Ahad, 13 September 2009

Mencontohi Rasulullah Dalam Merayakan 'Aidul Fitri

Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Idul Fitri bisa memiliki banyak makna bagi tiap-tiap orang. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai hari yang menyenangkan karena tersedianya banyak makanan enak, baju baru, banyaknya hadiah, dan lainnya. Ada lagi yang memaknai Idul Fitri sebagai saat yang paling tepat untuk pulang kampung dan berkumpul bersama handai taulan. Sebagian lagi rela melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, dan berbagai aktivitas lain yang bisa kita saksikan. Namun barangkali hanya sedikit yang mau untuk memaknai Idul Fitri sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam “memaknainya”.

Idul Fitri memang hari istimewa. Secara syar’i pun dijelaskan bahwa Idul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam selain Hari Raya Idul Adha. Karenanya, agama ini membolehkan umatnya untuk mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari itu.

Sebagai bagian dari ritual agama, prosesi perayaan Idul Fitri sebenarnya tak bisa lepas dari aturan syariat. Ia harus didudukkan sebagaimana keinginan syariat.

Bagaimana masyarakat kita selama ini menjalani perayaan Idul Fitri yang datang menjumpai? Secara lahir, kita menyaksikan perayaan Hari Raya Idul Fitri masih sebatas sebagai rutinitas tahunan yang memakan biaya besar dan juga melelahkan. Kita sepertinya belum menemukan esensi yang sebenarnya dari Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang dimaukan syariat.

Bila Ramadhan sudah berjalan 3 minggu atau sepekan lagi ibadah puasa usai, “aroma” Idul Fitri seolah mulai tercium. Ibu-ibu pun sibuk menyusun menu makanan dan kue-kue, baju-baju baru ramai diburu, transportasi mulai padat karena banyak yang bepergian atau karena arus mudik mulai meningkat, serta berbagai aktivitas lainya. Semua itu seolah sudah menjadi aktivitas “wajib” menjelang Idul Fitri, belum ada tanda-tanda menurun atau berkurang.

Untuk mengerjakan sebuah amal ibadah, bekal ilmu syar’i memang mutlak diperlukan. Bila tidak, ibadah hanya dikerjakan berdasar apa yang dia lihat dari para orang tua. Tak ayal, bentuk amalannya pun menjadi demikian jauh dari yang dimaukan syariat.

Demikian pula dengan Idul Fitri. Bila kita paham bagaimana bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini, tentu berbagai aktivitas yang selama ini kita saksikan bisa diminimalkan. Beridul Fitri tidak harus menyiapkan makanan enak dalam jumlah banyak, tidak harus beli baju baru karena baju yang bersih dan dalam kondisi baik pun sudah mencukupi, tidak harus mudik karena bersilaturahim dengan para saudara yang sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, dan sebagainya. Dengan tahu bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beridul Fitri tidak lagi butuh biaya besar dan semuanya terasa lebih mudah.

Berikut ini sedikit penjelasan tentang bimbingan syariat dalam beridul Fitri.

Definisi Ied (Hari Raya)

Ibnu A’rabi mengatakan: “Id1 dinamakan demikian karena setiap tahun terulang dengan kebahagiaan yang baru.” (Al-Lisan hal. 5)

Ibnu Taimiyyah berkata: “Id adalah sebutan untuk sesuatu yang selalu terulang berupa perkumpulan yang bersifat massal, baik tahunan, mingguan atau bulanan.” (dinukil dari Fathul Majid hal. 289 tahqiq Al-Furayyan)

Id dalam Islam adalah Idul Fitri, Idul Adha dan Hari Jum’at.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا، يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah datang ke Madinah dalam keadaan orang-orang Madinah mempunyai 2 hari (raya) yang mereka bermain-main padanya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Apa (yang kalian lakukan) dengan 2 hari itu?” Mereka menjawab: “Kami bermain-main padanya waktu kami masih jahiliyyah.” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 1004, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Hukum Shalat Ied

Ibnu Rajab berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Id menjadi 3 pendapat:

Pertama: Shalat Id merupakan amalan Sunnah (ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang dianjurkan, seandainya orang-orang meninggalkannya maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat Al-Imam Ats-Tsauri dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.

Kedua: Bahwa itu adalah fardhu kifayah, sehingga jika penduduk suatu negeri sepakat untuk tidak melakukannya berarti mereka semua berdosa dan mesti diperangi karena meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i.

Ketiga: Wajib ‘ain (atas setiap orang) seperti halnya Shalat Jum’at. Ini pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Al-Imam Asy-Syafi’I mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.” (Diringkas dari Fathul Bari Ibnu Rajab, 6/75-76)

Yang terkuat dari pendapat yang ada –wallahu a’lam– adalah pendapat ketiga dengan dalil berikut:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu ‘Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (hari raya) Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang dipingit. Adapun yang haid maka dia menjauhi tempat shalat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?” Nabi menjawab: “Hendaknya saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim Kitabul ‘Idain Bab Dzikru Ibahati Khurujinnisa)

Perhatikanlah perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk pergi menuju tempat shalat, sampai-sampai yang tidak punya jilbabpun tidak mendapatkan udzur. Bahkan tetap harus keluar dengan dipinjami jilbab oleh yang lain.

Shiddiq Hasan Khan berkata: “Perintah untuk keluar berarti perintah untuk shalat bagi yang tidak punya udzur… Karena keluarnya (ke tempat shalat) merupakan sarana untuk shalat dan wajibnya sarana tersebut berkonsekuensi wajibnya yang diberi sarana (yakni shalat). Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya Shalat Id adalah bahwa Shalat Id menggugurkan Shalat Jum’at bila keduanya bertepatan dalam satu hari. Dan sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin menggugurkan suatu kewajiban.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/380 dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah. Lihat pula lebih rinci dalam Majmu’ Fatawa, 24/179-186, As-Sailul Jarrar, 1/315, Tamamul Minnah, hal. 344)

Wajibkah Shalat Id Bagi Musafir?

Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang intinya: Apakah untuk Shalat Id disyaratkan pelakunya seorang yang mukim (tidak sedang bepergian)?

Beliau kemudian menjawab yang intinya: “Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan, tidak disyaratkan mukim.”

Lalu beliau mengatakan: “Yang benar tanpa keraguan, adalah pendapat yang pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Shalat Jum’at dan Shalat Id…” (Majmu’ Fatawa, 24/177-178)


Mandi Sebelum Melakukan Shalat Id

عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)

Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali radhiallahu 'anhu tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali radhiallahu 'anhu berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))

Memakai Wewangian

عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَغْتَسِلُ وَيَتَطَيَّبُ يَوْمَ الْفِطْرِ

“Dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mandi dan memakai wewangian di hari Idul fitri.” (Riwayat Al-Firyabi dan Abdurrazzaq)

Al-Baghawi berkata: “Disunnahkan untuk mandi di hari Id. Diriwayatkan dari Ali bahwa beliau mandi di hari Id, demikian pula yang sejenis itu dari Ibnu Umar dan Salamah bin Akwa’ dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dia dapati serta agar memakai wewangian.” (Syarhus Sunnah, 4/303)

Memakai Pakaian yang Bagus

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Umar radhiallahu 'anhu berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan dapat bagian (di akhirat)….” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil ‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)

Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari raya dan bahwa ini perkara yang biasa di antara mereka.” (Fathul Bari)

Makan Sebelum Berangkat Shalat Id

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ: حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya: “Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal ‘Idain Qablal Khuruj)

Ibnu Rajab berkata: “Mayoritas ulama menganggap sunnah untuk makan pada Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat Shalat Id, di antara mereka ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma.”

Di antara hikmah dalam aturan syariat ini, yang disebutkan oleh para ulama adalah:

  1. Menyelisihi Ahlul kitab, yang tidak mau makan pada hari raya mereka sampai mereka pulang.
  2. Untuk menampakkan perbedaan dengan Ramadhan.
  3. Karena sunnahnya Shalat Idul Fitri lebih siang (dibanding Idul Adha) sehingga makan sebelum shalat lebih menenangkan jiwa. Berbeda dengan Shalat Idul Adha, yang sunnah adalah segera dilaksanakan. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/89)


Bertakbir Ketika Keluar Menuju Tempat Shalat

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

“Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)

Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya apa yang diamalkan kaum muslimin yaitu bertakbir dengan keras selama perjalanan menuju tempat shalat walaupun banyak di antara mereka mulai menggampangkan sunnah (ajaran) ini, sehingga hampir-hampir menjadi sekedar berita (apa yang dulu terjadi). Hal itu karena lemahnya mental keagamaan mereka dan karena rasa malu untuk menampilkan sunnah serta terang-terangan dengannya. Dan dalam kesempatan ini, amat baik untuk kita ingatkan bahwa mengeraskan takbir di sini tidak disyariatkan padanya berpadu dalam satu suara sebagaimana dilakukan sebagian manusia2…” (Ash-Shahihah: 1 bagian 1 hal. 331)

Lafadz Takbir

Tentang hal ini tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam –wallahu a’lam–. Yang ada adalah dari shahabat, dan itu ada beberapa lafadz.

Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu:

أَنَّهُ كَانَ يُكَبِرُ أَيَّامَ التَّشْرِيْقِ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

(HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/2/2 dan sanadnya shahih)

Namun Ibnu Abi Syaibah menyebutkan juga di tempat yang lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315) dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga kali takbir.

Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلَّ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

(Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)

Tempat Shalat Id

Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya di mushalla.

Mushalla yang dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan bukan masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.


عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أَضْحًى إِلَى الْبَقِيْعِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَقَالَ: إِنَّ أَوَّلَ نُسُكِنَا فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نَبْدَأَ بِالصَّلاَةِ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ وَافَقَ سُنَّتَنَا

Dari Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ia berkata: “Nabi pergi pada hari Idul Adha ke Baqi’ lalu shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajahnya dan mengatakan: ‘Sesungguhnya awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu kita pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu berarti telah sesuai dengan sunnah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Istiqbalul Imam An-Nas Fi Khuthbatil ‘Id)

Ibnu Rajab berkata: “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa keluarnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan shalatnya adalah di Baqi’, namun bukan yang dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi’. Tapi yang dimaksud adalah bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung dengan kuburan Baqi’ dan nama Baqi’ itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga Ibnu Zabalah telah menyebutkan dengan sanadnya bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Id di luar Madinah sampai di lima tempat, sehingga pada akhirnya shalatnya tetap di tempat yang dikenal (untuk pelaksanaan Id, -pent.). Lalu orang-orang sepeninggal beliau shalat di tempat itu.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/144)

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)

Ibnu Hajar menjelaskan: “Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta.” Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka.”

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Nampaknya tempat itu dahulu di sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi’…” (dinukil dari Shalatul ‘Idain fil Mushalla Hiya Sunnah karya Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 16)

Waktu Pelaksanaan Shalat

يَزِيْدُ بْنُ خُمَيْرٍ الرَّحَبِيُّ قَالَ: خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ اْلإِمَامِ. فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِيْنَ التَّسْبِيْحِ

“Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam. Iapun berkata: ‘Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.’ Dan itu ketika tasbih.” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara mua’llaq, Kitabul ‘Idain Bab At-Tabkir Ilal ‘Id, 2/456, Abu Dawud Kitabush Shalat Bab Waqtul Khuruj Ilal ‘Id: 1135, Ibnu Majah Kitab Iqamatush- shalah was Sunan fiha Bab Fi Waqti Shalatil ’Idain. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Yang dimaksud dengan kata “ketika tasbih” adalah ketika waktu shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.

Ibnu Baththal berkata: “Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah diperbolehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah.” Demikian dijelaskan Ibnu Hajar. (Al-Fath, 2/457)

Namun sebenarnya ada yang berpendapat bahwa awal waktunya adalah bila terbit matahari, walaupun waktu dibencinya shalat belum lewat. Ini pendapat Imam Malik. Adapun pendapat yang lalu, adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu pendapat pengikut Syafi’i. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/104)

Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena menurut Ibnu Rajab: “Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rafi’ bin Khadij dan sekelompok tabi’in bahwa mereka tidak keluar menuju Shalat Id kecuali bila matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha di masjid sebelum keluar menuju Id. Ini menunjukkan bahwa Shalat Id dahulu dilakukan setelah lewatnya waktu larangan shalat.” (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)


Apakah Waktu Idul Fitri lebih Didahulukan daripada Idul Adha?

Ada dua pendapat:

Pertama, bahwa keduanya dilakukan dalam waktu yang sama.

Kedua, disunnahkan untuk diakhirkan waktu Shalat Idul Fitri dan disegerakan waktu Idul Adha. Itu adalah pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini yang dikuatkan Ibnu Qayyim, dan beliau mengatakan: “Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melambatkan Shalat Idul Fitri serta menyegerakan Idul Adha. Dan Ibnu ‘Umar dengan semangatnya untuk mengikuti sunnah tidak keluar sehingga telah terbit matahari dan bertakbir dari rumahnya menuju mushalla.” (Zadul Ma’ad, 1/427, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)

Hikmahnya, dengan melambatkan Shalat Idul Fitri maka semakin meluas waktu yang disunahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah; dan dengan menyegerakan Shalat Idul Adha maka semakin luas waktu untuk menyembelih dan tidak memberatkan manusia untuk menahan dari makan sehingga memakan hasil qurban mereka. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105-106)

Tanpa Adzan dan Iqamah

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Dari Jabir bin Samurah ia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah 2 Hari Raya (yakni Idul Fitri dan Idul Adha), bukan hanya 1 atau 2 kali, tanpa adzan dan tanpa iqamah.” (Shahih, HR. Muslim)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اْلأَنْصَارِيِّ قَالاَ: لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلاَ يَوْمَ اْلأَضْحَى ثُمَّ سَأَلْتُهُ بَعْدَ حِيْنٍ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَنِي قَالَ: أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ اْلأَنْصَارِيُّ أَنْ لاَ أَذَانَ لِلصَّلاَةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِيْنَ يَخْرُجُ اْلإِمَامُ وَلاَ بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلاَ إِقَامَةَ وَلا نِدَاءَ وَلاَ شَيْءَ، لاَ نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلاَ إِقَامَةَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dan Jabir bin Abdillah Al-Anshari keduanya berkata: “Tidak ada adzan pada hari Fitri dan Adha.” Kemudian aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang itu, maka ia mengabarkan kepadaku bahwa Jabir bin Abdillah Al-Anshari mengatakan: “Tidak ada adzan dan iqamah di hari Fitri ketika keluarnya imam, tidak pula setelah keluarnya. Tidak ada iqamah, tidak ada panggilan dan tidak ada apapun, tidak pula iqamah.” (Shahih, HR. Muslim)

Ibnu Rajab berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal ini dan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan ‘Umar radhiallahu 'anhuma melakukan Shalat Id tanpa adzan dan iqamah.”

Al-Imam Malik berkata: “Itu adalah sunnah yang tiada diperselisihkan menurut kami, dan para ulama sepakat bahwa adzan dan iqamah dalam shalat 2 Hari Raya adalah bid’ah.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/94)

Bagaimana dengan panggilan yang lain semacam: Ash-shalatu Jami’ah?

Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya menganggap hal itu sunnah. Mereka berdalil dengan:

Pertama: riwayat mursal dari seorang tabi’in yaitu Az-Zuhri.

Kedua: mengqiyaskannya dengan Shalat Kusuf (gerhana).

Namun pendapat yang kuat bahwa hal itu juga tidak disyariatkan. Adapun riwayat dari Az-Zuhri merupakan riwayat mursal yang tentunya tergolong dha’if (lemah). Sedangkan pengqiyasan dengan Shalat Kusuf tidaklah tepat, dan keduanya memiliki perbedaan. Di antaranya bahwa pada Shalat Kusuf orang-orang masih berpencar sehingga perlu seruan semacam itu, sementara Shalat Id tidak. Bahkan orang-orang sudah menuju tempat shalat dan berkumpul padanya. (Fathul Bari, karya Ibnu Rajab, 6/95)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu berkata: “Qiyas di sini tidak sah, karena adanya nash yang shahih yang menunjukkan bahwa di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk Shalat Id tidak ada adzan dan iqamah atau suatu apapun. Dan dari sini diketahui bahwa panggilan untuk Shalat Id adalah bid’ah, dengan lafadz apapun.” (Ta’liq terhadap Fathul Bari, 2/452)

Ibnu Qayyim berkata: Apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat maka mulailah beliau shalat tanpa adzan dan iqamah dan tanpa ucapan “Ash-shalatu Jami’ah”, dan Sunnah Nabi adalah tidak dilakukan sesuatupun dari (panggilan-panggilan) itu. (Zadul Ma’ad, 1/427)

Kaifiyah (Tata Cara) Shalat Id

Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat yang pertama 7 kali, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul intiqal.

Adapun takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua itu tanpa takbir ruku’, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Aisyah dalam riwayatnya:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيْرَتَيْ الرُّكُوْعِ

“Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bertakbir para (shalat) Fitri dan Adha 7 kali dan 5 kali selain 2 takbir ruku’.” (HR. Abu Dawud dalam Kitabush Shalat Bab At-Takbir fil ’Idain. ‘Aunul Ma’bud, 4/10, Ibnu Majah no. 1280, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Abani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1149)

Pertanyaan: Apakah pada 5 takbir pada rakaat yang kedua dengan takbiratul intiqal (takbir perpindahan dari sujud menuju berdiri)?

Ibnu Abdil Bar menukilkan kesepakatan para ulama bahwa lima takbir tersebut selain takbiratul intiqal. (Al-Istidzkar, 7/52 dinukil dari Tanwirul ‘Ainain)

Pertanyaan: Tentang 7 takbir pertama, apakah termasuk takbiratul ihram atau tidak?

