Ahad, 9 Ogos 2009

Mengapa Ummat Islam Selalu Ditindas?

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani


Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan tidak ada yang dapat menunjukinya. Dan saya bersaksi bahawa tidak ada yang berhak diibadahti selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali-Imaran :102)


“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An-Nisa': 1)


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (Al-Ahzab: 70) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (Al-Ahzab: 71)


Amma ba’du; Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.


Al-Imam Abu Daud telah meriwayatkan di dalam kitabnya As-sunan dan juga Al Imam Ahmad di dalam musnadnya dan begitu pula para ulama selain mereka, dengan dua sanad yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahawasanya baginda bersabda: “Apabila kalian telah berjual-beli dengan ‘inah (jual beli cara riba - edt) dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau dan kalian telah mencintai pertanian dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah, Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian”.


Di dalam hadis sahih ini terdapat keterangan akan solusi dan ubat akan keadaan yang sedang melanda ummat Islam (sekarang ini), berupa kehinaan yang menguasai mereka seluruhnya, kecuali sejumlah kecil dari ummat ini yang senantiasa berpegang teguh dengan urwatul wutsqa (tali yang kuat) yang tidak akan putus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskan di dalam hadis ini penyakit yang apabila menjangkiti ummat Islam, maka Allah akan hinakan mereka. Kemudian baginda menjelaskan kepada mereka ubatnya dan jalan untuk selamat dari penyakit ini.


Baginda berkata di awal hadisnya; “Apabila kalian telah berjual-beli dengan cara ‘inah”. Jual-beli dengan cara ‘inah, kami tidak akan berbicara tentangnya di sini melainkan singkat saja, iaitu: salah satu bentuk transaksi riba yang kebanyakan manusia di zaman sekarang terfitnah dengannya. Sistem jual-beli ini disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sekadar sebagai contoh -dan bukan membatasi- dari banyak hal yang apabila ummat ini terjatuh ke dalamnya mereka berhak mendapat kehinaan dari Allah atau disebabkannya Allah hinakan mereka.


Baginda menyebutkan beberapa contoh pada nas hadis di atas:


Yang pertama: Jual-beli dengan cara ‘inah, kemudian baginda menyebutkan yang berikutnya, baginda berkata; “Dan kalian mengambil ekor-ekor kerbau, dan kalian telah cinta kepada pertanian”. Dan ini adalah ungkapan akan rakusnya ummat Islam dalam mengumpulkan dunia dan akan perhatian mereka yang besar terhadap kemewahan-kemewahannya. Itulah yang memalingkan mereka dari menegakkan kewajiban-kewajiban syariat yang banyak, dan dalam hal ini baginda menyebutkan sebuah contoh, kata baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada kelanjutan hadis; “Dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah”.


“Apabila kalian telah jual-beli dengan cara ‘inah” maksudnya; kalian telah jatuh ke dalam sistem-sistem transaksi yang haram, diantaranya ‘inah. “Dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau, dan kalian telah mencintai pertanian” maksudnya; kalian telah berpaling dari menunaikan kewajiban-kewajiban agama kalian kepada memperhatikan urusan-urusan duniawi, dan mencari harta dengan cara apa pun dan yang demikian ini telah menjadikan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah. Apa sepatutnya hukuman terhadap ummat ini ketika mereka jatuh ke dalam perkara-perkara yang tidak satu pun darinya disyariatkan Rabb kita Azza wa Jalla!? Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperingatkan: “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak Dia angkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian (meninggalkan perkara yang tidak disyariatkan oleh Allah - edt)”.


Dan kehinaan yang menimpa ummat Islam sekarang ini adalah perkara yang telah dimaklumi oleh setiap orang yang berakal. Dan dari sini perkara ini memerlukan penjelasan yang banyak. Dan cukup bagi kita sekadar mengingatkan apa yang telah menimpa ummat Islam berupa penjajahan Yahudi terhadap negera Palestin, belum ditambah dengan negeri-negeri di Syam selain Palestin yang mana hal ini menyebabkan tidak berhenti fitnah demi fitnah yang datang silih berganti. Dan tidak berhentinya pemerintah non-muslim atau pemerintah muslim secara geografi berbuat kerosakan di sana-sini. Semua itu merupakan kehinaan yang Allah Tabaaraka wa Ta’aala timpakan kepada ummat Islam, dan yang demikian ini bukan merupakan tindak kezaliman dari Allah, sekali-kali bukan! Kerana sesungguhnya Rabb kita Jalla wa ‘Ala tidak menzalimi seseorang pun dari kalangan manusia, akan tetapi mereka sendiri lah yang berbuat zalim. Rabb kita –Azza wa Jalla- berfirman; “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka”. (An-Nisa':160). Maka ketikamana Allah menimpakan kehinaan kepada kita adalah kerana kezaliman kita.


Kezaliman itu adalah kezaliman yang jelas yang terdapat pada banyak aspek kehidupan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan untuk kita dalam hal ini tiga contoh: jual beli dengan cara-cara yang diharamkan Allah, berlomba-lomba di dalam kemewahan dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah. Maka akibat dari ini semua, Allah menimpakan kepada kita kehinaan yang menimpa ini dalam gambaran seolah-olah dia adalah sebuah jasad dan jasmani di negera kita yang tercinta negara Palestin. Apabila hal ini adalah kehinaan, maka apa jalan keluar darinya, dan bagaimanakah cara menyelamatkan diri darinya?


Ubat mujarab untuk keluar dari kehinaan dan kerendahan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, nabi yang sifatnya diterangkan oleh Rabb kita di dalam Al Qur’an di dalam firman-Nya: “Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (At-Taubah: 128). Baginda bersabda lanjutan hadis di atas: “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Inilah ubatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menerangkan sifat ubat ini dengan demikian menyeluruh pada penutup hadis di atas, kata baginda “Sampai kalian kembali kepada agama kalian”.


Ketika saya bawakan kepada kalian hadis ini dan mengomentarinya dengan komentar-komentar dari saya, sesungguhnya dalam hal ini saya tidak menyampaikan kepada kalian suatu yang baru. Kerana ummat Islam seluruhnya meskipun ada perbezaan di antara mereka dalam urusan keyakinan-keyakinan dan dalam urusan furu’ (cabang) -menurut istilah mereka-, semua mereka sepakat bahawa sebab kehinaan yang menimpa ummat Islam adalah kerana mereka telah meninggalkan agama mereka. Dan setiap mereka mengatakan: sesungguhnya ubatnya adalah kembali kepada ajaran agama. Ini semua adalah perkara yang biasa dikenal oleh mereka semua. Akan tetapi satu hal yang ingin saya ingatkan, dan hal ini boleh jadi baru bagi sebahagian orang, tapi ini merupakan kebenaran seperti yang kalian ucapkan. Perkara ini adalah: kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan sifat ubat bagi ummat Islam yang dihinakan disebabkan perbuatan mereka melanggar aturan-aturan agama mereka, bahawa ubat itu adalah dengan kembali kepada ajaran agama mereka!?


Ajaran agama apa yang dimaksud di sini -inilah inti dari ceramahku di sini-, ajaran agama seperti apa yang dimaksud sebagai ubat bagi ummat Islam di dalam nas hadis di atas. Dan ummat Islam seperti yang telah saya jelaskan setiap mereka mengatakan: wajib bagi ummat Islam beramal dengan ajaran agama mereka. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan ajaran agama di sini!?


Sesungguhnya sangat disayangkan bahawa ajaran agama Islam telah mengalami banyak tafsiran pada masa yang panjang semenjak zaman salafus-soleh Radiallahu ‘Anhum, bukan hanya dalam perkara fekah yang mereka katakan sebagai perkara furu’ saja melainkan hal ini juga merebak sehingga dalam perkara akidah. Dan setiap kita mengetahui hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengkhabarkan akan perpecahan ummat menjadi tujuh puluh tiga golongan, baginda bersabda: “Yahudi berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan dan Nasrani berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua mereka di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: siapa mereka wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Baginda menjawab: mereka adalah Al-Jama’ah”. Inilah riwayat yang benar dan di sana ada riwayat lain di dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi ada yang menguatkan, iaitu sabda baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Mereka adalah orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku”.


Pada dasarnya riwayat (yang terakhir) ini tidak ada padanya suatu yang baru apabila ditinjau dari riwayat yang pertama melainkan bertambah jelas dan rapi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menerangkan sifat golongan yang selamat berkata: “mereka adalah jama’ah”. Riwayat ini baginda tafsirkan pada riwayat yang kedua bahawa jama’ah ini adalah ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.


Pada hadis ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengkhabarkan kepada kita bahawa kaum muslimin akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Dan kelompok-kelompok ini semuanya tersesat kecuali satu dan sifat mereka adalah yang mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Dan kita sekarang ini hidup di tengah-tengah perpecahan yang sangat banyak sekali yang telah kita warisi sepanjang tahun yang tidak sebentar. Dan setiap dari kelompok-kelompok ini tidak satu pun dari mereka yang menyatakan berlepas dari Islam, tidak satu pun dari mereka mengatakan: agama kami bukan Islam. Bahkan setiap mereka mengatakan: agama kami Islam. Bersamaan dengan itu setiap mereka mengatakan: ubat bagi ummat ini adalah dengan berpegang kepada ajaran agama.


Kalau begitu: ajaran ini yang ummat Islam berpecah-belah tentangnya hingga menjadi tujuh puluh tiga kelompok, atau mereka berpecah-belah dalam memahaminya dengan perpecahan yang demikian sengitnya, apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjadikan ubatnya adalah kembali kepada ajaran agama, (pertanyaannya) pemahaman siapa yang kita pakai untuk memahami agama ini sehingga ia menjadi ubat seperti yang disabdakan oleh baginda Sallallahu ‘Alaihi Wasallam; “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan Dia angkat sampai kalian kembali kepada ajaran agama kalian”.


Saya tidak akan membawa kalian jauh-jauh dalam memberikan contoh, sementara dihadapan kita ada contoh pertama yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada awal hadis, ketika baginda bersabda: “Apabila kalian telah jual beli dengan cara ‘inah”. Jual beli ‘inah, mazhab-mazhab yang ada berbeza pendapat tentangnya, di antara mereka ada yang membolehkannya dan di antara mereka ada yang mengharamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hadis ini menjadikannya di antara sebab ummat Islam jatuh sakit dan sebab yang menjadikan mereka berhak mendapat kehinaan, iaitu mereka melaksanakan praktik jual beli dengan cara ‘inah. Jadi, dengan manhaj apa dan dengan pemahaman agama apa kita wajib memahami agama ini sehingga ia menjadi sebuah agama dan menjadi sebab keluarnya kita dari kehinaan yang menimpa kita.


Sesungguhnya jual beli ‘inah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada penjabaran hadis ini telah dianggap boleh oleh sebahagian muslimin. Saya tidak mengatakan orang-orang jahil atau awamnya, melainkan yang saya maksud adalah orang-orang khusus dan sebahagian penulis pada masa yang lampau dan ahli hadis. Mereka menyebutkan bahawa jual beli ‘inah adalah jual beli yang halal dan termasuk ke dalam keumuman firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah: 275) akan tetapi hadis ini menerangkan kepada kita bahawa jual beli dengan cara ‘inah tidak disyariatkan bahkan diharamkan, oleh kerana itu ia dijadikan sebab diantara sebab-sebab berhaknya ummat Islam mendapatkan kehinaan.


Kalau begitu makna hadis ini adalah tidak boleh jual beli dengan cara ‘inah. Maka apabila kita ingin kembali kepada agama kita agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala muliakan kita dan Dia mengangkat kehinaan yang menimpa kita, kita menganggap jual beli dengan cara ‘inah boleh atau haram? Mesti kita mengharamkannya. Dan pengharaman ini terdapat di dalam hadis. Akan tetapi penghalalannya datang pada sebahagian riwayat dan sebahagian pendapat ulama.


Kalau begitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata di akhir hadis: “Sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Yang dimaksud adalah agama yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan perinciannya diterangkan di dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Agama yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan; “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. (Ali-Imran: 19) dan dalam firman-Nya: “Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”. (Al-Maidah: 3) dan di dalam firman-Nya: “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya”. (Ali-Imran: 85) sampai pada akhir ayat.


Kalau begitu agama yang akan menjadi ubat adalah Islam (berserah diri), akan tetapi Islam sendiri telah mengalami banyak penafsiran dalam perkara akidah (pokok) lebih-lebih lagi dalam hal-hal furu’ (cabang).


Sumber:

http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=154

http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=286

http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=287

Rabu, 5 Ogos 2009

Demonstrasi Bukan Jihad Tapi Maksiat

Oleh: Zuhair Syarif

Demonstrasi
Bahang semangat tunjuk perasaan atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar ramai pemerhati. Sebahagian mereka mengatakan: Aksi tunjuk perasaan ini telah dipelopori oleh individu-individu tertentu. Ada pula yang mengomentar: Tidak mungkin adanya bahang semangat untuk berdemonstrasi kecuali ada yang menghasut. Sedangkan yang lain pula berkata: Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat. Demikianlah komentar para pemerhati tentang demonstrasi yang terjadi dihampir semua negara termasuk negara Islam. Sebahagian mereka menentangnya dan menganggap demonstrasi ini didalangi oleh pihak-pihak tertentu. Sebahagian yang lain pula (lantaran kejahilan mereka) justeru mendokong mati-matian dan menganggapnya sebagai jihad.

Namun dalam tulisan ini tidak menilai mana-mana pendapat pemerhati yang benar atau salah. Tetapi akan membincangkan dari sudut: Apakah demonstrasi ini boleh digunakan sebagai sarana atau alat berdakwah kepada pemerintah dan rakyat atau tidak? Atau apakah tindakan ini boleh diistilahkan jihad?

Demonstrasi Pertama Dalam Sejarah Islam
Kejadian terbunuhnya Utsman bin 'Affan radiallahu 'anhu dan timbulnya pemikiran Khawarij sangat erat hubungannya dengan demonstrasi. Kronologis kisah terbunuhnya Utsman radiallahu 'anhu adalah bermula dari isu-isu tentang fitnah yang dilontarkan kepada Khalifah Utsman yang disebarkan oleh seorang pendita Yahudi Abdullah bin Saba' di kalangan kaum muslimin.

Abdullah bin Saba' berpura-pura masuk Islam (munafik). Sedangkan kita telah sedia maklum bagaimana sikap Yahudi kerana Allah telah mengkhabarkan dengan firmanNya:

Maksudnya: "Nescaya engkau akan dapati orang yang paling memusuhi (murka) kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin." (Al-Maidah: 82)

Permusuhan kaum Yahudi bermula sejak berkembangnya Islam, seperti mengkhianati perjanjian mereka terhadap Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, merendahkan kaum muslimin, mencerca ajaran Islam dan banyak lagi makar-makar (tipu helah) busuk mereka. Namun setelah Islam kuat, tersingkirlah mereka dari Madinah. (Lihat: Sirah Ibn Hisyam, juz 3, hal 191-199)

Pada zaman Abu Bakar dan Umar radiallahu 'anhuma, suara orang-orang Yahudi hampir hilang, bahkan Umar mengusir mereka dari Jazirah Arab sebagai merealisasikan perintah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang pernah bersabda:

"Sungguh akan aku keluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab sampai aku tidak sisakan padanya kecuali orang muslim." Juga sabda baginda: "Keluarkanlah orang-orang musyrikin dari Jazirah Arab." (Hadis riwayat Bukhari)

Ditahun-tahunterakhir kekhalifahan Utsman radiallahu 'anhu, diwaktu keadaan masyarakat mulai heterogen (kemasukan berbagai bangsa), banyak muallaf dan orang awam yang masih belum mendalam keimanan dan ilmunya, maka orang-orang Yahudi mula mengambil kesempatan untuk menyebarkan fitnah. Mereka berpenampilan sebagai muslim (tetapi munafik), antara mereka adalah Abdullah bin Saba' yang diberi gelaran Ibn Sauda'.

