Rabu, 14 Jun 2017
KHUTBAH HAJI WADA’ NABI YANG BENAR
Sabtu, 23 Julai 2016
INILAH DAKWAH KAMI, AKIDAH KAMI, AKIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH
- Mereka mengamalkan hadis-hadis dhaif (lemah), maudhu’ (palsu) dan yang tidak ada asalnya.
- Tauhid mereka penuh dengan bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah kerana dakwah mereka dasarnya adalah Al-Faqra iaitu khuruj (keluar). Dan ini diwajibkan setiap bulan 3 hari. Setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan. Setiap minggu ada 2 Jaulah…Jaulah pertama di masjid yang didirikan solat padanya. Dan yang kedua berpindah-pindah. Di setiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang didirikan solat padanya. Yang kedua di rumah. Mereka tidak senang terhadap seseorang kecuali bila ia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahawa ini adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan oleh Allah.
- Mereka berpendapat bahawa dakwah kepada tauhid itu memecah belah.
- Mereka berpendapat bahawa mengajak manusia kepada sunnah itu memecah belah umat.
- Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahawa: bid’ah yang dapat mengumpulkan manusia lebih baik daripada Sunnah yang memecah belah manusia.
- Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara halus atau terang-terangan.
- Mereka berpendapat bahawa manusia tidak akan selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang tidak naik akan hancur. Mereka berkata: "Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh." Saya sendiri yang mendengarkannya di Jordan dan di Yaman.
- Mereka tidak menaruh perhatian terhadap Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat.
- Mereka tidak mahu menuntut ilmu dan berpendapat bahawa waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu hanya sia-sia belaka
Selasa, 26 April 2016
TUHAN YANG MAHA MEMELIHARA
Allah SWT berfirman:
مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا
Sesiapa yang memberikan syafaat yang baik nescaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya; dan sesiapa yang memberikan syafaat yang buruk, nescaya ia akan mendapat bahagian (dosa) daripadanya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Surah An-Nisa' 4: 85)
Al-Muqit bermaksud Dialah (Allah) yang Maha memelihara segala sesuatu di atas 'ArasyNya. Dia mempunyai kesempurnaan yang mutlak di dalam memberikan makanan dan mengagihkan rezeki makhlukNya. Dia memberi makan dan rezeki kepada setiap makhluk sesuai mengikut batas-batas yang telah ditetapkanNya, yang sepadan dengan kuantiti dan kualiti makhlukNya, sejalan dengan hikmahNya.
Ada yang Allah berikan kepada makhluk makanan asasnya yang mencukupi untuk jangka waktu yang lama. Ada juga yang hanya cukup dalam jangka waktu yang singkat. Boleh juga Allah mengujinya dengan tidak diberikan makanan kecuali cukup dalam jangka waktu yang sangat singkat. Boleh juga Allah mengujinya dengan tidak diberikan makanan kecuali melalui kepayahan yang sangat berat. Allah SWT menciptakan makanan dengan pelbagai jenis dan warna serta memudahkan cara untuk mengambil manfaat daripadanya bagi manusia dan haiwan. Allah SWT juga Maha Memberi rezeki makanan untuk hati, melalui ilmu pengetahuan dan keimanan.
Seorang Muslim yang mengesahkan Allah dengan nama ini dia seharusnya memberikan kesan kepada segenap kaum Muslimin secara umumnya, seperti kepercayaan dan keyakinan bahawa pada hakikatnya makanan iu bersumber daripada Allah, Tuhan semesta alam.
Bahkan ketika sedang ditimpa bencana dan semputnya jalan untuk melakukan usaha mencari rezekiz, seorang Muslim seharusnya memanfaatkan makanan utamanya sebagai makanan yang seimbang. Ertinya tidak terlalu kedekut dan tidak pula terlalu berlebih-lebihan. Allah memerintahkan untuk bersikap pertengahan di dalam segala sesuatu, dan bersabar di atas rasa lapar sebagai ujian yang tidak boleh dihindari oleh manusia. Allah tidak memerintahkan untuk memaparkan diri dan menyeksa tubuh badan dengan meninggalkan makan. Makan itu ada waktunya menjadi wajib, jika sekadar untuk meluruskan tulang,dan menjadi sunat jka sekadar untuk mendapatkan rasa kenyang sehingga memberikannya kekuatan untuk bergerak dan bekerja, serta menjadi makruh ketika melebihi itu semua. (Dr. Mahmud Abdurrazak Al-Ridhwani (2005), Ad-Du'aau bil-Asmaail Husna, ms 97).
Di antara doa yang sesuai dengan nama ini adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: "Barang siapa yang Allah berikan makanan kepadanya, hendaklah dia berdoa:
اللهم بارك لنا فيه وارزقنا خيرا منه
Ya Allah! Berkatilah kami pada makanan ini dan berikanlah kepada kami rezeki yang lebih baik daripada ini." (As-Silsilatu As-Sahihah, no: 2320)
Semoga kita dapat manfaat bersama.
