Memaparkan catatan dengan label Jamaah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Jamaah. Papar semua catatan

Selasa, 27 Oktober 2009

Siapakah Ahli Sunnah Wal Jamaah Yang Sebenar?

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam pernah berpesan: "Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang mana kamu tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, iaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi." (Hadis riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa')

Rata-rata kita tidak pernah mendengar pun ada golongan yang mengatakan "Aku tidak mengikut Al-Quran dan Sunnah" tapi sebaliknya kita mendengar ramai yang mengatakan "Aku mengikut Al-Quran dan Sunnah." Golongan yang berkata sedemikian bukan sahaja dari kalangan Ahli Sunnah, Malah jika kita tanyakan kepada golongan Syi'ah juga mereka akan berkata "Aku ikut Al-Quran dan Sunnah." Padahal golongan Syi'ah adalah golongan yang jauh sekali dari kebenaran.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan satu golongan di dalam syurga, iaitu al-Jama’ah.” (Hadis Riwayat Abu Duad, Ahmad, ad-Darimi, al-Ajury, al-Lalikaiy. Disahihkan oleh al-Hakim, dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)

Dalam riwayat yang lain disebutkan; “(Iaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (Hadis Riwayat at-Tirmizi, dinilai Hasan oleh al-Albani)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat. (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Tirmizi, berkata al-Tirmizi: “Hadis ini hasan sahih”. Juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al-Darimi dalam kitab Sunan mereka. Demikian juga oleh Ibn Hibban dalam Sahihnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan menyatakan: “Hadis ini sahih”. Ini dipersetujui oleh al-Imam Adz-Dzahabi)

Hadis-hadis di atas menerangkan bahawa umat Islam pasti akan berpecah dan sememangnya telah pun berpecah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah lebih kurang seribu empat ratus tahun tahun yang lalu. Inilah antara mukjizat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yang dapat kita lihat sendiri. Namun akan tetap ada mereka yang masih berada di atas kebenaran, sebagaimana hadis di atas yang diterangkan mereka itu ialah yang berpegang dengan sunnah Nabi dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang terdiri daripada sahabatnya. Dalam kata lain mereka dipanggil Al-Jamaah sebagaimana hadis di atas juga.

Sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam: “Tetap akan ada segelintir dari umatku yang zahir di atas kebenaran, tidak memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka, sehinggalah datangnya keputusan Allah, sedang mereka tetap berada dalam keadaan sedemikian.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Imam Ahmad di dalam Musnadnya, At-Thabrani dalam Al-Ausath, Abu Ya’la, dan Ibn ‘Adi dalam Al-Kamil)

Sabda Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (iaitu para sahabat baginda), kemudian yang sesudah-nya (para tabi’in), kemudian yang sesudah-nya (para tai’ut tabi’in). Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman: (Maksudnya) “Dan orang-orang yang terdahulu - yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang "Muhajirin" dan "Ansar", dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka Dengan kebaikan (iman dan taat), Allah redha akan mereka dan mereka pula redha akan Dia, serta Dia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Syeikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan -hafizahullahu- menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab Lumhatun ‘Anil Firaq (cet. Darus Salaf hal.23-24) beliau berkata: “(Perpecahan dan perselisihan) merupakan hikmah dari Allah Ta’ala sebagai menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan bersikap fanatik.”

Allah Ta’ala berfirman: (Maksudnya) “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia Maha Mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-‘Ankabut:1-3)

Dan firman Allah Ta’ala: (Maksudnya) “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: “Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang derhaka) semuanya”. (Hud:118-119)

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (Al-‘An’am:35).”

Dan Allah ’Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Merahmati hambaNya. Jalan kebenaran telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sebagaimana dalam sabda Rasululullah sallallahu ‘alaihi wasallam: “Sungguh aku telah meninggalkan kamu di atas petunjuk yang sangat terang malamnya seperti waktu siangnya tidaklah menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa”. Hadis ini disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Dzilalul Jannah)

Dan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Suatu hari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garisan lurus dengan tangannya lalu bersabda: "Inilah jalan Allah yang lurus, kemudian baginda menggariskan beberapa garis disebelah kiri dan kanan garis yang lurus itu, sambil bersabda: "Inilah jalan-jalan (kesesatan). Tidak ada satu jalan pun dari jalan ini melainkan ada syaitan yang mengajak manusia untuk mengikuti jalan tersebut. Kemudian baginda membacakan surah Al-An'am ayat 153: "Dan bahawa yang (kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)". (Hadis riwayat Ahmad; berkata Al-Arnauth: Hadis hasan, rujuk Musnad Ahmad takhrij al-Arnauth)

Ciri-ciri Ahli Sunnah Wal Jamaah


Pertama: Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus soleh iaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad)

Kedua: Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bersedia menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah: (Maksudnya) “Maka jika kamu berselisih-faham dalam satu perkara, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasulnya jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59). “Tidaklah layak bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata."(Al-Ahzab: 36)

Ketiga: Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah: (Maksudnya) “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kamu kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Hujurat: 1)

Keempat: Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehingga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (Hadis riwayat Muslim dari hadis Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Kelima: Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatik (taksub) golongan. Dan mereka tidak fanatik kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya boleh diambil dan ditolak kecuali ucapan baginda.”

Keenam: Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

Ketujuh: Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawan kepada sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan memecahkan-belahkan barisan kaum muslimin.

Kelapan: Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

Kesembilan: Mereka adalah orang-orang yang bersiap-sedia memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits (halaman 3-4) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, mahupun persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh bersemangat bersungguh-sungguh. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan pentakwil yang jahil. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur kerana cercaan orang yang mencerca.”

Ciri-ciri Khusus Mereka

Pertama: Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rosak dari segala segi. Rasulullah bersabda: “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Hadis riwayat Imam Ahmad)

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin (3/199-200) berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya disebabkan rosaknya agama mereka, asing pada berpegangnya terhadap sunnah disebabkan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya disebabkan telah rosak keyakinan mereka, asing pada solatnya disebabkan jeleknya solat mereka, asing pada jalannya disebabkan sesat dan rosaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya disebabkan rosaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka disebabkan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka.”

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemui seorang penolong dan pembela pun. Dia sebagai seorang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi ma’ruf.”

Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah (halaman 16-17) mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berpuak-puak. Sebahagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berparti-parti yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan tetap akan ada segelintir dari umatku yang zahir di atas kebenaran, tidak memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka, sehinggalah datangnya keputusan Allah, sedang mereka tetap berada dalam keadaan sedemikian.”

Kedua: Mereka adalah orang yang berada di akhir zaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadis, iaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rosaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirosakkan oleh manusia pada sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dari fitnah dengan membawa agama mereka. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadis ini. Sebagaimana Imam Al-Auza’i rahimahullah menjelaskan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahli Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan menyifatkannya dengan asing dan menyifatkan pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam kumpulan yang sedikit. Allah Ta’ala berfiman: (Maksudnya) “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Dengan itu, jelaslah bagi kita siapakah Ahli Sunnah Wal Jamaah dan siapakah pula yang bukan Ahli Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :

Semua orang mengaku telah menggapai Laila
Akan tetapi Laila tidak mengakuinya

Padahal Ahli Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus-soleh.

Wallahu Ta'ala A'lam

Ahad, 18 Oktober 2009

Makna Hadis-Hadis Tentang "Al-Jama'ah"

HADIS PERTAMA

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا خَطَبَ بِالْجَابِيَةِ، فَقَالَ: قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ بَحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Makna Hadis:

Dari Abdullah bin Umar berkata: Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma pernah berkhutbah di Al-Jabiyah seraya berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami dan bersabda: "Barangsiapa dari kalian menginginkan tinggal di tengah-tengah syurga, maka hendaklah berpegang teguh kepada Al-Jama'ah, kerana syaitan bersama seorang (sendirian) dan dia dari dua orang, dengan lebih jauh.

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh:

1. Tirmizi, hadis no. 2254 dengan syarh Tuhfatul Ahwadzi.
2. Ahmad dalam Musnadnya juz I, hal. 18.
3. Hakim dalam Mustadrak juz I, hal. 114.
4. Baihaqi dalam Sunanul Kubra juz VII, hal. 91.

Sanad hadis ini semuanya dari jalan Muhammad bin Sauqah dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar dari Umar bin Khaththab. Tirmidzi dan Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Dzahabi.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2363), Ahmad (I/26), Abu Daud At-Thayalisi (no. 31), dan Ibnu Hibban (no. 2282), dari jalan Jarir dari Abdul Malik bin Umair dari Jarir dengan lafaz: Umar berkhutbah di hadapan manusia di Al-Jabiyah… sehingga akhir hadis. (Al-Hadis).

Syaikh Salim Al-Hilali berkata: Sanadnya SAHIH. Hakim menyatakan bahawa di dalamnya ada perawi yang cacat, iaitu pada Abdul Malik bin Umair. Kemudian Hakim membawakan jalan yang lain dari Sa'ad bin Abi Waqqash, berkata: Umar berdiri di Al-Jabiyah…. sehingga akhir hadis (Al-Hadis). Kemudian Hakim mensahihkannya dan disepakati oleh Imam Dzahabi.

Syaikh Salim berkata: "Dalam sanadnya ada Muhammad bin Muhajir bin Mismar. Tidak jelas bagiku, siapa dia. Jika yang dimaksud adalah Muhammad bin Muhajir al-Quraisyi maka dia orangnya lemah. Jika selain dia maka aku tidak tahu riwayat hidupnya. Tapi secara keseluruhan, hadis ini SAHIH." (Al-I'tisham II/769, Asy-Syatibi, tahqiq: Salim bin 'Ied Al-Hilali).

Mufradat Hadis

بَحْبُوْحَةُ yakni: "Di tengah dan yang terbaik." (Gharibul Hadits, Abul Faraj al-Jauzi juz I hal. 56 dan An-Nihayah fi Gharibil Hadits, Abus Sa'adat juz I hal. 98).

فإنّ الشّيطان مع الواحد Yakni: "Bersama orang yang keluar dari ketaatan kepada amir dan memecah Al-Jama'ah." (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami' At-Tirmidzi, Al-Hafiz Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri, juz VI hal. 321).

Imam At-Thayyibi ketika menerangkan makna "dan dia dari dua orang dengan lebih jauh" berkata: "Yakni (syaitan) akan lebih jauh lagi dan kalau tiga orang maka bertambah jauh lagi." (Tuhfatul Ahwadzi, juz VI hal. 321).

Syarah Hadis

Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy-Syatibi menyatakan:

"Para ulama berselisih pendapat tentang makna Al-Jama'ah yang ada dalam hadis tersebut, menjadi lima pendapat:

Pertama: Al-Jama'ah ialah Sawadul A'zham (kelompok manusia yang besar sekali jumlahnya, mereka berpegang kepada agama Islam dan jauh dari firqah sesat, ed.)

Dan inilah yang disebutkan oleh Abu Ghalib rahimahullah bahawasanya Sawadul A'zham adalah orang-orang yang selamat dari berbagai firqah (perpecahan). Maka setiap urusan agama yang mereka sepakati itulah al-haq (kebenaran). Barangsiapa menentang mereka kemudian dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliah. Sama saja, baik dalam masalah syari'at atau menentang terhadap imam dan penguasa mereka. Termasuk yang berpendapat demikian adalah Abu Mas'ud Al-Anshari dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhuma berkata: "Kalian wajib mendengar dan taat, kerana Al-Jama'ah merupakan tali Allah yang diperintahkan untuk dipegang erat-erat." Lalu Ibnu Mas'ud memegang tangannya dan berkata: "Sesungguhnya orang yang kamu benci dalam Al-Jama'ah itu lebih baik daripada orang yang kamu cintai tapi dia dalam firqah."

Diriwayatkan dari Husain radhiallahu anhu bahawasanya ada orang yang mengatakan kepadanya bahawa Abu Bakar As-Shiddiq telah (dibai'at oleh para shahabat) menjadi khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Husain berkata: "Benar, demi Zat yang tiada berhak disembah selain Dia, umat Muhammad (yakni ijma' sahabat) ini tidak akan berkumpul di atas kesesatan!!"

Berdasarkan pendapat ini, maka yag termasuk Al-Jama'ah ialah para mujtahid, ulama, dan ahli syari'ah yang beramal dengannya. Adapun orang-orang di luar mereka, boleh dimasukkan dalam kategori ini sebab orang-orang tersebut mengikuti dan meneladani mereka. Setiap orang yang keluar dari jama'ah mereka, bererti dia telah menyimpang dan menjadi tawanan syaitan. Termasuk dalam hal ini semua ahli bid'ah, kerana mereka telah menentang para pendahulu umat ini. Sebab itu, mereka sama sekali tidak termasuk Sawadul A'zham!

Kedua: Al-Jama'ah ialah kumpulan para imam dari kalangan ulama mujtahidin. Barangsiapa keluar dari apa yang telah dipegang oleh para ulama umat ini lalu dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliah. Allah menjadikan mereka sebagai hujjah bagi seluruh alam. Mereka itulah orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang ertinya): "Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan." Makna "tidak berkumpul umatku" iaitu: "tidak akan berkumpul ulama umatku di atas kesesatan." Demikian menurut pendapat Abdullah bin Mubarak, Ishaq bin Rahawaih dan sekelompok dari ulama Salaf. Para Ulama Usul juga menyatakan pendapat yang serupa.

Abdullah bin Mubarak pernah ditanya seseorang: "Siapakah Al-Jama'ah yang layak untuk dijadikan teladan?" Jawab beliau: "Abu Bakar, Umar..." (beliau terus menyebutkan satu-persatu sampai kepada Muhammad bin Tsabit dan Husain bin Waqid). Maka dikatakan: "Yang engkau sebut itu adalah orang-orang yang telah tiada, maka siapakah yang masih hidup?" Beliau menjawab: "Abu Hamzah As-Sukri." Ishaq bin Rahawaih juga menyatakan pendapat serupa.

Dengan demikian, seorang ahli bid'ah tidak termasuk dalam Al-Jama'ah berdasarkan Ijma'. Ini kerana pada dasarnya perbuatan bid'ahnya itu bertentangan dengan ijma'.

Ketiga: Al-Jama'ah ialah para sahabat secara khusus ridhwanullah alaihim. Ini kerana merekalah yang telah menegakkan tiang-tiang agama ini. Dan mereka tidak pernah bersepakat dalam kesesatan sama sekali. Pendapat inilah yang dipegang oleh Umar bin Abdul Aziz.

Ibnu Wahab meriwayatkan dari Imam Malik bahawa Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengganti (Wulatul Amri) setelah baginda meninggal dunia telah membuat sunnah (tariqah). Mengambil (mengikuti) sunnah tersebut bererti tashdiq (membenarkan) terhadap Kitabullah, penyempurna ketaatan kepada Allah, dan menjadi penguat terhadap agama Allah ini. Tidak boleh seorang pun menukarnya atau merubahnya. Barangsiapa menjadikannya (As-Sunnah) sebagai petunjuk maka dia akan mendapat hidayah. Siapa saja yang menolongnya (menghidupkan As-Sunnah), dia akan ditolong. Barangsiapa yang menyelisihinya, bererti dia mengikuti selain jalan orang-orang mukmin (yakni para sahabat). Allah akan memalingkannya kemana saja dia berpaling dan memasukkannya ke dalam jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Kemudian Imam Malik berkomentar: "Aku sangat kagum terhadap ketegasan Umar bin Abdul Aziz dalam hal itu."

Berdasarkan pendapat inilah, lafaz Al-Jama'ah sesuai dengan riwayat yang lain, yaitu sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

"Setiap orang yang mengikuti sunnahku dan para sahabatku." (HR. Tirmizi, HASAN)

Makna Al-Jama'ah ini juga sesuai dengan persaksian Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang mereka khususnya dalam sabdanya:



فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ

"Maka hendaklah kamu (wajib) berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa ur-rasyidin." (HR. Abu Daud & Tirmizi; HASAN SAHIH)

Dengan demikian, setiap apa yang mereka sunnahkan maka itu merupakan sunnah yang tidak perlu ditinjau kembali. Hal ini berbeza dengan kaum selain mereka. Ini kerana pada generasi selain dari para sahabat, ada ahli ijtihad yang kemudiannya boleh ditolak ataupun diterima pendapatnya. Oleh kerana itu, ahli bid'ah jelas tidak termasuk Al-Jama'ah.

Keempat: Al-Jama'ah ialah jama'ah ahlul Islam tatkala mereka bersepakat dalam satu urusan. Maka wajib bagi umat Islam selain mereka, untuk mengikuti ijmaknya kaum muslimin ini. Mereka adalah orang-orang yang dijamin oleh Allah tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Jika terjadi perselisihan di kalangan mereka maka kita wajib mengetahui pendapat yang benar dalam masalah yang mereka perselisihkan itu.

Imam Syafi'i rahimahullah berkata: "Dalam Al-Jama'ah tidak akan terjadi kelalaian dalam memahami Kitabullah, Sunnah mahupun Qias, kerana kelalaian itu hanya terjadi di dalam firqah."

Kelima: Pendapat yang dipilih oleh Imam Thabari iaitu bahawa Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin yang sepakat atas seorang amir (pemimpin). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk komitmen kepadanya dan melarang perpecahan umat dalam perkara kesepakatan tentang pemimpin yang telah diangkat. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja yang mendatangi umatku untuk memecah-belahkan jama'ah mereka, maka bunuhlah dia, walau siapapun orangnya." (HR. Muslim XII/241 dengan Syarah Imam Nawawi).

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-'Asqalani menukil perkataan Ibnu Jarir At-Thabari bahawa yang benar tentang maksud ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Hudzaifah "Berpeganglah engkau kepada Jama'atul Muslimin dan imam mereka!" ialah: "Berpeganglah kepada orang-orang yang telah sepakat (berbai'at) mengangkat seorang amir dalam ketaatan. Barangsiapa melanggar bai'atnya maka dia telah keluar dari Al-Jama'ah!" (Fathul Bari, Al-'Asqalani XIII/37)

Imam Thabari menyatakan: "Inilah pengertian dari diperintahkannya menetapi Al-Jama'ah. Adapun Al-Jama'ah yang apabila umat telah sepakat dengan ridla untuk mengangkat seorang amir -yang jika dia keluar darinya, matinya dalam keadaan Jahiliyah- maka ini merupakan makna Al-Jama'ah yang diterangkan oleh Abu Mas'ud Al-Anshari. Mereka merupakan majoriti manusia dari ahli ilmu dan agama beserta pengikutnya. Mereka itulah Sawadul A'zham." Selanjutnya, beliau berkata: "Adapun riwayat yang menyebutkan bahawa umatku tidak akan berkumpul di atas kesesatan, maknanya ialah Allah tidak akan mengumpulkan mereka dalam keadaan tersesat dari al-haq (kebenaran) pada hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama mereka. Jadi, Al-Jama'ah pengertiannya kembali kepada berkumpulnya ahlul Islam, untuk mengangkat seorang imam yang sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafus-Soleh. Maka, jelas keliru besar orang yang mengira bahawa Al-Jama'ah adalah sekumpulan dari kebanyakan orang, padahal di dalamnya tidak ada ulama pun yang memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagaimana yang difahami oleh para sahabat ridhwanullah alaihim ajma'in. (Al-I'tisham II/770-778, Imam Asy-Syatibi, tahqiq: Salim Al-Hilali, cet. I 1412 H, Dar Ibnu Affan).

Jadi, beberapa pendapat tentang makna Al-Jama'ah adalah sebagai berikut:

Pertama, Al-Jama'ah adalah Sawadul A'zham (kelompok manusia yang besar sekali jumlahnya).
Kedua, Al-Jama'ah ialah kumpulan para imam dari kalangan ulama mujtahidin.
Ketiga, Al-Jama'ah ialah para sahabat secara khusus ridhwanullah alaihim.
Keempat, Al-Jama'ah ialah kumpulan umat Islam tatkala mereka bersepakat dalam satu urusan.
Kelima, Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin yang sepakat atas seorang amir (pemimpin). (Lihat Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al-Laalikai, tahqiq: Dr. Ahmad Sa'ad Hamdan juz 1-2 hal.96 dan As-Sunnah oleh Ibnuu Khallal, tahqiq: Dr. 'Athiyyah Az-Zahrani hal.74).

Itulah pendapat-pendapat penting tentang makna Al-Jama'ah yang kita diperintah untuk beriltizam (komitmen) kepadanya. Dari pendapat-pendapat tersebut, akhirnya kita dapat menarik dua kesimpulan:

1. Al-Jama'ah ialah jama'ah kaum muslimin apabila bersepakat atas seorang imam (pemimpin) berdasarkan syari'at dan kita wajib menetapi jama'ah tersebut serta haram keluar darinya.

2. Al-Jama'ah ialah setiap orang yang mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnya ridhwanullah alaihim, baik sedikit mahupun banyak, sesuai dengan keadaan umat dengan beragam tempat dan masanya.

Oleh kerana itu, Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu berkata:


الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

"Al-Jama'ah ialah setiap yang sesuai dengan kebenaran meskipun kamu seorang diri." (Lihat Al-Hawadits wal Bida' oleh Abu Syamah hal. 22. Hadits diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Al-Madkhal).

Dalam riwayat lain:


إِنَّمَا الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ طَاعَةَ اللهِ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

"Al-Jama'ah adalah siapa saja yang sesuai ketaatannya kepada Allah walaupun engkau bersendirian." (Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah I/109).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: "Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Abu Syamah dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida'. Ketika datang perintah untuk berpegang dengan Al-Jama'ah, maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang kepada al-haq (kebenaran) dan mengikutinya. Sebab, orang yang berpegang dengannya sangat sedikit dan yang menentangnya demikian banyaknya. Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-haq ialah apa-apa yang difahami oleh jama'ah pertama dari kalangan para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (Ighatsatul Lahfan I/80, tahqiq: Basyir Muhammad 'Uyun).

Ibnu Khallal rahimahullah dalam kitabnya As-Sunnah berkata: "Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin, iaitu para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan sampai Hari Akhir. Mengikuti mereka merupakan hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah sesat, sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalan-jalan  mukminin (para sahabat ridhwanullah alaihim) maka Kami biarkan dia bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ke dalam Jahannam dan Jahannam itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa`: 115). (As-Sunnah, Abu Bakr bin Muhammad Al-Khallal, tahqiq: Dr. Athiyyah Az-Zahrani, hal. 79).


HADITS KEDUA



عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ

Makna Hadis:

Dari Abu Dzar radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa memisahkan diri dari Al-Jama'ah walaupun sejengkal, maka bererti dia telah melepaskan ikatan Islam dari tengkuknya."

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh:

1. Abu Daud dalam Sunannya, hadis no. 4758
2. Ahmad dalam Musnadnya V/180
3. Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak I/117
4. Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah (892)

Sanad hadis ini semuanya dari jalan Khalid bin Wahban dari Abu Dzar secara marfu' (sampai periwayatannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ed.)

Syaikh Salim Al-Hilali berkata: "Sanad ini dha'if (lemah) kerana Khalid adalah majhul (tidak dikenal periwayatannya, ed). Tetapi hadis ini memiliki syahid (penguat) yang SAHIH dari hadis Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radliallahu anhuma oleh Muslim XII/240, Syarh Imam Nawawi).



HADITS KETIGA


عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى الضَّلاَلَةِ، وَيَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ

Makna Hadis:

Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku di atas kesesatan. Dan tangan Allah bersama Al-Jama'ah. Barangsiapa menyimpang dari Al-Jama'ah, bererti dia menyimpang ke neraka."

Takhrij hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh:
1. Tirmizi dalam Sunannya (2167)
2. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak I/115
3. Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah (80)

Seluruhnya dari jalan Mu'tamar bin Sulaiman dari Sulaiman Al-Madani dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar secara marfu'.

Syaikh Salim berkata: "Sanadnya dha'if kerana Sulaiman Al-Madani namanya adalah Ibnu Sufyan, bekas hamba kepada keluarga Thalhah, dia orangnya lemah. Tetapi hadis ini memiliki penguat (mutaba'ah) dari jalan Marzuq, bekas hamba kepada keluarga Thalhah, dia orang yang tsiqat (terpercaya). Imam Thabrani meriwayatkannya dalam Mu'jamul Kabir. Dengan demikian hadis ini SAHIH.


HADITS KEEMPAT


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شَيْئًا فَمَاتَ، مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Makna Hadis:

Dari Ibnu Abbas radliallahu anhuma berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa melihat sesuatu dari pemimpinnya yang tidak disukainya, maka hendaklah bersabar kerana sesungguhnya jika seseorang keluar dari Al-Jama'ah walaupun sejengkal kemudian dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliyyah."

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dengan Syarh Fathul Bari XIII/5 dan Muslim (1849).

Syarah hadis:

Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan tentang makna "matinya dalam keadaan mati jahiliyah" ialah: "Matinya seperti Ahli Jahiliyah, iaitu di atas kesesatan. Dan dia tidak memiliki imam yang ditaati kerana mereka tidak mengenalnya. Dan bukan maksudnya dia mati kafir, tapi matinya sebagai orang yang berbuat maksiat." (Fathul Bari XIII/7).

Yang dimaksud dengan amir (pemimpin) di sini adalah memang benar-benar amir (pemimpin/penguasa), bukan "amir-amiran" (orang-orang yang berkuasa). Dan amir ini mesti memiliki negara sejati, bukan "negara boneka". Dan negaranya mesti di atas tanah bukan negara bawah tanah.

Cukup sampai di sini saja pembahasan makna hadis-hadis tentang Al-Jama'ah. Kita berdo'a kepada Allah Azza wa Jalla agar kita senantiasa diberi petunjuk-Nya dan semoga kita tidak menyimpang dari Shirathal Mustaqim serta selalu berpegang dengan Al-Jama'ah dan terjauh dari segala firqah. Amien ya rabbal 'alamin.

Wallahu Ta'ala A'lam.

Maraji':

1. Shahih Bukhari dengan Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al-'Asqalani.
2. Shahih Muslim dengan syarh Imam Nawawi.
3. Al-I'tisham oleh Asy-Syathibi, tahqiq Salim Al-Hilali.
4. Gharibul Hadits oleh Abul Faraj Al-Jauzi.
5. An-Nihayah fi Gharibil Hadits oleh Abu Sa'adat.
6. Syarh I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Al-Laalika`i, tahqiq Dr. Ahmad Sa'ad Hamdan.
7. As-Sunnah oleh Ibnu Khallal, tahqiq Dr. 'Athiyyah Az- Zahrani.
8. Ighatsatul Lahfan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, tahqiq Basyir Muhammad 'Uyun.
9. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami' At-Tirmidzi oleh Al-Mubarakfuri.
10. Talbis Iblis oleh Ibnul Jauzi, tahqiq Ali Hasan Al-Atsari.

Sumber: Majalah SALAFY edisi Perdana/Sya'ban/1416/1995 rubrik Hadits. Dinukil serta disunting dari: http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=28

Khamis, 14 Mei 2009

KEBANGKITAN ISLAM

Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albani rahimahullah.

”Yang saya yakini adalah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam ini yang mungkin dilontarkan pada masa kiwari. Hadits tersebut adalah sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :


إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِاْلعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ اْلبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُم ُاْلجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ


”Apabila kamu berjual beli dengan ’inah (jual beli sistem riba), memegang ekor-ekor sapi, ridla (terlalu sibuk) dengan pertanian, dan meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan menghilangkannya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian [HR. Abu Dawud].


Jadi asasnya adalah rujuk (kembali) pada Islam. Persoalan ini telah diisyaratkan oleh Al-Imam Malik رحمه الله dalam sebuah kalimat ma’tsur yang ditulis dengan tinta emas : ”Barangsiapa yang yang mengada-adakan bid’ah di dalam Islam kemudian menganggap bid’ah tersebut baik, berarti ia telah menganggap Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. (Padahal) Allah telah berfirman :


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً


”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. [QS. Al-Maaidah : 3].


Oleh karena apa yang hari itu bukan agama, maka pada hari ini pun bukan agama. Dan tidaklah baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah menjadi baik pada awal umat ini” [---- selesai perkataan Imam Malik ----].


Kalimat terakhir Al-Imam Malik di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataan beliau :


لا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا


”Tidaklah baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah menjadi baik pada awal umat ini”.


Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyyah dahulu tidak menjadi baik keadaan kecuali setelah datang Nabi mereka, Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam dengan membawa wahyu dari langit yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yaitu tidak lain hanyalah rujuk (kembali) kepada Al-Kitab was-Sunnah.


Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama’ah serta golongan-golongan Islam yang ada di ”lapangan” mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam. Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :


وَأَنّ هَـَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتّبِعُوهُ وَلاَ تَتّبِعُواْ السّبُلَ فَتَفَرّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ


”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya” [QS. Al-An’am : 153].


Dan sungguh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah menjelaskan makna ayat ini pada para shahabatnya. Beliau satu hari menggambarkan pada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi. Kemudian beliau shallallaahu ’alaihi wasallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat di sisi-sisinya (yaitu garis-garis yang pendek – Abul-Jauzaa’.), beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :


هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ سَبِيل مِنْهَا الشَّيْطَانَ يَدْعُوا لَهُ


”Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya” [Shahih, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Dhilalul-Jannah fii Takhriijis-Sunnah hal. 16-17].


Allah ’azza wa jalla pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hadits di atas dengan ayat lain, yaitu firman-Nya :


وَمَن يُشَاقِقِ الرّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُ الْهُدَىَ وَيَتّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلّهِ مَا تَوَلّىَ وَنُصْلِهِ جَهَنّمَ وَسَآءَتْ مَصِيراً


”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [QS. An-Nisaa’ : 115].


Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tandas, yaitu bahwa Allah ta’ala mengikatkan kalimat ’jalannya orang-orang mukmin’ kepada apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hadits ifitiraaq (perpecahan) ketika beliau shallallaahu ’alaihi wasallam ditanya tentang Al-Firqatun-Najiyyah (golongan yang selamat). Saat itu beliau menjawab :


مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ


”(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku pada hari ini berada di atasnya” [Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 203].


Apakah gerangan hikmah yang dimaksud ketika Allah menyebutkan ’jalannya orang-orang mukmin’ [سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ] dalam ayat di atas ? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mengikatkan para shahabatnya pada diri beliau sendiri dalam hadits di atas ? Jawabannya : Bahwa para shahabat radliyallaahu ’anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) langsung dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Beliau telah menjelaskannya secara langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana orang-orang sesudahnya. Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam sabdanya :


إنَ الشَّاهِدَ يَرَى مَا لا يَرَى اْلغَائِبُ


”Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang tidak hadir” [Lihat Shahihul-Jaami’ no. 1641].


Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hadits mutawatir :


خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ


”Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].


Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidaklah bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat yang mulia, (yaitu) orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam; yang terkadang beliau menjelaskan dengan perkataan, perbuatan, atau dengan taqrir (persetujuan) beliau.


Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam ”mengajak orang kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah” untuk menambahkan prinsip ”berjalan di atas apa yang ditempuh As-Salafush-Shalih” dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka manakala Allah menyebutkan ’ jalannya orang-orang mukmin’ [سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ], dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami kaum salaf (generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallaahu ’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik).


Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama’ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu adalah ” Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan memaksanakan sunnah ini ?”. Jawabannya : ”Tidak ada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus kembali kepada ilmu hadits, ilmu musthalah hadits, ilmu jarh wa ta’dil, dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan mana yang tidak shahih”.


Sebagai penutup jawaban, kami bisa engatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan ’izzah (kehormatan), kejayaan, dan hukum Islam, yaitu Anda harus bisa merealisasikan dua perkara :


Pertama, Anda harus mengembalikan syari’at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalamnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya ketika Allah menurunkan firman-Nya :


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً


”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. [QS. Al-Maaidah : 3].


Mengembalikan persoalan hari ini menjadi persoalan jaman pertama dahulu membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di berbagai penjuru dunia.


Kedua, Kerja keras yang terus-menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu. Pada hari dimana kaum muslimin telah kembali memahami agama (dien) mereka sebagaimana yang dipahami para shahabat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan itu secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mukminin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.


Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin sesuai dengan tuntunan Kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang sahih sebagaimana yang ditempuh oleh Salafunash-Shaalih. Kita memohon kepada Allah agar Dia memberi taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa. Wallaahu a’lam”


[selesai perkataan Asy-Syaikh Al-Albani, sebagaimana terdapat dalam majalah Al-Ashalah edisi 11 tanggal 15 Dzulhijjah 1414 H, Beirut].

Isnin, 15 Disember 2008

APAKAH ITU AL-JAMAAH?

Menurut bahasa, perkataan al-Jamaah berasal daripada al-ijtima' yang bermaksud berkumpul atau bersatu. Lawan kata al-Jamaah ialah al-Firqah iaitu berpecah-belah. Ibn Taimiyyah menjelaskan, "Al-Jamaah bererti persatuan, sedangkan lawannya adalah perpecahan. Dan lafaz al-Jamaah telah menjadi nama bagi kaum yang bersatu." (Majmu' Fatawa 3/157)


Lafaz al-jamaah jika dirangkaikan dengan as-Sunnah, menjadi Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka yang dimaksudkan ialah pendahulu (salaf) umat ini. Mereka adalah para sahabat dan tabi'in yang bersatu mengikuti kebenaran yang jelas daripada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. (Harras, Syarah al-Wasithiyyah, hal 16)


Demikian apa yang dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan para sahabat r.a. merupakan kebenaran yang wajib diteladani dan diikuti. Dan setiap orang yang datang sesudah mereka dengan menempuh jalan mereka dan mengikuti jejak mereka, maka dia itulah "al-Jamaah" baik secara individu mahupun dalam kumpulan.