Abdullah bin Saba' berasal dari San'aa. Dialah yang menaburkan benih-benih fitnah di kalangan kaum muslimin agar mereka iri hati dan benci kepada Utsman radiallahu 'anhu. Sedangkan inti dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran peribadinya yang bernafaskan Yahudi. Contohnya adalah kisah yang batil tentang kewalian Ali radiallahu 'anhu. Dia berkata: "Sesungguhnya telah ada seribu nabi dan setiap nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali adalah wali Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam." Kemudian dia berkata dan terus menabur fitnah: "Muhammad adalah penutup para nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali."

Tatkala tertanam pemikiran ini dalam jiwa para pengikutnya, mulailah dia menerapkan tujuan utamanya iaitu melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Utsman bin 'Affan radiallahu 'anhu. Maka dia melemparkan pernyataan pada masyarakat yang bunyinya: "Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang tidak layak mendapatkan wasiat Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam (kewalian rasul), kemudian dia melampaui wali Rasulullah (iaitu Ali) dan merampas urusan umat (pemerintahan)!!"

Setelah itu Abdullah bin Saba' terus mengeluarkan pembohongan (fitnah): "Sesungguhnya Utsman mengambil kewalian (pemerintahan) yang bukan haknya, sedangkan wali Rasulullah ini (Ali) ada (di kalangan kamu). Maka bangkitlah kamu dan bergeraklah. Mulailah untuk mencerca pegawai kamu, nempakkan amar makruf nahi mungkar. Nescaya manusia serentak bangun dan ajaklah mereka kepada perkara ini." (Lihat: Tarikh ar-Rasul, juz 4, hal 340, Ath-Thabari melalui Mawaqif)

Amar makruf nahi mungkar ala Sabaiyah ini sama modelnya dengan amar makruf menurut Khawarij, iaitu keluar dari pemerintahan kemudian memberontak, memperingatkan kesalahan pemerintah di atas mimbar-mimbar, forum-forum awam dan demonstrasi-demonstrasi yang semua ini mengakibatkan timbulnya fitnah. Masalah pun bukan semakin reda, bahkan tambah menyala-nyala. Faktasejarah telah membuktikan hal ini. Amar makruf nahi mungkar ala Sabaiyah dan Khawarij ini mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin 'Affan radiallahu 'anhu. Peperangan sesama kaum muslimin dan terbukanya pintu fitnah berterusan dari zaman Khalifah Utsman sampai kezaman kekhalifahan Ali bin Abi Talib radiallahu 'anhu. (Lihat: Tahqiq Mawaqif ash-Shahabati fil Fitani min Riwayat al-Imam ath-Thabari wal Muhadditsin, juz 2, hal 342)

Sebenarnya amar makruf nahi mungkar yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebagai label dan perisai belaka tiada keikhlasan padanya. Buktinya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Utsman:

"Hai Utsman! Nanti sepeninggalanku Allah akan memakaikan pakaian padamu. Jika orang-orang ingin mencelakakanmu pada waktu malam (dalam riwayat lain): Orang-orang munafiq ingin melepaskannya, maka jangan engkau lepaskan. Baginda mengucapkannya tiga kali." (Hadis riwayat Musnad, juz 6, hal 75. Tirmizi dalam Sunan dan disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Sahih Sunan At-Tirmizi)

Syeikh Muhammad Amhazurn berkomentar: "Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahawa orang Khawarij tidaklah menuntut keadilan dan kebenaran, akan tetapi mereka adalah kaum yang dihinggapi penyakit nafaq sehingga mereka bersembunyi di sebalik tabir syiar perdamaian dan aman makruf nahi mungkar. Tidak diketahui di satu zaman pun adanya suatu jamaah atau kelompok yang lebih berbahaya daripada orang-orang munafiq."

Inilah hakikat amar makruf nahi mungkar kaum Sabaiyah dan Khawarij. Alangkah serupanya kejadian dulu dan sekarang.

Di zaman ini ternyata ada Khawarij gaya baru, iaitu orang-orang yang mempunyai pemikiran Khawarij. Mereka menjadikan demonstrasi, tunjuk perasaan dan sebagainya alat dan metod dakwah serta jihad. Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdul Rahman Abdul Khaliq, pengikut dan yang sefahaman dengannya yang mengatakan (dalam al-Fusul minas Siyasah asy-Syariah):

"Termasuk metod atau cara Nabi sallallahu 'alaihi wasallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau tunjuk perasaan."

Sebelum membongkar kebatilan ucapan Abdul Rahman Abdul Khaliq ini dan kesesatan manhaj Khawarij dalam beramar makruf nahi mungkar kepada pemerintahan, marilah kita pelajari dan fahami manhaj salafus-soleh dalam perkara ini.

Manhaj Salafus Soleh Beramar Makruf Nahi Mungkar Kepada Pemerintah
Allah adalah Tuhan yang Maha Adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya dia akan menjadikan bagi rakyat yang derhaka seorang pemimpin yang zalim. Maka jika terjadi pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang zalim, sesungguhnya kezaliman tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan atau penentangan (terhadap syariat) yang tidak mengakibatkan ia kufur dan terkeluar dari Islam, maka tetap wajib bagi rakyat untuk menasihati cara yang sesuai dengan syariat. Bukan dengan ucapan yang kasar laludilemparkan di tempat-tempat umum (khalayak ramai), apatah lagi mengkhabarkan dan membuka aib pemerintah, yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi dari permasalahan yang mereka tuntut.

Adapun dasar memberikan nasihat kepada pemerintah dengan sembunyi-sembunyi adalah hadis Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam:

"Barangsiapa yang ingin menasihati pemerintah dengan suatu perkara, maka janganlah ia paparkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa dengan empat mata. Jika ia menerima, maka itu yang diinginkan dan kalau tidak, maka sungguh dia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia (pemerintah) dan pahala baginya (orang yang menasihati)."

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad Al-Khaitsami dalam al-Majma', Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah. Hadis ini banyak yang meriwayatkannya sehingga kedudukannya sahih bukan hasan, apalagi dhaif (lemah) sebagaimana sebahagian ulama menyatakannya. Demikian keterangan Syeikh Abdullah bin Barjas bin Nashir Ali Abdul Karim. (Lihat: Mu'amalatul Hukam fi Dhau`il Kitab was-Sunnah, hal 54)

Syeikh Al-Albani mensahihkannya dalam Dzilalul Jannah fi Takhriji as-Sunnah. Hadis ini adalah pokok dasar dalam menasihati pemerintah. Orang yang menasihati jika sudah melaksanakan cara ini, maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan tanggung jawab. Demikian dijelaskan oleh Syeikh Abdullah bin Barjas.

Bertolak dari hadis yang agung ini, para ulama salaf berkata dan bertindak sesuai dengan kandungan hadis ini. Antara mereka adalah Imam Asy-Syaukani rahimahullah yang berkata:

"Bagi orang-orang yang ingin menasihati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah (lantaran pemimpin itu telah berbuat salah), seharusnya ia tidak mengeluarkan kata-kata yang buruk di hadapan khalayak ramai. Tetapi sebagaimana dalam hadis di atas, bahawa seorang tadi mengambil tangan imam dan berbicara empat mata dengannya, kemudian menasihatinya tanpa merendahkan penguasa Allah." Kami telah menyebutkan pada awal kitab as-Sir: "Bahawasanya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kezalimannya sampai puncak kezaliman apapun, selama mereka menegakkan solat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka." Hadis-hadis dalam masalah ini mutawatir, akan tetapi wajib atas rakyat mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah kerana sesungguhnya menurut hadis sahih: "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah subhanahu wa Ta'ala." (As-Sailul Jarar)

Imam Tirmizi membawakan sanadnya sampai kepada Ziyad bin Kusaib al-Adawi, beliau berkata:

"Aku di samping Abu Bakrah, berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir sedang berkhutbah dengan mengenakan pakaian nipis. Maka Abu Bilal berkata: Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik. Lantas Abu Bakrah berkata: Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya." (Sunan Tirmizi, no: 2224)

Syeikh Muhammad bin Soleh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan tatacara menasihati seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullah sampai pada perkataanya:

"…Sesungguhnya sesiapa yang menentang pemimpin dalam perkara yang bukan prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkarinya di perkumpulan-perkumpulan masjid, tempat-tempat kajian dan sebagainya, itu semua sama sekali bukan tatacara menasihati. Oleh kerana itu, jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya, walaupun timbul dari niat yang baik. Hal ini menyalahi cara salafus-soleh yang harus diikuti. Semoga Allah memberi hidayah padamu." (Maqasidul Islam, hal 395)

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahawasanya beliau ditanya: "Mengapa engkau tidak menghadap Utsman untuk menasihatinya?" Maka beliau menjawab: "Apakah kamu berpendapat semua nasihatku kepadanya itu harus diperdengarkan kepada kamu? Demi Allah! Sesungguhnya aku telah menasihatinya hanya antara aku dan dia. Dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini." (Hadis riwayat Bukhari)

Syeikh Al-Albani mengomentari riwayat ini dengan ucapannya:

"Yang beliau (Usamah bin Zaid) maksudkan adalah (tidak melakukannya) terang-terangan di hadapan khalayak ramai dalam mengingkari pemerintah kerana pengingkaran terang-terangan boleh berakibat yang sangat membimbangkan. Sebagaimana pengingkaran secara terang-terangan kepada Utsman mengakibatkan kematian beliau."

Demikian metod atau manhaj salafus-soleh dalam amar makruf nahi mungkar kepada pemerintah atau yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian batallah manhaj Khawarij yang mengatakan bahawa demonstrasi termasuk suatu cara untuk berdakwah, sebagaimana yang dianggap oleh Abdul Rahman Abdul Khaliq dan yang sefahaman dengannya.

Manhaj Khawarij ini menjadi salah satu sebab kejinya sifat orang-orang Khawarij. Sebagaimana dalam riwayat Said bin Jahman radiallahu 'anhu beliau berkata:

"Aku datang kepada Abdullah bin Abu Aufa, beliau matanya buta, aku mengucapkan salam." Beliau bertanya kepadaku: "Siapa engkau?" "Said bin Jahman, jawabku." Beliau bertanya: "Kenapa dengan ayahmu?" Aku katakan: "Al-Azariqah telah membunuhnya." Beliau berkata: "Semoga Allah melaknat Al-Azriqah, semoga Allah melaknat Al-Azriqah. Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengatakan bahawa mereka anjing-anjing neraka." Aku bertanya: "(Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) Al-Azriqah sahaja atau Khawarij semuanya?" Aku katakan: "Beliau menjawab: Ya! Khawarij semuanya." Aku katakan: "Tetapi sesungguhnya pemerintah telah berbuat kezaliman kepada rakyatnya?" Maka beliau mengambil tanganku dan memegang dengan sangat kuat, kemudian berkata: "Celaka engkau wahai Ibnu Jahman! Wajib atasmu berpegang dengan sawadul a'zham, wajib atasmu untuk berpegang dengan sawadul a'zham. Jika kau ingin pemerintah mahu mendengar nasihatmu, maka datangilah dan khabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya." (Hadis riwayat Ahmad)

Dan masih banyak lagi hadis-hadis mengenai celaan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam terhadap orang-orang Khawarij sebagai anjing-anjing neraka, kerana perbuatan mereka sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Oleh kerana itu, bagi seorang muslim yang masih mempunyai akal yang sihat, tidak mungkin dia akan rela dirinya terjatuh pada jurang kenistaan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam (sebagai anjing neraka) terhadap Khawarij. Maka wajib bagi kita apabila hendak menasihati pemerintah, hendaklah dengan metod salaf yang jelas menghasilkan akibat yang lebih baik dan tidak menimbulkan perpecahan antara rakyat (sebagaimana akibat mengadakan demonstrasi) dengan pihak pemerintah yang akhirnya akan membawa kepada kerugian dikedua-dua belah pihak.

Berdemonstrasi Menyerupai Orang-Orang Kafir
Adalah sangat dikesalkan dimana para pendemonstrasi ini adalah dari aktivis-aktivis Islam. Tetapi mengapa mereka melakukan hal ini? Mana ciri-ciri Islam mereka? Atas dasar apa mereka melakukannya? Apakah berdasarkan syubhat (kekaburan pemahaman)? Atau mereka (menunjuk perasaan) yang beragama Islam tidak sedar bahawa mereka telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam junjungan mereka, kerana perbuatan tersebut menyerupai orang-orang kafir. Baginda sallallahu 'alaihi wasallam mengkhabarkan:

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka mereka termasuk kaum tersebut."

Masalah demonstrasi ini termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) orang kafir. Telah diterangkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah tatkala seorang bertanya kepada beliau yang pertanyaannya berbunyi:

"Apa hukumnya demonstrasi atau tunjuk perasaan, misalnya para remaja lelaki atau perempuan keluar ke jalan-jalan?" Beliau bertanya: "Para perempuan juga?" Penanya menjawab: "Benar! Sungguh ini benar terjadi." Syeikh berkata: "Masya-Allah." Penanya berkata: "Mereka keluar ke jalan-jalan dalam rangka menentang sebahagian permasalahan yang dituntut atau diperintahkan oleh orang yang mereka anggap toghut-toghut atau apa yang mereka tuntut dari parti-parti politik yang bertentangan dengan mereka. Apa hukumnya perbuatan ini?" Syeikh menjawab: "Aku katakan -wabillahi taufiq- jawapan dari soalan ini termasuk pada kaedah dalam sabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang dikeluarkan oleh Abu Daud di dalam Sunannya. Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Aku diutus dengan pedang diketika hampirnya Hari Kiamat sehinggalah hanya Allah-lah yang disembah, tidak aka sekutu bagiNya. Dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombak, dijadikan kerendahan dan kekerdilan atas orang yang menentang pemerintah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka."

Maka tasyabbuh seorang muslim kepada sorang kafir tidak pernah dibolehkan dalam Islam. Tasyabbuh kepada seorang kafir ada beberapa tingkatan dari segi hukum. Yang tertinggi adalah haram dan yang terendah adalah makruh. Permasalahan ini sudah diterangkan secara terperinci oleh Syeikhul Islam (Ibn Taimiyyah rahimahullah) di dalam kitabnya yang agung, Iqtida' Siratal Mustaqim Mukha Lafata Ashabil Jahim secara terperinci dan tidak didapati selain dari beliau rahimahullah. Dalam perkara ini perlu juga diperingatkan bahawa sepantasnya talibul-ilmi memperhatikannya agar tidak menyangka bahawa hanya tasyabbuh saja yang dilarang oleh syariat.

Ada perkara lain yang lebih tersamar iaitu perintah untuk tidak menyerupai orang-orang kafir. Tasyabbuh kepada orang-orang kafir adalah menjalankan kesukaan mereka. Adapun menyelisihi orang-orang kafir adalah engkau bermaksud tidak menyerupai (meniru) mereka pada apa yang kita dan mereka mengerjakannya tetapi mereka tidak merubahnya. Seperti sesuatu yang ditetapkan dengan ketetapan dengan ketetapan yang amali, maka ini adalah ketetapan amali yang tidak berbeza antara muslim dengan kafir kerana sesungguhnya pada ketetapan ini tidak ada usaha dan kehendak dari makhluk. Kerana yang demikian adalah sunnatullah Tabaraka wa Ta'ala kepada manusia dan tidak akan didapati sunnatullah itu berubah sebagaimana telah sahih dari sabda nabi sallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak menyemir (memakai inai) pada rambut-rambut mereka, maka selisihi mereka (sebanyak 2 kali)."

Sesungguhnya dalam hal ini seorang mukmin mungkin menyerupai orang kafir dalam hal uban. Dan ini tidak ada perbezaannya. Kamu tidak akan menemukan seorang muslim yang tidak beruban kecuali sangat sedikit sekali. Ada kesamaan di sini pada penampilan antara muslim dan kafir yang sama-sama keduanya tidak boleh memiliki atau mengatur sebagaimana yang kami katakan tadi. Maka Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk tidak menyerupai kaum musyrikin, iaitu dengan mencelup (inaikan) uban di rambut kita, iaitu sama saja rambut, janggut atau kepala.

Untuk apa? Agar dengan celupan tersebut nampak perbezaan antara muslim dan kafir. Maka apa tujuannya kalau apabila seorang kafir mengerjakan suatu amalan, lalu seorang muslim ikut melakukannya dan terpengaruh dengan perbuatan-perbuatan mereka? Ini kesalahan yang lebih parah daripada penyelisih.

Dalam masalah ini, saya (Nasiruddin Al-Albani) memperingatkan sebelum memasuki perbahasan dalam menerangkan jawapan yang ditujukan pada saya. Jika telah diketahui perbezaan antara tasyabbuh dengan penyelisihan, maka seorang muslim yang benar keislamannya hendaklah terus-menerus berusaha menjauhi tasyabbuh dengan orang kafir. Sebaiknya harus berusaha menyelihisi mereka.

Dengan alasan inilah kami mensunnahkan (membiasakan) meletakkan jam tangan di tangan kanan, kerana mereka yang pertama kali membuat jam tangan memakai di tangan kiri.

Kami mengambil istinbat demikian berdasarkan ucapan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam: "Maka selisihilah mereka." Kami mengetahui hadis ini, "Bahawa Yahudi dan Nasrani tidak mencelup rambut (uban) mereka, maka selisihilah mereka." Sebagaimana yang diucapkan Syeikhul Islam dalam kitab tersebut (Iqtida').

Ucapan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam: "Maka selisihilah mereka" merupakan hujah yang mengisyaratkan penyelisihan terhadap orang-orang kafir sebagaimana yang dikehendaki oleh Sami'ul 'Alim (Allah Ta'ala) dan direalisasikan dalam kehidupan seharian. Oleh kerana itu, kami mendapati praktik penyelisihan dalam amalan dan hukum-ahkam bukan termasuk wajib. Seperti makan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam atau, "Solatlah kamu di atas (memakai) sandal-sandal kamu dan selisihilah yahudi (sebanyak 2 kali)."

Maka dengan ini diketahui bahawa solat memakai sandal bukan fardu. Berbeza dengan memanjangkan janggut kerana orang yang mencukurnya akan mendapat dosa. Adapun solat dengan bersandal itu adalah perkara yang sunnah (mustahab). Namun apabila seorang muslim terus-menerus tidak memakai sandal ketika solat, justeru telah menyelishi sunnah dan bukan menyelisihi Yahudi.

Ada suatu hal yang perlu diperhatikan di sini sebagaimana dalam riwayat sikap tawaduk Ibnu Mas'ud ketika beliau mempersilakan Abu Musa Al-Asy'ari mengimami solat waktu itu. Pada hal kedudukan Ibn Mas'ud lebih utama dari Abu Musa radiallahu 'anhu. Pada waktu itu Abu Musa al-Asy'ari melepaskan sandalnya dan segera ditegur dengan keras oleh Ibn Mas'ud: "Bukankah ini perbuatan orang-orang Yahudi? Apakah kau menganggap dirimu ada di lembah Tursina yang disucikan?" Ucapan Ibnu Mas'ud ini menegaskan sabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam: "Solatlah di atas sandal kamu dan selisihilah Yahudi!"

Apabila dua hakikat ini telah difahami, itu (larangan) tasyabbuh dan (perintah) menyelishi kaum musyrikin, maka wajib bagi kita untuk menjauhi setiap perilaku kesyirikan dan segala bentuk kekufuran.

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalaupun mereka menyusuri atau masuk ke lubang biawak nescaya kamu pun akan memasukinya."

Berita dari Nabi sallallahu 'alaihi wasallam ini mengandungi peringatan bagi umat ini. Namun di samping itu Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam juga mengatakan dalam hadis mutawatir:

"Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan al-Haq (kebenaran). Tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat."

Jadi Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam itu telah memberikan khabar gembira dalam hadis sahih ini bahawasanya umat ini terus dalam keadaan baik. Tatkala datang berita ini, iaitu: "Sungguh kamu akan mengikuti jalan-jalan sebelum kamu." Maka apabila mencontohi Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam di dalam merubah keadaan masyarakat, maka tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak melalui demonstrasi (tunjuk perasaan).

Islam mengajarkan ketenangan, antaranya dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sampai berhasil, walaupun harus dengan waktu yang sangat panjang.

Dengan ini saya (Nasiruddin Al-Albani) katakan dengan ringkas, demonstrasi atau tunjuk perasaan yang terjadi di sebahagian negara Islam pada hakikatnya adalah penyimpangan dari jalan kaum mukminin dan tasyabbuh (menyerupai) golongan kafir. Sungguh Allah telah berfirman:

Maksudnya: "Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa: 115)

Penanya bertanya lagi: "Mereka (para penunjuk perasaan) berdalih dengan dalil Sirah (sejarah Nabi), bahawasanya setelah Umar radiallahu 'anhu masuk Islam, kaum muslimin (serentak keluar). Umar pada suatu barisan sedang Hamzah di barisan lain. Maka mereka (yang pro-demonstrasi) mengatakan tunjuk perasaan ini untuk mengingkari toghut-toghut dan orang-orang kafir Quraisy. Bagaimana jawapan anda dengan dalil semacam ini?"

Syeikh menjawab: "Jawapan terhadap pendalilan seperti itu adalah: Berapa kali aksi demonstrasi ini terjadi pada masyarakat Islam (dulu)? Hanya satu kali. Padahal Sirah termasuk sunnah yang diikuti. Menurut ulama fekah, mereka mengatakan kalau sudah nyata dari Rasul sallallahu 'alaihi wasallam sesuatu ibadah yang disyariatkan, maka akan diberi pahala orang yang melakukannya. Dan dalam perlaksanaannya pun tidak boleh terus menerus tanpa putus kerana dikhuatiri menyerupai perkara wajib dengan sebab lamanya waktu.

Kebanyakan manusia (menurut adat mereka) kalau ada salah satu muslim meninggalkan sunnah seperti ini, nescaya akan diingkari dengan keras. Demikian menurut ahli fekah. Maka bagaimana kalau ada suatu peristiwa yang sekilas terjadi pada waktu tertentu seperti disebutkan di dalam sirah di atas, kemudian dijadikan sunnah yang diikuti, bahkan dijadikan hujah untuk mendokong apa yang diperbuat oleh orang-orang kafir secara terus-menerus, sedangkan kaum muslimin tidak secara mutlak melakukannya kecuali pada saat itu sahaja.

Kita mengetahui kebanyakan pemerintahan mempunyai hukum-ahkam yang keluar dari Islam dan kadang-kadang manusia dipenjarakan dengan zalim dan melampaui batas, maka bagaimana sikap kaum muslimin dalam hal ini? Rasul sallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan dalam hadis sahih wajibnya taat kepada pemerintah walaupun dia mengambil hartamu dan memukul punggungmu. Namun kenyataannya demonstrasi bukan ketaatan kepada pemerintah seperti yang digariskan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.

Inilah yang saya (Al-Albani) khuatirkan tentang apa yang dinamakan "Kebangkitan suara kebenaran," bagaimana kita akan meredhainya? Bagaimana mungkin suatu kebangkitan dengan perasaan, bukan dengan ilmu? Padahal ilmu itulah yang menjadikan perkara itu dianggap baik atau buruk.

Tidak diragukan lagi di Al-jazair dan setiap nagara Islam, kebangkitan ini lahir dari pemuda muslim setelah mereka "bangun dari tidur". Akan tetapi kamu akan melihat mereka berjalan di atas jalan yang menunjukkan ketidak-gigihan mereka dalam menuntut ilmu Allah Azza wa Jalla.

Kita tidak memperjuangkan pembahasan. Cukuplah kita katakan pengambilan mereka terhadap dalil demonstrasi ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap fekah Islam sebagaimana yang kami telah nyatakan. Kejadian yang sesaat ini terdetik pada diri saya dan saya teringat bahawa kejadian ini tercatit dalam sirah.

Akan tetapi saya belum boleh mendapati sahih atau tidaknya saat ini. Jika riwayat ini sahih sanadnya dan ada salah seorang di antara kamu mendapati riwayat ini pada kitab-kitab hadis muktabar, tolong ingatkan saya. Sehingga saya boleh memeriksa barangkali riwayat tentang demonstrasi dalam sirah tersebut sahih. Maka akalaupun sahih, hanya dilakukan sekali sahaja. Jika terjadi hanya sekali sahaja, tentu tidak boleh dijadikan sunnah. Apalagi bila demonstrasi saat ini lebihg sering dilakukan oleh orang-orang kafir yang seharusnya kaum muslimin meninggalkannya (tidak menirunya).

Kejadian ini dilakukan oleh orang-orang kafir kemudian kita mengikutinya. Ulama hanafiah telah membuat pijakan di dalam masalah fiqhiyah bahawasanya ada suatu masalah yang merupakan sunnah Muhammadiah yang tidak sepatutnya ditinggalkan, iaitu sunnah membaca surah Sajadah pada pagi hari Jumaat (waktu solat subuh). Ini terdapat dalam sahihain (Bukhari dan Muslim).

Walaupun demikian ulama Hanafiah menganjurkan pada imam-imam masjid agar sesekali meninggalkannya, dikhuatirkan apabila terus-menerius diamalkan di kalangan orang awam, akan mengangkat hukumnya keluar dari hukum asalnya, iaitu dari sunnah menjadi wajib.

Kami mempunyai bukti yang mendokong ketelitian dalam fekah dan pemahaman terhadap sunnah ini. Saya sangat ingat bahawasanya imam di masjid besar Damaskus iaitu masjid Bani Umaiyah, mengimami solat subuh di masjid tersebut seraya berkata: "Kenapa engkau tidak membaca surah Sajadah?" Kemudian ia menerangkan bahawa hal itu adalah sunnah dan kadang-kadang dianjurkan untuk meninggalkannya.

Kejadian ini terjadi kerana imam masjid mengamalkan amalan tersebut secara terus-menerus dan berlangsung lama. Dan waktu itu ia tidak mengerjakan amalan tersebut.

Lebih aneh lagi yang terjadi pada diri saya. Pada suatu hari saya berada dalam perjalanan dari Damaskus, kira-kira 60 km ke Madhya. Maka aku hampiri dipagi hari Jumaat untuk solat berjamaah bersama kaum muslimin di sana. Tatkala itu imam tidak datang. Maka mereka mencari pengganti imam yang sesuai. Mereka tidak mendapati pengganti kecuali saya. Pada waktu itu saya masih muda dan janggut saya baru tumbuh. Dalam keadaan bingung, mereka menyuruh saya mengambil alih.

Saya sebenarnya belum menghafal surah Sajadah dengan baik, maka saya membaca surah Maryam. Saya membaca dalam halaman awal. Tatkala saya takbir untuk rukuk, maka saya merasakan semua makmum telah sujud. Ini menunjukkan kerana apa? Kerana adat kebiasaan (iaitu mereka sujud tilawah kerana kebiasaan dan bukan dengan ilmu).

Sayogianya para imam menjaga keadaan masyarakat agar tidak ghuluw (berlebihan) pada sebahagian hukum-ahkam. Lalu memberi penjelasan bahawa masalah syariat, wajib untuk diambil dengan tanpa sikap keterlaluan hingga mengangkat darjat hukum sunnah menjadi wajib dan sebaliknya yang wajib menjadi sunnah.

Semua ini adalah ifrat (berlebihan) dan tafrit (meremehkan) yang tidak diperbolehkan. Inilah jawapan saya terhadap pendalilan (riwayat Umar di atas) yang menunjukkan atas kebodohan orang yang mengambil dalil dengannya. (Kaset Fatwa Jeddah, no: 89980, pagi subuh, hari Ahad, 27 Jamadil Akhir 1410H)

Bantahan Terhadap Syubhat Abdul Rahman Abdul Khaliq
Diawal sudah saya sentuh masalah manhaj Abdul Rahman Abdul Khaliq terhadap pemerintahan muslimin iaitu bolehnya mengadakan demonstrasi sebagai alat dakwah dengan berdalil riwayat Umar radiallahu 'anhu yang dibawakan oleh seorang penanya di atas (sebelum ini).

Dan Syeikh Al-Albani mengatakan bahawa beliau belum tahu sahih dan dhaifnya riwayat tersebut. Syeikh Abdul Aziz bin Baz telah membantah syubhat Abdul Rahman Abdul Khaliq. Kata Syeikh bin Baz:

"Engkau menyebutkan pada kitab Fushul Minas Siyasah as-Syari'ah hal 31-32 bahawasanya termasuk dari uslub (metod) dakwah Nabi sallallahu 'alaihi wasallam adalah demonstrasi. Saya belum pernah mengetahui nas yang sarih (jelas) dalam masalah ini. Maka saya mengharap faedah sesiapa dari kamu mengambil dan dari kitab mana kamu dapatkan. Jika hal itu tidak ada sanadnya, maka kamu wajib untuk rujuk (kembali) dari hal itu, kerana saya tidak tahu sama sekali nas-nas yang menunjukkan hal itu.

Dengan menggunakan demonstrasi atau tunjuk perasaan justeru mengakibatkan banyak kerosakan. Jika nas itu sahih, maka sempurna sehingga orang-orang yang membuat kerosakan tidak berdalih dengannya dalam demonstrasi-demonstrasi mereka yang batil." (Tanbihat wa Ta'aqibat hal 41)

Jawapan Abdul Rahman Abdul Khaliq: "Adapun ucapanku pada kitab Al-Fusul Minas Siyasah As-Syariah fi Dakwah Ila Allah, maka saya katakan: Saya telah menyebutkan demonstrasi-demonstrasi yang digelar itu sebagai wasilah (perantaraan) Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dalam menampakkan dakwah Islam sebagaimana telah diriwayatkan bahawa setelah masuk Islamnya Umar radiallahu 'anhu kaum muslimin keluar kerana perintah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam pada dua saf (barisan) dalam rangka menampakkan kekuatan. Dalam satu barisan terdapat Hamzah radiallahu 'anhu sedang barisan yang lain ada Umar bin Al-Khattab radiallahu 'anhu beserta kaum muslimin."

Kemudian Abdul Rahman Abdul Khaliq membawakan riwayat dengan sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam Al-Hilyah dengan sanad sampai kepada Ibnu Abbas radiallahu 'anhu, Ibnu Abi Syaibah dalam As-Syabah dan di dalam tarikhnya serta Al-Bazzar: Kemudian dia (Abdul Rahman) berkata: "Tetapi setelah kedatangan surat anda (Syeikh Ibnu Baz) aku dapati bahawa jalur sanad hadis ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia munkarul-hadis." Demikian pernyataan Abdul Rahman Abdul Khaliq (ini membuktikan bahawa Abdul Rahman Abdul Khaliqmengakui tentang kemunkaran hadis demonstrasi).

Tapi anehnya setelah itu dia mengatakan: "Saya berpandangan metod ini (demonstrasi) boleh untuk dijadikan metod yang benar dalam mendorong atau menganjurkan manusia dalam solat Jumaat dan berjemaah dalam rangka menampakkan banyaknya orang Islam. Demikian juga mempamerkan tentera-tentera Islam bersama dengan peralatan perang, kerana hal ini dapat menaklukkan hati-hati musuh dan menakutkan musuh-musuh Allah serta meninggikan syariat Islam."

Demikianlah cara Ahli Bid'ah setelah ditanya atau dibantah dari sisi pendalilan (dari syarak) dan setelah ucapan atau perbuatannya diketahui tidak benar, bahkan palsu, mereka tidak mahu merujuk kepada dalil yang sahih dan manhaj yang benar. Bahkan dia berdalih: "Maksud saya demikian, maksud saya demikian." Boleh sahaja hadis lemah dalam hal ini, bahkan hadis palsu dijadikan iktibar dan berbagai silat lidah (putar belit) lainnya pun meluncur tajam dari mulutnya sebagai alasan.

Maka saya katakan: Setelah salilnya diketahui munkar, kerana adanya perawi yang munkarul-hadis pada sanadnya, tentu saja demonstrasi tidak boleh dijadikan sebagai hujah manhaj amar makruf nahi munkar. Kerana metod dakwah adalah tauqifiyah iaitu harus sesuai dengan metod Rasulullullah sallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Andainya kisah Umar itu sahih, maka penjelasan adalah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syeikh Al-Albani, bahawa setelah diketahui dalil mereka demonstrasi itu dhaif bahkan munkar, maka tidak boleh lagi dijadikan sebagai dalil bolehnya berdemonstrasi, sekalipun niat dan tujuannya baik, sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh bin Baz di atas. Wallahua'lam.

Kemungkaran Demonstrasi (Tunjuk Perasaan)
Dalam tulisan di atas, sudah diterangkan sebahagian kemungkaran pada acara demonstrasi, maka jika diringkaskan maka antara kemungkaran-kemungkarannya ialah:

1 – Ianya jelas berbentuk tasyabbuh, iaitu perbuatan tersebut menyerupai perbuatan orang-orang kafir.

2 – Termasuklah khuruj (keluar menentang pemerintah) yang dilarang oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dalam riwayat Muslim dan lain-lain.

3 – Menceritakan aib pemerintah di hadapan umum dalam bentuk pidato yang ini pun dilarang oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.

4 – Ikhtilat (percampuran) lelaki dan perempuan, bahkan berhimpit-himpitan.

5 – Tidak berasaskan undang-undang atau hukum syarak, yang mana demonstrasi seringkali berlaku dalamnya pidato hasutan dan fitnah.

Jalan Penyelesaian Dari Krisis
Pada situasi sekarang, masalah yang timbul bukan sahaja terjadi akibat satu aspek, misalnya ekonomi, tetapi juga terjadi pada aspek lainnya, seperti sosial dan politik. Dan krisis ini tidak boleh sembuh secara total jika dibasmi dengan kebatilan tunjuk perasaan.

Suatu negara yang dipimpin oleh pemimpin yang zalim yang didalamnya ditaburi dengan perbuatan-perbuatan mungkar orang yang berkuasa seperti korupsi (rasuah) dan nepotisme merupakan hasil dari sikap dan tindakan rakyatnya juga. Maka kalau rakyatnya baik, nescaya Allah Ta'ala akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang baik, arif dan bijaksana. Hal ini sudah dibuktikan oleh junjungan kita Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam dan para Khulafa' Ar-Rasyidin.

Adapun setiap situasi yang kacau-bilau, maka jalan keluar dan penyelesaiannya bukanlah dengan demonstrasi, tetapi dengan amar makruf nahi mungkar dengan cara yang tepat dan benar. Kemudian menyebarkan ilmu yang hak di kalangan umat agar muncul generasi-generasi yang berbekal ilmu.

Akhirnya diharapkan nanti setiap langkah yang mereka lakukan diukur dengan ilmu syarak yang hak. Dengan demikian akan musnahlah virus salah guna kuasa, korupsi dan virus-virus yang lainnya. Wallahua'lam.

(Disalin dari buku "Siri 3 Demonstrasi Bukan Jihad Tapi Maksiat", Zuhari Syarif, Diterjemahkan oleh: Ustaz Rasul bin Dahri, Jahabersa)

Sabtu, 1 Ogos 2009

Dalil-dalil Yang Mengharamkan Nyanyian Dan Muzik

Oleh: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Di bawah ini akan kami tampilkan hadis-hadis Nabi yang menunjukkan pengharaman secara jelas (sarih) terhadap berbagai macam alat hiburan dan musik.

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Ghanam berkata : Abu Amir atau Abu Malik Al-Asy'ari Radiyallahu 'anhu telah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Di kalangan umatku nanti akan ada suatu kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr (arak) dan alat-alat muzik."

Ini adalah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, meskipun diriwayatkan secara mu'allaq, namun tetap dijadikan hujah yang beliau masukkan dalam bab tersendiri, iaitu Bab tentang Orang yang menghalalkan Khamr dan Menamainya dengan Nama Lain. "Hisyam bin Ammar berkata : telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Athiyah bin Qais Al-Kilabi, dari Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy'ari bahwa dia berkata : Amir atau Abu Malik Al-Asy'ari, -Demi Allah dia tidak membohongiku- menceritakan kepada kami bahawa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda : "Sungguh akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr dan alat-alat muzik."

Orang-orang yang mencacatkan kesahihan hadis ini tidak dapat beralasan apa-apa, seperti Ibnu Hazm, kecuali hanya untuk membela mazhabnya yang batil dalam hal membolehkan hiburan atau muzik dengan menganggap hadis Al-Bukhari di atas adalah munqathi' (terputus), kerana Al-Bukhari tidak menyambungkan sanad hadis tersebut.

Jawaban mengenai kerancuan ini adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya Al-Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan telah mendengarkan hadis dirinya. Maka jika Al-Bukhari mengatakan: Hisyam telah berkata. itu bererti sama ertinya dengan mengatakan: Dari Hisyam. Seandainya Al-Bukhari belum pernah mendengar hadis itu darinya, maka sudah tentu dia tidak akan membolehkan untuk meyakini hadis itu darinya, kecuali memang sahih bahawa dia (Hisyam) benar-benar pernah mengatakannya. Hal seperti ini banyak digunakan amat banyaknya rawi yang meriwayatkannya hadis dari syaikh tersebut dan kerana kemasyhurannya. Lagi pula yang namanya Al-Bukhari itu adalah rawi yang paling jauh dari perbuatan tadlis (pemalsuan). Al-Bukhari sendiri memasukkan hadis tersebut dalam kitabnya yang diberi nama Sahih, yang dijadikan hujah oleh beliau. Seandainya hadis ini tidak dianggap sahih oleh beliau, tentu beliau tidak akan memasukkannya dalam kitab Sahih beliau.