Rabu, 10 Februari 2016
Hadis Abu Hurairah Ada yang Hilang?
Segudang Hadis Abu Hurairah yang Hilang?
Benarkah ada hadis Abu Hurairah yang hilang? Dalam arti secara sengaja tidak disampaikan Abu Hurairah.
Dan benarkah alasan orang sufi bahwa itu dalil adanya ilmu batin.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ
Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua bejana ilmu. untuk satu bejana sudah saya sampaikan kepada kalian. Untuk bejana yang kedua, andai saya sampaikan kepada kalian maka kepalaku akan dipenggal. (HR. Bukhari 120)
Dalam riwayat lain, orang-orang mengkritik Abu Hurairah,
أَكْثَرْتَ أَكْثَرْتَ
“Kamu terlalu banyak menyampaikan hadis.”
Lalu Abu Hurairah mengatakan,
فَلَوْ حَدَّثْتُكُمْ بِكُلِّ مَا سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَرَمَيْتُمُونِي بِالْقَشْعِ ، وَلَمَا نَاظَرْتُمُونِي
Andai aku sampaikan semua yang pernah aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kalian akan melempariku dan kalian tidak akan mendebatku. (HR. Ahmad 10959 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Hadis Apa Yang Disembunyikan Abu Hurairah?
Hadis yang disembunyikan Abu Hurairah bukanlah hadis yang berkaitan tentang hukum. Tapi hadis yang berkaitan dengan fitnah dan kejadian di masa mendatang. Yang informasi ini sama sekali tidak mempengaruhi agama seseorang. Dalam arti, ketika orang itu tahu, tidak akan menambah ketaqwaannya kepada Allah. bahkan bisa jadi, jika masyarakat awam itu tahu, justru akan menimbulkan kekacauan di tengah mereka.
Seperti, besok akan terjadi pemberontakan, pembunuhan, si A membnuh si B, ada fitnah di Karbala, fitnah peperangan, dst.
Berita-berita fitnah ini, ketika hanya diketahui oleh orang yangn berilmu maka akan berada di posisi aman. Namun jika dipegang orang bodoh, akan bisa membahayakan. Karena itulah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merahasiakannya sampai beliau meninggal. Karena jika beliau sampaikan, bisa jadi beliau akan dibunuh.
Al-Qurthubi mengatakan,
قال علماؤنا : وهذا الذي لم يبثه أبو هريرة وخاف على نفسه فيه الفتنة أو القتل إنما هو مما يتعلق بأمر الفتن ، والنص على أعيان المرتدين ، والمنافقين ، ونحو هذا مما لا يتعلق بالبينات والهدى ، والله تعالى أعلم
Para guru kami mengatakan, “Ilmu yang tidak disebarkan Abu Hurairah dan beliau khawatir akan terkena fitnah dengannya atau bahkan dibunuh, adalah pengetahuan tentang masalah fitnah yang akan terjadi. Atau keterangan tentang orang-orang yang murtad, nama-nama orang munafik. Dan ilmu semacam ini tidak ada kaitannya dengan agama dan petunjuk taqwa. Allahu a’lam.” (al-Jami’ Li Ahkam al-Quran, 2/186).
Keterangan semisal juga disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar,
حمل العلماء الوعاء الذي لم يبثه على الأحاديث التي فيها تبيين أسامي أمراء السوء وأحوالهم وزمنهم ، وقد كان أبو هريرة يكني عن بعضهم ولا يصرح به خوفا على نفسه منهم
Para ulama memahami bahwa hadis-hadis yang tidak disebarkan Abu Hurairah, adalah hadis yang menyebutkan tentang nama-nama pemimpin yang jelek, keadaan mereka dan kondisi zaman ketika pemimpin itu berkuasa. Abu Hurairah terkadang menyebutkan sebagiannya secara isyarat dan tidak beliau tegaskan, karena beliau khawatir akan menimbulkan kekacauan di masyarakat dan ancaman masyarkat kepadanya.
Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan pendapat yang lain,
وقال غيره : يحتمل أن يكون أراد مع الصنف المذكور ما يتعلق بأشراط الساعة وتغير الأحوال والملاحم في آخر الزمان ، فينكر ذلك من لم يألفه ، ويعترض عليه من لا شعور له به
Ulama lain mengatakan, kemungnkinan, yang dimaksud dengan ilmu yang disembunyikan adalah informasi terkait tanda-tanda kiamat. Terjadi perubahan besar dan kekacauan di akhir zaman. Sehingga jika disampaikan akan diinkari orang yang tidak bisa menerimannya, dan ditolak oleh orang yang tidak menyadarinya. (Fathul Bari, 1/216)
Bukankah ini Menyembunyikan Ilmu?
Menyembunyikan ilmu dalam arti menyembunyikan kebenaran adalah sesuatu yang tercela. Bahkan ini karakter Yahudi. Allah berfirman menceritakan karakter Yahudi,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
“Orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang Kami turunkan, setelah kami jelaskan kepada umat manusia dalam al-Kitab, mereka itulah orang yang dilaknat Allah dan dilaknat semua yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)
Namun yang dimaksud menyemnunyikan ilmu di sini adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah iman dan hukum, yang jika orang itu tidak tahu, dia akan terjerumus ke dalam kesesatan atau dia akan melanggar syariat.
Sementara menyembunyikan ilmu dan informasi agama yang tidak ada hubungannya dengan ketaqwaan, orang tidak tahu sekalipun, tidakan akan membat dia jadi sesat atau melanggar syariat, maka menyembunyikan ilmu semacam ini tidak tercela.
Sebagaimana yang dialami Hudzaifah bin al-Yaman. Beliaulah satu-satunya sahabat yang mengetahui daftar oranng munafik di Madinah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, hanya Hudzaifah satu-satunya sahabat yang tahu daftar orang munafik di Madinah. Namun sampai Hudzaifah meninggal, beliau tidak membocorkan pengetahuan itu kepada orang lain. Karena itulah Hudzaifah digelari, ‘Shohibu sirrn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Ketika ad-Dzahabi menjelaskan tentang sikap Abu Hurairah ini, beliau mengatakan,
هذا دال على جواز كتمان بعض الأحاديث التي تحرك فتنة في الأصول أو الفروع ، أو المدح والذم ، أما حديث يتعلق بحل أو حرام فلا يحل كتمانه بوجه ، فإنه من البينات والهدى
Sikap Abu Hurairah ini dalil bolehnya menyembunyikan hadis yang bisa menimbulkan fitnah di masyarakat, baik terkait prinsip atau masalah cabang, isinya pujian atau celaan. Adapun hadis yang terkait masalah halal-haram, jelas tidak boleh disembunyikan sama sekali. Karena ini bagian dari ilmu dan kebenaran. (Siyar A’lam Nubala, 2/597)
Pengakuan Orang Sufi
Orag sufi mengklaim bahwa hadisnya Abu Hurairah adalah hadis tentang wihdatul wujud atau ilmu bathin yang hanya diwariskan kepada wali-wali sufi. Mereka tidak pernah belajar hadis, tapi ngaku punya hadisnya Abu Hurairah melalui ilmu bathin. Kata para ulama, alasan ini dalam rangka menghiasi kebodohan sufi terhadap ilmu agama, agar mereka terlihat berilmu.
Benarlah apa yang disampaikan Imam as-Syafii,
أسس التصوف على الكسل
Ajaran-ajaran sufi dibangun di atas prinsip malas. (Hilyatul Auliya, 9/137)
Dalam islam tidak ada pembagian ilmu bathin dan ilmu dzahir. Karena semua ilmu yang berkaitan dengan iman dan taqwa seseorang, wajib untuk disampaikan.
Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil keterangan Ibnul Munayir,
قال ابن المنير : جعل الباطنية هذا الحديث ذريعة إلى تصحيح باطلهم ، حيث اعتقدوا أن للشريعة ظاهرا وباطنا ، وذلك الباطن إنما حاصلة الانحلال من الدين
Ibnul Munayir mengatakan, kelompok sufi bathiniyah menjadikan hadis Abu Hurairah ini sebagai alasan untuk membenarkan kesesatan mereka, di mana mereka meyakini bahwa syariat dibagi dua: lahir dan batin. Dan ilmu yang bathin itu, terpisah dari agama. (Fathul Bari, 1/216).
Keterangan lain disampaikan Syaikh Rasyid Ridha,
فجهلة المتصوفة يزعمون أن ما عندهم من علم الحقيقة هو من قبيل ما في الوعاء الآخر من وعاءي أبي هريرة ، وبعضهم يظن أن لشيوخهم سندا في تلقي علم الباطن ، ينتهي إلى بعض الصحابة أو أئمة آل البيت عليهم الرضوان . والذي عليه المحققون أن أبا هريرة يعني بما كتم من الحديث أحاديث الفتن
Orang bodoh di kalangan sufi menganggap bahwa ilmu batin yang mereka miliki itu bersumber dari bejana Abu Hurairah yang tidak beliau sampaikan. Sebagian mereka bahkan meyakini bahwa imamnya (tokoh sufi) memiliki sanad dalam menerima ilmu batin yang sampai kepada sebagian sahabat dan imam ahlul bait radhiyallahu ‘anhum.
Padahal yang dijelaskan para ulama ahli tahqiq, bahwa hadis yang disembunyikan Abu Hurairah adalah hadis-hadis tentang fitnah. (Tafsir al-Manar, 6/390).
Allahu a’lam..
