Khamis, 21 Mei 2009

Beberapa Kesalahan Dalam Penamaan Dan Istilah

Oleh: Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kesalahan Pertama

Penisbahan isteri kepada suaminya, seperti : Suha Arafat (contoh lain dalam masyarakat Malaysia; Aida Radzwil yang dinisbahkan kepada suaminya-pent), nisbah kepada suaminya. Ini merupakan suatu kesalahan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapa-bapa mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah “[Al-Ahzab : 5]

Yang benar ialah Suha binti Fulan (nisbah kepada bapanya)

Kesalahan Kedua


Penyebutan sesuatu tidak menggunakan nama yang sebenarnya menurut syar’ie. seperti penyebutan riba bank diganti dengan faedah bank, khamr (arak) telah diberi nama dengan nama atau label yang banyak dan bermacam-macam, hingga ada yang menamainya minuman untuk membangkitkan semangat dan sebagainya, zina diganti dengan hubungan seks dan sebagainya.

Yang benar, seharusnya kita menyebut hal-hal tersebut berdasarkan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala namakan. Kerana dalam penamaan (yang Allah berikan tersebut) terdapat banyak faedah. Di antaranya, agar manusia mengetahui apa-apa yang telah diharamkan Allah, baik nama ataupun sifatnya. Sehingga mereka menjauhinya, setelah mengetahui bahaya dan ancaman seksa (bagi yang menyalahi). Dan tidak timbul kesan meremehkan pada jiwa kita mengenai keharaman tersebut setelah namanya diganti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dikutip) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu ; kamu tidak menganiayai dan tidak (pula) dianiaya” [Al-Baqarah : 278]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dengan sebab (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan solat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” [Al-Maidah : 90-91]


Kemudian firman-Nya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [Al-Isra : 32]

Kesalahan Ketiga


Penyebutan kata Al-Karm untuk anggur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menyebut anggur dengan kata Al-Karm. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Janganlah kalian memanggil dengan al-Karm, tapi namakanlah al-’Inab dan al-Hablah” [HR Muslim]

Kata al-‘Inab dan al-Hablah memiliki makna yang sama, yakni anggur. Baginda Shallallahu alaiahi wa salam juga bersabda.

“Mereka menyebut al-Karm, sesungguhnya al-Karm adalah hati seorang mu’min” [HR Al-Bukhari]

Beliau melarang hal ini disebabkan lafaz Al-Karm menunjukkan akan melimpahnya kebaikan dan manfaat pada sesuatu. Dan hati seorang mukmin lebih berhak untuk itu.

Kesalahan Keempat


Memakai kun-yah (nama gelaran) Abu al-Hakam. Karena Al-Hakim adalah Allah. Maka, tidak boleh menggunakan kun-yah tersebut. Yang benar, kita mneggunakan kun-yah yang disunnahkan, seperti Abu Abdillah, Abu Abdirrahman, Abu Abd al-Hakam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman” [HR Muslim]

Dalam hadis Al-Miqdam bin Syuraih bin Hani, ketika ia (yakni Hani) bersama kaumnya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendengar mereka memberi kun-yah Abu al-Hakam kepadanya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya, beliau berkata.

“Sesungguhnya Allah adalah Al-Hakam dan kepadaNyalah hukum kembali, maka mengapakah engkau berkun-yah dengan Abul Hakam? Ia (Hani) berkata, “Sesungguhnya jika kaumku berselisih, mereka mendatangiku lalu kuputuskan hukum diantara mereka hingga kedua belah pihak redha atas keputusanku”. Beliau berkata, “Alangkah baiknya perbuatanmu, apakah engkau memiliki anak?” Ia menjawab, “Aku memiliki Syuraih, Abdullah dan Muslim. Beliau bertanya lagi, “Siapakah yang paling besar diantara mereka?” Ia menjawab, “Syuraih”. Beliau berkata, “Kalau begitu, engkau Abu Syuraih” [HR An-Nasa’i]

Kesalahan Kelima


Memberi nama dengan nama yang mengandung unsur tazkiyah (penyucian diri), seperti : Barrah (orang yang banyak berbakti), Khalifatullah (Khalifah Allah), Wakilullah (Wakil Allah), dan sebagainya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberi nama Barrah. Beliau bersabda.

“Janganlah kalian mengatakan diri kalian suci, karena Allah lebih tahu siapa yang baik diantara kalian” [HR Muslim]

Yang benar, ialah memberi nama dengan nama-nama yang disyariatkan, seperti : Zainab, Asma, Abdullah, Abdurrahman. Ataupun nama para nabi, seperti ; Yusuf, Ibrahim dan sebagainya.

Yusuf bin Abdillah bin Salam Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiahkan nama Yusuf untukku. Beliau meletakkanku di pangkuannya dan beliau mengusap kepalaku” [HR Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, hal. 248]

Juwairiyah binti Al-Harits Al-Khuza’iyyah, dahulu bernama Barrah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merubah namanya menjadi Juwairiyah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam haditsnya yang lain, berkaitan dengan nama tazkiyah.

“Janganlah engkau namakan anak lelakimu dengan Rabah, Yasar, Aflah dan Nafi’” [HR Muslim]

Demikian juga dengan nama Kalifatullah ataupun Wakilullah. Arti kata al-Wakil adalah seseorang yang bertindak mewakili pihak yang mewakilkan. Sedangkan Allah tidak ada wakil bagi-Nya, dan tidak ada yang boleh menggantikan-Nya. Bahkan Dialah yang memelihara hamba-Nya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda.

“Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pemelihara keluarga (yang kami tinggal)” [HR Muslim]

Nabi juga melarang kita menamakan diri dengan sebutan Malikul Amlak (Raja Diraja). Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda.

“Nama yang paling hina disisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang menamakan diri dengan sebutan Malikul Amlak (Raja Diraja)” [HR Al-Bukhari]

Kesalahan Keenam


Memberi nama dengan nama yang buruk, seperti ; Harb (perang), Sha’b (sulit, susah), Hazan (kesedihan), Ushaiyyah (maksiat), Aashiyah (wanita yang bermaksiat), Murrah (pahit) dan yang semisal dengan itu.

Yang benar, memberi nama dengan nama yang baik, seperti : Hasan, Husain, dan yang semisalnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai nama yang baik. Beliau bertafaul (berharap kebaikan) dengan nama tersebut. Barangsiapa mhau mendalami hadis-hadis Nabi, n3scaya dia akan mencari makna-makna nama yang berkaitan dengan sunnah. Seakan-akan nama-nama itu diambil dari sunnah-sunnah itu.

Cubalah renungi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam berikut.

“Ghafar adalah orang yang Allah ampuni dan Aslam adalah yang Allah selamatkan, sedangkan Ushaiyyah dialah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” [HR Al-Bukhari]

Jika anda ingin mengetahui, adakah pengaruh nama bagi pemiliknya? Maka perhatikanlah kisah Said bin Al-Musayyib berikut ini.

“Dari Ibnu Al-Musayyib, dari bapanya, sesungguhnya bapanya (yakni bapa saudara Ibnu Al-Musayyib) datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya : “Siapakah namamu?”. Ia menjawab, “Hazn”. Beliau berkata, “Engkau adalah Sahl”. Ia berkata. “Aku tidak akan mengubah nama pemberian bapaku”. Ibnul Musayyib berkata : “Sejak itu kesusahan sentiasa meliputi kami” [HR Al-Bukhari]

Makna kata al-Huzunah (dalam hadits diatas, -red) adalah Al-Ghilzah (kekerasan, kesusahan) Dapat pula diertikan sebagai tanah yang keras atau tanah datar.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Nabi mengubah nama ‘Aashiyah. Beliau berkata, “Kamu Jamilah”.

Ketika Al-Hasan lahir, Ali menamainya Harb. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang seraya berkata : “Perlihatkan kepadaku cucuku. Apa nama yang kalian berikan pada cucuku?” Ali berkata, “Harb”. Beliau berkata, “Bahkan, namanya adalah Hasan”[HR Ahmad]

Kesalahan Ketujuh


Sebagian orang memberikan julukan attatharruf fi al-din (sikap berlebih-lebihan dalam agama) kepada mereka yang memegang agama secara mutasyadid (ekstrim)

Yang benar kita sebut ghuluw fi al-din (berlebih-lebihan dalam agama). Penyebutan ini pun diberikan, jika memang orang tersebut telah benar-benar keluar dari agama kerana sikap ghuluwnya tadi

Ahli hadits mengatakan istilah attatharruf fi al-din ini muncul pada awal abad ke lima belas hijriah. Ketika itu terjadi taubat besar-besaran para pemuda muslim. Mereka berbondong-bondong kembali kepada Allah., beriltizam (konsisten) kepada hukum-hukum dan adab-adab Islam, serta mendakwahkannya. Sebelumnya, keadaan mereka (yang ber-iltizam kepada Islam), dikatakan sebagai golongan terbelakang, taksub, jumud dan ejekan-ejekan lainnya. Maka ketahuilah, sesungguhnya agama Allah berada di pertengahan antara sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan sikap meremehkan.

Para ulama Islam pada setiap masa pun senantiasa melarang sikap ghuluw dalam agama, disamping mereka juga selalu mengajak kepada taubat.

Adapun pada zaman sekarang, timbangan norma telah banyak diputar-belitkan. Hingga orang yang bertaubat dan kembali kepada Allah (hal ini merupakan sesuatu yang diwajibkan oleh syari’at) disingkirkan, dengan alasan sikap berlebihan tadi. Maksudnya, agar orang-orang menjauhi mereka dan untuk melumpuhkan dakwah ilallah. Ini jelas pemikiran jahat Yahudi. Semoga Allah membinasakan mereka.

Namun sangat aneh dan menghairankan. Kaum muslimin menerima begitu saja pemikiran tadi. Tidakkah mereka berfikir dan menolaknya?

Kesalahan Kelapan


Sebagian suami memanggil isterinya dengan sebutan Ummul Mu’minin. Ini jelas haram. Kerana keadaan yang benar untuk memanggil dengan panggilan tersebut ialah si suami haruslah seorang Nabi dan isteri-isterinya adalah Ummahatul Mu’minin. Suatu kesalahan yang boleh mengakibatkan kepada kekufuran. Kerana kita harus meyakini, bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam

Ada juga suami yang memanggil isterinya dengan panggilan Madam, suatu panggilan ala Perancis yang terlarang. Kerana mengandung unsur tasyabbuh (meniru) orang kafir.

Yang benar ialah memanggil isteri dengan nama kun-yahnya seperti Ummu Abdillah, Ummu Fulan, atau dapat juga dengan panggilan zaujati (isteriku) atau ahli (keluargaku).

Wallahul hadi ila ar-rasyad.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VI/1423H/2003M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]

Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/2457/slash/0

Selasa, 19 Mei 2009

Muhkamat dan Mutasyabihat

Seringkali kita mendengarkan ayat-ayat yang disebut sebagai ayat-ayat muhkamat dan satu lagi ayat-ayat mutasyabihat. Pokok utama yang menjelaskan tentang ini adalah pada firman Allah di dalam surah Ali Imran ayat 7:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Maksudnya: “Dia lah yang menurunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Kitab suci Al-Quran. sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. dan yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah kefahaman yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) - adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukainya). padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu ugama, berkata: "Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran.”

Tafsirannya:

Allah menjelaskan bahawa di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang muhkam yang merupakan dasar-dasar Al-Quran iaitu ayat-ayat yang jelas dan terang pengertiannya serta tidak ada kesamaran baginya.

Selain dari itu ada ayat-ayat yang mutasyabih iaitu ayat-ayat yang terdapat di dalamnya kesamaran dari sudut pengertian sama ada bagi kebanyakan orang mahupun sebahagian orang.

Al-Imam Ibn Katsir rahimahullah berkata:

“Para ulama telah berbeza pendapat mengenai pengertian ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat ini. Banyak ungkapan mengenai hal ini yang diriwayatkan dari para ulama salaf. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibn Abbas bahawa ayat-ayat muhkamat itu adalah ayat-ayat nasakh, ayat-ayat mengenai halal dan haram, hudud (hukuman), hukum-hukum apa yang diperintahkan dan apa yang hendak diamalkan.

Dan dikatakan pula mengenai ayat-ayat mutasyabihat, iaitu ayat yang mansukh, didahulukan, diakhirkan, perimpamaan-perumpamaan, sumpah, dan apa yang harus dipercayai tetapi bukan hal yang diamalkan. Ada juga yang berpendapat bahawa ayat mutasyabihat adalah huruf-huruf yang terpotong di awal-awal surah.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, jilid 2, ms. 5)

Demikian ayat-ayat Mutasyabihat merupakan lawan dari ayat-ayat yang muhkamat. Oleh sebab itu, Allah berfirman:

“…Adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukainya). padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah…”

Maksudnya adalah mereka yang mengambil ayat-ayat mutasyabihat untuk mereka mengubah ayat-ayat tersebut kepada maksud-maksud yang rosak sebagaimana orang-orang Nasrani ketika berhujah mereka mengatakan Al-Quran menyatakan bahawa “Isa itu adalah roh Allah.” Sedangkan ayat lain yang mereka tidak berhujah dengannya menyatakan “Isa itu tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian).” Dan juga firmanNya “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian berfirman kepadanya, (Kun) ‘Jadilah’, maka jadilah ia.” (Ali Imran: 59) (Tafsir Ibn Katsir, jilid 2, ms. 6. Pustaka Imam Asy-Syafi’i)

Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Kamil telah menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kapada kami, dari Abu Ghalib, di mana dia berkata, aku pernah mendengar Abu Umamah menyampaikan sebuah hadis dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, mengenai firman Allah:

“Adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran”

Baginda bersabda: “Mereka itulah golongan Khawarij.” Dan juga firman Allah:

“Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (Ali Imran: 106)

Baginda bersabda: “Mereka (muka yang hitam muram) itulah golongan Khawarij.”

Menurut Ibn Katsir rahimahullah hadis ini sekurang-kurangnya mauquf dari perkataan sahabat, namun makna hadis ini sahih, kerana bid’ah yang pertama sekali muncul dalam Islam adalah fitnah Khawarij. Penyebab pertama mereka dalam hal keduniaan ialah ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam membahagikan harta rampasan perang Hunain, maka mereka yang rosak pemikirannya, seolah-olah melihat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak adil dalam pembahagian tersebut.

Kemudian seorang juru cakap mereka yang bernama “Dzul Khuwaishirah” berkata kepada Nabi: “Berlaku adillah engkau, sebab engkau telah berlaku tidak adil.” Kemudian Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh gagal dan rugilah aku jika aku tidak berlaku adil. Apakah Allah mempercayaiku memimpin penduduk bumi ini, namun kalian tidak mempercayaiku?”

Maka ketika orang itu berpaling, ‘Umar bin Al-Khattab meminta izin untuk membunuhnya, maka baginda bersabda:

“Biarkan dia. Sesungguhnya akan keluar dari kalangannya suatu kaum yang mana salah seorang di antara kalian memandang remeh solatnya berbanding solat mereka, dan bacaannya dibandingkan bacaan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Maka di mana pun kalian temui mereka, maka bunuhlah mereka, kerana sesungguhnya tersedia pahala bagi orang yang dapat membunuh mereka.”

Tidak diragukan lagi kelompok Islam akan berpecah berdasarkan apa yang telah diisyaratkan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan kelompok pertama ini benar-benar dibunuh oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahi ‘anhu pada peperangan Nahrawan. Maka dari saat itulah bermunculanlah kelompok-kelompok sesat lain di antaranya Qadariyyah, Muktazilah, Jahmiyyah dan lain-lain. (Tafsir Ibn Katsir, jilid 2, ms. 7-8)

Firman Allah:

“Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.”

Menurut Ibn Katsir takwil di sini bermaksud tafsir, keterangan dan berupa penjelasan mengenai sesuatu hal, sebagaimana firmanNya:

“Berikanlah kami takwilnya.” (Yusuf: 36)

Sebagaimana doa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma:

“Ya Allah berikanlah pemahaman kepadanya mengenai masalah agama dan ajarkanlah takwil (tafsir) kepadanya.” (Hadis riwayat Bukhari dan Ahmad)

Firman Allah:

“Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu ugama, berkata: "Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran.”

Firman Allah ini menjelaskan bahawa mereka (orang-orang yang mendalam ilmunya) mengatakan: “Kami beriman kepadanya” yakni kepada ayat-ayat mutasyabihat. Sama ada ayat-ayat muhkamat mahupun ayat-ayat mutasyabihat, maka ianya adalah benar, saling membenarkan dan menguatkan kerana semuanya itu berasal dari Allah Ta’ala. Sebab tidak ada satu pun yang berasal dariNya saling berbeza dan bertentangan antara satu sama lain, sebagaimana firman Allah:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa: 82)

Oleh sebab itulah, Allah berfirman: “dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran” ertinya yang dapat memahami dan merenungi maknanya hanyalah orang-orang yang berakal sihat dan mempunyai pemahaman yang benar.

Rasulullah pernah mendangar suatu kaum yang saling bertengkar, lalu baginda bersabda:

“Sesungguhnya dengan sebab (pertengkaran) inilah orang-orang sebelum kalian itu binasa. Mereka mempertentangkan sebahagian isi Kitab Allah dengan sebahagian yang lain. Sesungguhnya Kitab Allah itu diturunkan untuk saling membenarkan yang satu dengan yang lainnya. Oleh kerana itu, janganlah kalian mendustakan sebahagiannya dengan sebahagian lainnya. Apa sahaja yang kalian ketahui darinya, maka katakanlah. Dan apa sahaja yang kalian tidak ketahui darinya, maka serahkanlah kepada yang mengetahuinya.” (Hadis riwayat Ahmad dari ‘Amr bin Syu’aib)

Khamis, 14 Mei 2009

KEBANGKITAN ISLAM

Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albani rahimahullah.

”Yang saya yakini adalah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam ini yang mungkin dilontarkan pada masa kiwari. Hadits tersebut adalah sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :


إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِاْلعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ اْلبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُم ُاْلجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ


”Apabila kamu berjual beli dengan ’inah (jual beli sistem riba), memegang ekor-ekor sapi, ridla (terlalu sibuk) dengan pertanian, dan meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan menghilangkannya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian [HR. Abu Dawud].


Jadi asasnya adalah rujuk (kembali) pada Islam. Persoalan ini telah diisyaratkan oleh Al-Imam Malik رحمه الله dalam sebuah kalimat ma’tsur yang ditulis dengan tinta emas : ”Barangsiapa yang yang mengada-adakan bid’ah di dalam Islam kemudian menganggap bid’ah tersebut baik, berarti ia telah menganggap Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. (Padahal) Allah telah berfirman :


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً


”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. [QS. Al-Maaidah : 3].


Oleh karena apa yang hari itu bukan agama, maka pada hari ini pun bukan agama. Dan tidaklah baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah menjadi baik pada awal umat ini” [---- selesai perkataan Imam Malik ----].


Kalimat terakhir Al-Imam Malik di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataan beliau :


لا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا


”Tidaklah baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah menjadi baik pada awal umat ini”.


Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyyah dahulu tidak menjadi baik keadaan kecuali setelah datang Nabi mereka, Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam dengan membawa wahyu dari langit yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yaitu tidak lain hanyalah rujuk (kembali) kepada Al-Kitab was-Sunnah.


Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama’ah serta golongan-golongan Islam yang ada di ”lapangan” mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam. Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :


وَأَنّ هَـَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتّبِعُوهُ وَلاَ تَتّبِعُواْ السّبُلَ فَتَفَرّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ


”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya” [QS. Al-An’am : 153].


Dan sungguh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah menjelaskan makna ayat ini pada para shahabatnya. Beliau satu hari menggambarkan pada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi. Kemudian beliau shallallaahu ’alaihi wasallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat di sisi-sisinya (yaitu garis-garis yang pendek – Abul-Jauzaa’.), beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :


هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ سَبِيل مِنْهَا الشَّيْطَانَ يَدْعُوا لَهُ


”Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya” [Shahih, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Dhilalul-Jannah fii Takhriijis-Sunnah hal. 16-17].


Allah ’azza wa jalla pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hadits di atas dengan ayat lain, yaitu firman-Nya :


وَمَن يُشَاقِقِ الرّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُ الْهُدَىَ وَيَتّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلّهِ مَا تَوَلّىَ وَنُصْلِهِ جَهَنّمَ وَسَآءَتْ مَصِيراً


”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [QS. An-Nisaa’ : 115].


Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tandas, yaitu bahwa Allah ta’ala mengikatkan kalimat ’jalannya orang-orang mukmin’ kepada apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hadits ifitiraaq (perpecahan) ketika beliau shallallaahu ’alaihi wasallam ditanya tentang Al-Firqatun-Najiyyah (golongan yang selamat). Saat itu beliau menjawab :


مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ


”(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku pada hari ini berada di atasnya” [Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 203].


Apakah gerangan hikmah yang dimaksud ketika Allah menyebutkan ’jalannya orang-orang mukmin’ [سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ] dalam ayat di atas ? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mengikatkan para shahabatnya pada diri beliau sendiri dalam hadits di atas ? Jawabannya : Bahwa para shahabat radliyallaahu ’anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) langsung dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Beliau telah menjelaskannya secara langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana orang-orang sesudahnya. Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam sabdanya :


إنَ الشَّاهِدَ يَرَى مَا لا يَرَى اْلغَائِبُ


”Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang tidak hadir” [Lihat Shahihul-Jaami’ no. 1641].


Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hadits mutawatir :


خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ


”Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].


Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidaklah bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat yang mulia, (yaitu) orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam; yang terkadang beliau menjelaskan dengan perkataan, perbuatan, atau dengan taqrir (persetujuan) beliau.


Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam ”mengajak orang kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah” untuk menambahkan prinsip ”berjalan di atas apa yang ditempuh As-Salafush-Shalih” dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka manakala Allah menyebutkan ’ jalannya orang-orang mukmin’ [سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ], dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami kaum salaf (generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallaahu ’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik).


Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama’ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu adalah ” Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan memaksanakan sunnah ini ?”. Jawabannya : ”Tidak ada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus kembali kepada ilmu hadits, ilmu musthalah hadits, ilmu jarh wa ta’dil, dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan mana yang tidak shahih”.


Sebagai penutup jawaban, kami bisa engatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan ’izzah (kehormatan), kejayaan, dan hukum Islam, yaitu Anda harus bisa merealisasikan dua perkara :


Pertama, Anda harus mengembalikan syari’at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalamnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya ketika Allah menurunkan firman-Nya :


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً


”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. [QS. Al-Maaidah : 3].


Mengembalikan persoalan hari ini menjadi persoalan jaman pertama dahulu membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di berbagai penjuru dunia.


Kedua, Kerja keras yang terus-menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu. Pada hari dimana kaum muslimin telah kembali memahami agama (dien) mereka sebagaimana yang dipahami para shahabat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan itu secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mukminin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.


Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin sesuai dengan tuntunan Kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang sahih sebagaimana yang ditempuh oleh Salafunash-Shaalih. Kita memohon kepada Allah agar Dia memberi taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa. Wallaahu a’lam”


[selesai perkataan Asy-Syaikh Al-Albani, sebagaimana terdapat dalam majalah Al-Ashalah edisi 11 tanggal 15 Dzulhijjah 1414 H, Beirut].

Jumaat, 17 April 2009

Solat Istikhoroh Sebagai Satu Sarana Mendapatkan Petunjuk Terbaik

Oleh: Bro Nawi
http://al-qayyim.net/web/index.php?option=com_content&task=view&id=790&Itemid=65

Definisi Solat Istikhoroh

Kata istikhoroh dalam bahasa Arab yang maknanya adalah الاستخارة iaitu maksudnya mencari yang lebih baik. (Lihat: Lisanul Arab 4/259 cet. Dar Ihya at-Turots Th. 1419H, dan al-Mu’jam al-Wasith 1/261)

Manakala yang dimaksudkan sebagai Solat Istikhoroh menurut istilah syar’i adalah solat yang dilakukan untuk memilih yang lebih baik (yang terbaik) dari beberapa perkara yang hendak dilakukan atau ditinggalkan. (Asal perkataan ini oleh Muhammad Syamsul Haq al-Adhim al-Abadi dalam Aunul Ma’bud 4/277, dan diringkaskan dari Nailul Author 2/297, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab 3/377, Tuhfatul Ahwadzi 2/482, dan Syarh Riyadhus Sholihin oleh Ibnu Utsaimin 2/215)

Hukum Solat Istikhoroh

Para ulama bersepakat bahawa solat Istikhoroh hukumnya sunnah dan tidak wajib. Ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi, Imam as-Syaukani, al-‘Iraqi dan selainnya. Perkataan bahawa solat Istikhoroh tidak wajib telah dinyatakan sendiri oleh Rasulullah dalam hadis-hadis yang sahih, dan oleh kerananya para ulama menjelaskan bahawa hukum solat Istikhoroh adalah sunnah/tidak wajib. Mereka membawakan hadis-hadis yang sahih seperti hadis yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari:

Dari Jabir bin Abdullah beliau berkata: “Nabi memberitahu (mengajarkan) kepada kami (solat) istikhoroh dalam segenap perkara sebagaimana beliau mengajari kami surah-surah al-Qur’an”, beliau bersabda: “Apabila di antara kalian berkeinginan/bermaksud terhadap sesuatu perkara, hendaklah dia solat sunnah dua rakaat bukan termasuk wajib, kemudian berdoa (Lihat hadis ini);

:دعاء صلاة الاستخارة
عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ : إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ: (اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك) خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي (أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك) شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي (أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ) وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ وَفِي رواية ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ
((11رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (66))

Doanya:

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك) خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي, فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك ) شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي, فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ


Atau:

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك) خَيْرٌ لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك ) شَرٌّ لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ


(Rujukan: http://saaid.net/bahoth/41.htm)

Transliterasi Doa:

Allaahumma inni astakheeruka bi 'ilmika wa astaqdiruka bi qudratika wa as'aluka min fadlikal ‘adziim, fa innaka taqdiru wa laa aqdir, wa ta'lamu wa laa a'lam, wa anta 'allaamulghuyoob. Allaahumma in kunta ta'lamu anna haadzal-amra [dinyatakan apa yang diminta] khayrulli fi diinii - wa ma’aashii wa ‘aaqibati amri - (atau: 'aajil amri wa aajilihi) faqdurhu li wa yassirhu li tsumma baarik lii fiihi. Allaahumma wa in kunta ta'lamu anna haadzal amro [dinyatakan apa yang diminta] sharrullii fi diini - wa ma'aashi wa 'aaqibati amri - (atau: 'aajili amri wa aajilihi) - fasrifhu 'anni washrifnii ‘anhu - waqdur lilkhayr haytsu kaana tsummaradinii bihi

Terjemahan (Doa):

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan pengetahuan-Mu, aku memohon keputusan-Mu dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon kepada-Mu dengan keutamaa-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau berkuasa dan aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah! Apabila Engkau mengetahui bahawa urusan ini [dinyatakan hajatnya] baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku (bagi masa terdekat dan jangkamasa panjang), maka takdirkanlah dan mudahkanlah bagiku, kemudian berkatilah aku di dalamnya. Apabila Engkau mengetahui bahawa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku, (bagi masa terdekat dan jangkamasa panjang), maka jauhkanlah ia dariku atau jauhkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan bagiku di mana jua, kemudian jadikanlah aku redha dengannya.” (Hadis Riwayat Bukhari,1166)

Bilakah Disunnahkan/Dituntut Melakukan Solat Istikhoroh

Disyari’atkan/Disunnahkan/Dituntut melakukan solat Istikhoroh apabila seseorang berkehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu perkara sama ada perkara besar atau kecil, dan dia mendapati keraguan, kesamaran atau ketidaktahuan akan akibat baik atau buruk baginya di masa yang akan datang, seperti pernikahan, safar (bepergian), hutang-piutang, jual-beli, sewa-menyewa, membuka perniagaan, atau seumpamanya.

Al-Mubarakfuri berkata (Dinukil secara ringkas dari Tuhfatul Ahwadzi oleh al-Mubarakfuri, 2/482): “Perkataan Jabir bin Abdullah: “Rasulullah memberitahu (mengajarkan) kepada kami solat Istikhoroh dalam segenap perkara...” menunjukkan bahawa solat Istikhoroh disyariatkan ketika menghadapi semua perkara, sama ada kecil atau besar, dan seseorang tidak boleh meremehkan sesuatu perkara, walaupun menurutnya ia remeh, sehingga meninggalkan syari’at solat Istikhoroh, dan melakukan perkara yang dianggap remeh padahal akibatnya sangat besar baginya sama ada keuntungan atau kerugian, atau manfaat dan madharatnya.”

Muhammad Syamsul Haq al-Adhim al-Abadi berkata (Dinukil secara ringkas dari Aunul Ma’bud 4/278): “Perkataan Nabi: “Apabila ada di antara kalian berkeinginan/bermaksud...,” menunjukkan bahawa solat Istikhoroh disyariatkan bagi sesiapa saja yang benar-benar bermaksud melakukan atau meninggalkan apa yang terlintas dibenaknya tetapi dia tidak mengetahui akibatnya. Dan ini bukanlah bererti setiap apa yang terlintas dibenaknya membawa kepada perlunya melaksanakan solat tersebut. Maka ini akan menjadikan setiap masa seseorang itu diwajibkan solat Istikhoroh sehingga waktunya habis hanya untuk solat Istikhoroh, akhimya ibadah yang lain ditinggalkan, dan kegiatan lain yang bermanfa’at pun terabai lantaran setiap orang selalu terlintas dibenaknya pelbagai masalah dalam setiap saatnya.”

Solat Istikhoroh hanya dilakukan apabila seseorang ragu atau tidak tahu akibat dan perkara yang akan dilakukan atau ditinggalkan, adapun perkara yang sudah diketahui akibat baiknya atau akibat buruknya, maka tidak disyari’atkan untuk solat Istikhoroh, lantaran maksud dari istikhoroh adalah mencari yang lebih baik dari suatu perkara. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin oleh Ibnu Utsaimin 2/511-512)

As-Sayyid Sabiq berkata: “Istikhoroh hanya disyariatkan pada masalah yang pada asal hukumnya mubah (harus), adapun perkara yang wajib atau sunnah, maka sudah diketahui bahawa perkara itu berakibat baik, diperintahkan untuk dilaksanakan dan berpahala. Demikian juga perkara yang haram dan makruh, maka perkara tersebut sudah diketahui bahawa akibatnya buruk dan diperintahkan untuk meninggalkannya, serta diancam dengan azab Allah. Dari sini kita mengetahui bahawa tidak disyari’atkan solat Istikhoroh dalam perkara wajib, sunnah, haram dan makruh, kerana semua itu telah jelas akibat baik dan buruknya”. (Dinukil secara bebas dari Fiqh as-Sunnah 1/199, demikian juga dikatakan oleh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Bahjah an-Nadhirin Syarh Riyadh as-Sholihin, 2/43)

Solat Istikhoroh boleh dilakukan untuk perkara wajib atau sunnah, tetapi bukan dilakukan untuk mencari akibat baik atau buruk dan perkara yang wajib atau sunnah tersebut (lantaran akibat dan perbuatan wajib dan sunnah sudah jelas baik, dan berpahala), tetapi ia dilakukan seperti untuk menentukan waktu terbaik pelaksanaan perkara wajib tersebut, atau ingin mendahulukan yang terbaik dari beberapa perkara sunnah yang hendak ia lakukan, atau mungkin juga hendak memilih di antara dua perkara yang baik yang lebih sesuai dan tepat untuknya.

Suatu contoh, seseorang yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, maka ia tidak perlu beristikhoroh untuk menentukan adakah qadha’ puasa baginya baik atau buruk, kerana sudah jelas hukum mengqadha’ puasa Ramadhan adalah wajib dan berpahala, tetapi ia dapat beristikhoroh apabila ragu menentukan hari untuk mengqadha’ puasanya.

Contoh lain, seseorang penuntut ilmu (pelajar) yang dihadapkan dengan dua pilihan misalnya, di antara mengambil kursus kejuruteraan komputer dan kursus kejuruteraan kimia, maka dia tidak perlu beristikhoroh tentang baik atau buruknya kedua ilmu tersebut kerana jelas semuanya berakibat baik dan berpahala, akan tetapi ia dapat beristikhoroh bagi memilih yang manakah terbaik di antara keduanya untuk masa depannya dan kelancaran pembelajarannya.

Antara Istikhoroh Dan Musyawarah

Istikhoroh adalah perkara yang disyariatkan sebagaimana musyawarah juga disyariatkan, sebagaimana firman-Nya;

“Maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segenap perkara. Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Surah Ali Imran 3: 159)

Syaikh ibnu Utsaimin berkata:

Istikhoroh (meminta yang terbaik) itu kepada Allah, sedangkan musyawarah itu meminta pendapat kepada orang-orang yang soleh atau kepada mereka yang berilmu dalam urusan yang dihadapi. Oleh kerana itu disyaratkan bagi orang yang hendak bermusyawarah untuk memilih orang yang mempunyai dua kriteria, iaitu;

Pertama, dia adalah seorang yang bijak (mampu membantu dan memberi pendapat yang baik). Hal ini lantaran seorang yang bermusyawarah memerlukan pandangan yang baik dan paling sesuai/benar untuk kemaslahatan (kebaikan) dirinya sama ada di dunia atau di akhirat.

Kedua, dia adalah seorang yang soleh (menjaga agamanya). Lantaran orang yang tidak soleh adalah orang yang tidak menjaga agamanya dan biasanya tidak menjaga amanah dan rahsia orang lain walaupun orang tersebut bijaksana (memiliki pendapat yang bernas).

Apabila setelah melaksanakan solat dan doa istikhoroh tetapi tidak tampak mana yang lebih baik, maka dianjurkan bermusyawarah dengan orang yang soleh dan bijaksana. Kemudian apa yang disarankan kepadanya insya-Allah itulah yang lebih baik baginya, kerana suatu ketika Allah tidak menampakkan kepada seseorang suatu kebaikan dan tidak menjadikan hati seseorang condong/cenderung kepada suatu perkara hanya dengan istikhoroh, tetapi Allah menjadikan hatinya condong kepada salah satu hal yang diragukan setelah bermusyawarah.”

Cara Solat Istikhoroh

Solat Istikhoroh dilakukan seperti solat sunnah yang lain iaitu sebanyak dua rakaat, sama ada siang atau malam hari (selama sedang memerlukan petunjuk), dalam setiap rakaatnya membaca al-Fatihah dan terpulang untuk membaca surah apa saja yang sudah dihafal, lalu mengangkat tangan sambil berdoa dengan doa istikhoroh yang diajarkan oleh Nabi seperti yang telah disebutkan/dibentangkan di atas (dalam hadis al-Bukhari dari jalan Jabir Bin Abdullah). (Asal perkataan ini oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah, 11/421)

Adakah Dalam Solat Istikhoroh Ada Bacaan Khusus/Tertentu?

Imam Nawawi mengatakan: “Disunnahkan pada raka’at pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun dan raka’at ke dua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 2/377), hal ini berpandukan kepada maksud (tujuan) orang yang beristikhoroh supaya mengikhlaskan niatnya hanya kepada Allah, sehingga yang patut dibaca adalah dua surah tersebut.

Manakala al-Hafiz al-’Iraqi mengatakan (Perkataan ini dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi 2/484): “Aku tidak menjumpai satu hadis pun berkenaan penentuan bacaan surah-surah khusus dalam solat Istikhoroh.”

Dan keterangan di atas jelaslah bahwasanya pendapat yang lebih kuat adalah tidak adanya ketentuan surah-surah yang dibaca ketika solat Istikhoroh, ini kerana tidak ada keterangan dari Rasulullah akan hal tersebut, dan mereka yang mensunnahkan surah-surah tertentu tidak mendatangkan dalil al-Qur’an dan Sunnah, sehingga kita katakan disunnahkan setelah membaca al-Fatihah pada masing-masing raka’at untuk membaca surah apa saja dari al-Qur’an yang telah dihafal.

Berkata Ibnu Bazz (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawzvi’ah 11/421): “Hendaklah (orang yang solat Istikhoroh) membaca al-Fatihah di setiap raka’at dan membaca surah apa saja yang mudah.”

Bilakah Doa Istikhoroh Dibacakan?

Doa Istikhoroh boleh dibaca samaada sebelum salam atau selepas salam selepas solat dua raka’at. (Sebagaimana fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya 12/105)

a. Sebelum salam

Adapun dibolehkan membaca do’a istikhoroh sebelum salam ini berdasarkan:

1. Kebanyakan doa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam solat dilakukan sebelum salam (setelah tasyahud akhir), seperti yang dijelaskan oleh Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi bersabda: Apabila kalian selesai dari tasyahud yang terakhir, hendaklah berdo’a meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara, iaitu mengucapkan (maksudnya);

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahannam, dan azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 1377, dan Muslim 588)

2. Demikian juga Rasulullah mengajari Abu Bakar tatkala beliau minta diajarkan do’a yang boleh dibaca dalam solatnya, lalu Nabi memerintahkan beliau untuk membaca (maksudnya);

“Ya Allah sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 834 dan Muslim 3/7/27)

3. Dalam Hadis Jabir bin Abdullah, Rasulullah tidak menentukan tempat dibacanya doa istikharah apakah harus dibaca sebelum salam atau setelah salam.

b. Sesudah salam

Sedangkan dibolehkan doa Istikhoroh dibaca sesudah salam berdasarkan zahir hadis yang menunjukkan doa tersebut dibaca sesudah salam, sebagaimana Nabi bersabda (yang ertinya): “Apabila di antara kalian berkeinginan/bermaksud terhadap suatu perkara, hendaklah solat sunnah dua rakaat bukan termasuk wajib, kemudian berdo’a...”

Berkata Ibnu Baz: “Solat Istikhoroh hukumnya sunnah, dan do’a istikhoroh tempatnya setelah salam sebagaimana (zahir) hadis yang telah datang dari Rasulullah” (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah 11/421422). (Demikian juga difatwakan oleh Lajnah Da’imah dalam Fatwa no. 10666)

Apa Yang Dilakukan Setelah Solat Istikhoroh Dan Bermusyawarah?

Imam Nawawi rahimahullah berkata (Perkataan Imam Nawawi (dinukil secara bebas) ini dinukil oleh Imam asy-Syaukani dalam Nailul Author 2/298): “Setelah seseorang melakukan solat Istikhoroh, sebaiknya dia menjalani apa yang dia rasakan lapang dadanya terhadap perkara tersebut sama ada meneruskan maksudnya atau meninggalkannya.”

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya:

“Bagi orang yang hendak beristikhoroh hendaklah dia menghilangkan kecondongan hatinya terhadap suatu perkara sebelum melakukan solat dan doa Istikhoroh, dan tidak selayaknya bersandar kepada adanya kecondongan hati sebelum istikhoroh, kerana apabila ada kecondongan hati sebelum istikhoroh, lalu dia melakukan istikhoroh, bererti dia tidak beristikhoroh, kerana istikhoroh dilakukan ketika bimbang dan meminta dipilihkan yang terbaik dari Allah untuknya.”

Boleh Mengulang Solat Istikhoroh Dalam Satu Perkara

Ibnu Utsaimin berkata (Dinukil secara bebas dari Syarh Riyadhus Sholihin oleh Ibnu Utsaimin 2/515): “Setelah melakukan solat dan do’a istikhoroh, apabila merasa lapang dadanya terhadap suatu perkara dia boleh meneruskan atau meninggalkan, maka inilah yang diharapkan, tetapi apabila tetap bimbang dan tidak merasa lapang dadanya, maka dia boleh mengulangi solat dan doa Istikhorohnya untuk kali kedua, ketiga, dan seterusnya. Perkara ini kerana orang yang beristikhoroh adalah orang yang meminta petunjuk kepada Allah untuk tujuan kebaikan yang akan dia lakukan sehingga apabila tidak jelas baginya kebaikannya atau tetap ragu maka dia boleh beristikhoroh berulang kali.”

Adakah Tanda-Tanda Dikabulkannya Permintaan?

Sebahagian orang berkata: “Setelah melakukan solat dan doa Istikhoroh, maka akan datang petunjuk dalam mimpinya, maka diambil pilihan sebagaimana mimpinya,” oleh kerana itu ada sebahagian orang berwudhu’, lalu melakukan solat dan doa istikhoroh, kemudian terus tidur (mengharap petunjuk datang melalui mimpi), bahkan sebahagian mereka menyengaja memakai pakaian berwarna putih (supaya bermimpi baik), semua ini hanyalah prasangka manusia (yang tidak ada dasarnya). (Lihat Bahjah an-Nadzirin Syarh Riyadhus Sholihin oleh Syaikh Salim bin led al-Hilali 2/44)

Kesimpulan

1. Rasa bimbang, ragu, dan ketidak-tahuan terhadap baik dan buruknya sesuatu perkara adalah hal yang biasa terjadi yang mana semua itu adalah termasuk di dalam tabiat dan keterbatasan manusia.

2. Solat Istikhoroh adalah solat yang dilakukan untuk meminta petunjuk kepada Allah untuk kebaikan perkara yang sedang dihadapi.

3. Para ulama bersepakat (ijma’) bahawa solat Istikhoroh hukumnya sunnah.

4. Solat Istikhoroh disunnahkan bagi segenap perkara sama ada besar atau kecil, selagi mana seseorang bimbang atau ragu ataupun tidak mengetahui maslahatnya di masa akan datang/terkemudian.

5. Apabila sudah terdapat kecondongan hati atau mengetahui tentang baiknya perkara (dari awal lagi), maka tidak disunnahkan beristikhoroh, ini kerana solat istikhoroh itu dilakukan adalah bagi tujuan meminta petunjuk, dan Allah memerintahkan hambanya yang telah melaksanakannya supaya bertawakal kepada Allah.

6. Istikhoroh disunnahkan dalam perkara-perkara yang asalnya mubah, ada pun perkara wajib dan sunnah, maka tidak disunnahkan ber-istikhoroh, ini kerana kebaikannya sudah jelas baginya, sebagaimana perkara haram dan makruh tidak disunnahkan ber-istikhoroh kerana keburukannya sudah jelas baginya.

7. Tidak terdapat dalil yang sah berkenaan pengkhususan bacaan surah-surah al-Qur’an dalam solat Istikhoroh. Maka, adalah bebas untuk memilih apa jua surah untuk dibaca di dalam solat.

8. Doa Istikhoroh boleh dibaca dalam solat (sebelum salam) atau di luar solat (sesudah salam)

9. Dibolehkan mengulangi solat Istikhoroh bagi satu-satu perkara apabila diperlukan.

10. Ketenangan hati dan kelapangan dada kepada suatu perkara setelah melakukan solat istikhoroh adalah tanda petunjuk dari Allah, dan tidak terdapat dalil yang sah tentang keharusan melihat mimpi setelah beristikhoroh.

Demikianlah yang dapat dibentangkan dari beberapa penjelasan/keterangan para ulama berkenaan solat Istikhoroh, mudah-mudahan kita mendapat petunjuk dari Allah sehingga kita dapat melangkah bertepatan dengan apa yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya dan mendapatkan yang terbaik dari sisi-Nya dengan jalan taat dan istiqomah di atas landasan-Nya, amiin.

Sumber:

Disunting/diambil dari Tulisan (Bahasa Indonesia) Abu Ibrohim Muhammad Ali & Majmu’ah Tholabah Ma’had as-Sunnah Pasuruan, Majalah al-Furqon 72, Edisi 1 Tahun ke-7, 1428 (2007), m/s. 34-39

Isnin, 6 April 2009

TARIQAT NAQSYABANDIAH

Tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah Syeikh Nazim Al-Haqqan

(Ajaran Tariqat Sesat dan telah diharamkan oleh JAKIM)


Keputusan Fatwa Muzakarah Jawatankuasa Majlis Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam

a)Tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah di bawah pimpinan Syeikh Nazim bertentangan dengan fahaman akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah dan menyeleweng dari ajaran Islam. Pengamal ajaran ini hendaklah segera bertaubat.

b) Semua negeri dikehendaki memfatwa dan mewartakan bahawa tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah di bawah pimpinan Syeikh Nazim diharamkan dan tidak boleh diamalkan oleh umat Islam kerana ia bercanggah dengan ajaran Islam yang sebenar

Oleh : Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-48

Tarikh Keputusan : 3 April 2000

Tarikh Muzakarah : 3 April 2000 hingga 3 April 2000


Ciri-ciri Kesesatan Tariqat Naqsyabandiah Al-aliyyah Syeikh Nazim Al-Haqqani :-

1)- Kekuatan wali.

Petikan dari laman web tariqat Naqsyabandiah

“Terdapat 40 awliya Allah yang tersembunyi di antara Mudzalifah dan Mina. Mereka membantu kepada sesiapa yang dalam kesusahan. 313 berada di Madinah. Di Mekah terletak kerusi kerohanian Yang di Pertuanya (gabenor) di sebelah Hajaratul Aswad. Beliau berada di situ untuk menyaksi siapa yang mencium batu tersebut.

Yang di Pertua gabenor Mekah itu mengarah wali-wali Allah yang lain membuat apa yang dikehendaki oleh beliau. 124,000 awliya Allah menunaikan haji setiap tahun. Tanpa kehadiran mereka, haji manusia lain tidak lengkap. Imam Mahdi (as) juga harus hadir setiap tahun menunaikan haji. Dan di Jabarul Rahmah di Arafah merupakan tempat Imam Mahdi akan muncul pada masa yang akan datang.

Sahabat kita Hanim, ialah seorang yang suka merendahkan diri dan juga pemurah. Hanim tidak peduli tentang kekayaan, tentang berapa kekayaan yang beliau ada. Beliau sentiasa memberi tanpa mengira. Beliau telah banyak berkorban untuk Allah, Rasul (saw) dan awliya Allah. Sifat beliau adalah jarang didapati pada masa kini. Semasa pengkebumian beliau, terlalu ramai para wali Allah dan malaikat berada menghadiri upacara itu. Sekarang ini beliau berada di satu tempat di mana Allah sentiasa melihatnya.

Tidak seorang pun akan memahami apa yang Allah telah kurniakan kepada Hjh. Hanim. Ramai akan menyesal asal kesalahan mereka terhadap beliau – samada melalui prasangka atau perbuatan. Ramai akan memerlukan pertolongan beliau di akhirat kelak. Hanim telah pergi sebagai seorang shaheeda.

Wa minallahi taufiq. Bi huramati habib bi hurmati surah Fatihah”


2- Kuasa Mutlak Khalifah

"Khalifah mentadbir wilayah-wilayahnya. Dia mempunyai kuasa untuk melakukan apa yang dimahu. Apa yang dia lakukan dipersetujui oleh masyaikh rantaian keemasan...Kemulian xxxxxxxx ialah dia adalah seorang khalifah dan semua orang harus menerima apa yang dia telah tentukan..." Sheikh Muhammad Sheikh Nazim


3)-Khutbah sesat menyentuh konsep waktu, suluk, hakikat dsb

Audhubillah-hi-minash-syaitan-nir-rajeem Bismillah-hir-rahman-nir-rahim Nawaitul arbaa, naiwatul iqtiqaf, naiwataul uzlah, naiwatul ri’adah, lillahita’ala hilaluyul azim Ati’ullah, wa ati’u rasul, wa ulul amri minkum

Allah perintah kita ta’at kepada Dia dan Rasulnya (saw) dan sesiapa yang ta’at kepada Rasul (saw), dia ta’at kepada Allah. Setiap keadaan/saat adalah keadaan/saat yang baru dan setiap sessi adalah sessi yang baru. Keadaan/saat hanyalah sekadar keadaan/saat, tetapi apabila keadaan/saat dikumpul mereka menjadi waktu. Mereka mengeluarkan waktu yang telah berlalu. Oleh yang demikian, waktu adalah (mengikut kefahaman kita) sesuatu yang mempunyai waktu yang lepas, waktu sekarang dan waktu yang akan datang.

Terdapat tiga dimensi di dalam waktu (begitu juga universe ini) – waktu lampau, waktu sekarang dan waktu akan datang. Apabila kita mati, waktu berakhir. Tetapi bagi Allah, tidak ada zone waktu. Waktu sebenrnaya di hasilkan oleh pergerakan bumi sekeliling matahari. Disebakan oleh pergerakan atau orbit ini, maka terdapatlah siang dan malam – semuanya untuk membolehkan kita mengetahui waktu, yang pada haqiqatnya memberi petanda kepada kita bahawa ajal akan datang.

Apabila Sheikh Abdullah Daghestani (qs) diperintah untuk bersuluk, masa atau waktu bagi dia tidak ada makna. Di dalam suluk, seseorang itu mungkin tidak akan kembali ke dunia lagi. Semasa lima tahun bersuluk, beliau hanya hidup dengan tujuh biji zaitun dan sekeping roti sehari sehaja. Apabila awliya Allah memasuki suluk, mereka sedar bahawa waktu berpoya-poya sudah tamat, yang ada hanyalah berkerja keras.

Sheikh Abdullah (qs) berusia 18 tahun abapila beliau mulai suluk. Amalan yang dilakukan semasa bersuluk ialah membaca Quran dan berzikir. Awliya Allah apabila mengerjakan ibadat tersebut sentiasa mahu memanjangkan waktu tersebut (bagi kita manusia awam, kita mahu memanjangkan waktu untuk memenuhi nafsu kita). Bagi dia waktu bukanlah sesuatu yang perlu di hitung. Mereka sentiasa berada di “waktu sekarang.” Oleh yang demikian, kita perlu selalu merenungi dalaman kita dan pasti kita akan menjumpai “rumah” kita.

Di dalam renungan dalaman kita akan menemui haqiqat, iaitu dimensi kerohanian yang tidak ada batasan waktu. Dan di dalam dalaman ini kita akan jumpa “rumah” kita. Di dalam qalb manusia terletaknya “rumah” Allah. Maka carilah haqiqat tersebut di dalam diri kita. Ia terdapat dalam diri kita.

Terdapat 6 jenis haqiqat – haqiqat jazbah, haqiqat tawajuh, dsb), kesemuanya ini terdapat di dalam kita. Tetapi kesemuanya itu hanya boleh diberi kepada mereka yang boleh dipercayai. Mereka ini tidak mudah di nodai oleh perasaan bongkak, megah dan sebaigainya. Mereka dapat bertahan dengan segala bentuk dugaan dan sentiasa memuji Allah di dalam segala bentuk keadaan.

Allah sentiasa memberi kita keadaan/saat yang baik. Jadilah seorang yang sentiasa bersyukur. Selalu pegang kepada keadaan/saat tersebut.

Dunia yang kita tahu ini akan berakhir. Sesetengah kita akan pergi dahulu daripada berakhirnya dunia ini.Oleh yang demikian kenapa kita sering mengejar dunia (yang di cipta)? Kejarlah si Pencipta. Di alam hadrat ilahi waktu tidak ada erti – kita akan dengar bunyi-bunyian seperti ombak di lautan atau gauman harimau. Jadilah seperti ikan di dalam lautan

Ini adalah nasihat untuk malam ini yang datang daripada Maulana Sheikh Nazim (qs). Saya berniat untuk memberi suhbah daripada nota-nota Sh. Abdullah (qs), tetapi mereka telah mengubah cadangan saya.

Jangan dengar kepada diri yang menyuruh cintakan dunia ini. Dengarlah kepada roh yang suruh mencintai akhirat. Carilah benda-benda yang kekal. Makan makanan kerohanian – ianya tidak akan habis, ianya suci dan bersih.

Moga Allah merahmati kita semua malam ini dan kita tujukan segala kebaikan pada malam ini kepada sahabat kita Hanim. Moga Allah mencucuri roh beliau dengan rahmatNya. Roh Hanim bersama kita pada malam ini. Beliau gembira di mana beliau berada sekarang.

Moga kita disambut oleh para awliya Allah apabila kita meninggalkan dunia ini. Moga Allah merahmati Maulana Sh. Abdullah (qs) dan Maulana Sh. Nazim (qs). Allah panjangkan usia Maulana Sh. Nazim (qs). Wa minallahi taufiq. Bihurmati habib bihurmati surah fatihah


4)-Mengagungkan kubur (berdoa kepada kubur, mencium kubur, menghiaskan kubur )



Maqam-maqam mahaguru tareqat Naqshbandi yang terdapat di Bukhara. Dari kiri maqam Sheikh Muhammad Baha'uddin Shah Naqshband, Sheikh Muhammad Baba as-Samasi, Sheikh Amir Kulal dan Arif ar-Riwakri.


5)-Khutbah sesat menggunakan hadis yang direka tentang cerita seorang ‘wali’ Allah (yang melakukan suluk hanya di bulan Rejab dan bermaksiat di bulan-bulan lain) . Di sini nabi s.a.w., malaikat Jibril dan Sayyidina Abu Bakar dihina, perlakuan maksiat digalakkan dan kuasa suatu doa yang boleh menjadikan seseorang sebagai wali!!! ( dipetik dari laman web tariqat Naqsyabandiah)

“ Satu ketika di zaman Nabi S.A.W, terdapat seorang perompak jalanan yang terkenal. Setiap selepas tengah malam, dia akan menangkap dan merompak sesiapa sahaja yang ditemuinya berjalan berseorangan. Kadang-kala, dia akan memukul dan membunuh orang yang dirompaknya. Selepas merompak, dia terus pulang ke rumah. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap lelaki tersebut. Disebabkan kekejamannya, Nabi S.A.W telah berkata dengan perasaan marah tentang lelaki tersebut: “orang tu jahat, jika dia meninggal, aku tidak akan menyembahyangkan dan mengkebumikannya di tanah perkuburan orang Muslim”.

Selepas beberapa tahun, lelaki tersebut meningggal dunia. Dia mempunyai seorang anak perempuan. Malangnya, anak perempuannya tidak menemui seorang pun yang boleh membantunya menguruskan jenazah ayahnya. Disebabkan Nabi S.A.W pernah mencela perbuatan ayahnya- tidak akan menyembahyangkan dan mengkebumikannya di tanah perkuburan orang Muslim, budak-budak nakal telah membawa jenazah tersebut melalui jalan Madina dan membuangnya ke dalam sebuah perigi kosong serta kering. Sebaik sahaja jenazah itu dibuang, Allah telah berfirman kepada Nabi Muhammad S.A.W dan berkata, “Ya Habibi ya Muhammad! Wahai kekasih Ku Nabi S.A.W, hari ini seorang daripada wali Ku telah meninggal dunia. Kamu mesti pergi dan memandikannya, mengkafankannya, menyembahyangkkanya serta mengkebumikannya.”

Nabi S.A.W terkejut, sepanjang hidupnya dia telah mencela lelaki tersebut. Sekarang apabila lelaki tersebut meninggal dunia, Allah memberitahu baginda bahawa lelaki tersebut sebenarnya adalah wali-Nya. Bagaimana dia boleh menjadi wali? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat mencampuri urusan pengetahuan Allah, walaupun Nabi S.A.W. Jika Allah mahu menjadi seorang perompak sebagai wali-Nya, tidak boleh sama sekali kita bertanya “KENAPA?” Kita mesti menerimanya. Oleh sebab itu, mengikut ajaran Sufi dan ajaran di dalam tarekat Naqshbandi, kita mesti melihat orang disekeliling kita adalah lebih baik daripada kita. Kita tidak tahu jika Allah akan menaikkan makam seseorang kepada makam yang lebih tinggi daripada makam kita; Siapa tahu? Tidak akan ada seorang pun yang akan tahu, oleh yang demikian janganlah kita mencampuri urusan-Nya. Jangan memandang rendah kepada orang jika kita merasakan kita lebih baik daripada mereka. Kita tidak tahu sama ada orang tersebut, pada pandangan Allah adalah wali ataupun tidak. Siapa yang tahu? Oleh yang demikian, kita perlu memandang tinggi kepada orang lain, menghormati mereka dan sentiasa merendahkan diri sendiri. Jangan sama sekali menunjukkan ego dan sentiasa berpuas hati.

Allah berkata kepada Nabi S.A.W, “Ya Rasulullah, pergi dapatkan dia dan bersihkan dia.” Dengan serta merta, Nabi S.A.W memanggil Saidina Abu Bakar as-Siddiq dan berkata, “Wahai Abu Bakar, kita perlu pergi dan dapatkan ‘lelaki’ tersebut. Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah, kamu pernah berkata yang kamu tidak akan mengkebumikan lelaki tersebut di tanah perkuburan orang Islam, dia bukan seorang muslim!” Nabi S.A.W berkata, “Tidak, tinggalkan persoalan Muslim. Allah memberitahuku hari ini yang lelaki tersebut adalah seorang wali!”

Apa yang telah dilakukan oleh perompak tersebut sepanjang hidupnya sehingga dia boleh menjadi seorang wali? Sepanjang hidupnya, dia telah membunuh, merompak dan mencuri. Nabi S.A.W pergi ke perigi tersebut, mengambil mayat lelaki tersebut dengan tangan baginda sendiri, dan membawanya pulang ke rumahnya dengan sahabat-sahabatnya. Kemudian, baginda membersihkannya, memandikannya, mengkafankannya, menyembahyangkannya dan seterusnya membawa jenazah lelaki tersebut daripada masjid Nabi S.A.W. ke Jannat ul-Baqi. Jarak perjalanan dari masjid ke Jannat ul-Baqi ialah 15 minit jika berjalan kaki. Namun begitu, Nabi S.A.W mengambil masa lebih daripada dua jam untuk sampai dari tempat yang pertama ke tempat yang kedua. Semua sahabat-sahabat baginda berasa hairan apabila melihat cara rasulullah S.A.W. berjalan. Dengan tangan baginda sendiri baginda telah membersihkan lelaki tersebut, memandikannya dan menyembahyangkannya. Semasa baginda membawa jenazah tersebut ke tanah perkuburan, baginda berjalan menggunakan jari kakinya (secara mengjinjat). Lantas sahabat-sahabat baginda bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapakah engkau berjalan sedemikian?” Baginda menjawab, “Allah telah memerintahkan semua wali daripada timur dan barat, dan semua malaikat daripada tujuh syurga dan semua kerohanian hadir dan mengiringi jenazah ini. Mereka semua terlalu ramai dan memenuhi jalan, dan aku tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kakiku. Sepanjang hidup aku, tidak pernah aku terkejut seperti hari ini.”

Selepas mengkebumikan lelaki tersebut, Nabi S.A.W tidak bercakap dengan sesiapapun sebaliknya baginda terus pulang ke rumah dengan badan yang terketar-ketar. Baginda duduk dengan Saidina Abu Bakar dan bertanya kepada diri baginda tentang apa yang telah dilakukan oleh wali tersebut; menjadi perompak sepanjang hidupnya tetapi mendapat pengiktirafan yang cukup tinggi dari Allah. Saidina Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku berasa malu untuk bertanyakan tentang apa yang telah aku saksikan hari ini, ia sesuatu yang menghairankan.” Kemudian, Nabi S.A.W. menjawab,” Wahai Abu Bakar, aku lebih terkejut dari kamu, dan aku sedang menunggu kehadiran Jibril (s) dan memberitahuku apa yang telah berlaku”

Apabila Jibril (s) datang, Nabi S.A.W berkata,” Wahai Jibril, apakah yang sebenarnya berlaku?” Jibril (s) menjawab,” Wahai Nabi S.A.W., janganlah engkau bertanya aku. Aku juga hairan sepertimu. Oleh sebab itu, jangan berasa hairan kerana Allah boleh lakukan apa sahaja yang orang lain tidak dapat lakukan dan Dia memberitahu kamu untuk bertanyakan anak lelaki tersebut tentang apa yang telah dilakukannya semasa hayatnya.”

Dengan serta-merta dan ditemani oleh Saidina Abu Bakar, Nabi S.A.W. dengan sendirinya pergi ke rumah perompak tersebut. Nabi S.A.W. dengan rendah diri meletakkan kuasa dan statusnya sebagai manusia paling sempurna yang dicintai Allah pergi ke rumah perompak tersebut untuk bertanyakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya semasa hanyatnya: “Wahai anakku, sila ceritakan kepadaku bagaimanakah kehidupan ayahmu.” Anak perempuan lelaki tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, aku begitu malu dengan apa yang akan aku ceritakan kepada kamu. Ayahku seorang pembunuh, seorang pembunuh. Aku tidak pernah melihat dia melakukan sebarang kebaikan. Dia akan merompak dan mencuri siang dan malam kecuali satu bulan. Apabila bulan tersebut tiba, dia akan berkata: “Bulan ini adalah bulan tuhanku, kerana ayahku pernah mendengar engkau berkata, Rejab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan Nabi S.A.W. dan Ramadan adalah bulan umat Muhammad.” Kemudian ayahku berkata lagi, “aku tidak kisah dengan bulan Nabi S.A.W. atau bulan umat Muhammad, kecuali bulan tuhanku. Oleh sebab itu aku akan duduk di dalam bilikku bersendiriaan, dan bersuluk sepanjang bulan ini.

Nabi S.A.W bertanya kepada anak perempuan itu lagi, “Apakah jenis suluk yang dia telah lakukan?” Dia menjawab,” Wahai Rasulullah, satu hari ketika ayahku sedang berjalan untuk mencari seseorang yang boleh dirompaknya, dia bertemu dengan seorang lelaki tua yang berumur 70-80 tahun. Lantas ayahku memukulnya sehingga pengsan, dan kemudiannya merompaknya. Dia menemui sehelai kertas kecil yang tergulung pada orang tua tersebut. Kemudian, dia membukanya dan mendapati di dalamnya ada satu doa. Ayahku amat gembira dengan doa tersebut. Setiap tahun, apabila datang bulan Rejab-bulan Allah , ayahku akan duduk bersendirian dan membaca doa tersebut siang dan malam, menangis dan membaca, kecuali keluar untuk makan dan membersihkan diri. Apabila bulan Rejab berakhir, dia akan bangun dan berkata, bulan Allah telah tamat, sekarang untuk menggembirakan ku aku akan kembali merompak dan mencuri untuk 11 bulan yang akan datang.

Doa (Doa awliya’ Abbas) yang digunakan oleh lelaki tersebut adalah sangat penting dan kita dinasihatkan untuk membacanya 3 kali sehari ketika bulan Rejab. Maulana Sh. Nazim berkata doa ini mencuci semua dosa dan menjadikan kamu putih seperti bayi yang baru dilahirkan. Doa ini amat terkenal di dalam ajaran sufi. Apabila Nabi S.A.W meminta anak perempuan lelaki tersebut memberikan doa tersebut kepadanya, baginda terus mencium kertas doa tersebut dan menyapunya pada badan baginda. Jangan tinggalkan doa dan amalkannya ketika bulan ini datang, teruskan membacanya, dan Allah akan memberi kepada kita, Insyallah. Bergantung kepada niat masing-masing.

Allah telah berkata kepada Nabi S.A.W., “Wahai Nabi yang Kucintai, orang itu telah datang dan memohon keampunan dari Ku di dalam bulan yang sangat berharga. Oleh sebab itu, kerana dia berkorban sekurang-kurangnya satu bulan dalam setahun untuk Ku, Aku ampunkan semua kesalahannya, dan aku tukarkan semua dosanya kepada ganjaran. Kerana dia mempunyai terlalu banyak dosa, sekarang dia mempunyai banyak ganjaran, dan dia kini menjadi wali besar.” Kerana satu doa, Allah jadikan seseorang yang tidak pernah beribadat sepanjang hidupnya menjadi wali.”


Faktor-Faktor Menyebabkan Seseorang Terjebak Dengan Ajaran Sesat

Kebanyakan ajaran Tariqat ini datangnya daripada sumber-sumber ajaran Syi’ah dan amalan-amalan mereka bukannya datang dari sumber yang boleh dipercayai seperti Al-Quran dan As-Sunnah yang tulin.

