al-Suhayli, al-Qurtubi, al-Muhib al-Tabari, Fath al-Din bin Sayyid al-Nas, Ibrahim al-Halibi dan banyak lagi. Al-'Allamah Ibrahim al-Halabi telah menjelaskan secara terperinci berkenaan ketidak selamatan ibu bapa Nabi s.a.w. dalam satu risalah khas. Ketepatan pegangan ini disokong oleh hadith sahih ini: "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka." Al-Shaykh Jalal al-Din al-Suyuti telah menyalahi para Huffaz dan para ulama yang teliti di mana dia telah menetapkan bari ibu bapa Nabi s.a.w. keimanan dan keselamatan dengan mengarang beberapa risalah berkenaannya, antaranya ialah 'Risalah al-Ta'zim wa al-Minnah fi anna abaway Rasulillah s.a.w. fi al-Jannah'. "

Shaykhul Islam r.a. telah ditanya:

“Adakah sahih riwayat daripada Nabi s.a.w. bahawa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menghidupkan ibubapa Nabi dan mereka beriman di tangannya kemudian mereka mati semula?” Lalu beliau menjawab, “Tidak sah riwayat itu daripada sesiapapun di kalangan pakar hadith. Bahkan para ulama bersepakat bahawa perkara itu adalah bohong dan rekaan… Tiada khilaf di kalangan para ulama bahawa itu amat jelas kepalsuannya seperti yang dinyatakan oleh para ulama. Riwayat itu tidak terdapat dalam kitab-kitab muktabar dalam hadith; tidak dalam kitab sahih, sunan, musnad mahupun apa sahaja kitab-kitab hadith yang masyhur. Ianya tidak juga dinyatakan oleh pengarang-pengarang kitab sejarah dan tafsir walaupun mereka ada juga meriwayatkan hadith da’if di samping sahih. Ini kerana kejelasan pembohongan riwayat itu tidak tersembunyi langsung ke atas mana-mana orang yang beragama. Perkara begini sekiranya berlaku, pasti ianya akan menjadi satu perkara yang amat diberi perhatian dan usaha untuk disebarkan kerana ia merupakan antara perkara yang amat jelas menyalahi adat kebiasaan dari dua sudut iaitu dari sudut menghidupkan orang mati dan dari sudut keimanan selepas kematian. Justeru pasti penyebaran berita sebegini lebih utama daripada penyebaran berita lain. Apabila tiada seorangpun di kalangan orang-orang yang terpecaya meriwayatkannya, ini menunjukkan perkara ini adalah bohong… Seterusnya, perkara ini adalah bercanggahan dengan al-Kitab dan al-Sunnah yang sahih serta Ijma’.

Firman Allah Ta’ala (al-Nisa’ 4:17-18):

{17. Sesungguhnya penerimaan taubat itu disanggup oleh Allah hanya bagi orang-orang yang melakukan kejahatan disebabkan (sifat) kejahilan kemudian mereka segera bertaubat, maka (dengan adanya dua sebab itu) mereka diterima Allah taubatnya; dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. 18. dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: "Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini," (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya}. Di dalam ayat tadi, Allah telah menjelaskan bahawa tiada taubat bagi orang yang mati dalam keadaan kafir.

Firman Allah Ta’ala lagi (Ghafir 40:85):

{85. maka iman yang mereka katakan semasa melihat azab kami, tidak berguna lagi kepada mereka; yang demikian adalah menurut "Sunnatullah" (undang-undang peraturan Allah) yang telah berlaku kepada hamba-hambanya. Dan pada saat itu rugilah orang-orang yang kufur ingkar}. Di dalam ayat ini, Allah telah menjelaskan bahawa sunnahNya dalam hamba-hambaNya ialah Iman tidak bermanfaat selepas dilihat al-ba’s (azab), apatah lagi dengan maut. Dan banyak lagi nas-nas seumpamanya…”

Kemudian beliau ada juga membawa dua hadith seperti di atas. (Diringkaskan daripada Majmu’ al-Fatawa. 4/325-327). 

* (Disalin dari Telegram Channel: Bicara Ilmu Bersama Dr. Fadlan Othman: telegram.me/DrFadlanOthman)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails