Ahad, 11 Oktober 2009

RENUNGAN & NASEHAT DARI GEMPA YANG MENIMPA

Ditulis Oleh Ustadz Abu 'Amr Ahmad 

Sungguh Allah telah memberikan nikmat kepada kita semua wahai kaum muslimin, dengan kenikmatan yang sangat banyak dan kebaikan yang berlimpah. Kenikmatan terpenting dan terbesar adalah nikmat Islam. Itu adalah nikmat besar yang tidak sesuatu pun yang menyamainya. Barangsiapa yang memahaminya, mensyukurinya, dan istiqamah di atasnya, baik dalam ucapan maupun amalan, maka sungguh ia telah berjaya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

"Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim : 34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah-lah, dan bila kalian ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kalian meminta pertolongan." (An-Nahl : 53)

Maka wajib atas semua pihak untuk mensyukuri berbagai kenikmatan tersebut dan hati-hati jangan sampai mengkufurinya. Allah berfirman ketika menyebutkan kenikmatan-kenikmatan-Nya kepada para hamba-Nya :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur." (An-Nahl : 78)

Maka syukur kepada Allah atas segala kenikmatan-Nya baik secara global maupun rinci merupakan pengikat kenikmatan tersebut dan cara agar kenikmatan tersebut kekal, sekaligus sebagai sebab bertambahnya kenikmatannya tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
 
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim : 7)

Allah juga berfirman :

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِين

“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu beribadah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar : 66)

Allah juga berfirman :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون

"Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku." (Al-Baqarah : 152)

Allah Ta’ala juga berfirman :

اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

"Bekerjalah Wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba’ 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berdo’a dengan doa berikut pada penghujung solat (sebelum salam) :

اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

"Ya Allah tolonglah aku untuk bisa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah  dengan baik kepada-Mu." (HR An-Nasa`i dan Abu Dawud)

Dengan bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan-Nya dan menggunakan kenikmatan tersebut dalam hal-hal yang Dia redhai maka semua urusan yang menjadi baik dan kejelekan akan terhindar.

Sesungguhnya di antara seindah-indah perhiasan yang para nabi dan rasul Allah berhias dengannya, demikian juga para pengikut mereka, adalah kemampuan mereka untuk mensyukuri nikmat dan mereka memohon kepada-Nya taufiq agar dapat bersyukur. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Sulaiman ‘alahish shalatu was salam :

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbi berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih”. (An-Naml : 19)

Allah juga berfirman memuji Nabi-Na Nuh ‘alahish shalatu was salam
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

"Sesungguhnya dia adalah hamba yang sangat bersyukur." (Al-Isra` 3)

Di antara tanda-tanda syukur nikmat adalah menggunakan kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah, dan tidak menjadikannya sebagai sarana untuk berbuat kemaksiatan kepada-Nya. Demikian juga tanda syukur adalah menyebut-nyebut kenikmatan tersebut dalam konteks pengakuan akan nikmat tersebut dan pujian kepada Allah, bukan dalam rangka menyombongkan atau membanggakan diri di hadapan orang yang tidak mendapatkan kenikmatan tersebut, bukan pula karena riyak dan sum’ah (yakni beramal semata-mata ingin dilihat oleh orang lain-edt).

Sebaliknya, kufur nikmat dan tidak mahu mensyukurinya merupakan bentuk pengingkaran terhadap Allah, menentang keutamaan Dzat Pemberi nikmat, dan merupakan salah satu dari sebab-sebab hilangnya kenikmatan tersebut. Sekaligus itu merupakan kezaliman terhadap diri sendiri yang layak dikenakan padanya hukuman yang paling buruk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams : 9-10)

Yakni mengotorinya dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Dengan ketaqwaan kepada Allah dan ketaatan terhadap-Nya dalam bentuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya akan menghasilkan berbagai kebaikan dan tertolaklah segala kejelekan dan keburukan, di samping kekalnya nikmat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkat-berkat dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al-A’raf : 96)

Allah juga berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia menguji hamba-hamba-Nya. Terkadang Allah menguji mereka dengan kebaikan dan terkadang pula Allah uji mereka dengan kejelekan. Adapun orang-orang yang beriman, maka itu semakin menambah keimanan mereka, kebergantungan mereka kepada Allah, dan berlindungnya mereka kepada-Nya. Mereka bersabar atas taqdir Allah dan ketentuan-Nya, sehingga dengan demikian semakin dilipatgandakan pahala mereka. Di sisi lain semakin menambah rasa takut mereka dari akibat buruk dosa-dosa, sehingga mereka pun berhenti dari melakukannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ *

"Sungguh akan Kami berikan cobaan (Ujian) kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali) . Mereka itulah orang-orang yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."(Al-Baqarah : 155-157)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

"Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk jannah (syurga), padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sampai-sampai berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah : 214)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

"Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk jannah, padahal belum nyata bagi Allah mana orang-orang yang berjihad  di antara kalian dan mana  orang-orang yang sabar." (Ali ‘Imran : 142)

Allah berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ *

"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-‘Ankabut : 2-3)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِين

"Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik." (Al-‘Ankabut : 11)

Allah berfirman :
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan." (Al-Anbiya` : 35)

Pada ayat-ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahawa pasti Dia akan menguji dan memberikan cobaan (ujian/dugaan) kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana telah Allah lakukan kepada umat-umat sebelumnya. Apabila mereka bersabar atas berbagai cobaan tersebut, mahu bertaubat dan kembali kepada Allah ketika menghadapi berbagai musibah, maka ketika itu Allah berikan kepada mereka pahala, keredhaan-Nya dan ampunan-Nya, serta menjadikannya tinggal di Syurga-Nya dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik dari apa yang telah hilang dari mereka.

Segala yang terjadi di alam ini, yang menggoncangkan jiwa dan badan, seperti petir, anggin kencang, hal-hal yang menghancurkan tanaman dan keturunan, gempa bumi yang menyebabkan runtuhnya bangunan-bangunan tinggi, pokok-pokok besar, yang menyebabkan korban jiwa, kerugian harta, gunung meletus yang terjadi di beberapa tempat sehingga menyebabkan hancur dan binasanya segala yang ada di sekitarnya, demikian juga kejadian gerhana Matahari dan gerhana Bulan, serta berbagai musibah lainnya, itu semua merupakan peringatan dari Allah terhadap hamba-hamba-Nya agar jangan terus berada dalam penyimpangan, di samping mengajak untuk kembali kepada-Nya. Di samping itu merupakan ujian sejauh mana kesabaran mereka dalam menghadapi ketentuan dan taqdir Allah. Ketahuilah sesungguhnya azab di akhirat jauh lebih besar, dan perintah Allah jauh lebih agung.

Ketika kaum Quraisy mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah memberitakan kepada Nabi-Nya bahwa Dia telah membinasakan umat-umat yang mendustakan para nabi dan rasul sebelum beliau dalam firman-Nya :

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِنْ مَحِيصٍ

"Berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang lebih besar kekuatannya daripada mereka. Kaum yang telah dibinasakan itu pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?" (Qaf : 36)

Kemudian pada ayat berikutnya  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaf : 37)

Maka wajib atas kaum mukminin semuanya untuk takut kepada Allah dan senantiasa merasa diawasi oleh-Nya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Apabila terjadi musibah menimpa mereka, maka hendaknya mereka segera bertaubat kepada Allah dan rujuk kepada-Nya. Diiringi dengan koreksi diri sendiri, mencari sebab-sebab terjadinya (bencana/musibah). Karena Allah berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِير

"Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)." (Asy-Syura : 30)

Wajib atas kaum muslimin untuk bertaubat kepada Allah atas apa yang telah mereka lakukan, iaitu kurang dalam ketaatan dan berbuat berbagai kemaksiatan. Karena taubat itu merupakan salah satu sebab terangkatnya musibah. Di samping mereka wajib bersabar dan mengharap pahala dari musibah yang telah menimpa mereka. Allah berfirman :

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ *

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah orang-orang yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah : 155-157)

Allah  berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali terjadi dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." (At-Taghabun :11)

Makna ayat tersebut, bahawa barangsiapa yang ditimpa musibah dia menyedari bahawa itu merupakan ketentuan dan taqdir Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga dia pun bersabar, mengharap pahala, dan tunduk terhadap ketentuan Allah, dia menyedari bahawa apa yang ditaqdirkan menimpa dirinya maka dia tidak boleh menghindari darinya, dan apa yang ditaqdirkan tidak menimpa dirinya maka itu tidak akan menimpanya, dan dia beriman bahawa Allah pasti akan mengganti untuknya apa yang telah hilang darinya di dunia, maka orang seperti ini akan Allah beri hidayah keyakinan dan kejujuran pada hatinya. Terkadang-kadang Allah akan ganti apa yang telah hilang darinya atau Allah beri yang lebih baik darinya.