Abu Syamah berkata, "Manakala datang perintah untuk beriltizam kepada al-Jamaah, maka yang dimaksudkan iltizam di sini adalah komitmen terhadap kebenaran dan mengikutinya, sekalipun jumlah pengikut kebenaran itu lebih sedikit daripada penentangnya. Ini kerana, kebenaran itulah yang menjadi pegangan jamaah generasi pertama daripada Nabi s.a.w. dan para sahabatnya r.a. dengan tidak melihat banyaknya ahli kebatilan sesudah mereka." (Al-Ba'its, hal 22)


Ketika Abdullah bin Mubarak ditanya tentang al-Jamaah, beliau menjawab, "Abu Bakar dan Umar." Ketika dikatakan kepada beliau bahawa Abu Bakar dan Umar telah wafat, beliau menjawab, "Fulan dan Fulan". Ketika dikatakan kepada beliau bahawa Fulan dan Fulan telah wafat, beliau menjawab, "Abu Hamzah as-Sukri adalah al-Jamaah." (Al-Baghawi, 1/205)


Menurut penafsiran Ibn Mubarak, istilah al-Jamaah ialah orang yang memiliki sifat-sifat teladan yang sempurna berdasarkan al-Quran dan sunnah Nabi. Oleh kerana itu, beliau membuat perumpamaan dengan orang-orang yang menjadi teladan. Maka disebutlah nama ulama sezaman dengannya iaitu Abu Hamzah as-Sukri dan bukan ulama yang lain. Beliau beralasan Abu Hamzah termasuk ahli ilmu yang memiliki keutamaan dan berlaku zuhud.


Sebahagian ulama berbeza pendapat mengenai penjelasan hadis-hadis Nabi yang mewajibkan beriltizam dengan al-Jamaah dan melarang keluar daripadanya. Berikut adalah antara pendapat-pendapat tersebut:


Pertama: Sebahagian ulama berpendapat bahawa yang dimaksudkan al-Jamaah ialah para sahabat sahaja dan bukan orang-orang sesudah generasi mereka. Sebab para sahabat itulah yang sesungguhnya telah menegakkan tonggak-tonggak agama dan menancapkan paku-pakunya. Dan mereka tidak berhimpun di atas kesesatan. (Lihat – Al-Syathibi, Al-I'tisham, 2/262)


Menurut pendapat ini, lafaz al-Jamaah sesuai dengan hadis Nabi, "...Yakni jalan yang aku tempuh dan para sahabatku." Kalimah hadis ini merujuk kepada perkataan, perbuatan, dan ijtihad mereka. Dengan itu, lafaz tersebut menjadi hujah secara mutlak dengan kesaksian Rasulullah s.a.w., khususnya dengan sabda baginda: "Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah ar-Rasyidin..."


Kedua: Ada juga ulama yang memaksudkan al-Jamaah itu terdiri dari kalangan ahli Ilmu, Fiqh, dan ahli Hadis daripada kalangan Imam Mujtahidin. Kerana Allah telah menjadikan mereka hujah atas manusia dan mereka menjadi panutan dalam urusan agama. (Fathul Baari, 13/27)


Pendapat ini daripada Al-Bukhari. Dalam kitabnya bab "wa kadzalika ja'alnaakum ummatan wasathan" (demikian pula kami jadikan kamu ummat pertengahan) dan perintah Nabi s.a.w. untuk beriltizam kepada al-Jamaah, beliau mengatakan bahawa al-Jamaah itu adalah ahli Ilmu. (Fathul Baari, 13/316)


Menurut Tirmizi, para ahli ilmu mentafsirkan al-Jamaah dengan ahli Fiqh dan ahli Hadis. Kemudian beliau membawakan riwayat daripada Ibn Mubarak ketika ia ditanya mengenai al-Jamaah, lalu ia memberikan jawapan: "Abu Bakar dan Umar". (Sunan Tirmizi, 4/465) Ibn Sinan pula berpendapat, "Mereka (al-Jamaah) adalah ahli ilmu dan orang-orang yang memiliki atsar. (Syaraf Ashabul Hadis, hal 26-27)


Berdasarkan pendapat di atas, maka al-Jamaah adalah ahli sunnah yang 'alim, 'arif dan mujtahid. Maka tidaklah termasuk al-Jamaah tersebut, mereka yang ahli bid'ah dan orang-orang awam yang taqlid. Sebab mereka tidak boleh diteladani dan biasanya mereka (orang-orang awam) hanya mengikuti ulama.


Ketiga: Ada ulama yang mengatakan bahawa al-Jamaah ialah jamaah Ahlul Islam yang bersepakat dalam masalah syarak. Mereka tidak lain adalah ahli Ijmak yang sentiasa bersepakat dalam suatu masalah atau hukum, baik syarak mahupun aqidah. Pendapat ini didasarkan pada hadis Nabi yang ertinya: "Umatku tidak bersepakat dalam kesesatan." (Al-I'tisham, 2/263)


Ibn Hajar berkata mengenai pendapat Bukhari yang mengatakan bahawa al-Jamaah adalah ahli Ilmu, "Yang dimaksudkan dengan al-Jamaah ialah Ahlul Hal wal 'Aqdi, iaitu mereka yang mempunyai keahlian menetapkan dan memutuskan suatu masalah pada setiap zaman."