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat:

Pertama: Pendapat Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad, Abu Tsaur dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa 7 takbir itu termasuk takbiratul ihram. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/178, Aunul Ma’bud, 4/6, Istidzkar, 2/396 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)

Kedua: Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, bahwa 7 takbir itu tidak termasuk takbiratul ihram. (Al-Umm, 3/234 cet. Dar Qutaibah dan referensi sebelumnya)

Nampaknya yang lebih kuat adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal itu karena ada riwayat yang mendukungnya, yaitu:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جِدِّهِ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيْدَيْنِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيْرَةً، سَبْعًا فِي اْلأُوْلَى وَخَمْسًا فِي اْلآخِرَةِ سِوَى تَكْبِيْرَتَيِ الصَّلاَةِ

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir pada 2 hari raya 12 takbir, 7 pada rakaat yang pertama dan 5 pada rakaat yang terakhir, selain 2 takbir shalat.”(Ini lafadz Ath-Thahawi)

Adapun lafadz Ad-Daruquthni:

سِوَى تَكْبِيْرَةِ اْلإِحْرَامِ

“Selain takbiratul ihram.” (HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar, 4/343 no. 6744 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Ad-Daruquthni, 2/47-48 no. 20)

Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperselisihkan bernama Abdullah bin Abdurrahman At-Tha‘ifi. Akan tetapi hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, ‘Ali Ibnul Madini dan Al-Imam Al-Bukhari sebagaimana dinukilkan oleh At-Tirmidzi. (lihat At-Talkhis, 2/84, tahqiq As-Sayyid Abdullah Hasyim Al-Yamani, At-Ta’liqul Mughni, 2/18 dan Tanwirul ‘Ainain, hal. 158)

Adapun bacaan surat pada 2 rakaat tersebut, semua surat yang ada boleh dan sah untuk dibaca. Akan tetapi dahulu Nabi membaca pada rakaat yang pertama “Sabbihisma” (Surat Al-A’la) dan pada rakaat yang kedua “Hal ataaka” (Surat Al-Ghasyiah). Pernah pula pada rakaat yang pertama Surat Qaf dam kedua Surat Al-Qamar (keduanya riwayat Muslim, lihat Zadul Ma’ad, 1/427-428)

Apakah Mengangkat Tangan di Setiap Takbir Tambahan?

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat mengangkat tangan. Sementara salah satu dari pendapat Al-Imam Malik tidak mengangkat tangan, kecuali takbiratul ihram. Ini dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah (hal. 349). Lihat juga Al-Irwa‘ (3/113).

Tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih dalam hal ini.

Kapan Membaca Doa Istiftah?

Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama berpendapat setelah takbiratul ihram dan sebelum takbir tambahan. (Al-Umm, 3/234 dan Al-Majmu’, 5/26. Lihat pula Tanwirul ‘Ainain hal. 149)

Khutbah Id

Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendahulukan shalat sebelum khutbah.


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيْدَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّوْنَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Aku mengikuti Shalat Id bersama Rasulullah, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman maka mereka semua shalat dahulu sebelum khutbah.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab ‘Idain Bab Al-Khutbah Ba’dal Id)

Dalam berkhutbah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan menghadap manusia tanpa memakai mimbar, mengingatkan mereka untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan juga beliau mengingatkan kaum wanita secara khusus untuk banyak melakukan shadaqah, karena ternyata kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita.

Jamaah Id dipersilahkan memilih duduk mendengarkan atau tidak, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ قَالَ: إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

Dari ‘Abdullah bin Saib ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah Shalat Id, maka ketika beliau selesai shalat, beliau berkata: “Kami berkhutbah, barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1155)

Namun alangkah baiknya untuk mendengarkannya bila itu berisi nasehat-nasehat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berpegang teguh dengan agama dan Sunnah serta menjauhi bid’ah. Berbeda keadaannya bila mimbar Id berubah menjadi ajang kampanye politik atau mencaci maki pemerintah muslim yang tiada menambah di masyarakat kecuali kekacauan. Wallahu a’lam.

Wanita yang Haid

Wanita yang sedang haid tetap mengikuti acara Shalat Id, walaupun tidak boleh melakukan shalat, bahkan haram dan tidak sah. Ia diperintahkan untuk menjauh dari tempat shalat sebagaimana hadits yang lalu dalam pembahasan hukum Shalat Id.

Sutrah Bagi Imam

Sutrah adalah benda, bisa berupa tembok, tiang, tongkat atau yang lain yang diletakkan di depan orang shalat sebagai pembatas shalatnya, panjangnya kurang lebih 1 hasta. Telah terdapat larangan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melewati orang yang shalat. Dengan sutrah ini, seseorang boleh melewati orang yang shalat dari belakang sutrah dan tidak boleh antara seorang yang shalat dengan sutrah. Sutrah ini disyariatkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian atau munfarid. Adapun makmum tidak perlu dan boleh lewat di depan makmum. Ini adalah Sunnah yang mayoritas orang meninggalkannya. Oleh karenanya, marilah kita menghidupkan sunnah ini, termasuk dalam Shalat Id.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيْدِ أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوْضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا اْلأُمَرَاءُ

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu apabila keluar pada hari Id, beliau memerintahkan untuk membawa tombak kecil, lalu ditancapkan di depannya, lalu beliau shalat ke hadapannya, sedang orang-orang di belakangnya. Beliau melakukan hal itu di safarnya dan dari situlah para pimpinan melakukannya juga.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabush Shalat Bab Sutratul Imam Sutrah liman Khalfah dan Kitabul ‘Idain Bab Ash-Shalat Ilal harbah Yaumul Id. Al-Fath, 2/463 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/136)

Bila Masbuq (Tertinggal) Shalat Id, Apa yang Dilakukan?

Al-Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya berjudul: “Bila tertinggal shalat Id maka shalat 2 rakaat, demikian pula wanita dan orang-orang yang di rumah dan desa-desa berdasarkan sabda Nabi: ‘Ini adalah Id kita pemeluk Islam’.”

Adalah ‘Atha` (tabi’in) bila ketinggalan Shalat Id beliau shalat dua rakaat.

Bagaimana dengan takbirnya? Menurut Al-Hasan, An-Nakha’i, Malik, Al-Laits, Asy-Syafi’i dan Ahmad dalam satu riwayat, shalat dengan takbir seperti takbir imam. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/169)

Pulang dari Shalat Id Melalui Rute Lain saat Berangkat

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ

Dari Jabir, ia berkata:” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila di hari Id, beliau mengambil jalan yang berbeda. (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Man Khalafa Thariq Idza Raja’a…, Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2/472986, karya Ibnu Rajab, 6/163 no. 986)

Ibnu Rajab berkata: “Banyak ulama menganggap sunnah bagi imam atau selainnya, bila pergi melalui suatu jalan menuju Shalat Id maka pulang dari jalan yang lainnya. Dan itu adalah pendapat Al-Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i dan Ahmad… Dan seandainya pulang dari jalan itu, maka tidak dimakruhkan.”

Para ulama menyebutkan beberapa hikmahnya, di antaranya agar lebih banyak bertemu sesama muslimin untuk memberi salam dan menumbuhkan rasa cinta. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/166-167. Lihat pula Zadul Ma’ad, 1/433)

Bila Id Bertepatan dengan Hari Jum’at

عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ: شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ: أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيْدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ: صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, ia berkata: Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dia sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam: “Apakah kamu menyaksikan bersama Rasulullah, dua Id berkumpul dalam satu hari?” Ia menjawab: “Iya.” Mu’awiyah berkata: “Bagaimana yang beliau lakukan?” Ia menjawab: “Beliau Shalat Id lalu memberikan keringanan pada Shalat Jumat dan mengatakan: ‘Barangsiapa yang ingin mengerjakan Shalat Jumat maka shalatlah’.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: “Telah berkumpul pada hari kalian ini 2 Id, maka barangsiapa yang berkehendak, (Shalat Id) telah mencukupinya dari Jum’at dan sesungguhnya kami tetap melaksanakan Jum’at.” (Keduanya diriwayatkan Abu Dawud dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1070 dan 1073)

Ibnu Taimiyyah berkata: “Pendapat yang ke-3 dan itulah yang benar, bahwa yang ikut Shalat Id maka gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at. Akan tetapi bagi imam agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at, supaya orang yang ingin mengikuti Shalat Jum’at dan orang yang tidak ikut Shalat Id bisa mengikutinya. Inilah yang diriwayatkan dari Nabi dan para shahabatnya.” (Majmu’ Fatawa, 23/211)

Lalu beliau mengatakan juga bahwa yang tidak Shalat Jum’at maka tetap Shalat Dzuhur.

Ada sebagian ulama yang berpendapat tidak Shalat Dzuhur pula, di antaranya ‘Atha`. Tapi ini pendapat yang lemah dan dibantah oleh para ulama. (Lihat At-Tamhid, 10/270-271)


Ucapan Selamat Saat Hari Raya

Ibnu Hajar mengatakan: “Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:


تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.” (Lihat pula masalah ini dalam Ahkamul ‘Idain karya Ali Hasan hal. 61, Majmu’ Fatawa, 24/253, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/167-168)

Wallahu a’lam.

__________________________
Footnote :
1 'Id artinya kembali.
2 Karena Nabi tidak memberi contoh demikian dalam ibadah ini. Lain halnya –wallahu a’lam– bila kebersamaan itu tanpa disengaja.

(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Qomar ZA, Lc, judul "Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Ber'idul Fithri". Url Sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=373)

Ahad, 6 September 2009

Malam Seribu Bulan: Lailatul Qadar

Oleh: Mohd Safwan bin Mohd Rusydi

Pada setiap akhir Ramadhan, seluruh umat Islam akan membuat persiapan untuk mencari malam yang istimewa bagi mereka. Dimana malam tersebut lebih baik dari seribu bulan yang bersamaan dengan 83 tahun 4 bulan. Mereka akan berusaha berharap untuk mendapatkan malam tersebut. 

Firman Allah Ta’ala:


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Maksudnya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada malam Lailatul-Qadar. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran malam Lailatul-Qadar itu? Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!” (Al-Qadr: 1-5)

Allah Ta’ala menurunkan Al-Quran pada malam lailatul Qadar pada bulan yang diberkati iaitu bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah:


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Maksudnya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati.” (Ad-Dukhkhan: 3)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

Maksudnya: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran.” (Al-Baqarah: 185)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أنزلت صحف إبراهيم أول ليلة من رمضان، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان، وأنزل الإنجيل لثلاث عشرة ليلة خلت من رمضان، و أنزل الزبور لثمان عشرة خلت من رمضان ، و أنزل القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان

“Diturunkan suhuf (lembaran-lembaran) kepada Ibrahim pada malam pertama bulan Ramadhan, diturunkan Taurat pada tanggal enam Ramadhan, diturunkan Injil pada tanggal tiga belas Ramadhan, dan diturunkan Al-Quran pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.” (Hadis Riwayat Ahmad; menurut Al-Albani: Sanadnya hasan, lihat: Silsilah As-Sahihah, no: 1575)

Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selainnya berkata:

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Allah menurunkan Al-Quran itu sekaligus (30 juzuk), dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian diturunkan secara bertahap-tahap, sesuai konteks berbagai keadaan selama dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Ibn Katsir, Maktabah Asy-Syamilah, jilid 8, ms. 441)

Ibn ‘Abbas dan jumhur ahli ilmu berpendapat: Sesungguhnya Al-Quran diturunkan secara jumlatan wahidah (sekaligus) ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Dan pada penurunan ini adalah untuk membesarkan (memuliakan) Al-Quran di sisi malaikat. Kemudian setelah itu ia diturunkan secara munajjaman (beransur-ansur) kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam daripada Baitul ‘Izzah, mengikut keadaan dan perkara yang baru berlaku. Dalil-dalil yang menyokong pendapat ini adalah:

Apa yang tsabit dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu (Terdapat atsar sahih yang menunjukkan demikian, antaranya: Sebagaimana riwayat An-Nasai, Al-Baihaqi dan selain mereka berdua)  Sesungguhnya dia berkata:


أنزل القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا ليلة القدر، ثم أنزل بعد ذلك في عشرين سنه

“Al-Quran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada lailatul Qadar kemudian setelah itu, ia diturunkan selama dua puluh tahun.”

Antaranya juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, dari Ibn ‘Abbas, dia berkata:

فصل القرآن من الذكر، فوضع في بيت العزة في السماء الدنيا ، فجعل جبريل عليه السلام ينزله على النبي صلى الله عليه وسلم

“Al-Qur’an itu dipisahkan dari az-Zikr, kemudian diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia,  maka Jibril mula menurunkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tarikh Tasyrik, Buku Teks MEDIU, ms. 30-31)

Bilakah Berlakunya Malam Al-Qadar?

Berdasarkan hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah beriktikaf pada sepuluh pertama dari bulan Ramadhan. Dan kami juga pernah beriktikaf bersama baginda, lalu Jibril mendatangi baginda seraya berkata: ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta sudah berada di depanmu. Oleh kerana itu, beriktikaflah pada sepuluh pertengahan.’ Maka kami pun beriktikaf bersama baginda. Lalu Jibril datang kepada baginda dan berkata: ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta sudah ada di depanmu.’ Kemudian Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berdiri untuk menyampaikan khutbah pada pagi hari kedua puluh dari bulan Ramadhan seraya bersabda: ‘Barangsiapa yang beriktikaf bersamaku maka hendaklah dia pulang kembali, kerana sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadar. Dan sesungguhnya aku melupakannya, dan sesungguhnya ia ada pada sepuluh terakhir pada malam ganjil. Dan aku melihat seakan-akan aku bersujud di tanah dan air.’ Dan pada waktu itu atap masjid masih berupa pelepah kurma dan kami tidak dapat melihat sesuatu di langit.’ Lalu Lailatul Qadar datang secara tiba-tiba sehingga hujan turun menyirami kami. Selanjutnya, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan solat bersama kami sehingga aku melihat bekas tanah dan air pada dahi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bentuk pembenaran mimpi baginda.” Dalam sebuah lafaz disebutkan: iaitu pada pagi hari kedua puluh satu. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Asy-Syafi’i berkata: “Dan hadis ini merupakan riwayat yang paling sahih dari riwayat-riwayat mengenai hal ini.” Dan ada juga yang mengatakan “Malam kedua puluh tiga.” Yang demikian itu berdasarkan hadis Abdullah bin Unais di dalam kitab Sahih Muslim, yang siyaqnya berdekatan dengan riwayat Abu Sa’id. Wallahua’lam. Dan ada juga yang mengatakan: “Malam kedua puluh lima.” (Dinukil dari Terjemahan Tafsir Ibn Katsir, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, jilid 10, ms. 318)

Hal ini berdasarkan hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan pada sembilan hari yang tersisa, pada tujuh hari yang tersisa dan pada lima hari yang tersisa.” (Hadis riwayat Bukhari, no: 1881)

Terdapat juga riwayat yang menjelaskan Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam ganjil. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit bahawa dia pernah bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengenai Lailatul Qadar, lalu Rasulullah bersabda:

فِي رَمَضَانَ فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنَّهَا فِي وَتْرٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ

“Pada bulan Ramadhan, carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam kesepuluh terakhir, kerana ia ada pada malam yang ganjil; pada malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, atau kedua puluh tujuh, atau kedua puluh sembilan atau pada akhir malam.” (Hadis riwayat Ahmad; Syu’aib Al-Arnauth berkata: Hadis ini hasan, tanpa perkataan “atau pada akhir malam”, no: 22765)

Pengarang kitab “Sifat As-Shaum An-Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam” membuat kesimpulan:

“Jika seorang muslim mencari Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil 10 hari terakhir; malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Kalau lemah atau tidak mampu mencari pada sepuluh malam terakhir, carilah pada malam ganjil 7 hari terakhir iaitu; malam 25, 27 dan 29. Wallahua’lam.” (Dinukil dari buku ‘Berpuasa & Berhari Raya Mengikut Sunnah Rasulullah SAW’, Syeikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid dan Syeikh Salim Al-Hilali, Jahabersa, ms. 108-109)

Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani rahimahullah berkata dalam kitabnya “Qiam Ramadhan” hal 19, “Bahawa Lailatul Qadar adalah pada malam ke 27 dari bulan Ramadhan menurut pendapat yang rajih, kerana itulah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan keluarga dan isteri-isterinya pada malam tersebut, Maka dengan demikian disunnahkan juga bagi kaum wanita untuk turut menghadiri malam yang mulia ini.” (Dinukil dari buku ‘Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat, Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani, Jahabersa, ms. 165)

Ibn Katsir rahimahullah berkata:

“Dan diriwayatkan dari Abu Qilabah bahawasanya dia pernah berkata: ‘Lailatul Qadar itu berpindah-pindah (yakni tidak tetap-edt) pada sepuluh malam terakhir.’ Dan inilah yang diriwayatkan dari Abu Qilabah yang dinaskan oleh Malik, Ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur, Al-Muzani, Abu Bakar bin Khuzaimah, dan lain-lain. Dan juga diriwayatkan dari Asy-Syafi’i yang dinukil oleh Al-Qadhi. Dan inilah yang paling mendekati kebenaran. Wallahua’lam.” (Dinukil dari Terjemahan Tafsir Ibn Katsir, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, jilid 10, ms. 319)

Amalan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Secara ringkasnya, pada hari terakhir Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:


إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan) baginda mengencangkan kainnya (yakni tidak menggauli isteri-isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya (dari tidur).” (Hadis riwayat Bukhari, no: 1884)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu malam Lailatul Qadar, apa yang akan aku ucapkan?” Baginda menjawab: “Ucapkanlah:


اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku.” (Hadis riwayat Tirmizi, no: 3706. Ibn Majah, no: 3850. Berkata Tirmizi: Abu ‘Isa berkata hadis ini hasan sahih. Menurut Al-Albani hadis ini sahih)

Pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan juga Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf, sehinggalah baginda wafat. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan:


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Bahawasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan sehinggalah baginda wafat, kemudian isteri-isterinya (meneruskan) iktikaf setelahnya.” (Hadis riwayat Bukhari, no: 1886. Muslim, no: 2006)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Adalah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh pada sepuluh akhir (Ramadhan), apa yang tidak pernah baginda bersunguh-sungguh pada selainnya (yakni selain waktu tersebut).” (Hadis riwayat Muslim, Tirmizi, Ibn Majah dan Ahmad. Silsilah As-Sahihah, no: 2123)

Tambahan: Dalam bab ‘Aqidah, sebahagian pendapat (yang sesat) mengatakan bahawa Jibril ‘Alaihissalam mengambil Al-Quran dari Lauh Al-Mahfuz, tidak mendengarnya dari Allah. Ini kerana mereka tidak meyakini yang Al-Quran merupakan Kalam Allah (Perkataan Allah) dan bukan makhluk (yakni bukan ciptaan). Antara mereka Jahmiyah dan Muktazilah berpandangan: Al-Quran yang berbahasa Arab ini adalah makhluk. Sedangkan Asya’irah dan Maturidiyah berpandangan: Kalam Allah adalah Kalam Nafsi (percakapan dalam hati) tanpa huruf dan tanpa suara, tidak terurai dan tidak terbahagi, tidak dalam bentuk larangan, mahupun dalam bentuk perintah. Mereka berpandangan Taurat, Injil dan Al-Quran bukan firman Allah yang hakiki, tetapi ianya cuma majazi (kiasan) yang menunjukkan kepada Kalam Nafsi Allah.

Jawapan: Pendapat golongan di atas sangat bertentangan dengan aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah kerana Ahli Sunnah Wal Jamaah beriktiqad bahawa: “Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan makhluk.”
Firman Allah Ta’ala:


نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)

Maksudnya: “Ia (Al-Quran) dibawa turun oleh malaikat Jibril yang amanah. Ke dalam hatimu, supaya engkau (Wahai Muhammad) menjadi seorang dari pemberi-pemberi ajaran dan amaran (kepada umat manusia). (Ia diturunkan) dengan bahasa Arab yang fasih serta terang nyata.” (Asy-Syu’ara’: 193-194)

At-Taimi rahimahullah berkata:

“Ahli Hadis dan Ahli Sunnah berkata: Sesungguhnya Al-Quran yang tertulis yang ada di dalam mushaf atau yang dihafal di dalam dada adalah hakikat Kalam Allah Ta’ala. Bertentangan dengan ini, sebahagian orang mengira bahawa Al-Quran hanya merupakan rangkaian kalimat yang menunjukkan hakikat Kalam Allah yang berada dengan ZatNya dan menunjukkanNya. Sedangkan yang ada di dalam mushaf adalah buatan dan huruf-huruf yang diciptakan (makhluk). Sedangkan mazhab Ahli Sunnah dan Ahli Fekah mereka berpendapat bahawa Al-Quran adalah sesuatu yang difirmankan oleh Allah, didengar oleh Jibril dariNya, dan Jibril menyampaikannya kepada Nabi...” (Abul Qasim  Al-Ashbahani, Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah wa Syarah Aqidah Ahlis Sunnah, 1/368; dinukil dari buku ‘I’tiqad Ahlis Sunnah Ashab Al-Hadits’ yang disusun dan disyarah oleh Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais, Edisi Terjemahan ‘Pokok-Pokok Akidah Salaf’ keluaran Darul Haq, ms. 69)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

“Al-Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk dan tidak boleh melemah untuk mengatakan Al-Quran bukan makhluk kerana sesungguhnya kalam Allah itu tidak terpisah dari-Nya, dan tiada suatu bahagian dari-Nya pun yang makhluk. Dan hindarilah berdebat dengan orang yang membuat perkara baru tentangnya, orang yang mengatakan lafazku dengan Al-Quran adalah makhluk dan selainnya serta orang yang bertawaqquf tentangnya, dengan mangatakan : ‘Aku tidak tahu makhluk atau bukan makhluk akan tetapi ia adalah kalam Allah,’ kerana orang ini adalah ahli bid’ah seperti orang yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk.” (Usul Sunnah, no: 13; terjemahan dinukil dari buku ‘Keyakinan Imam Ahmad dalam Aqidah’ keluaran Pustaka Darul Ilmi, ms.75)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk, barangsiapa yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk maka ia telah kafir.” (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri di dalam Asy-Syari’ah, no: 90 dengan sanad yang sahih, dan Ibn Baththah (2/577); Dinukil dari buku ‘Keyakinan Imam Ahmad dalam Aqidah’ keluaran Pustaka Darul Ilmi, ms.77)

Kesimpulan

Demikian secara ringkas masalah Lailatul Qadar yang dapat saya susun. Sangat merugikan sekiranya pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan ini disia-siakan. Banyak dari kalangan masyarakat kita pada hari ini menyibukkan dengan persiapan hari raya pada waktu akhir Ramadhan ini dengan membeli baju raya, kuih-muih, membeli perabot, dan sebagainya. Ini akan menyebabkan mereka lupa akan kedatangan Lailatul Qadar, lupa akan kelebihannya dan mereka tidak berusaha untuk mendapatkannya.

Padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Amat rugilah sekiranya kita meninggalkan usaha untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar ini, yang mana malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, diampunkan dosa-dosa yang telah lalu, dan para malaikat turun dari langit bersama-sama dengan turunnya barakah dan rahmat Allah Ta’ala.

Wallahua’lam

Selasa, 1 September 2009

KONVOKESYEN IPTIPs

Fahami pengisian al-Quran – KANGAR 18 Ogos – Raja Perlis, Tuanku Syed Sirajuddin Syed Putra Jamalullail bertitah, masih ramai umat Islam hanya membaca al-Quran untuk kepentingan akhirat sahaja. Perkara sedemikian titah baginda, tidak sewajarnya berlaku kerana kitab suci tersebut memiliki pelbagai khazanah yang cukup besar buat penganut Islam menterjemahkannya untuk manfaat dunia. “Begitu ramai umat Islam yang membaca al-Quran hanya untuk bekalan akhirat semata-mata. ”Perkara ini berlaku kerana mereka tidak memahami sepenuhnya apa yang wajar dipelajari dari al-Quran itu sendiri, ramai yang membaca al-Quran tetapi tidak memahami kandungan ayat-ayat al-Quran,” jelas Tuanku Syed Sirajuddin.

Baginda bertitah demikian ketika menangguhkan Istiadat Konvokesyen 2009 Institut Pengajian Tinggi Islam Perlis (IPTIPs) yang turut dihadiri oleh Raja Perempuan Perlis, Tuanku Fauziah Tengku Abdul Rashid di Dewan Warisan Perlis di sini hari ini. Sehubungan itu, Raja Perlis mengajak umat Islam memahami sepenuhnya kandungan kitab suci berkenaan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan dunia dan akhirat. Baginda juga mahu umat Islam bekerja lebih keras untuk maju dalam pelbagai bidang profesional sambil mencontohi kehebatan umat terdahulu terutama di zaman Nabi Muhammad saw. “Disebabkan kecemerlangan umat Islam hari ini tidak boleh menyamai kehebatan generasi terdahulu, sebab itulah kira-kira 1.4 bilion umat Islam sekarang masih dianggap mundur. “Umat Islam sebenarnya golongan yang cintakan ilmu. Sebab itulah banyak hasil kajian umat Islam terdahulu sentiasa dijadikan bahan rujukan oleh golongan profesional di seluruh dunia,” titah baginda lagi. Dalam pada itu Raja Perlis turut mengingatkan pentadbir IPTIPs supaya meletakkan masa depan institusi itu ke satu tahap yang lebih berkualiti tinggi kecemerlangannya terutama dalam aspek akademik. “IPTIPs perlu menawarkan bidang-bidang pengajian baru dan memperkemaskan bidang pengajian sedia ada supaya bukan sahaja boleh melahirkan ramai graduan terhebat dunia tetapi kehebatan mereka menepati kehendak Islam,” tegas baginda.

Sementara itu, pada majlis tersebut, daripada 251 graduan yang menamatkan pengajian, enam menerima anugerah khas kerana kecemerlangan berganda semasa sesi pengajian. Anugerah Pelajar DiRaja dimenangi oleh graduan Diploma Syariah, Syed Abdul Kadir Syed Hussin Al-Jufri dan graduan Diploma Usuluddin, Mohammad Asrie Sobri. Anugerah Pingat Emas Rektor diberikan kepada Nor Hidayu Ahmad Jaluddin (graduan Diploma al-Quran dan Hadis) dan Nurhaida Misdan (graduan Diploma Usuludin). Anugerah Pingat Emas Timbalan Rektor pula diraih oleh dua graduan Diploma al-Quran dan Hadis iaitu Mohd. Azali Omar dan Mohd. Safwan Rusydi.

Ahad, 30 Ogos 2009

Bilangan Solat Tarawih

Di Malaysia umumnya melaksanakan solat tarawih sebanyak 20 rakaat kemudian 3 rakaat witir. Terdapat juga segelintir yang hanya melakukan solat tarawih sebanyak 8 rakaat. Jumlah rakaat ini yang menjadi perselisihan di kalangan sebahagian golongan dan masyarakat sehingga ada yang menuduh kononnya 8 rakaat bukan sunnah, yang sunnah adalah 20 rakaat. Sebelah pihak pula membalas bahawa 8 rakaat merupakan sunnah nabi, manakala lebih dari itu adalah bid'ah.

Apa pun, pada pandangan saya sendiri, sememangnya perbuatan Nabi sendiri adalah sebanyak 11 rakaat termasuk witir dan yang ini merupakan yang utama. Akan tetapi, boleh menambah bilangan rakaat tersebut sekiranya mahu menambah. Wallahua'lam.

Al-Qadhi 'Iyadh mengatakan: "Tidak ada perselisihan berkenaan dengan hal ini tiada batasan (rakaat), sehingga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Solat malam adalah suatu ketaatan yang bila bertambah banyak, maka bertambah pula pahalanya. Adapun yang diperselisihkan ialah berkenaan dengan perbuatan Nabi sallallahu 'alaihi wasallam dan jumlah rakaat yang baginda pilih untuk peribadi baginda. Wallahua'lam." (Dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, jilid 2, ms. 71, Puskata Tazkia)

Bilangan Rakaat Solat Tarawih Di Zaman Nabi

Abu Dzar radhiallahu 'anhu berkata:

Kami puasa, tetapi Nabi tidak memimpin kami untuk melakukan solat (tarawih) hingga ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah mengimami kami solat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian baginda tidak keluar pada malam keenam, dan pada malam kelima, baginda memimpin solat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah: "Seandainya engkau menambah lagi untuk kami baki malam ini?" Maka baginda bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Barang siapa solat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka ditulis (pahala) untuknya Qiamullail (solat malam)."

Kemudian baginda tidak memimpin solat lagi, hingga ramadhan tinggal tiga hari. Maka baginda memimpin kami solat pada malam ketiga. Baginda mengajak keluarga dan isterinya. Baginda mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah, saya (Yakni Jabir bin Nufair) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata, "Sahur." (Hadis riwayat Nasai III/202, Tirmizi 806, Ibn Majah 1327, Abu Daud 1375)

Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada A'isyah, maka A'isyah menjawab:

"Tidak pernah baginda menambah lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan ramadhan mahupun diluar ramadhan. Baginda solat 4 rakaat dan jangan ditanya betapa bagusnya dan panjangnya. Kemudian baginda solat 4 rakaat lagi dan jangan ditanya betapa bagusnya dan panjangnya. Kemudian baginda solat 3 rakaat." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Jabir bin Abdullah radhiallahu'anhu berkata:

"Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam pernah solat bersama kami di bulan ramadhan lapan rakaat dan witir (satu rakaat). Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengharap baginda keluar (untuk solat), tetapi baginda tidak keluar hingga masuk waktu pagi, kemudian kami masuk padanya, lalu kami berkata:

"Ya Rasulullah! Malam tadi kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mahu solat bersama kami, maka baginda bersabda: "Sungguh aku bimbang solat itu akan diwajibkan ke atas kamu sekalian." (Hadis riwayat Thabrani dan Ibn Nashr; Al-Albani berkata: Sanad hadis ini hasan)

Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim berkata:

"Sebahagian ulama berpendapat bahawa solat baginda adalah sebelas rakaat. Adapun dua rakaat yang lain, ada yang mengatakan bahawa itu dua rakaat solat sunnah fajar (subuh). Ada yang mengatakan dua rakaat tersebut adalah solat sunnah setelah Isyak. Perkara ini dapat diterima pada sebahagian riwayat, namun tidak dapat diterima pada sebahagian yang lainnya. Ada yang mengatakan kedua rakaat itu adalah dua rakaat ringan yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam untuk membuka solat malam baginda. Barangkali inilah yang lebih tepat." (Shahih Fiqih As-Sunnah, jilid 2, ms. 70)

Beliau juga berkata:

"Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menambah, baik pada bulan ramadhan mahupun di luar ramadhan lebih dari sebelas rakaat, ketika solat malam di dalam rumahnya. Adapun malam-malam dimana baginda mengerjakan solat terawih bersama para sahabatnya, tidak disebutkan jumlah rakaatnya. Tidak ada hadis sahih yang menyebutkan batasan jumlah rakaat solat ini." (Lihat Al-Mushabih fi Shalah At-Tarawih ms. 14-15, tulisan As-Suyuti yang semakna dengannya; dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 76)

Boleh Solat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat

Menurut Abu Malik Kamal pengarang Shahih Fiqih Sunnah, bahawa bolehnya menambah jumlah bilangan rakaat solat malam dalam bulan Ramadhan mahupun luar bulan Ramadhan. Antara hujah-hujahnya adalah:

Nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشيت الصبح فأوتر بواحدة

"Solat malam dikerjakan dua rakaat dua rakaat (berurut-turut). Jika engkau bimbang (masuknya) waktu subuh, maka berwitirlah satu rakaat." (Hadis riwayat Bukhari 946 dan Muslim 749)

Nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أعني على نفسك بكثرة السجود

"Bantulah aku untuk memenuhi permintaanmu itu dengan memperbanyakkan sujud." (Hadis riwayat At-Thabrani dalam Mukjam Kabir 20/365)

Nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


إنك لن تسجد لله سجدة إلا رفعك بها درجة وحط عنك بها خطيئة

"Sesungguhnya tidaklah engkau bersujud kepada Allah sekali sujud, melainkan Allah akan mengangkatmu satu darjat dengannya dan menghapuskan satu kesalahan darimu." (Hadis riwayat Ahmad dalam Musnadnya, no: 21122)

Abu Malik Kamal berkata:

"Nabi memilih bagi dirinya dengan jumlah tersebut (yakni 11 rakaat), tidak boleh dijadikan sebagai dalil yang mengkhususkan dalil-dalil di atas. Hal itu kerana dengan alasan: Perbuatan Nabi sallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat mengkhususkan perkataan baginda, sebagaimana telah direkomen dalam usul fiqh..." (Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 72)

Pendapat Ulama-Ulama Yang Membolehkan Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat

Dari As-Sa'ib bin Yazid:

"Bahawa Umar mengumpulkan manusia (untuk solat tarawih) di belakang Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dari dengan dua puluh satu rakaat. Mereka membaca ratusan ayat dan baru selesai ketika menjelang fajar." (Riwayat Abdulrazzaq 7730, Ibnul Ja'ad 2926 dan dari jalur yang sama Al-Baihaqi meriwayatkannya 2/496, keduanya meriwayatkan dua puluh rakaat)

Catitan: Al-Albani berkata: Ibn Hajar mengatakan riwayat ini sebagai tsiqah, namun riwayat yang menyebut Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dari solat sebanyak 11 rakaat adalah tsiqah tsabit (lebih tsiqah). Menurut Al-Albani riwayat ini dhaif dengan itu menurut beliau yang benar solat terawih hanya boleh dilakukan sebagaimana cara Nabi iaitu 11 rakaat; lihat buku beliau 'Shalat At-Tarawih'. Akan tetapi menurut Abu Malik Kamal riwayat ini sahih (Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 73) Wallahua'lam.

Al-Kasani berkata: "Umar mengumpulkan para sahabat Rasulullah pada bulan Ramadhan di belakang Ubay bin Ka'ab, yang mengimami mereka dua puluh satu rakaat, dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Dengan demikian, ini menjadi ijmak (kesepakatan) para sahabat." (Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 77)

Imam Malik rahimahullah berkata: "Ini adalah perkara yang sudah lama bagi kami (yakni solat tarawih 39 rakaat)." (Al-Mudawwanah 1/193 dan Syarh Az-Zarqani 1/284) Hujahnya adalah riwayat dari Daud bin Qais, ia berkata: "Aku mendapati kaum Muslimin di Madinah pada zaman Umar bin Abdul 'Aziz dan Aban bin Utsman, mereka mengerjakan solat tiga puluh enam rakaat dan solat witir tiga rakaat." (Riwayat Ibn Abi Syaibah 2/393, dan Ibn Nasr dalam Qiyam Ar-Ramadhan, ms. 60; dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 77)

Al-Hasan bin Ubaidillah berkata: "Abdurrahman bin Al-Aswad mengimami kami pada bulan Ramadhan dengan empat puluh rakaat dan witir tujuh rakaat." (Riwayat Ibn Abi Syaibah 2/393) Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal bahawa beliau mengerjakan solat malam pada bulan ramadhan dengan jumlah rakaat yang tidak terbilang." (Kasyaf Al-Qanna' 1/425 dan Muthalib Uli An-Nuha 1/563; dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 78)

Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

"Saya menjumpai orang-orang di Mekkah. Mereka solat (tarawih) 23 rakaat. Dan saya melihat penduduk Madinah, mereka solat 39 raka'at, dan tidak ada masalah sedikitpun tentang hal itu." (Sunan Timizi 151, Fath Al-Aziz 4/266, Fathul Bari 4/23; dinukil dari Majalah As-Sunnah 07/VII/1424H, penulis Abu Hamzah Al Sanuwi, Lc, Mag)

Al-Tharthusi rahimahullah berkata:

"Mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Pada rakaat pertama, imam membaca sekitar dua ratus ayat, kerana berdiri lama adalah yang terbaik dalam solat.

Tatkala masyarakat tidak lagi kuat menanggung hal itu, maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat. Maka mereka membaca surat Al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat sesuai dengan hadis al-A'raj tadi." (Dinukil dari Majalah As-Sunnah 07/VII/1424H, penulis Abu Hamzah Al Sanuwi, Lc, Mag)

Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata:

"Hal tersebut difahami sebagai variasi sesuai dengan situasi, keadaan dan keperluan manusia. Kadang-kadang 11 rakaat, atau 21 atau 23 rakaat, bergantung persiapan dan kesanggupan mereka. Kalau 11 rakaat, mereka memanjangkan bacaan hingga bertumpu pada tongkat. Jika 23 rakaat, mereka meringankan bacaan supaya tidak memberatkan jamaah." (Fathul Bari, 4/253; Dinukil dari Majalah As-Sunnah 07/VII/1424H, penulis Abu Hamzah Al Sanuwi, Lc, Mag)

Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata:

"Solat tarawih jika dilakukan mengikut Mazhab Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad iaitu 20 rakaat. Mengikut Mazhab Malik iaitu 36, 13 atau 10 adalah lebih baik, sebagaimana kata Imam Ahmad kerana tiada nas yang menghadkannya. Oleh itu, solat ini dilakukan dengan bilangan yang banyak ataupun sedikit berdasarkan panjang pendek ia dilakukan." (Al-Ikhtiyar 64; dinukil dari Fatwa Kemusykilan Solat, Selenggaraan Azizah Mat Isa, Karya Bestari, ms. 221)

Beliau juga berkata:

"Ini semua boleh. Bagaimana pun ia mengerjakannya pada bulan ramadhan dengan berbagai bentuk dan cara tersebut di atas, maka ia telah berbuat kebajikan. Keutamaan itu berbeza-beza menurut keadaan orang yang solat. Jika mereka termasuk orang yang mampu berdiri lama, hendaklah ia mengerjakan sepuluh rakaat di tambah tiga rakaat sesudahnya, sebagaimana dilakukan oleh Nabi sallallahu 'alaihi wasallam pada bulan ramadhan dan di luar ramadhan. Jika mereka tidak mampu berdiri lama, mereka mengerjakan dua puluh rakaat itulah yang lebih utama. Itulah yang dilakukan oleh kebanyakan kaum Muslimin. Sebab ini adalah pertengahan antara sepuluh dan empat puluh. Jika ia mengerjakannya empat puluh rakaat atau jumlah lainnya, maka hal itu boleh sahaja. Tidak ada jumlah rakaat yang dilarang. Banyak ulama telah memberi nas tentang itu seperti Ahmad dan selainnya. Barangsiapa berpendapat bahawa Qiam Ramadhan dibatasi dengan jumlah rakaat tertentu dari Nabi, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi, maka ia telah keliru..." (Majmuk Fatawa; dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jilid 2, ms. 78)

Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

"Diantara perkara yang terkadang samar bagi sebahagian orang adalah solat tarawih sebagian mereka mengira, bahawa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sebahagian lain pula mengira, bahawa tarawih tidak boleh lebih dari 11 rakaat atau 13 rakaat. Ini semua adalah sangkaan yang tidak pada tempatnya, bahkan salah; bertentangan dengan dalil.

Hadis-hadis sahih dari Rasululah telah menunjukkan, bahawa solat malam itu adalah muwassa' (fleksible). Tidak ada batasan tertentu yang kaku yang tidak boleh dilanggar. Bahkan telah sahih dari Nabi, bahawa baginda solat malam 11 rakaat, terkadang 13 rakaat, terkadang lebih sedikit dari itu di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Ketika ditanya tentang sifat shalat malam, baginda menjelaskan:

"Solat malam dikerjakan dua rakaat dua rakaat (berurut-turut). Jika engkau bimbang (masuknya) waktu subuh, maka berwitirlah satu rakaat." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Baginda tidak membatasi dengan rakaat-rakaat tertentu, tidak di bulan Ramadhan mahupun di luar Ramadhan. Oleh kerana itu, para sahabat pada masa Umar di sebahagian waktu shalat 23 rakaat dan pada waktu yang lain 11 rakaat. Semua itu sahih dari Umar dan para sahabat pada zamannya.

Dan sebahagian salaf, bersolat tarawih 36 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Sebahagian lagi solat sebanyak 41 rakaat. Semua itu dikisahkan dari mereka oleh Syeikhul Islam Ibn Taimiyah dan ulama lainnya. Sebagaimana beliau juga menyebutkan, bahawa masalah ini adalah luas (tidak sempit).

Beliau juga menyebutkan, bahawa yang afdhal (utama) bagi orang yang memanjangkan bacaan, rukuk dan sujud ialah menyedikitkan bilangan rakaatnya. Dan bagi yang meringankan bacaan, rukuk dan sujud (yang afdhal) ialah menambah rakaatnya. Ini adalah makna ucapan beliau (Ibn Taimiyyah).

Barang siapa merenungkan sunnah Nabi, ia pasti mengetahui, bahawa yang paling afdhal dari semua itu ialah 11 rakaat atau 13 rakaat. di Ramadhan atau di luar Ramadhan. Kerana hal itu yang sesuai dengan perbuatan Nabi dalam kebiasaannya. Juga kerana lebih ringan bagi jemaah. Lebih dekat kepada khusyu' dan tuma'ninah. Namun, barangsiapa menambah (rakaat), maka tidak mengapa dan tidak makruh, seperti yang telah lalu." (Al-Ijabat Al-Bahiyyah, 17-18. Lihat juga Fatawa Lajnah Daimah, 7/194-198; dinukil dari Majalah As-Sunnah 07/VII/1424H, penulis Abu Hamzah Al Sanuwi, Lc, MAg)

Kesimpulan

Solat tarawih merupakan amalan salafus-soleh, mereka mengerjakannya dan berusaha untuk mendapatkan keutamaannya sebagaimana sabda Nabi:


مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang membangunkan ramadhan (iaitu dengan mengerjakan solat malam -terawih-) dengan penuh keimanan dan pengharapan, akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Berkenaan jumlah rakaat tersebut sama ada 11 atau 13 atau 21 atau lebih dari itu, maka janganlah disebabkan perselisihan tersebut menyebabkan berpecah-belahnya masyarakat.

Syeikh Muhammad Soleh ibn Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

"Amat menyedihkan apabila terdapat dalam masyarakat Islam, kumpulan-kumpulan yang menggunakan khilaf yang dibenarkan untuk memecah-belahkan masyarakat. Perbezaan pendapat ini telah lama wujud dari zaman sahabat lagi. Tetapi mereka tetap bersatu hati dalam menegakkan kebenaran." (Syarh Al-Mumti', jilid 4, ms. 225; dinukil dari Fatwa Kemusykilan Solat, ms. 216-217)

Beliau berkata lagi:

"Sepatutnya umat Islam tidak perlu terlalu sensitif dengan percanggahan ini. Mereka juga berpegang dengan pendapat-pendapat yang keterlaluan seperti tidak boleh menambah rakaat solat tarawih kerana ia sudah terdapat di dalam sunnah. Mereka juga menyatakan bahawa sesiapa yang menambah bilangan solat tarawih akan menanggung dosa dan tergolong dalam ahli maksiat." (Ibid, ms. 217)

Rasulullah sendiri tidak pernah menghadkan jumlah rakaat solat tarawih. Walaupun terdapat hadis Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam: "Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku solat." Maksud sebenar hadis ini ialah cara perlaksanaan solat bukannya bilangan rakaat. Ini merupakan kelonggaran yang telah diberikan kepada umat Islam. Sedangkan ganjaran yang belipat ganda yang akan diberikan kepada sesiapa yang menunaikan solat tarawih bersama imam.

Sabda Rasulullah:


إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Barang siapa solat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka ditulis (pahala) untuknya Qiamullail (yakni satu malam suntuk)." (Hadis ini klasifikasikan sebagai sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmizi, no: 646)

Apa yang penting, solat tarawih haruslah dilaksanakan dengan penuh khusyuk, tidak tergesa-gesa sebagaimana kebanyakan amalan masyarakat pada hari ini. Yang mana mereka melaksanakan tarawih  secara ekspress. Al-Fatihah dibaca sekali atau dua kali nafas dan tidak toma'ninah (yakni tidak berhenti seketika). Padahal Rasulullah bersabda:

Yang maksudnya: "Orang yang paling buruk dalam mencuri adalah orang yang mencuri dari solatnya." Para sahabat bertanya: "Bagaimana dia mencuri dari solatnya, wahai Rasulullah?" Baginda bersabda: "Dia tidak meluruskan tulang belakangnya ketika rukuk dan sujudnya." (Hadis riwayat Ahmad, no: 22136)

Suatu ketika seorang lelaki melaksanakan solat kemudian memberi salam (tanda berakhir solatnya). Lalu Rasulullah menyuruhnya mengulangi solatnya kembali sehingga tiga kali. Lalu lelaki tersebut berkata: "Wahai Rasulullah, ayahku sebagai tebusanmu. Aku tidak dapat melaksanakan yang lebih baik dari ini, maka ajarilah aku." Lalu Nabi mengajarinya dengan bertoma'ninah disetiap gerakan rukuk, iktidal, sujud dan duduk antara dua sujud. (Lihat Hadis riwayat Bukhari no: 757 dan Muslim, no: 397)

Demikian secara ringkas yang dapat saya paparkan berkenaan jumlah rakaat tarawih Nabi dan Salafus-soleh. Semoga kita dapat meneruskan amalan Qiam Ramadhan di bulan ini dan mengambil peluang dimana dosa-dosa yang lalu akan dihapuskan selagimana kita tidak melakukan dosa-dosa besar.

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Solat lima waktu, solat Jumaat ke solat Jumaat lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya, selagimana dosa-dosa besar ditinggalkan." (Hadis riwayat Muslim)

Selasa, 25 Ogos 2009

Beberapa Kesalahan dalam Bulan Ramadhan

Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.
 
Islam, dalam banyak ayat dan hadits, senantiasa mengumandangkan pentingnya ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. Maka bisa dibayangkan, amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Ramadhan. Kesalahan yang dipaparkan di sini memang cukup ‘fatal’. Jika didiamkan terlebih ditumbuhsuburkan, sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam, lebih-lebih jika itu kemudian disirami semangat fanatisme golongan.

Penggunaan Hisab Dalam Menentukan Awal Hijriyyah
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan dalam menentukan awal bulan Hijriyyah dalam hadits-haditsnya, di antaranya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan Ramadhan, maka beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa dengan masuknya syawwal, -pent.) sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan hadits yang semacam ini cukup banyak, baik dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim maupun yang lain.

Kata-kata فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah) menurut mayoritas ulama bermadzhab Hanbali, ini dimaksudkan untuk membedakan antara kondisi cerah dengan berawan. Sehingga didasarkannya hukum pada penglihatan hilal adalah ketika cuaca cerah, adapun mendung maka memiliki hukum yang lain.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, artinya: “Lihatlah awal bulan dan genapkanlah menjadi 30 (hari).”