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Rabu, 18 November 2015
KEIMANAN IBUBAPA RASULULLAH S.A.W
Pada suatu pagi, saya membelek-belek surat khabar semalam yang tak sempat dibaca. Tiba-tiba saya terbaca suatu artikel yang mengatakan bahawa ibu bapa Rasulullah s.a.w. adalah di kalangan Ahli Fatrah yang beriman dan tidak kafir. Tidak lama selepas itu sayapun membuat sedikit pencarian di dalam alam maya dan saya dapati memang ada di kalangan umat manusia yang berkepercayaan demikian iaitulah golongan al-Syi'ah di samping sebahagian ulama Ahli al-Sunnah wa al-Jama'ah. Teringat saya kepada beberapa hadith yang sahih membincangkan perkara ini, lalu saya membuat carian lagi dan saya mendapati pendapat JUMHUR (di antaranya ialah al-Imam al-Nawawi) ialah ibu bapa Rasulullah s.a.w. bukan di kalangan Ahli Fatrah dan mereka tidak beriman. Saya terpanggil di sini untuk mengemukakan soal jawab tersebut yang telah pun saya terjemahkan agar dapat dimanfaatkan bersama:
(Sumber dirujuk dahulu dan juga pada 3 Mac 2010: http://www.islamqa.com/ar/ref/47170):
Adakah ibu bapa Rasulullah s.a.w. di dalam syurga atau neraka? Kami mohon jawapan berdasarkan hadith yang menunjukkan perkara tersebut.
Segala puji bagi Allah jua.
Terdapat hadith daripada Nabi s.a.w. yang menunjukkan kedua ibu bapanya berada dalam neraka.
1. Muslim (203) meriwayatkan dengan sanadnya daripada Anas r.a. bahawa seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?" Jawab Nabi, "Di dalam neraka." Apabila lelaki itu berpusing untuk pergi, Baginda memanggilnya lalu berkata, "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka."
Berkata al-Imam al-Nawawi r.a.:
"Petunjuk dalam hadith ini: bahawa sesiapa yang mati dalam keadaan kafir maka dia di dalam neraka dan dia tidak dapat disyafaatkan oleh hubungan kekeluargaan ahli keluarganya yang dekat. Petunjuk lain: bahawa sesiapa yang mati dalam tempoh 'fatrah' berdasarkan amalan masyarakat Arab yang menyembah berhala maka dia adalah di kalangan ahli neraka; ini bukan merupakan hukuman sebelum tibanya dakwah kerana sesungguhnya mereka itu telahpun sampai dakwah Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lain kepada mereka a.s. "
2. Muslim (976) meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu Hurairah katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, "Aku telah meminta izin Tuhanku agar aku boleh meminta ampun untuk ibuku tetapi Dia tidak mengizinkan untukku. Aku juga telah meminta izinNya agar aku dapat menziarahi kuburnya lalu Dia mengizinkan untukku."
Berkata Pengarang 'Awn al-Ma'bud:
"tetapi Dia tidak mengizinkan untukku" kerana ibunya adalah kafir dan meminta ampun untuk orang kafir adalah dilarang."
Berkata al-Imam al-Nawawi:
"Petunjuk dalam hadith ini: larangan meminta ampun untuk orang-orang kafir."
Berkata Shaykh Bin Baz r.a.:
"Apabila Nabi s.a.w. berkata "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka," baginda menyebutnya berdasarkan ilmu, kerana baginda s.a.w. tidak menuturkan sesuatu berdasarkan hawa nafsu, seperti yang disifatkan Allah tentangnya dalam firmanNya {1. Demi bintang semasa ia menjunam, -2. rakan kamu (Nabi Muhammad yang kamu tuduh dengan berbagai tuduhan itu), tidaklah ia menyeleweng (dari jalan yang benar), dan ia pula tidak sesat (dengan kepercayaan yang salah). 3. dan ia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri. 4. Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadaNya.} (Surah al-Najm 53:1-4).
Jika tidak kerana Abdullah bin Abdul Muttalib yang merupakan ayah Nabi s.a.w. telah tertegak hujah ke atasnya, pasti Nabi s.a.w. tidak akan mengatakan tentangnya seperti itu. Maka kemungkinan telah sampai kepadanya perkara yang menegakkan hujah daripada agama Nabi Ibrahim s.a.w. Ini kerana mereka iaitu masyarakat Arab dahulunya mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim sehingga mereka membuat amalan baru yang dipelopori oleh Amr bin Luhayy al-Khuza'i. Amalan Amr telah berleluasa dalam masyarakat; iaitu penyebaran patung-patung dan berdoa kepadanya bukan kepada Allah.
Kemungkinan yang ada ialah Abdullah (Ayah Rasulullah) telah sampai kepadanya maklumat bahawa apa yang diamalkan Quraish iaitu penyembahan patung-patung adalah batil akan tetapi dia tetap mengikuti mereka; dengan ini telah tertegaklah hujah ke atasnya. Begitu jugalah keadaanya dengan hadith yang menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah meminta izin untuk meminta ampun untuk ibunya tetapi tidak diizinkan Allah, kemudian Baginda meminta izin untuk menziarahi kubur ibunya lalu diizinkan Allah; tidak dibenarkan Baginda meminta ampun untuk ibunya, berkemungkinan kerana telah sampai kepada ibunya penjelasan yang tertegak dengannya hujah. Ataupun kerana urusan orang-orang jahiliyyah adalah seperti urusan orang kafir pada hukum-hukum dunia di mana tidak didoa untuk mereka dan tidak juga diminta ampun untuk mereka kerana pada zahirnya mereka adalah kafir dan mereka pada zahirnya bersama orang-orang kafir lalu urusan mereka adalah urusan orang kafir, dan kesudahan mereka di akhirat nanti diserahkan kepada Allah jua." Fatawa Nur 'ala al-Darb.