Terlebih dahulu elok kiranya kita mengemukakan sebab-sebab yang membawa kepada kesesatan dan penyelewengan aqidah. Antara lain yang dapat dipastikan daripada Al Quran adalah sebagai berikut :

i) Taqlid buta, Sebagaimana maksud firman Allah : “Dan (orang-orang yang tidak beriman itu) apabila mereka melakukan sesuatu perbuatan yang keji, mereka berkata: Kami dapati datuk nenek kami mengerjakannya dan Allah perintahkan kami mengerjakannya. Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji. Patutkah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya? “(Surah AL-Araf : ayat 28)

(ii) Tidak mempunyai konsep yang betul tentang sifat-sifat Allah s.w.t Firman Allah yang bermaksdu: “Dan kepada kaum Thamud, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Soleh. Dia berkata: Wahai kaumku! Sembahlah kamu akan Allah! Sebenarnya tiada Tuhan bagi kamu selain daripadaNya. Dialah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi, serta menghendaki kamu memakmurkannya. Oleh itu mintalah ampun kepada Allah dari perbuatan syirik, kemudian kembalilah kepadaNya dengan taat dan tauhid. Sesungguhnya Tuhanku sentiasa dekat, lagi sentiasa memperkenankan permohonan hambaNya. Mereka menjawab dengan berkata: Wahai Soleh, sesungguhnya engkau sebelum ini adalah orang yang diharap dalam kalangan kami (untuk memimpin kami); patutkah engkau melarang kami daripada menyembah apa yang disembah oleh datuk nenek kami? Dan (ketahuilah) sesungguhnya kami berada dalam keadaan ragu-ragu yang merunsingkan tentang apa yang engkau serukan kami kepadanya”. (Surah Hud ; ayat 61 & 62)

(iii) Lupa kepada ayat-ayat Allah firman Allah bermaksud : “Demikianlah keadaannya! Telah datang ayat-ayat keterangan Kami kepadamu, lalu engkau melupakan serta meninggalkannya dan demikianlah engkau pada hari ini dilupakan serta ditinggalkan”. (Surah Thaha : ayat 126)

(iv) Memilih pimpinan syaitan dengan meninggalkan pimpinan Tuhan. Firman Allah bermaksud : “Sebahagian (dari umat manusia) diberi hidayat petunjuk oleh Allah (dengan diberi taufik untuk beriman dan beramal soleh) dan sebahagian lagi (yang ingkar) berhaklah mereka ditimpa kesesatan (dengan pilihan mereka sendiri), kerana sesungguhnya mereka telah menjadikan Syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin (yang ditaati) selain Allah. Serta mereka pula menyangka, bahawa mereka berada dalam petunjuk hidayat”. (Surah Al Araf : ayat 30)

(v) Keadaan diri tidak terkawal dengan aqidah yang betul Firman Allah bermaksud : “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayat petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu (balasan) apa yang kamu telah lakukan.(Surah Al Maidah :ayat 105)

(vi) Tidak menyedari bahawa kesesatan itu merugikan diri sendiri Firman Allah bermaksud : “Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai sekalian manusia! Telah datang kepada kamu kebenaran (Al-Quran) dari Tuhan kamu. Oleh itu sesiapa yang mendapat hidayat petunjuk (beriman kepadanya), maka faedah hidayat petunjuk itu terpulang kepada dirinya sendiri dan sesiapa yang sesat (mengingkarinya) maka bahaya kesesatannya itu tertimpa ke atas dirinya sendiri dan aku pula bukanlah menjadi wakil yang menguruskan soal (iman atau keingkaran) kamu.(Surah Yunus : ayat 108)

(vii) Mengikut prasangka, andaian dan panduan akal yang tidak berpandukan ilmu yang sebenar.

Firman Allah bermaksud : “Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan sahaja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (iktiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan” (Surah Yunus : ayat 36)

(viii) Tidak menggunakan akal dan pancaindera yang diberikan oleh Allah s.w.t di dalam mencari kebenaran. Firman Allah bermaksud : “Maka Nabi Soleh pun meninggalkan mereka sambil berkata: Wahai kaumku! Aku telah menyampaikan kepada kamu perutusan Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepada kamu, tetapi kamu tidak suka kepada orang-orang yang memberi nasihat”. (Surah Al-A'raf: ayat 79, Surah Bani Israel: ayat 72)

(ix) Degil dan keras kepada terhadap kebenaran Firman Allah : “Kemudian Kami utuskan sesudah Rasul-rasul itu, Nabi Musa dan Nabi Harun, kepada Firaun dan kaumnya dengan membawa ayat-ayat Kami; lalu mereka (Firaun dan kaumnya) berlaku sombong takbur (enggan menerimanya) dan mereka adalah kaum yang biasa melakukan dosa. Oleh sebab itu ketika datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, berkatalah mereka: Sesungguhnya ini ialah sihir yang nyata. (Mendengarkan yang demikian), Nabi Musa bertanya: Patutkah kamu berkata demikian terhadap sesuatu kebenaran ketika datangnya kepada kamu? Adakah bawaanku ini sihir? Sedang ahli-ahli sihir itu sudah tetap tidak akan berjaya”. (Surah Yunus: 75 - 77)

(x) Derhaka kepada Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w dengan membuat pilihan sendiri tentang urusannya setelah ditetapkan oleh Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w untuknya suatu ketetapan. (Surah Al Ahzab : ayat 136)

(xi) Menurut hawa nafsu walaupun mengetahui tentang ayat-ayat Tuhan. Maksud firman Allah : “Kemudian, kalau mereka tidak dapat menerima cabaranmu (wahai Muhammad), maka ketahuilah, sesungguhnya mereka hanyalah menurut hawa nafsu mereka dan tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang menurut hawa nafsunya dengan tidak berdasarkan hidayat petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberi pimpinan kepada kaum yang zalim (yang berdegil dalam keingkarannya).(Surah Al Qasas : ayat 50)

(xii) Tidak mengikut petunjuk daripada Tuhan. Allah berfirman:” Turunlah kamu berdua dari Syurga itu, bersama-sama, dalam keadaan setengah kamu menjadi musuh bagi setengahnya yang lain; kemudian jika datang kepada kamu petunjuk dariKu, maka sesiapa yang mengikut petunjukKu itu nescaya dia tidak akan sesat dan dia pula tidak akan menderita azab sengsara”(Surah Thaha : ayat 123)

(xiii) Terpedaya oleh godaan syaitan Allah berfirman :”Dan sesungguhnya Syaitan itu telah menyesatkan golongan yang ramai di antara kamu; (setelah kamu mengetahui akibat mereka) maka tidakkah sepatutnya kamu berfikir dan insaf?”(Surah Yaasin : ayat 62)

(xiv) Orang-orang yang sesat dan banyak dosa Allah berfirman : “

(Surah As Syu'ra )


(xv) Melampaui batas dan tetap ragu walaupun sudah datang keterangan-keterangan yang nyata.

Allah berfirman : “

(Surah Al Mukmin : ayat 134)


(xvi) Menjadikan orang-orang yang sesat sebagai penolong dan pembantu Allah berfirman :” Aku tidak memanggil mereka menyaksi atau membantuKu menciptakan langit dan bumi, dan tidak juga meminta bantuan setengahnya untuk menciptakan setengahnya yang lain dan tidak sepatutnya Aku mengambil makhluk-makhluk yang menyesatkan itu sebagai pembantu”. (Surah Al Kahfi : ayat 51)


Cara Penyelesaiannya

Di antara cara penyelesaian yang boleh diketengahkan adalah seperti berikut:

(i) Kembali kepada Al Quran dan As Sunnah

(ii) Mengadakan peruntukan undang-undang yang mencukupi untuk membendung dan menghalang ajaran-ajaran yang sesat ini sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

(iii) Melahirkan para pendakwah dan guru-guru agama yang benar-benar peka di dalam persoalan penyelewengan aqidah khasnya dan penyelewengan daripada ajaran Islam serta melatih mereka dengan cara-cara mengatasi masalah-masalah ini.

(iv) Memperkenalkan Islam yang syumul merangkumi segala aspek kehidupan manusia di samping mempraktikkannya.

(v) Memberikan ajaran Islam yang mencukupi dan tahan lasak di dalam menghadapi segala bentuk ancaman yang mungkin menggugat aqidah mereka

(vi) Menghapuskan segala bentuk maksiat dan kemungkaran atau sekurang-kurangnya cuba dan berusaha mengurangkannya secepat mungkin, bukan dengan memperbanyakkan pula tempat-tempat maksiat dan membiarkan kemungkaran terus bermaharajalela.

(vii) Mempergunakan media massa seluas-luasnya dalam usaha pengajaran Islam yang benar-benar bersih dan tulin kepada masyarakat.

(viii) Sentiasa berusaha mengenalpasti penyelewengan aqidah yang berlaku di dalam masyarakat kemudian bertindak dengan secepat mungkin sebelum ia berakar umbi.

(ix) Sentiasa meminta pertolongan dan menaruh pengharapan kepada Allah s.w.t sebagai penolong dan pembela dalam usaha membasmi penyelewengan aqidah dan ajaran-ajaran sesat.


Sumber: http://darulkatsar.com

𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻

Tulisan: Su Han Wen Shu Sumber: Facebook   𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 ...