Allah berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ * لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya jangan jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira  terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Al-Hadid : 22-23)

Sesungguhnya kenyataan yang ada pada kaum muslimin pada hari ini, menunjukkan bahawa mereka sangat kurang dalam menunaikan hak Allah dan melaksanakan kewajiban mentaati Allah dan bertaqwa kepada-Nya.

Orang yang merenungkan akan dapat mendengar dan melihat betapa banyak bencana yang menimpa suatu umat atau masyarakat, terkadang musibah dalam bentuk kematian, angin taufan, gempa bumi, kelaparan, atau terkadang dalam bentuk pertempuran yang tidak pernah selesai, yang menelan seluruh yang basah atau pun yang kering. Sebagaimana Allah jelaskan dalam kitab-Nya yang mulia beberapa jenis bencana dan azab yang Allah turunkan terhadap para penentang dan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dari kalangan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, agar manusia tersadar dan waspada dari perbuatan seperti mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُون

"Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Al-‘Ankabut : 40)

Sesungguhkan kemaksiatan dan dosa itu memiliki pengaruh jelek yang berbahaya bagi hati, badan, dan masyarakat, serta menyebabkan datangnya kemurkaan Allah dan hukuman-Nya di dunia maupun di akhirat, yang tidak diketahui rinciannya kecuali oleh Allah sendiri. Kemaksiatan dan dosa tersebut menimbulkan sejumlah kerusakan di muka bumi, baik di laut maupun udara, baik terhadap buah-buahan maupun pemukiman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah jelas kelihatan kerosakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum : 41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran." (Al-A’raf  : 130)

Sesungguhnya berbagai bencana yang terjadi ini merupakan nasihat dan pelajaran. Orang yang berbahagia adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari yang lainnya. Kesimpulannya, sesungguhnya berbagai kejelekan dan azab yang menimpa para hamba di dunia maupun di akhrat sebabnya adalah dosa dan kemaksiatan. Di antara tanda keras dan tertutupnya hati - kita berlindung kepada Allah darinya - adalah ketika manusia mendengar berbagai peringatan dari ayat-ayat (Al-Qur`an) dan peringatan dari berbagai pelajaran dan nasihat - yang dengannya gunung pun akan menjadi khusyu’ kalau seandainya gunung tersebut berakal - namun ternyata mereka malah terus di atas penyimpangan dan kemaksiatannya, terlena dengan tidak segera datangnya azab dari Rabb mereka, terus mengikuti hawa nafsu dan memperturutkan syahwatnya, tidak takut  dan terhadap ancaman, tidak peduli terhadap peringatan.

Allah berfirman :

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ *

"Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya namun dia tetap menyombongkan diri seakan-akan tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih." (Al-Jatsiyyah : 7-8)

Demikian pula, terus menerus di atas kemaksiatan padahal telah terjadi berbagai bencana dan azab menunjukkan akan kelemahan iman atau bahkan ketiadaan iman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ * وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

"Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti atas  mereka keputusan Raabmu, maka mereka  tidak akan akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka benar-benar menyaksikan sendiri  azab yang pedih." (Yunus : 96-97)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan keberadaan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Yunus : 101)

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ * كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ * ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ * ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka. Kemudian, Sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kalian dustakan”. . (Al-Muthaffifin : 14)

Wahai saudara-saudaraku di Jalan Allah.

Beberapa hari lalu telah terjadi peristiwa besar, di dalamnya terdapat nasihat dan pelajaran bagi barangsiapa yang hendak mengambil pelajaran. Termasuk kewajiban kaum mukminin adalah mereka mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi. Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berakal (Al-Hasyr : 2)

Akibat peristiwa tersebut banyaknya korban jiwa dan harta, hilangnya barang-barang yang dimiliki, hancurnya rumah-rumah, banyak korban luka-luka, hilang anggota keluarga, hilang harta mereka, tempat tinggal mereka, anak-anak mereka, dan isteri-isteri mereka. Banyak wanita menjadi janda, banyak anak menjadi yatim, itu semua terjadi hanya dalam tempoh yang sangat singkat. Menunjukkan akan keagungan dan kekuasan Allah. Sedangkan hamba/manusia, walau seberapapun kuatnya mereka di muka bumi ini memiliki kekuasaan, kekuatan, dan kebesaran namun mereka adalah lemah di hadapan Kekuasaan Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Maka wajib atas segenap kaum muslimin untuk : mengambil pelajaran dari bencana yang terjadi, bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjauhi sebab-sebab kemurkaan Allah dan sebab-sebab datangnya bencana.

Dan wajib pula kita mendoakan korban yang telah tewas agar mendapat ampunan dan rahmat, serta mendoakan yang masih hidup agar mereka diberi ketenangan dan kesabaran yang baik. Dan semoga Allah menjadi musibah ini sebagai penghapus dosa-dosa mereka, mengangkat darjat mereka, dan menyadarkan hati yang lalai baik kita mahupun mereka.

Sebagaimana mana wajib pula atas kita untuk berbela sungkawa (tolong-menolong) dalam bentuk memberikan bantuan kepada mereka dan menampakkan belas kasih terhadap mereka dalam bentuk memberikan apa yang dapat memberi manfaat buat mereka dari harta kita sebagai sumbangan dan sedekah untuk mereka, dengan harapan dapat menutupi kesusahan mereka dan meringankan beban penderitaan yang mereka alami. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا

"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk diri kalian sendiri niscaya kalian akan memperoleh balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Al-Muzzammil : 20)

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِين

"Dan barang apa saja yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Saba’ : 39)

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah : 195)

Rasulullan shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة، ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة، ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة، والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه »

"Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan seorang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan beri kemudahan untuknya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba selama sang hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim 4867)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته »

"Barangsiapa yang yang membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya." (HR. Al-Bukhari 2262, Muslim 4677.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا وشبك بين أصابعه »

"Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan. Kemudian Rasulullah menyilangkan jari-jemarinya." (HR. Al-Bukhari 459.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

« مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى »

"Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang, sikap rahmah, dan sikap lembut antara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh mengeluh kesakitan, maka seluruh badannya akan pasti merasakan kesakitan." (HR. Al-Bukhari 5552, Muslim 4685.)

Wajib atas kita untuk berlomba menghulurkan bantuan terhadap saudara-saudara kita dan mengerahkan apa yang kita mampu. Agar wujud makna ukhuwwah islamiyyah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits-hadits sahih, dan agar kita memperoleh pahala besar yang Allah janjikan untuk orang-orang  yang berinfak dan para dermawan.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kaum muslimin secara umum dan saudara-saudara kita yang ditimpa musibah secara khusus agar dapat bersabar dan mengharap pahala. Semoga Allah melipatgandakan pahala untuk kita dan mereka. Semoga Allah menurunkan kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah ketenangan, ketenteraman, dan kesabaran yang baik, dan memberikan nikmat kepada semua berupa taubat nasuha, istiqamah di atas kebenaran, dan waspada dari sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan dan hukuman-Nya. Sesunggunya Allah pemilik itu semua dan mampu mewujudkannya.

(Kirimiman e-Mail & diterjemahkan dengan sedikit perubahan oleh Ustadz Abu ‘Amr Ahmad, dari nasehat Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah yang beliau sampaikan terkait bencana yang terjadi di Yaman pada tahun 1402 H / 1982 M)

Di sunting dari sumber: http://ibnulqoyyim.com

Sabtu, 10 Oktober 2009

Kenali Syeikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali Hafizahullah


Nama dan nasab beliau:

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi bin Muhammad ‘Umair Al-Madkhali, berasal dari suku Al-Madakhilah yang terkenal di Jaazaan, sebuah daerah di sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi. Suku ini termasuk keluarga Bani Syubail, sedangkan Syubail adalah anak keturunan Yasyjub bin Qahthan.
 


Kelahiran beliau:

Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah sejauh kurang lebih tiga kilometer dan sekarang telah terhubungkan dengan kota tersebut. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 1351 H. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih berumur sekitar satu setengah tahun, beliau tumbuh berkembang di pangkuan seorang ibu -semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Ibunya membimbing dan mendidik beliau dengan sebaik-baiknya, mengajarkan kepada beliau akhlak yang terpuji, berupa kejujuran maupun sifat amanah, juga memotivasi putranya untuk menunaikan solat dan meminta beliau menepati dalam menunaikan ibadah tersebut. Selain pengasuhan ibunya, beliau diawasi dan dibimbing pula oleh pakciknya (dari pihak ayah).

Perkembangan Keilmuan

Ketika Syaikh Rabi’ berusia lapan tahun, beliau masuk sekolah yang ada di desanya. Di sekolah tersebut beliau belajar membaca dan menulis. Termasuk guru yang membimbing beliau dalam belajar menulis adalah Asy-Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-Qadli Ahmad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali dan dari seseorang yang bernama Muhammad bin Husain Makki yang berasal dari kota Shibya’. Syaikh Rabi’ mempelajari Al Qur`an di bawah bimbingan Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali disamping belajar ilmu tauhid dan tajwid.

Setelah lulus, beliau melanjutkan pembelajaran ke Madrasah As-Salafiyyah di kota Shamithah. Termasuk guru beliau di madrasah tersebut adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki rahimahullah, seorang alim kenamaan yang termasuk salah satu murid besar Asy-Syaikh Al-Qar’awi rahimahullah. Di bawah bimbingannya, Syaikh Rabi’ mempelajari kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nadhar karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah Ta’ala.

Kemudian beliau belajar di Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah kepada sejumlah ulama terkemuka, yang paling terkenal adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Masyhur Hafiz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah Ta’ala dan saudaranya Fadlilatu Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Hakami, juga kepada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah. Di ma’had tersebut beliau belajar akidah kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Doktor Muhammad Amman bin ‘Ali Al-Jami. Demikian pula kepada Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi, beliau mempelajari ilmu fikih dengan kitab Zaadul Mustaqni’ dan kepada beberapa orang lagi selain mereka, di mana Syaikh mempelajari ilmu bahasa Arab, adab, ilmu Balaghah dan ilmu ‘Arudh (cabang-cabang ilmu bahasa Arab-pent.)

Tahun 1380 H seusai ujian penentuan akhir, beliau lulus dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota Shamithah dan di awal tahun 1381 H beliau masuk ke Fakulti Syari’ah di Riyadh selama beberapa waktu lamanya, sekitar satu bulan, satu setengah atau dua bulan saja. Ketika Universiti Islam Madinah berdiri, beliau pindah ke sana dan bergabung di Fakulti Syari’ah. Beliau belajar di Universiti tersebut selama empat tahun dan lulus darinya pada tahun 1384 H dengan predikat cumlaude.

Diantara guru-guru beliau di Universitas Islam Madinah adalah:

• Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.

• Fadlilatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits dan sanad.


• Fadlilatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.


• Fadlilatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafiz Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adhwaul Bayan, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.


• Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.


• Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.


Setelah lulus, beliau menjadi pensyarah di almamater beliau di Universiti Islam Madinah selama beberapa waktu, kemudian beliau melanjutkan pembelajaran ke tingkat pasca sarjana dan berjaya menbuat master di bidang ilmu hadits dari Universiti Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz cabang Mekkah pada tahun 1397 H dengan disertasi beliau yang terkenal, berjudul Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni. Pada tahun 1400 H beliau berhasil menyelesaikan program doktornya di Universiti yang sama, dengan predikat ***** laude setelah beliau menyelesaikan tahqiq (penelitian, komentar –pent.) atas kitab An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, karya Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala.

Syaikh Rabi’ kemudian kembali ke Universiti Islam Madinah dan menjadi Pensyarah di Fakulti Hadits. Beliau mengajar ilmu hadits dengan segala bentuk dan cabangnya, serta berkali-kali menjadi ketua jurusan Qismus Sunnah pada program pasca sarjana dan sekarang beliau menjabat sebagai Pensyarah tinggi. Semoga Allah menganugerahkan kepada beliau kenikmatan berupa kesihatan dan penjagaan dalam beramal kebaikan.

Sifat dan akhlak beliau

Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala memiliki keistimewaan berupa sifat sangat rendah hati dihadapan saudara-saudaranya, murid-muridnya maupun kepada para tetamunya. Beliau seorang yang sangat sederhana dalam hal tempat tinggal, pakaian maupun kendaraan, beliau tidak menyukai kemewahan dalam semua urusan ini.

Beliau adalah seorang yang selalu ceria, berseri-seri wajahnya dan sangat ramah, membuat teman duduk beliau tidak merasa bosan dengan kata-kata beliau. Majlis beliau senantiasa dipenuhi dengan pembacaan hadits dan Sunnah serta tahdzir (peringatan-pent.) dari kebid’ahan dan para pelakunya, sehingga orang yang belum mengenal beliau akan menyangka bahawa tidak ada lagi kesibukan beliau selain hal tersebut.

Syaikh Rabi’ sangat mencintai salafiyyin penuntut ilmu, beliau menghormati dan memuliakan mereka. Beliau berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan beliau, baik dengan diri sendiri maupun dengan harta. Rumah beliau selalu terbuka untuk para penuntut ilmu, sampai-sampai hampir tidak pernah beliau menyantap sarapan pagi makan siang maupun makan malam sendirian, kerana selalu saja ada pelajar yang mengunjungi beliau. Beliau menanyakan keadaan mereka dan membantu mereka.

Syaikh Rabi’ termasuk ulama yang sangat bersemangat menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta akidah salaf, penuh semangat dalam mendakwahkannya dan beliau adalah pedang Sunnah dan akidah salaf yang amat tajam, yang amat sedikit bandingannya di masa sekarang. Beliau adalah pembela Sunnah dan kehormatan salafussoleh di zaman kita ini, siang dan malam, secara rahsia maupun terang-terangan yang tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela.

Karya-karya beliau

Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah karya tulis -Alhamdulillah – beliau hafizahullah telah membicarakan berbagai bab yang sangat diperlukan secara profesional, lebih-lebih lagi khusus lagi dalam membantah para pelaku bid’ah dan para pengikut hawa nafsu di zaman yang penuh dengan para perusak namun sedikit orang yang berbuat islah (perbaikan, pent.) Diantara karya beliau :

1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni, sejilid besar dan ini merupakan tesis beliau untuk meraih gelar master.
2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi program doktor beliau.
3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila Ash-Shahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.
4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.
5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.
6. Manhaj Ahlis Sunnah fii Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.
7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa Hasan wa Dha’if baina Waqi’il Muhadditsin wa Mughalithatil Muta’ashibin, sebuah bantahan terhadap ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah dan Muhammad ‘Awamah.
8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha.
9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa hukmul Isti’anah bi ghairil Muslimin.
10. Makanatu Ahlil Hadits.
11. Manhajul Imam Muslim fii Tartibi Shahihihi.
12. Ahlul Hadits Hum Ath-Thaifah Al-Manshurah An-Najiyah hiwar ma’a Salman Al-‘Audah
13. Mudzakarah fil Hadits An-Nabawi.
14. Adhwa` Islamiyyah ‘ala ‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.
15. Matha’inu Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
16. Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim.
17. Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.
18. Mujazafaatul Hiddaad.
19. Al-Mahajjatul Baidla` fii Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.
20. Jamaa’ah Waahidah Laa Jamaa’aat wa Shiraathun Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar ma’a ‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.
21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-Raddil Wajiiz.
22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim wa Aatsaruhu, yang dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.
23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar, Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.
24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil Milyibaari minal Abaathiil.
25. Dahdhu Abaathiil Musa Ad-Duwaisy.
26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil Lathif Basymiil.
27. Inqidhadhusy Syihb As-Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan Al-Khalafiyyah.
28. An-Nashihah Hiyal Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil ‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di majalah At-Tau’iyyah Al-Islamiyyah
29. Al-Kitab was Sunnah Atsaruhuma wa makaanatuhuma wadh Dharurah ilaihima fii Iqaamatit Ta’liimi fii Madaarisinaa, artikel majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.
30. Hukmul Islam fii man Sabba Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli Risaalatihi, artikel majalah Al-Qabas Al-Kuwaitiyyah edisi 8576 tahun 9/5/1997.


Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis lain di luar apa yang telah disebutkan di sini. Kita memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha kebaikan yang beliau lakukan dan semoga Allah memberikan taufik kepada beliau kepada perkara-perkara yang dicintai dan diredhai-Nya, Dia-lah penolong semua itu dan maha mampu atasnya.

(Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh Rabi’ hafidzahullah.)

Dinukil serta sedikit suntingan dari sumber: http://ahlulhadist.wordpress.com/

Selasa, 6 Oktober 2009

Syarat-Syarat Amar Makruf Dan Nahi Mungkar


Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin ketika mensyarahkan kitab Aqidah Al-Wasithiyah karya Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah, beliau meletakkan beberapa syarat dalam beramar makruf (menyuruh berbuat kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari berbuat kemungkaran). Antara syarat-syaratnya adalah sebagaimana berikut:



Syarat Pertama:

Hendaklah dia mengetahui hukum syariat berkaitan dengan apa yang diperintahkan dan dilarangnya, sehingga dia tidak memerintahkan kecuali apa yang dia ketahui bahawa syariat memerintahkannya. Dia juga tidak melarang, kecuali apa yang dia ketahui bahawa syariat melarangnya, dan dalam perkara ini ia tidak boleh berpijak semata-mata hanya kepada perasaan dan juga kebiasaan.


Ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala kepada RasulNya:

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Maksudnya: “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah dating kepadamu.” (Surah Al-Maidah: 48)

Firman Allah Ta’ala:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Maksudnya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabnya.” (Surah Al-Israa’: 36)

Dan Firman Allah Ta’ala:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

Maksudnya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang diseb ut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Surah An-Nahl: 116)

Seandainya dia melihat seseorang melakukan sesuatu yang pada dasarnya dibolehkan, maka tidak halal baginya untuk melarangnya sampai dia mengetahui bahawa ianya haram dan dilarang.

Seandainya dia melihat seseorang meninggalkan sesuatu dimana orang melihat dan mengiranya sebagai ibadah, maka tidak halal baginya untuk memerintahkan beribadah dengannya sehingga dia mengetahui bahawa syariat memerintahkannya.

Syarat Kedua:

Hendaklah dia mengetahui keadaan orang yang diperintahkan tersebut, sama ada dia termasuk dikalangan orang yang diperintah, dilarang atau tidak. Kalau dia melihat seseorang, kemudian dia meragui adakah orang tersebut mukallaf (orang yang dibebani dengan syariat yakni beragama Islam) atau bukan. Maka dia tidak memerintahkan untuk melakukan sesuatu kewajipan sehingga dia memastikannya terlebih dahulu.

Syarat Ketiga:

Hendaklah dia mengetahui keadaan orang yang diperintahkan tersebut adalah pada waktu dia dibebankan, sama ada dia telah melakukannya ataupun belum.

Sekiranya dia melihat seseorang masuk masjid kemudian duduk, dia meragui sama ada orang tersebut telah melakukan solat Tahyatul Masjid sebanyak dua rakaat atau belum. Maka dia tidak boleh mengingkarinya dan tidak pula boleh memerintahkannya sehingga telah jelas perkara tersebut.   

Dalilnya adalah bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada hari Jumaat, lalu seorang lelaki masuk dan terus duduk. Nabi bertanya kepadanya:

فَقَالَ أَصَلَّيْتَ قَالَ لا قَالَ قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وتَجَوَّزْ فِيهِمَا

“Adakah kamu telah solat?” Dia menjawab: “Belum.” Nabi bersabda: “Berdirilah dan solatlah dengan dua rakaat yang ringan.” (Hadis riwayat Bukhari, no: 931. Muslim, no: 875. Dan lafaznya dari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhuma)

Aku mendengar sebahagian orang berkata: haram merakam bacaan Al-Qur’an di kaset hal itu melecehkan Al-Qur’an pada sangkaannya, lalu dia melarang orang ramai merakam bacaan Al-Qur’an di kaset kerana dia menyangka itu sesuatu yang mungkar.

Kami katakan, kemungkaran (yang sebenarnya) itu adalah, kamu melarang mereka sesuatu yang tidak kamu ketahui bahawa ia adalah mungkar. Maka kamu mestilah (terlebih dahulu) mengetahui bahawa kemungkaran itu adalah dalam agama Allah.

Dan itu adalah selain dari ibadah. Adapun ibadah; maka seandainya kita melihat seseorang melakukan ibadah sementara dia tidak mengetahui adakah ibadah tersebut diperintahkan oleh Allah, maka kita melarangnya kerana hukum asal ibadah adalah terbatal (haram).

Syarat Keempat:

Hendaklah dia mampu beramar makruf dan nahi mungkar tanpa ada mudarat yang akan menimpanya. Jika ada mudarat maka ia tidak wajib ke atasnya, akan tetapi jika dia bersabar dan melakukannya, maka itu lebih baik; kerana seluruh kewajipan disyaratkan dengan adanya kemampuan dan kesanggupan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maksudnya: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (Surah At-Taghabun: 16)

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا

Maksudnya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Surah Al-Baqarah: 286)

Jika dia beramar makruf kepada seseorang lalu dia takut dibunuh, maka dia tidak wajib untuk beramar makruf kerana dia tidak mampu untuk melakukannya. Bahkan boleh jadi diharamkan baginya. Sebahagian ulama berkata: Justeru dia wajib beramar makruf dan bersabar, meskipun dia ditimpa kesulitan kerananya asalkan tidak sampai ke tahap pembunuhan. Akan tetapi pendapat pertama lebih utama, kerana jika orang yang berbuat amar makruf ditimpa kesulitan kerana ditahan atau sebagainya, maka orang lain pun akan menolak beramar makruf dan nahi mungkar kerana takut ditimpa hal yang sama, sehinggalah pada keadaan kesulitan (bahaya) itu tidak lagi ditakuti.

Dan hal ini selama perkaranya tidak sampai pada batas di mana amar makruf termasuk ke dalam jenis jihad sebagaimana jika dia memerintahkan untuk melakukan sunnah dan melarang daripada berbuat bid’ah, sekiranya dia diam nescaya ahli bid’ah akan menancapkan kukunya pada ahli sunnah. Maka dalam keadaan sebegini wajib menampakkan sunnah dan menjelaskan bid’ah, kerana ianya termasuk jihad fi sabilillah (dijalan Allah), dan tidak ada keuzuran ke atas sesiapa yang beralasan takut terhadap dirinya.

Syarat Kelima:

Amar makruf dan nahi mungkar tidak akan mengakibatkan kerosakan yang lebih besar daripada meninggalkannya. Jika demikian, maka ia tidak wajib atasnya bahkan tidak boleh beramar makruf dan nahi mungkar.

Oleh kerana itu, para ulama berkata: Nahi mungkar akan menghasilkan salah satu dari empat perkara berikut: Hilangnya kemungkaran, atau berubahnya kemungkaran menjadi lebih ringan, atau sama dengan sebelumnya, atau kepada lebih besar dari sebelumnya.

-         Adapun keadaan yang pertama dan kedua ini nahi mungkar hukumnya wajib.
-         Adapun dalam keadaan ketiga, ianya boleh dipertimbangkan.
-         Adapan dalam keadaan keempat, tidak boleh dia melakukan nahi mungkar, kerana maksud nahi mungkar adalah menghilangkan atau meringankan.

Sebagai contoh apabila ingin memerintahkan seseorang berbuat baik, akan tetapi akibat perbuatan baik tersebut, mengakibatkan dia tidak solat berjemaah, maka amar makruf yang demikian tidak boleh, kerana ia mengakibatkan meninggalkan yang wajib demi sesuatu perkara yang hukumnya hanya sunnat sahaja.

Demikianlah juga pada hal kemungkaran. Jika dia melakukan nahi mungkar akan mengakibatkan orang yang melakukan kemungkaran tersebut akan melakukan kemungkaran yang lebih besar, maka dalam keadaan seperti ini dia tidak boleh melarangnya demi mencegah kerosakan yang lebih besar dengan membiarkan kerosakan yang lebih kecil.

Dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ    

Maksudnya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, kerana mereka nanti akan memaki Allah dengan malampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb (Tuhan) merekalah, mereka dikembalikan, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’aam: 108)

Mencela tuhan-tuhan orang musyrikin adalah sesuatu yang dituntut tanpa keraguan, akan tetapi kerana perbuatan tersebut mengakibatkan keburukan yang lebih besar daripada kemaslahatan yang diperolehi disebabkan mencela tuhan-tuhan orang musyrik, iaitu mereka akan membalasnya dengan celaan yang lebih besar terhadap Allah tanpa pengetahuan, maka Allah melarang hal tersebut dalam kondisi seperti ini.

Kalau kita mendapati seseorang yang sedang meminum khamar (arak), -dan tidak diragui bahawa ianya merupakan kemungkaran- dimana jika kita melarangnya dari meminumnya justeru dia malah mencuri dan merampas kehormatan mereka, maka dalam keadaan seperti ini kita tidak melarangnya meminum khamar kerana akibatnya jauh lebih buruk.

Syarat Keenam:

Hendaklah orang yang beramar makruf dan nahi mungkar melakukan apa yang dia perintahkan tersebut dan menjauhi apa yang dia larang. Ini menurut pendapat sebahagian ulama. Jika dia tidak melakukan hal itu, maka dia tidak boleh melarang orang lain minum khamar. Oleh kerana itu seorang penyair berkata:

Janganlah kamu melarang suatu perilaku,
Lalu kamu melakukannya,
Hal itu aib dan berat bagimu kalau kamu melakukannya.

Hanya saja jumhur ulama tidak sependapat dengan pendapat yang di atas. Mereka berkata: Dia wajib beramar makruf walaupun tidak melakukannya. Dia wajib melakukan nahi mungkar walaupun dia melakukannya kerana Allah mencela Bani Israel bukan kerana mereka memerintahkan kepada kebaikan, akan tetapi kerana mereka memerintahkan yang baik dan melupakan diri mereka.

Pendapat kedua inilah yang benar. Kami katakan: Kamu sekarang dituntut melakukan dua perkara: Pertama, melakukan kebaikan. Kedua, memerintahkan kepada kebaikan. Kamu juga dilarang dari melakukan dua perkara: Pertama, melakukan kemungkaran. Kedua, meninggalkan melarang perbuatan mungkar. Maka janganlah menggabungkan antara meninggalkan dua perkara yang diperintahkan dan melakukan dua perkara yang dilarang, Ini kerana meninggalkan salah satu dari keduanya tidak menyebabkan gugurnya yang lain.

Inilah enam syarat itu. Empat untuk keharusan, ianya adalah pertama, kedua, ketiga dan kelima di atas perincian padanya. Dan dua darinya untuk kewajipan iaitu keempat dan keenam.

Bukan termasuk prinsip dasar bahawa orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar harus berkerabat dengan orang yang berada di atasnya, seperti ayahnya atau ibunya, atau datuknya, atau neneknya, akan tetapi mungkin kita katakan: Hal ini lebih ditegaskan, kerana termasuk sikap berbakti kepada orang tua adalah melarang keduanya melakukan kemaksiatan dan menyuruh keduanya melakukan ketaatan. Namun mungkin dia akan berkata: “Apabila aku melarang, maka dia akan marah kepadaku dan menjauhiku, lalu apa yang akan aku lakukan?”

Kami katakan: Bersabarlah di atas yang demikian, yang kamu peroleh dari marah ayahmu ke dan menjauhnya dia darimu, dan sebaik-baik akibat adalah milik orang-orang yang bertaqwa. Teladanilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ayahmu yang memperingatkan ayahnya kerana kesyirikannya, Dia berkata:

يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا. قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آَلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Maksudnya: “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun. Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan ditimpa azab oleh Allah yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.” Ayahnya berkata: ‘Bencilah kamu kepada Tuhan-tuhan yang menjadi sembahanku, hai Ibrahim. Jika kamu tidak berhenti, maka nescaya kamu akan aku rejam dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Surah Maryam: 42-46)

Dan juga berkata Ibrahim kepada ayahnya, Azar:

أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آَلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Maksudnya: “Patutkah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Surah Al-An’aam: 74)

(Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Oleh Samahatus Syeikh Muhammad As-Sholeh Al-‘Utsaimin, Dar Ibn Al-Jauzi, jilid 2, halaman 330-336. Lihat terjemahan Syarah Aqidah Wasithiyyah, Pustaka Sahifa, halaman 601-605)

Sabtu, 3 Oktober 2009

Siapakah Pengikut Imam Syafi’i Yang Sebenar?

Kebanyakan orang ramai mengaku-ngaku sebagai pengikut Imam Syafi’i akan tetapi yang sebenarnya mereka tidak menyedari bahawa mereka banyak menyalahi pegangan Imam Syafi’i yang sebenar. Rata-rata penduduk Malaysia, Indonesia, mahupun di Singapura semuanya mengaku adalah bermazhab Syafi’i. Bahkan apabila kita menegur mereka “Perbuatan itu menyalahi sunnah Nabi” maka mereka dengan pantas menjawab “Kami adalah penganut mazhab Syafi’i, kami mengikut pandangan Imam Syafi’i.” Akan tetapi tahukah anda apakah pegangan Imam Syafi’i yang sebenar?

Maka dalam tulisan kali ini saya hendak mengemukakan beberapa pendapat Imam Syafi’i sendiri berkenaan Aqidah, Sunnah dan Bid’ah, zikir setelah solat, dan kenduri arwah yang mana perkara ini yang sering menjadi persoalan harian kita dan dengan itu kita bersama-sama dapat melihat  dan menilai sendiri sejauh mana benar pegangan kita ini sama dengan pegangan Imam Syafi’i ataupun tidak.


Aqidah Imam Syafi’i

Al-Imam Ibn Qudamah Al-Maqdisiy rahimahullah membawakan perkataan Imam Asy-Syafi’i dalam kitabnya “Lum’atul I’tiqad” :

قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي رضي الله عنه : آمنت بالله وبما جاء عن الله ، على مراد الله ، وآمنت برسول الله ، وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله .

“Al-Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I radiallahu ‘anhu berkata: “Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah datang dari Allah, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah. Dan aku pun beriman kepada Rasulullah, serta apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasulullah.” (Lum’atul I’tiqad, al-Maktabah al-Syamilah, hal 4)

Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais membawakan sebuah manuskrip asli riwayat Abu Talib al-‘Usyari yang kini tersimpan di University of Leaden di Belanda:

من رواية أبي طالب العشاري ما نصّه قال: وقد سُئل عن صفات الله عز وجل وما ينبغي أن يؤمن به, فقال (لله تبارك وتعالى أسماء وصفات جاء بها كتابه وخبر بها نبيه صلى الله عليه وسلم, أمته لا يسع أحداً من خلق الله عز وجل قامت لديه الحجة إن القرآن نزل به وصحيح عنده قول النبي صلى الله عليه وسلم, فيما روى عنده العدل خلافه فإن خالف ذلك بعد ثبوت الحجة عليه فهو كافر بالله عز وجل.

 “Riwayat dari Abu Thalib al-‘Usyari apa yang dinaskan olehnya, dia berkata: “Dan telah ditanya (Imam Asy-Syafi’i) tentang sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla dan apa yang patut seseorang beriman dengannya. Maka berkata (Imam Asy-Syafi’i): “Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh KitabNya dan diberitakan oleh NabiNya sallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Tidak boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhluk Allah Azza wa Jalla yang telah sampai kepadanya hujah. Sesungguhnya al-Qur’an turun membawa keterangan dengannya, juga sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan tsiqah telah menerangkan masalah itu. Maka barangsiapa yang mengingkari semuanya itu setelah ditegakkan hujjah ke atasnya, maka dia telah kafir kepada Allah Azza wa Jalla.”


فأما قبل ثبوت الحجة عليه من جهة الخبر فمعذور بالجهل لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل ولا بالدراية والفكر ونحو ذلك أخبار الله عز وجل أنه سميع وأن له يدين بقوله عز وجل (بل  يداه مبسوطتان) وأن له يميناً بقوله عز وجل (والسموات مطويات بيمينه), وإن له وجهاً بقوله عز وجل (كل شيء هالك إلا وجهه), وقوله (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام) وأن له قدماً بقوله صلى الله عليه وسلم (حتى يضع الرب عز وجل فيها قدمه) يعني جهنم لقوله صلى الله عليه وسلم, للذي قتل في سبيل الله عز وجل أنه (لقي الله عز وجل وهو يضحك إليه) وأنه يهبط كل ليلة إلى السماء الدنيا بخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم, بذلك وأنه ليس بأعور لقول النبي صلى الله عليه وسلم إذ ذكر الدجال فقال (إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور) وإن المؤمنين يرون ربهم عز وجل يوم القيامة بأبصارهم كما يرون القمر ليلة البدر وأنه له إصبعاً بقوله صلى الله عليه وسلم (ما من قلب إلا هو بين أصبعين من أصابع الرحمن عز وجل)

 “Adapun jika dia menentang kerana belum mendapat hujah dan keterangan tersebut, maka dia diampuni kerana kebodohannya kerana pengetahuan tentang semua itu (sifat-sifat Allah dan nama-namaNya) tidak dapat dijangkau oleh akal dan fikiran. Yang termasuk ke dalam keterangan-keterangan seperti ini adalah keterangan-keterangan Allah Azza wa Jalla bahawa Dia Maha Mendengar dan bahawa Allah itu memiliki Tangan sesuai dengan firmanNya: “Bahkan kedua Tangan Allah terbuka.” (Al-Maidah: 64) Dan bahawa Allah memiliki Tangan Kanan, sebagaimana firmanNya: “Dan langit digulung dengan Tangan KananNya.” (Az-Zumar: 67) Dan bahawa Allah itu memiliki Wajah, berdasarkan firmanNya yang menetapkannya: “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah...” (Al-Qashash: 88) “Dan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27) Dan bahawa Allah memiliki Kaki sesuai dengan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam: “Sehingga Allah Azza wa Jalla meletakkan Kaki-Nya ke dalamnya.” Yakni neraka Jahannam (untuk memenuhinya sehinggalah neraka berkata: ‘Cukup, cukup, demi keagunganMu...’)” (Lihat hadis riwayat Muslim, no: 2848)

Dan Allah Ketawa berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang mati di jalan Allah: “Dia akan bertemu Allah Azza wa Jalla sedang Allah Tertawa kepadanya.” (Lihat hadis riwayat Bukhari, no: 2826 dan Muslim, no: 1890) Dan bahawa Allah Turun ke langit dunia pada setiap malam sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Begitu juga keterangan bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak buta sebelah mata-Nya berdasarkan pernyataan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ketika baginda menyebut dajjal, baginda bersabda: “Sesungguhnya Dajjal buta sebelah matanya dan sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta sebelah mata-Nya.” (Lihat hadis riwayat Muslim, no: 2933)

Dan bahawa orang-orang mukmin pasti akan melihat Tuhan mereka pada hari kiamat dengan pandangan mata seperti halnya mereka melihat bulan di malam purnama, juga bahawa Allah Azza wa Jalla mempunyai Jari Jemari seperti ditetapkan oleh sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidaklah ada satu hati pun melainkan ia berada di antara Dua Jari dari Jari-Jari Ar-Rahman Azza wa Jalla.” (Lihat hadis riwayat Ibnu Majah, no: 199)
 
وإن هذه المعاني التي وصف الله عز وجل بها نفسه ووصفه بها رسوله صلى الله عليه وسلم, لا يدرك حقه ذلك بالفكر والدراية ولا يكفر بجهلها أحد إلا بعد انتهاء الخبر إليه وإن كان الوارد بذلك خبراً يقوم في الفهم مقام المشاهدة في السماع (وجبت الدينونة) على سامعه بحقيقته والشهادة عليه كما عاين وسمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم, ولكن نثبت هذه الصفات وننفي التشبيه كما نفى ذلك عن نفسه تعالى ذكره فقال (ليس كمثله شيء وهو السميع البصير)

 “Dan bahawa tentang ini, telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla bagi diri-Nya dan disifatkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak dapat diketahui hakikatnya yang demikian dengan akal dan fikiran dan tidaklah menjadi kafir oleh orang-orang yang jahil seorang pun kecuali setelah diterangkan ke atasnya. Dan bila mana yang datang tersebut merupakan barita yang kedudukannya dalam pemahaman seperti sesuatu yang disaksikan dalam apa yang didengar, maka wajib baginya sebagai orang yang mendengar berita tersebut untuk mengimani dan tunduk kepada hakikat hal tersebut dan mempersaksikan atasnya seperti halnya dia melihat dan mendengtar dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kita tetapkan sifat-sifat ini dengan menafikan kesamaan dengan makhluk (Tasybih) sebagaimana Allah telah menafikannya daripada diri-Nya dalam firman-Nya: “Tiada sesuatupun yang seumpama denganNya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11)” (Selesai nukilan dari buku I’tiqad Aimmah Al-Arba’ah, Dr. Abdurrahman Al-Khumais, halaman 24-25) 

Imam Asy-Syafi’i Bermazhab Sunnah Nabi Yang Sahih

Syeikh Nasiruddin Al-Albani membawakan riwayat-riwayat dari Imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal) berkenaan anjuran mengikuti sunnah dan meninggalkan apa yang menyalahi sunnah, di dalam kitabnya “Sifatus Solatin Nabi.” Antara ucapan-ucapan Imam Asy-Syafi’i tersebut adalah seperti berikut (Lihat halaman 44-47, Cetakan 2004M = 1424H, Maktabah Al-Ma’arif Lin-Nasyr wa At-Tauzigh – Riyadh):

أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد. - الفلاني ص 68


“Seluruh kaum muslimin telah bersepakat bahawa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadis dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya demi mengikuti pendapat seseorang.” (Al-Filani, hal 68)

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت. وفي رواية: فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد. - النووي في المجموع 1 / 63


“Jika kamu menemui dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam maka hendaklah kamu berkata dengan sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan tinggalkanlah pendapatku itu.” Dan dalam riwayat yang lain: “Maka kamu mengikutinya dan janganlah kamu berpaling kepada pendapat seseorang.” (An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 1/63)

إذا صح الحديث فهو مذهبي. - النووي 1 / 63

“Sekiranya sahih hadis tersebut, maka itulah mazhabku.” (An-Nawawi 1/63)

كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي ) . - أبو نعيم في الحلية 9 / 107)

“Setiap masalah sahihnya hadis dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menurut ahli hadis itu bertentangan dengan apa yang aku katakan, pasti aku akan menariknya semula sama ada semasa hidupku mahupun setelah kewafatanku.” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 9/107)

إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب. - ابن عساكر بسند صحيح 15 / 10 / 1


“Apabila kamu menetahui aku mengatakan suatu pendapat yang menyalahi hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih, ketahuilah bahawa akalku telah hilang.” (Ibn ‘Asakir dengan sanad yang sahih, 15/10/1)

كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني. - ابن عساكر بسند صحيح 15 / 9 / 2


“Setiap perkataanku apabila bertentangan dengan riwayat yang sahih dari Nabi, maka hadis Nabi lebih utama dan jangan bertaqlid kepadaku.” (Ibn ‘Asakir dengan sanad yang sahih, 15/9/2)

كل حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم فهو قولي وإن لم تسمعوه مني. - ابن أبي حاتم 93 - 94


“Setiap hadis yang dating dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam maka ia adalah pendapatku walaupun kamu tidak mendengarnya sendiri dariku.” (Ibn Abi Hatim, 93-94)

Demikian perkataan-perkataan Imam Asy-Syafi’i yang berharga kepada kita. Ini merupakan kaedah yang ditinggalkan oleh Imam Asy-Syafi’i kepada kita agar sentiasa mengikuti sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih walaupun ianya tidak dikenali oleh Imam Asy-Syafi’i.

Sebagai contoh dalam masalah tayammum Imam Asy-Syafi’i berpendapat hendaklah menyapu muka dan tangan dengan dua kali tepukan ke tanah iaitu sekali tepukan disapu ke muka dan sekali lagi tepukan disapu ke atas tangan hingga ke siku. Imam Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitab induknya “Al-Umm”:

في التيمم ضربة للوجه وضربة للكفين هكذا يقولون ضربة للوجه وضربة لليدين إلى المرفقين


“Dalam bertayammum itu adalah sekali pukulan untuk wajah dan sekali pukulan untuk kedua-dua telapak tangan, yang demikian mereka berkata (maksudnya) sekali pukulan untuk wajah dan sekali lagi pukulan untuk kedua-dua tangan sehingga kesiku.” (Al-Umm, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 7/172)

Imam Asy-Syafi’i berpendapat demikian kerana berhujahkan hadis berikut ini:


اَلتَّيَمُّم ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ

“Tayammum itu ada dua pukulan, sekali pukulan untuk wajah dan sekali lagi untuk kedua-dua tangan hingga ke siku.” (Hadis riwayat At-Thabrani dan Al-Hakim)

Hadis di atas ini sanadnya dha’if jiddan (lemah sekali) kerana terdapat perawi yang bernama Ali bin Dzabyan. Ibn Ma’in berkata: “Pendusta lagi buruk.” Imam Bukhari berkata: “Mungkar hadisnya.” An-Nasa’i berkata: “Hadisnya ditinggalkan.” Melalui jalan lain terdapat perawi yang bernama Sulaiman yang Abu Zur’ah berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan.” (Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, pada huraian hadis no: 3427)

Yang sahih berkenaan tayammum adalah sekali tepukan untuk wajah dan kedua-dua telapak tangan sahaja. Ini tsabit dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ


“Sesungguhnya memadailah engkau berbuat begini, Maka Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menepuk kedua belah telapak tangannya ke bumi dan menghembus keduanya, kemudian baginda menyapu keduanya pada muka dan kedua-dua tangannya.” (Hadis riwayat Bukhari, no: 347 dan Muslim, no: 110)

Oleh sebab itu Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam Syarah Al-Muhazzab:

أنه أقوى في الدليل وأقرب إلى ظاهر السنة الصحيحة والله أعلم.