Al-Imam al-Suyuti r.a. berpendapat bahawa kedua ibu bapa Rasulullah s.a.w. selamat daripada kebinasaan di mana Allah Ta'ala telah menghidupkan mereka selepas mereka wafat dan mereka telah beriman dengannya.
Pendapat ini adalah pendapat yang disanggah oleh kebanyakan ahli ilmu. Mereka menghukum hadith-hadith yang mengatakan demikian sebagai samada hadith yang palsu atau amat lemah.
Berkata Pengarang 'Awn al-Ma'bud:
"Semua hadith yang berkenaan penghidupan semula ibu bapa Rasulullah s.a.w. dan keimanan mereka berdua serta keselamatan mereka kebanyakannya adalah palsu, bohong lagi direka dan sebahagiannya pula adalah sangat da'if. Ianya tidak sahih sama sekali dengan kesepakatan imam-imam hadith ke atas pemalsuannya, seperti al-Daraqutni, Ibn Shahin, al-Khatib, Ibn 'Asakir, Ibn Nasir, Ibn al-Jauzi, al-Suhayli, al-Qurtubi, al-Muhib al-Tabari, Fath al-Din bin Sayyid al-Nas, Ibrahim al-Halibi dan banyak lagi. Al-'Allamah Ibrahim al-Halabi telah menjelaskan secara terperinci berkenaan ketidak selamatan ibu bapa Nabi s.a.w. dalam satu risalah khas. Ketepatan pegangan ini disokong oleh hadith sahih ini: "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka." Al-Shaykh Jalal al-Din al-Suyuti telah menyalahi para Huffaz dan para ulama yang teliti di mana dia telah menetapkan bari ibu bapa Nabi s.a.w. keimanan dan keselamatan dengan mengarang beberapa risalah berkenaannya, antaranya ialah 'Risalah al-Ta'zim wa al-Minnah fi anna abaway Rasulillah s.a.w. fi al-Jannah'. "
Shaykhul Islam r.a. telah ditanya:
“Adakah sahih riwayat daripada Nabi s.a.w. bahawa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menghidupkan ibubapa Nabi dan mereka beriman di tangannya kemudian mereka mati semula?” Lalu beliau menjawab, “Tidak sah riwayat itu daripada sesiapapun di kalangan pakar hadith. Bahkan para ulama bersepakat bahawa perkara itu adalah bohong dan rekaan… Tiada khilaf di kalangan para ulama bahawa itu amat jelas kepalsuannya seperti yang dinyatakan oleh para ulama. Riwayat itu tidak terdapat dalam kitab-kitab muktabar dalam hadith; tidak dalam kitab sahih, sunan, musnad mahupun apa sahaja kitab-kitab hadith yang masyhur. Ianya tidak juga dinyatakan oleh pengarang-pengarang kitab sejarah dan tafsir walaupun mereka ada juga meriwayatkan hadith da’if di samping sahih. Ini kerana kejelasan pembohongan riwayat itu tidak tersembunyi langsung ke atas mana-mana orang yang beragama. Perkara begini sekiranya berlaku, pasti ianya akan menjadi satu perkara yang amat diberi perhatian dan usaha untuk disebarkan kerana ia merupakan antara perkara yang amat jelas menyalahi adat kebiasaan dari dua sudut iaitu dari sudut menghidupkan orang mati dan dari sudut keimanan selepas kematian. Justeru pasti penyebaran berita sebegini lebih utama daripada penyebaran berita lain. Apabila tiada seorangpun di kalangan orang-orang yang terpecaya meriwayatkannya, ini menunjukkan perkara ini adalah bohong… Seterusnya, perkara ini adalah bercanggahan dengan al-Kitab dan al-Sunnah yang sahih serta Ijma’.
Firman Allah Ta’ala (al-Nisa’ 4:17-18):
{17. Sesungguhnya penerimaan taubat itu disanggup oleh Allah hanya bagi orang-orang yang melakukan kejahatan disebabkan (sifat) kejahilan kemudian mereka segera bertaubat, maka (dengan adanya dua sebab itu) mereka diterima Allah taubatnya; dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. 18. dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: "Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini," (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya}. Di dalam ayat tadi, Allah telah menjelaskan bahawa tiada taubat bagi orang yang mati dalam keadaan kafir.