Adapun yang menguatkan penafsiran semacam ini adalah riwayat lain yang menegaskan apa yang sesungguhnya dimaksud. Yaitu sabda Nabi yang telah lalu (maka sempurnakan jumlah menjadi 30) dan riwayat yang semakna. Yang paling utama untuk menafsirkan hadits adalah dengan hadits juga. Bahkan Ad-Daruquthni meriwayatkan (hadits) serta menshahihkannya, juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُوْمُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ

“Dahulu Rasulullah sangat menjaga Sya’ban, tidak sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa karena ru`yah bulan Ramadhan. Jika tertutup awan, beliau menghitung (menggenapkan) 30 hari untuk selanjutnya berpuasa.” (Dinukil dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar)

Oleh karenanya, penggunaan hisab bertentangan dengan Sunnah Nabi dan bertolak belakang dengan kemudahan yang diberikan oleh Islam.

أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al-Baqarah: 61)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ia berkata: ‘Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Dan tidak seorangpun memberat-beratkan dalam agama ini kecuali ia yang akan terkalahkan olehnya. Maka berusahalah untuk benar, mendekatlah, gembiralah dan gunakanlah pagi dan petang serta sedikit dari waktu malam’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabul Iman Bab Ad-Dinu Yusrun)

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah atau Dewan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia:

Apakah boleh bagi seorang muslim untuk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak, ataukah harus dengan ru`yah (melihat) hilal?

Jawab: …Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membebani kita dalam menentukan awal bulan Qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada telah menjelaskan, yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian juga dalam menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“…Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قٌلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.” (Al-Baqarah: 189)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ

“Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian. Jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah menjadi 30.”

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan tetapnya (awal) puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka (mengakihiri Ramadhan) dengan melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan orbitnya (termasuk rembulan, -pent.). Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, para Khulafa` Ar-Rasyidin, empat imam, dan tiga kurun yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam persaksikan keutamaan dan kebaikannya.

Oleh karena itu, menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dengan merujuk ilmu bintang dalam memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adalah bid’ah, yang tidak mengandung kebaikan serta tidak ada landasannya dalam syariat….” (Fatwa ini ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan. Lihat Fatawa Ramadhan, 1/61)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Tentang hisab, tidak boleh beramal dengannya dan bersandar padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)

Tanya: Sebagian kaum muslimin di sejumlah negara, sengaja berpuasa tanpa menyandarkan pada ru`yah hilal dan merasa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk (mereka berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal maka jika mereka tertutup olah awan hendaknya menyempurnakan jumlahnya menjadi 30) -Muttafaqun alaihi-

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu adalah demikian, demikian, dan demikian.” –beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakan–: “Bulan itu begini, begini, dan begini –serta mengisyaratkan dengan seluruh jemarinya–.”

Beliau maksudkan dengan itu bahwa bulan itu bisa 29 atau 30 (hari). Dan telah disebutkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Puasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 (hari).”
 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya):

“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah. Dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.”

Masih banyak hadits-hadits dalam bab ini. Semuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru`yah, atau menggenapkannya jika tidak memungkinkan ru`yah. Ini sekaligus menjelaskan tidak bolehnya bertumpu pada hisab dalam masalah tersebut.

Ibnu Taimiyyah (Lihat pula Majmu’ Fatawa 25/179) telah menyebutkan ijma’ para ulama tentang larangan bersandar pada hisab dalam menentukan hilal-hilal. Dan inilah yang benar, tidak diragukan lagi. Allah Subhanahu wa Ta'ala-lah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)

Pembahasan lebih rinci tentang hisab bisa dilihat kembali dalam Asy-Syariah edisi khusus Ramadhan tahun 2004.

Imsak sebelum Waktunya
Imsak artinya menahan. Yang dimaksud di sini adalah berhenti dari makan dan minum dan segala pembatal saat sahur. Kapankah sebetulnya disyariatkan berhenti, ketika adzan tanda masuknya subuh atau sebelumnya, yakni adzan pertama sebelum masuknya subuh? Karena dalam banyak hadits menunjukkan bahwa subuh memiliki dua adzan, beberapa saat sebelum masuk dan setelahnya.

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Masalah ini, di mana banyak orang (meyakini) bahwa makan di malam hari pada saat puasa diharamkan sejak adzan pertama (Bila di masyarakat kita tandanya adalah dengan selain adzan, seperti sirine, petasan, atau yang lain yang tidak ada dasar syar’inya sama sekali) yakni sebelum masuknya waktu subuh, yang adzan ini mereka sebut dengan adzan imsak, tidak ada dasarnya dalam Al-Qur`an, As-Sunnah dan dalam satu madzhab pun dari madzhab para imam yang empat. Mereka semua justru sepakat bahwa adzan untuk imsak (menahan dari pembatal puasa) adalah adzan yang kedua yakni adzan yang dengannya masuk waktu subuh. Dengan adzan inilah diharamkan makan dan minum serta melakukan segala hal yang membatalkan puasa. Adapun adzan pertama yang kemudian disebut adzan imsak, pengistilahan semacam ini bertentangan dengan dalil Al-Qur`an dan Hadits. Adapun Al-Qur`an, maka Rabb kita berfirman –dan kalian telah dengar ayat tersebut berulang-ulang–…

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مَنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)

Ini merupakan nash yang tegas di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala membolehkan bagi orang-orang yang berpuasa yang bangun di malam hari untuk melakukan sahur. Artinya, Rabb kita membolehkan untuk makan dan mengakhirkannya hingga ada adzan yang secara syar’i dijadikan pijakan untuk bersiap-siap karena masuk waktu fajar shadiq (yakni masuknya waktu subuh, -pent.). Demikian Rabb kita menerangkan.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan makna ayat yang jelas ini dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mengatakan:

لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّمَا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ

“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan di waktu malam.” (Yakni sebelum masuk waktu subuh.)
 
Dalam hadits yang lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّمَا يُؤَذِّنُ لِيَقُوْمَ النَّائِمُ وَيَتَسَحَّرُ الْمَتَسَحِّرُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ

“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan untuk membangunkan yang tidur dan untuk menunaikan sahur bagi yang sahur. Maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melantunkan adzan ( karena Ibnu Ummi Maktum adzan setelah masuk waktu subuh)….” (Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 344-345)

Ibnu Hajar (salah satu ulama besar madzhab Syafi’i) dalam Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari (4/199) juga mengingkari perbuatan semacam ini. Bahkan beliau menganggapnya termasuk bid’ah yang mungkar.

Oleh karenanya, wahai kaum muslimin, mari kita bersihkan amalan kita, selaraskan dengan ajaran Nabi kita, kapan lagi kita memulainya (jika tidak sekarang)? (Lihat pula Mu’jamul Bida’ hal. 57)

Di sisi lain, adapula yang melakukan sahur di tengah malam. Ini juga tidak sesuai dengan Sunnah Nabi, sekaligus bertentangan dengan maksud dari sahur itu sendiri yaitu untuk membantu orang yang berpuasa dalam menunaikannya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بَكِّرُوا بِاْلإِفْطَارِ، وَأَخِّرُوا السَّحُوْرَ

“Segeralah berbuka dan akhirkan sahur.” (Shahih, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1773)

عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: فِيْنَا رَجُلاَنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ اْلإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُوْرَ، وَاْلآخَرُ يُؤَخِّرُ اْلإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ السُّحُوْرَ. قَالَتْ: أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ اْلإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُوْرَ؟ قُلْتُ: عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ. قَالَتْ: هَكَذَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ

Dari Abu ‘Athiyyah ia mengatakan: Aku katakan kepada ‘Aisyah: Ada dua orang di antara kami, salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang lain menunda berbuka dan mempercepat sahur. ‘Aisyah mengatakan: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?” Aku menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” ‘Aisyah lalu mengatakan: “Demikianlah dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya.” (HR. At-Tirmidzi, Kitabush Shiyam Bab Ma Ja`a fi Ta’jilil Ifthar, 3/82, no. 702. Beliau menyatakan: “Hadits hasan shahih.”)

At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Zaid bin Tsabit (tentang mengakhirkan sahur, -pent.) derajatnya hasan shahih. Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq berpendapat dengannya. Mereka menyunnahkan untuk mengakhirkan sahur.” (Bab Ma Ja`a fi Ta`khiri Sahur)

Di antara kesalahan yang lain adalah:
 
  1. Mengakhirkan adzan Maghrib dengan alasan kehati-hatian/ihtiyath (Mu’jamul Bida’, hal. 268)
  2. Membunyikan meriam untuk memberitahukan masuknya waktu shalat, sahur, atau berbuka. Al-Imam Asy-Syathibi menganggapnya bid’ah. (Al-I’tisham, 2/103; Mu’jamul Bida’, hal. 268) 
  3. Bersedekah atas nama roh dari orang yang telah meninggal pada bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. (Ahkamul Jana`iz, hal. 257, Mu’jamul Bida’, hal. 269)
Dan masih banyak lagi kesalahan lain, yang Insya Allah akan dibahas pada kesempatan yang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab.
 

𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻

Tulisan: Su Han Wen Shu Sumber: Facebook   𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 ...