“Bahawasanya inilah yang paling kuat dalil (tentang tayammum iaitu sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim) dan paling hampir kepada zahir sunnah yang sahih, wallahua’lam.” (Dinukil dari kitab Kifayatul Akhyar Fi Ghayati Al-Ikhtiyar, Imam Taqiyuddin Abi Bakr bin Muhammad Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i, Dar-Kutub Al-‘Ilmiyyah – Beirut, halaman 93)

Dengan keterangan di atas, sepatutnya tidak timbul persoalan adanya bid’ah hasanah sebagaimana yang dibela bermati-matian oleh segelintir masyarakat kita. Mereka sering menggunakan perkataan Imam Syafi’i sebagaimana berikut:

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّة فَهُوَ مَحْمُود وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوم


“Bid’ah itu dua jenis: terpuji dan tercela. Apa yang menepati Sunnah adalah terpuji dan apa yang menyalahi sunnah adalah tercela.” (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim; Lihat Fathul Baari, Ibn Hajar Al-‘Asqalani, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 20/330)

Dalam pernyataan beliau yang lain:


الْمُحْدَثَات ضَرْبَانِ مَا أُحْدِث يُخَالِف كِتَابًا أَوْ سُنَّة أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَة الضَّلال ، وَمَا أُحْدِث مِنْ الْخَيْر لا يُخَالِف شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَة غَيْر مَذْمُومَة

“Suatu yang diada-adakan (perkara baru dalam agama) ada dua jenis: Sesuatu yang diada-adakan yang menyelisihi Kitab (Al-Qur’an) atau Sunnah, atau atsar atau Ijma’, maka ianya adalah bid’ah yang sesat dan sesuatu yang diada-adakan dari kebaikan yang ia sedikitpun tidak menyelisihi sunnah, maka ianya tidak tercela.” (Fathul Baari, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 20/330)

Untuk menjawab syubhat yang dilontarkan ini, mari kita melihat apa komen Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah tentang pernyataan Imam Syafi’i di atas.

Ibn Rajab rahimahullah berkata:

ومراد الشافعي - رحمه الله - ما ذكرناه مِنْ قبلُ : أنَّ البدعة المذمومة ما ليس لها أصل منَ الشريعة يُرجع إليه ، وهي البدعةُ في إطلاق الشرع ، وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة ، يعني : ما كان لها أصلٌ مِنَ السنة يُرجع إليه ، وإنَّما هي بدعةٌ لغةً لا شرعاً ؛ لموافقتها السنة .


“Dan yang hendak dimaksudkan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah yang telah kita sebutkan sebelumnya: Bahawasanya pada dasarnya, bid’ah yang tercela adalah sesuatu yang tidak ada asalnya menurut syariat yang ia akan kembali kepadanya. Inilah bid’ah menurut syarak. Adapun bid’ah yang terpuji iaitu apa-apa yang bertepatan dengan sunnah, maksudnya sesuatu yang ada dasarnya daripada sunnah yang kembali kepadanya, hanyasanya pemahaman ini secara bahasa bukan secara syarak kerana ia bertepatan dengan sunnah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibn Rajab Al-Hanbali, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 28/29)

Dengan itu dapatlah disingkap segala kesamaran mereka kononnya Imam Syafi’i berpendapat adanya bid’ah hasanah. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka dalam membela amalan bid’ah hasanah mereka tersebut adalah seperti, berzikir secara kuat dan berjemaah setelah solat, kenduri arwah dan sebagainya. Jika begitulah, tanyakan semula kepada mereka “Apakah Imam Syafi’i berbuat sebagaimana yang kamu lakukan?” Maka jawapannya adalah selepas ini.

Zikir Setelah Solat

Dalam masalah ini pada kebiasaannya yang dilakukan di Malaysia adalah para jemaah berzikir setelah solat fardhu secara bersama-sama dengan dikeraskan suara. Mari kita lihat apakah pandangan Imam Asy-Syafi’i dalam maslah ini:

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

واختيار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر


“Imam dan makmum boleh memilih sama ada ingin berzikir kepada Allah (atau tidak) selepas solat. Dan mereka hendaklah memperlahankan zikir kecuali dia merupakan seorang imam. Imam wajib mengajari makmum berzikir, maka hendaklah dia kuatkan zikirnya sehingga dia melihat bahawa telah dipelajari darinya (zikir-zikir tersebut). Kemudian hendaklah dia perlahankan semula. (Al-Umm, Kitab As-Solah, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 1/150)

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه ذلك لان عامة الروايات التى كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تهليل ولا تكبير وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصفت ويذكر انصرافه بلا ذكر وذكرت أم سلمة مكثه ولم يذكر جهرا وأحسبه لم يكث إلا ليذكر ذكرا غير جهر

“Aku berpendapat baginda (Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam) menguatkan suara ketika berzikir hanya untuk seketika sahaja. Tujuannya agar para sahabat dapat mempelajari zikir itu daripadanya. Ini kerana, kebanyakan riwayat yang telah kami tulis sama ada bersama kitab ini (Al-Umm) atau selainnya langsung tidak menyebut adanya bacaan tahlil atau takbir selepas baginda memberi salam. Kadang-kadang riwayat yang datang menyebut baginda berzikir selepas solat seperti apa yang aku nyatakan (secara kuat) dan kadangkala baginda beredar (meninggalkan saf) tanpa berzikir. Menurut apa yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, baginda tidak berzikir secara kuat selepas solat. Oleh itu, aku berpendapat bahawa baginda tidak akan duduk sama sekali kecuali berzikir tanpa dikuatkan suara.” (Al-Umm, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 1/150-151)

Pendapat Imam Asy-Syafi’i di atas ini sememangnya selari dengan sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang mana setelah solat baginda berzikir secara bersendirian tanpa dikeraskan suara. Terkadang baginda juga pernah tidak berzikir setelah solat. Ini sebagaimana diriwayatkan Jabir bin Yazid ibnu Aswad berkata:

عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ إِذَا انْصَرَفَ انْحَرَف


“Daripada ayahnya bahawa dia pernah solat bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dalam solat subuh. Setelah selesai solatnya, maka baginda segera meninggalkan tempat solatnya”. (Hadis riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i, disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih wa Dha’if Sunan Abu Daud, no: 614 dan dalam Sahih wa Dha’if Sunan An-Nasa’i, no: 1334)

Namun yang lebih utama adalah berzikir terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat solat kerana Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukannya sebagaimana terdapat banyak riwayat tentang bacaan zikir yang diajarkan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam setelah solat.

Adapun berdoa setelah solat fardhu secara berjamaah telah diterangkan oleh Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah bahawa ianya tidak ada asal usulnya sebagaimana katanya:

قد ذكرنا استحباب الذكر والدعاء للامام والمأموم والمنفرد وهو مستحب عقب كل الصلوات بلا خلاف وأماما اعتاده الناس أو كثير منهم من تخصيص دعاء الامام بصلاتي الصبح والعصر فلا أصل له


“Kami telah menyebutkan tentang kesunnatan berzikir sesudah solat bagi Imam bagi makmum, dan bagi yang bersolat secara bersendirian adalah dikehendaki berbuat yang demikian (secara bersendirian) pada setiap solat lima waktu tanpa khilaf. Dan adapun adat yang diadakan manusia atau kebanyakan dari mereka, iaitu imam menentukan doa buat solat subuh dan asar, maka ianya tidak ada asal usulnya”. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 3/488)

Pendapat Imam Asy-Syafi’i Tentang Kenduri Arwah

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam kitabnya “Al-Umm”:

وأحب لجيران الميت أو ذى قرابته أن يعملوا لاهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما يشبعهم فإن ذلك سنة وذكر كريم وهو من فعل أهل الخير قبلنا وبعدنا لانه لما جاء نعى جعفر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " اجعلوا لآل جعفر طعاما فإنه قد جاءهم أمر يشغلهم"


“Aku suka jiran si mati atau orang yang mempunyai pertalian keluarga dengannya (keluarga jauh) memberi makan kepada ahli mayat, yang mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya. Kerana itu adalah sunnat dan ingatan (zikir) yang mulia, dan ianya adalah perbuatan golongan yang baik-baik sebelum dan selepas kita. Ini kerana apabila tiba berita kematian Ja’far, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Buatlah kamu makanan kepada keluarga Ja’far kerana telah datang perkara yang mengharukan kepada mereka.” (Al-Umm, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 1/317)

Beliau juga berkata:

وأكره المأتم وهى الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن ويكلف المؤنة مع ما ضى فيه من الاثر


“Dan aku membenci membuat perkumpulan iaitu berkumpul, walaupun dalam majlis itu tidak terdapat tangisan (ratapan) kerana sesungguhnya perkara itu (berkumpul) akan mengembalikan kesedihan dan memberikan beban berdasarkan atsar yang telah lalu.” (Al-Umm, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 1/318)

Yang dimaksudnya atsar oleh Imam Asy-Syafi’i tersebut adalah atsar yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdulullah Al-Bajali radhiallahu ‘anhu:

كُنَّا نَعُدُّ الاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ


“Kami mengira berhimpun orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumiannya adalah sebahagian dari ratapan kematian.” (Hadis riwayat Ahmad dalam Musnadnya; Syu’aib Al-Arnauth berkata: Sahih dalam Takhrijnya ke atas Musnad Ahmad, no: 6905)

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah mengulas perkataan Imam Asy-Syafi’i di atas tadi dengan mengatakan:

واستدل له المصنف وغيره بدليل آخر وهو انه محدث


“Pengarang (Imam Asy-Syafi’i) dan ulama-ulama yang lain berpendapat berdasarkan dalil yang lain bahawa perbuatan itu (yakni mengadakan perkumpulan) adalah merupakan perkara yang baru.” (Al-Majmu’, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 5/306)

Beliau (Imam An-Nawawi) juga berkata:

(واما) الجلوس للتعزية فنص الشافعي والمصنف وسائر الاصحاب علي كراهته ونقله الشيخ أبو حامد في التعليق وآخرون عن نص الشافعي قالوا يعنى بالجلوس لها ان يجتمع اهل الميت في بيت فيقصدهم من اراد التعزية قالوا بل ينبغى ان ينصرفوا في حوائجهم فمن صادفهم عزاهم ولا فرق بين الرجال والنساء في كراهة الجلوس لها

“Dan adapun berkumpul untuk takziah, maka Asy-Syafi’i dan pengarang Al-Musannif, mereka telah menetapkan bahawa perbuatan itu adalah perkara yang dibenci. Syeikh Abu Hamid telah menukilkan dalam At-Ta’liq dan ulama yang lain daripada nas Asy-Syafi’i berkata: Yakni duduk takziah iaitu keluarga si mati berkumpul di rumah, lalu mereka menunggu orang yang ingin bertakziah. Beliau berkata: Mereka mengatakan: Bahkan hendaklah mereka beredar pergi untuk berusaha memenuhi keperluan hidup mereka. Maka sesiapa yang terserempak menemui mereka, maka bolehlah dia bertakziah kepada mereka. Tidak ada perbezaan di antara kaum lelaki dan kaum perempuan pada larangan duduk berkumpul untuk bertakziah.” (Al-Majmu’, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 5/306)

Demikianlah sunnah dalam berlakunya kematian adalah memberi makanan kepada keluarga si mati kemudian mengucapkan takziah kepadanya. Inilah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama termasuklah kitab-kitab jawi dari ulama Nusantara juga berpendapat sedemikian. Berikut saya nukilkan beberapa perkataan ulama Nusantara tersebut:

1 - Dalam Kitab Furu’il Masa’il

“Dan demikian lagi yang dikerjakan manusia dengan barang yang dinamakan dia dengan kaffarah dan daripada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan tujuh harinya dan dua puluh dan empat puluh dan umpamanya, yang demikian itu haramkah atau makruh atau harus. (Maka dijawabnya) Maka adalah segala yang tersebut makruh yang dicela pada syarak kerana tegah pada syarak kata syeikh Ibn Hajar tiada sah wasiatnya.” (Furu'il Masaail, Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fathani, Juz 1, halaman 183)

2 – Dalam Kitab Sabil Al-Muhtadin

“Dan makruh lagi bid'ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang disukanya manusia atas makan dia dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang telah teradat dan demikian lagi makruh lagi bid'ah bagi segala mereka yang diserunya perkenankan seruannya.” (Sabil Al-Muhtadin, Syeikh Muhammad bin Abdullah Al-Banjari, Juz 2, halaman 83)

3 – Dalam Kitab Kasyful Litsaam

“Barang dikerjakan oleh ahli mayat daripada mempersembahkan makanan dan perhimpunan manusia atas dahulu daripada tanam mayat dan kemudian lagi dikerjakan oleh manusia dengan barang yang dinamakan kaffarah dan daripada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan tujuh hari dan dua puluh hari dan empat puluh hari dan umpamanya yang demikian itu yang diperbuat oleh kebanyakan orang itu maka adalah segala yang tersebut itu makruh yang dicela oleh syarak kerana tegah pada syarak.” (Kasyful Litsaam, Juz 1, halaman 85)

4 – Dalam Kitab Bughyat At-Tullab

“Dan sunnah bagi jiran keluarga mayat dan orang yang berkenalan dengan keluarganya, jikalau bukan jirannya sekalipun dan segala kerabatnya yang jauh, membawa makan makanan akan orang yang kematian yang mengenyangkan mereka itu pada hari dan malamnya (serta) menyungguh-nyugguh akan mereka itu suruh mereka makan kerana mereka itu terkadang meninggal akan makan sebab sangat terkejut hati mereka itu….

Dan makruh lagi bid'ah bagi orang kematian memperbuat makanan menserukan (menyerukan) segala manusia atas memakan dia, sama ada dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang telah diadatkan kebiasaan manusia. Demikian lagi makruh lagi bid'ah bagi segala orang yang diserukan dia memperkenankan seruannya.

Dan setengah daripada yang qabihah lagi makruh mengerjakan dia barang yang dikerjakan kebiasaan manusia barang dimakan dengan kaffarah dan wahsyah dan tujuh hari dan empat puluh dan umpamanya yang demikian itu……

Adapun asal sunnah mensediakan makanan itu pada barang yang dahulunya sabda Nabi s.a.w tatkala datang khabar kematian saidina Ja'far bin Abu Talib pada perang mu'tah, perbuat olehmu bagi keluaraga Ja'far makanan maka sesungguhnya telah datang akan mereka itu barang yang membimbangkan mereka itu.” (Bughat At-Thullab, Syeikh Daud bin 'Abdullah Al-Fathani, juz 2, halaman 33-34)

Adapun amalan membaca Al-Qur’an untuk dihadiahkan kepada si mati. Maka dalam masalah ini Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan tentang pendapat jumhur dalam mazhab Syafi’i iaitu kata beliau:

وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن فَالْمَشْهُور مِنْ مَذْهَب الشَّافِعِيّ أَنَّهُ لا يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّت وَقَالَ بَعْض أَصْحَابه : يَصِل ثَوَابهَا إِلَى الْمَيِّت

“Dan adapun pembacaan Al-Qur’an, maka yang masyhur dari mazhab Syafi’i bahawa ianya tidak sampai kepada mayat sedangkan sebahagian sahabatnya mengatakan: Pahalanya sampai kepada mayat.” (Syarah An-Nawawi ‘ala Muslim, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 1/25)

Firman Allah Ta’ala:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى


Maksudnya: “Dan bahawasanya seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Surah An-Najm: 39)

Al-Hafiz Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص

“Dan melalui ayat yang mulia ini, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan para pengikutnya mengistinbatkan hukum bahawa pahala bacaan (Al-Qur’an) yang dihadiahkan kepada orang mati tidak sampai kepadanya kerana bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka (orang mati). Oleh kerana itu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mensunnahkan umatnya dan menganjurkan mereka melakukan perkara tersebut, serta tidak pula menunjukkan kepadanya (menghadiahkan bacaan kepada orang mati) walaupun dengan satu nas (dalil).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 7/465)

Al-Haitami rahimahullah yang merupakan ulama dalam mazhab Syafi’i berkata dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyah:

الميت لا يقرأ عليه مبني على ما اطلقه المتقدمون من أن القراءة لا تصل إلى الميت لأن ثوابها للقارئ والثواب المرتب على عمل لا ينقل عن عامل ذلك العمل. قال الله تعالى: وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

“Si mati tidak boleh dibacakan apa pun berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama mutaqaddimin (terdahulu) bahawa bacaan (yang pahalanya dikirmkan kepada si mati) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya sahaja. Sedangkan hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu berdasarkan firman Allah (yang bermaksud): “Dan bahawasanya seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyah, juz 2, halaman 9; dinukil dari buku Membela Sunnah Nabawiyah, Jahabersa, halaman 61)

Kesimpulan

Daripada keterangan-keterangan di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa kebanyakan mereka yang mengaku mengikut mazhab Syafi’i sebenarnya mereka masih jauh dari apa yang dipegang sendiri oleh Imam Syafi’i. Kalaulah kita benar-benar merupakan pengikut mazhab Syafi’i yang tulen pasti kita mengikuti pegangan beliau sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Akan tetapi sebenarnya ramai dari mereka yang tidak tahu kenyataan ini, bahkan mereka dengan melulu menuduh orang yang mengajak kepada pendapat Imam Syafi’i di atas adalah sebagai wahabi dan sebagainya. Semoga Allah membuka pintu hati mereka untuk melihat cahaya kebenaran.

Wallahua’lam.

𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻

Tulisan: Su Han Wen Shu Sumber: Facebook   𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 ...