Firman Allah Ta’ala lagi (Ghafir 40:85):
{85. maka iman yang mereka katakan semasa melihat azab kami, tidak berguna lagi kepada mereka; yang demikian adalah menurut "Sunnatullah" (undang-undang peraturan Allah) yang telah berlaku kepada hamba-hambanya. Dan pada saat itu rugilah orang-orang yang kufur ingkar}. Di dalam ayat ini, Allah telah menjelaskan bahawa sunnahNya dalam hamba-hambaNya ialah Iman tidak bermanfaat selepas dilihat al-ba’s (azab), apatah lagi dengan maut. Dan banyak lagi nas-nas seumpamanya…”
Kemudian beliau ada juga membawa dua hadith seperti di atas. (Diringkaskan daripada Majmu’ al-Fatawa. 4/325-327).
* (Disalin dari Telegram Channel: Bicara Ilmu Bersama Dr. Fadlan Othman: telegram.me/DrFadlanOthman)
Rabu, 7 Oktober 2015
MEMBASUH TANGAN APABILA BANGUN DARI TIDUR
Nabi s.a.w bersabda:
إذا توضأ أحدكم فاليجعل في أنفه ماء ثم ليستنثر ومن استجمر فاليوتر. وإذا استيقظ أحدكم من نومه فاليغسل يديه قبل أن يدخلهما في الإناء ثلاثا، فإن أحدكم لا يدري أين باتت يده
وفي لفظ لمسلم: فليستنشق بمنخريه من الماء
وفي لفظ: من توضأ فليسنشق
"Apabila salah seorang kamu berwuduk, maka masukkanlah air ke dalam hidungnya, kemudian keluarkanlah (istintsar). Sesiapa yang bersuci dengan batu, maka gunakanlah batu dalam bilangan ganjil. Dan jika seseorang dari kamu bangun tidur, basuhlah kedua tangannya sebanyak 3 kali sebelum dia memasukkan keduanya ke dalam bekas (untuk berwuduk seperti gayung - pent), kerana seseorang kamu tidak mengetahui dimana (diletakkan) tangannya ketika malam."
Dalam riwayat Muslim: "Maka hendaklah menyedut (istinsyaq) air ke dalam hidung."
Dalam riwayat lain: "Sesiapa yang berwuduk hendaklah menyedut air ke dalam hidung."
(HR. Bukhari no: 162, Muslim no: 278)
Ikhtilaf Ulama:
Para ulama berbeza pendapat berkaitan dengan tidur yang setelahnya dianjurkan untuk membasuh tangan.
(1) Imam Syafie dan jumhur ulama berpendapat, setelah tidur bila-bila masa sahaja sama ada malam ataupun siang, berdasarkan keumuman sabda Nabi, "Dari tidurnya."
(2) Manakala Imam Ahmad dan Daud Az-Zahiri mengkhususkan tidur pada malam hari dengan alasan kerana hakikat bermalam hanya berlaku pada malam hari sahaja, serta berdasarkan riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah, "Apabila seseorang di antara kamu bangun (setelah tidur) di malam hari."
Pendapat yang paling kuat (rajih) adalah mazhab terakhir (ke-2), kerana hikmah perintah membasuh tangan ini tidak jelas. Membasuh tangan dalam hal ini lebih kuat dimaknai sebagai ta'abbudiyah (unsur ibadah). Dengan demikian, tidur di siang hari tidak boleh diqiaskan dengan tidur di malam hari, walaupun ianya berlaku dalam tempoh yang lama. Ini kerana ia bertentangan dengan sesuatu yang umum. Hukum selalunya berkaitan dengan sesuatu yang lebih umum. Zahir hadis-hadis tersebut merupakan takhsis (pengkhususan).
Para ulama juga berbeza pendapat; adakah membasuh tangan itu (yakni setelah bangun dari tidur) hukumnya wajib atau mustahab (sunnah)?
(1) Jumhur berpendapat mustahab. Itulah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Ahmad dan dipilih oleh Al-Kharqi, Al-Muwaffiq dan Al-Majid.
(2) Adapun pendapat Imam Ahmad yang masyhur ialah yang menyatakan wajib. Pendapat ini dikuatkan oleh zahir hadis di atas.
Rujukan: Taisir Al-'Allaam Syarh 'Umdatul Ahkaam, Abdullah Alu Bassaam.