Adapun menurut Al-Karmani, "Maksud perintah agar beriltizam dengan al-Jamaah ialah seorang mukallaf beriltizam dalam mengikuti kesepakatan para mujtahidin. Dan inilah yang dimaksudkan oleh Bukhari bahawa mereka adalah ahli ilmu."


Ayat yang diterjemahkan Bukhari dijadikan hujah oleh ahli Usul kerana ijmak adalah hujah. Sebab mereka (ahli ilmu) dinilai adil, sebagaimana firman Allah: "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil..." (Al-Baqarah: 143)


Pernyataan ayat di atas menunjukkan bahawa mereka terpelihara daripada kesalahan mengenai apa yang telah mereka sepakati, baik perkataan mahupun perbuatan (Fathul Baari, 13/316). Pendapat ini merujuk kepada pendapat kedua.


Keempat: Ada ulama yang mengatakan, al-Jamaah adalah as-Sawadul A'zham (kelompok besar). Dalam kitab An-Nihayah disebutkan: "Hendaklah kamu mengikuti as-Sawadul A'zham, iaitu kebanyakan manusia yang bersepakat dalam mentaati penguasa dan menempuhi jalan yang lurus. (An-Nihayah, 2/419)


Pendapat tersebut diriwayatkan daripada Abi Ghalib yang mengatakan, sesungguhnya as-Sawadul A'zham ialah orang-orang yang selamat daripada perpecahan. Maka urusan agama yang mereka sepakati itulah kebenaran. Barangsiapa menentang mereka, baik dalam masalah syari'at mahupun keimanan, maka dia menentang kebenaran dan jikalau mati, matinya jahiliyah. (Al-I'tisham, 2/260)


Di antara orang lain yang berpendapat demikian ialah Abu Mas'ud al-Anshari dan Ibn Mas'ud r.a.. Asy-Syatibi berpendapat, "Berdasarkan pendapat ini, maka yang termasuk al-Jamaah ialah para mujtahid, ulama dan ahli syariah yang mengamalkannya. Adapun orang-orang yang selain mereka, termasuk ke dalam hukum mereka, sebab orang-orang tersebut mengikuti dan meneladani mereka. Maka setiap orang yang keluar dari jamaah mereka, bererti dia telah menyimpang dan menjadi tawanan syaitan. Termasuk kelompok yang menyimpang ini ialah semua ahli bid'ah kerana mereka telah menentang para pendahulu (salaf) umat ini. Sebab itu, mereka sama sekali tidak termasuk as-Sawadul A'zham." (Al-I'tisham, 2/261)


Kelima: Ada ulama yang mengatakan bahawa al-Jamaah ialah jamaah kaum muslimin yang sepakat atas seorang amir (penguasa). Ini adalah pendapat al-Thabari yang menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu. Kemudian dia mengatakan, "Ya benar, pengertian tentang beriltizam kepada jamaah ialah taat dan bersepakat atas penguasanya. Maka barangsiapa melanggar bai'atnya, dia telah keluar daripada jamaah." (Fathul Baari, 13/37)


Rasulullah s.a.w. telah menyuruh umatnya agar beriltizam kepada pemimpinnya dan melarang umat mengingkari kesepakatan tentang pemimpin yang telah diangkatnya. (Al-I'tisham, 2/264)


Menurut Thabari, jika jamaah itu telah sepakat dengan redha untuk mengangkat seorang pemimpin, sedangkan orang yang menentangnya mati dalam keadaan jahiliyah, maka itu al-Jamaah yang digambarkan oleh Abu Mas'ud al-Anshari. Mereka adalah kebanyakannya daripada ahli ilmu agama serta pengikutnya. Mereka itulah as-Sawadul A'zham. (Al-I'tisham, 2/264)


Dengan demikian, al-Jamaah menurut pendapat ini ialah kesepakatan atas pemimpin yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah. Adapun kesepakatan yang menyalahi sunnah bererti telah keluar dari makna al-Jamaah yang disebutkan dalam hadis-hadis Rasul s.a.w. (Al-I'tisham, 2/265)


Kesimpulan daripada pendapat-pendapat di atas ialah:

- Ia disebut sebagai al-Jamaah apabila bersepakat dalam hal memilih dan mentaati seorang pemimpin yang sesuai dengan ketentuan syarak. Kita wajib beriltizam kepadanya dan haram keluar daripadanya.

- Jamaah adalah jalan yang ditempuh oleh ahli sunnah yang meninggalkan segala bentuk bid'ah. Inilah yang disebut mazhab al-Haq (kebanaran). Pengertian jamaah di sini merujuk kepada para sahabat Nabi, ahli ilmu, ahli ijmak, atau as-Sawadul A'zham.


Semua itu kembali kepada satu makna, iaitu: "Orang yang mengikuti jalan hidup Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya r.a., baik sedikit mahupun banyak, sesuai dengan keadaan umat serta perbezaan zaman dan tempat.


Oleh kerana itu, Ibn Mas'ud berkata:


"Al-Jamaah ialah orang yang menyesuaikan diri dengan kebenaran walaupun engkau seorang diri." (Abu Syamah, Al-Hawasits wal Bida', hal 22, Abu Syamah menyebutkan bahawa perkataan ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal)


Dalam lafaz lain disebutkan:


"Sesungguhnya al-Jamaah ialah mentaati Allah walaupun engkau seorang diri." (Al-Lalaka'i, Syarhus Sunnah, 1/108-109)


[Dinukil dan disunting dari buku "Ahlus Sunnah wal Jamaah Ma'alimul Inthilaaqah Al-Kubra", terjemahan Ahlussunnah Wal-Jamaah Petunjuk Jalan Yang Benar, Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, hal 70-76, Penerbitan Kintan Sdn Bhd.]

𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻

Tulisan: Su Han Wen Shu Sumber: Facebook   𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 ...