Wallahua'lam
Jumaat, 25 September 2015
MENINGGAL KETIKA MELAKSANAKAN HAJI DAN UMRAH
MENINGGAL KETIKA MELAKSANAKAN HAJI DAN UMRAH
1. Meninggal Ketika Ihram
Ibnu Abbas r.huma:
بينما رجل واقف بعرفة، إذ وقع عن راحلته فوقصته، أو قال: فأقعصته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اغسلوه بماء وسدر، وكفنوه في ثوبين -وفي رواية: في ثوبيه- ولا تحنطوه -وفي رواية: ولا تطيبوه- ، ولا تخمروا رأسه ولا وجهه ، فإنه يبعث يوم القيامة ملبيا
“Ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arafah, tiba-tiba dia terjatuh dari haiwan tunggangannya lalu haiwan tunggangannya menginjak lehernya sehingga meninggal. Maka Nabi s.a.w berkata: “Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain – dan dalam riwayat yang lain: “dua potong kainnya “- dan jangan diberi wangi-wangian. Jangan ditutupi kepala dan wajahnya. Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan bertalbiyah.” (H.R.Bukhari no. 1265 dan Muslim no 1206)
2. Pahala Haji dan Umrahnya Ditulis Hingga Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah r.a dia berkata, Rasulullah s.a.w bersabda:
من خرج حاجا فمات كتب له أجر الحاج إلى يوم القيامة ومن خرج معتمرا فمات كتب له أجر المعتمر إلى يوم القيامة ومن خرج غازيا فمات كتب له أجر الغازي إلى يوم القيامة
“Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, maka dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, maka ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.” (HR Abu Ya’la dan dishahihkan Albani dalam Shahih At Targhib 1114)
3. Jika Meninggal Dalam Perjalanan dan Belum Sempat Melakukan Ihram, Maka Tidak Termasuk Meninggal Ketika Beribadah Haji
Contohnya pesawatnya jatuh ketika perjalanan dari negaranya ke Saudi dan belum berihram. Maka tidak termasuk dalam bab “meninggal ketika ibadah haji dan umrah”.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
إذا هلك من سافر للحج قبل أن يخرج فليس بحاج ، لكن الله عز وجل يثيبه على عمله ، أما إذا أحرم وهلك فهو …. ولم يأمرهم بقضاء حجه ، وهذا يدل على أنه يكون حاجاً ” انتهى .
“Jika kemalangan ketika musafir menuju haji sebelum dia keluar (berihram) maka tidak terhitung haji. Akan tetapi Allah akan membalas sesuai dengan niatnya. Adapun jika sudah berihram, kemudian kemalangan (contohnya kemalangan kereta, pent), maka termasuk dalam hadis (cara mengurus jenazahnya).” (Majmu’ Fatawa Syeikh Utsaimin 21/252)
4. Jika Meninggal Ketika Haji (sudah berihram), Maka Tidak Perlu Diqadhakan Tahun Depan Oleh Walinya
Ini kerana hadis menunjukkan bahawa dia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah hari kiamat dan ini menunjukkan sudah memadai hajinya.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelasakan:
ولم يأمرهم بقضاء حجه ، وهذا يدل على أنه يكون حاجاً
“Nabi s.a.w tidak memerintahkan untuk diqadhakan (untuk yang meninggal), kerana statusnya dia telahpun berhaji.” (Majmu’ Fatawa Syeikh Utsaimin 21/252)
Sumber: http://muslim.or.id/26603-meninggal-ketika-ibadah-haji-dan-umrah.html
Selasa, 22 September 2015
FATWA SYEIKH SOLEH FAUZAN TENTANG DOA HARI ARAFAH
Ketika beliau ditanya, apakah keutamaan doa pada hari ‘Arafah khusus bagi para jamaah haji ataukah umum untuk semua manusia?
Beliau menjawab:
الدعاء يوم عرفة عام للحجاج وغيرهم لكن الحجاج على وجه أخص لأنهم في مكان فاضل وهم متلبسون بالإحرام وواقفون بعرفة فهم يعني يتأكد الدعاء في حقهم والفضل في حقهم أكثر من غير الحجاج وأما بقية الناس الذين لم يحجوا فإنهم يشرع لهم الدعاء والاجتهاد بالدعاء في هذا اليوم ليشاركوا إخوانهم الحجاج في هذا الفضل
“Doa pada hari ‘Arafah berlaku umum untuk para jamaah haji dan selain jamaah haji. Akan tetapi, para jamaah haji lebih khusus kerana mereka berada di tempat yang mulia, sedang melaksanakan ihram dan melakukan wuquf di arafah. Doa untuk mereka menjadi sangat ditekankan. Keutamaan untuk mereka lebih banyak dari pada selain jamaah haji. Adapun masyarakat lain yang tidak berhaji, disyariatkan untuk mereka berdoa serta bersungguh-sungguh dalam berdoa pada hari ini, agar sama-sama mendapatkan keutamaan sebagaimana saudara-saudara mereka, para jamaah haji.
Selanjutnya, Dr. Al-Fauzan menyebutkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keutamaan doa ketika hari arafah, kemudian beliau menegaskan,
فالدعاء مشروع في يوم عرفة للحاج ولغيره لكنه في حق الحاج آكد وأفضل لما هو متلبس به من المناسك ولما هو فيه من المكان العظيم الفاضل وأما الزمان وفضل الزمان فيشترك فيه الحجاج وغير الحجاج وأما المكان فيختص به الحجاج وهو الوقوف بعرفة.
Oleh kerana itu, doa pada hari Arafah disyariatkan untuk orang yang berhaji dan selainnya. Akan tetapi, bagi orang yang melakukan haji, lebih ditekankan dan lebih utama, kerana mereka sedang melaksanakan berbagai manasik dan kerana mereka berada di tempat yang agung dan utama. Adapun tentang batas waktu (hari arafah) dan keutamaan waktu, jama’ah haji dan selain jamaah haji sama-sama mendapatkannya. Sementara tempat (arafah) hanya khusus untuk jamaah haji, iaitu wuquf di arafah.”
[sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/8980]
Dipetik dari sumber: http://www.konsultasisyariah.com/doa-di-hari-arafah-bagi-selain-jamaah-haji/
Isnin, 21 September 2015
Hukum Memberi Upah Kepada Penyembelih Dengan Hasil Sembelihan Korban.
أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».
“Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan aku menyembelih unta-untanya (sembelihan ketika haji). Baginda memerintahkan agar aku mensedekahkan daging, kulit dan apa yang menutupi belakang unta-unta itu (seperti pelana dan seumpamanya). Baginda juga memerintahkan agar aku tidak memberikan kepada al-Jazzar (penyembelih dan pelapah) sedikit pun darinya. Baginda bersabda, “Kami akan memberi upah kepadanya (tukang sembelih) dari (harta atau wang) kami sendiri.” (HR. Muslim no. 1317)
Dari hadis ini, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:
“Tidak boleh memberi tukang sembelih sebahagian hasil sembelihan korban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, juga menjadi pendapat Atha’, An-Nakha’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Ishaq.” (Syarh Muslim, An-Nawawi, 4/453)
Namun sebahagian ulama ada yang membolehkan memberikan upah kepada tukang sembelih dengan kulit antaranya seperti Al-Hasan Al-Bashri. Beliau mengatakan, “Boleh memberi penyembelih upah dengan kulit.”
Imam Nawawi lantas menyanggah pernyataan tersebut: “Perkataan beliau ini telah mencampak (membelakangi) sunnah.” (Syarh Muslim, An-Nawawi, 4/453)
Imam As-Shan`ani rahimahullah berkata:
“Hadis ini menunjukkan bahawa disedekahkan kulit dan apa yang menutupi binatang korban sepertimana disedekahkan dagingnya. Ianya tidak boleh diberikan kepada penyembelih atau pelapah sedikitpun darinya. Ini kerana termasuk dalam hukum jualan disebabkan kedudukannya sebagai upah. Hukum sembelihan korban sama juga dengan hukum sembelih haji dimana daging dan kulitnya tidak boleh dijual juga tidak boleh diberikan kepada penyembelih dan pelapah sedikitpun daripadanya.” (Subulus Salam 4/148)
Pengarang Kitab Al-Fiqhul Manhaji 'ala Mazahib Al-Imam Asy-Syafie berkata:
"Bagi orang yang berkorban, dia boleh sedekahkan kulit binatang korbannya atau dimanfaatkan untuk dirinya. Tetapi tidak boleh dijual atau diberi kepada penyembelih binatang korban sebagai upah kepada penyembelihannya. Ini kerana perbuatan tersebut boleh menyebabkan kekurangan pada binatang korban dan merosakkan ibadah korbannya. Al-Baihaqi (9/294) meriwayatkan daripada Nabi s.a.w sabdanya:
من باع جلد أضحيته فلا أضحية له
Barangsiapa yang menjual kulit binatang korbannya maka tidak ada korban baginya." (Kitab Fekah Mazhab Syafie, 1/282).
Boleh Memberi Daging Korban Kepada Tukang Sembelih Jika Bukan Sebagai Upah
Jika tukang sembelih dan pelapah daging telah diberikan upah mereka selain dari daging korban tersebut (seperti duit), maka boleh memberi bahagian daging korban tersebut sebagai hadiah atau sedekah bergantung kepada status mereka sama ada miskin atau kaya.
Syeikh Abdullah Al-Bassaam mengatakan, Jazzar (tukang sembelih) tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Adapun yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin…” (Taudhihul Ahkaam, IV:464).
Pernyataan Syeikh semakna dengan pernyataan Ibnu Qasim:
“Haram menjadikan bahagian haiwan korban sebagai upah bagi tukang sembelih.”
Pernyataan ini dikomentari oleh Al-Baijuri: “Ini kerana hal itu (mengupah tukang sembelih), semakna dengan jual beli. Namun jika tukang sembelih diberi bahagian dari korban dengan status sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al-Baijuri As-Syafi’i 2:311).
Ahad, 18 Mei 2014
KEBURUKAN TIDAK DISANDARKAN KEPADA ALLAH SWT
Ketika Nabi s.a.w mendapat kunjungan dari Malaikat Jibril a.s sebagai seorang manusia untuk mengajarkan kepada para sahabat Nabi s.a.w tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Berkenaan Iman, Jibril bertanya kepada baginda:
Oleh kerana itu, tidak boleh dinisbahkan keburukan atau kejahatan itu dari Allah secara tunggal, namun kejahatan itu termasuk di dalam keumuman firman Allah:
𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻
Tulisan: Su Han Wen Shu Sumber: Facebook 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 ...
-
Firman Allah SWT: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir; dan...
-
Syeikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Wahai saudaraku yang mulia; Sekarang kita sampai kepada pembahasan yang sesuai dengan judul tulisan ini...