Al-Bukhari menta'liqnya dengan shighar jazm, bukan shighat tamridh. Ia juga mengambil sikap tawaquf mengenai suatu hadis atau jika hadis yang ada itu tidak memenuhi persyaratannya, maka Al-Bukhari biasanya mengatakan, "Wa yurwa'an Rasulullah wa yudzkaru'anhu." (Diriwayatkan dari Rasulullah dan disebutkan darinya), atau ungkapan yang sejenisnya.

Namun jika Al-Bukhari sudah mengatakan, "Qola Rasulullah " (Rasulullah telah bersabda), maka bererti ia telah menetapkan dan memastikan bahawa hal itu benar-benar dari Nabi. Kalau saja kita buang alasan di atas, maka hadis ini tetap dianggap sahih dan muttasil oleh hadis lainnya. Abu Daud dalam kitab Al-Libas mengatakan: telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Najdah, katanya: Bisyr bin Bakar telah menceritakan kepada kami Athiyah bin Qais yang mengatakan: Aku telah mendengar Abdurrahman bin Ghanm Al Asy'ari berkata : Abu Amir atau Abu Malik telah menceritakan kepada kami, lalu disebutkan hadis seperti di atas secara ringkas. Abu Bakar Al-Ismaili juga meriwayatkan dalam kitabnya As-Sahih, secara musnad. Ia mengatakan : Abu Amir tidak dapat diragukan.

Nalarnya, bahawa segala alat muzik merupakan alat hiburan atau permainan, dan hal ini tidak diperselisihkan di antara para ahli bahasa. Seandainya hal itu halal (dibolehkan), tentu Rasul tidak akan mencela tindakan menghalalkan hal tersebut, dan tidak menggandingkannya dengan khamr dan perzinaan. Ibnu Majah di dalam kitab Sunannya mengatakan: Abdullah bin Said telah menceritakan riwayat hadis kepada kami dan Muawiyah bin Salih, dari Hatim bin Hurais dari Abi Maryam, dari Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy'ari, dari Abu Malik Al-Asy'ari Radhiallahu’anhu bahwa ia berkata: Rasulullah telah bersabda : "Sungguh akan ada manusia-manusia dari umatku yang meminum khamr yang mereka namakan dengan nama lain, kepalanya dipenuhi dengan musik dan penyanyi-penyanyi wanita. Maka Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan di antara mereka aa kera dan babi." (sanad hadis ini shahih).

Orang-orang yang menghalalkan muzik -dalam hadis tersebut- diancam bahawa Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan merubah bentuk mereka menjadi kera dan babi. Meskipun ancaman ini untuk seluruh perbuatan yang tersebut dalam hadis itu, namun masing-masingnya mendapatkan bahagian dari celaan dan ancaman ini.

Dalam hal ini terdapat berbagai riwayat hadis, iaitu hadis dari Sahl bin Sa'ad As Saidi, Imron bin Hushain, Abdullah bin Amru, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abu Umamah Al Bahli, 'Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Sabith dan hadits Al-Ghazi bin Rabi'ah. Kami sengaja mengungkapkannya agar para Ahlul Qur'an mendapat kepuasan, di samping agar orang-orang yang suka mendengarkan suara syaitan itu dapat tergugat hatinya.

1. Hadis Sahal bin Sa'id

Ibnu Abi Dunya berkata : Al-Haitsam bin Kharijah telah menceritakan kepada kami, katanya: telah mencertiakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa'ad As Saidi bahwa ia telah berkata: Rasulullah bersabda: "Di dalam umatku ini akan ada (siksaan yang berupa) pembenaman, pelemparan dan pengubahan bentuk." Ditanyakan, "Bila hal itu terjadi ya Rasulullah?" Baginda Menjawab, "Jika telah tampak berbagai alat muzik, qainah (hamba wanita yang menjadi penyanyi) serta dihalalkannya khamr."

2. Hadits Imran bin Hushain

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Al-A'masy, dari Hilal bin Yisaf, dari Imran bin Hushain yang berkata : Rasulullah telah bersabda : "Pada umatku nanti akan ada (siksaan atau bencana yang berupa) pembenaman, pelemparan dan perubahan bentuk." Lalu salah seorang di antara kaum muslimin ada yang bertanya. "Bila hal itu terjadi, ya Rasulullah?" Baginda menjawab, "Jika telah tampak berbagai qainah (hamba wanita yang menjadi penyanyi), alat-alat muzik dan diminumnya khamr." At-Tarmizi mengatakan bahawa hadis ini gharib.

3. Hadits Abdullah bin Amru

Imam Ahmad di dalam Musnadnya dan juga Abu Daud sama-sama meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan atas umatku : khamr, judi, kubah (kartu atau dadu; boleh juga diertikan at-thibl (genderang; juga termasuk jenis alat muzik lainnya) dan ghubaira' (minuman keras yang diperas dari jagung yang biasa dibuat oleh orang-orang Habasyah); dan setiap yang memabukkan itu haram." Dalam lafaz Ahmad yang lain disebutkan : "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan atas umatku khamr, judi, mizr (sejenis ghubaira', namun ada yang mengatakan terbuat dari gandum), kubah dan qinnin (jenis permainan judi yang dilakukan oleh bangsa Romawi; namun ada pula yang mengertikan genderang yang biasa ditabuh oleh orang-orang Habasyah)."

4. Hadits Ibnu Abbas

Di dalam Musnad Ahmad juga disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahawa Rasulullah telah bersabda : "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan khamr, judi dan kubah. Setiap yang memabukkan itu haram."

5. Hadits Abu Hurairah

At-Tirmizi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah telah bersabda : "Jika harta hanya diedarkan pada kalangan terbatas, amanat jadi barang rampasan, zakat sebagai hutang, ilmu dipelajari untuk selain agama, seorang lelaki (suami) mentaati isterinya dan menderhakai ibunya, mendekatkan temannya dan menjauhkan ayahnya, tampak suara-suara di dalam masjid, orang yang fasik tampil memimpin kabilah, orang yang paling hina menjadi pimpinan suatu kaum, seorang dimuliakan kerana ditakuti kejahatannya, muncul penyanyi-penyanyi dari hamba-hamba wanita dan berbagai alat muzik, diteguknya khamr dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat (mengutuk) umat terdahulu; maka ketika itu tunggulah angin merah, gempa bumi, perubahan bentuk, penjerumusan serta tanda-tanda lain yang beruntun seperti sebuah jaring tua (usang) yang jika kawatnya terputus maka akan terus merembet." At Tirmizi mengatakan hadis ini hasan gharib.

Ibnu Abi Dunya berkata : Abdullah bin Umar Al-Jusyami menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Salim yaitu Abu Dawud, katanya: Hasan bin Abi Sinan telah menceritakan kepada kami dari seorang lelaki, dan Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu yang berkata bahwa Rasulullah telah bersabda : "Suatu kaum dari umat ini pada akhir zaman akan diubah menjadi kera dan babi”. "Para sahabat bertanya. "Ya Rasulullah, bukankah mereka itu bersaksi bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa Muhammad adalah utusan Allah?" Baginda menjawab. "Ya, bahkan mereka juga menunaikan solat, puasa dan haji." Ditanya lagi. "Apa sebabnya mereka jadi begitu?" Baginda menjawab, "Mereka hanyut oleh muzik, rebana dan qainah (budak yang menjadi biduanita) dan mereka begadang dengan suguhan minuman dan hiburan, lalu pada esok harinya mereka diubah bentuknya menjadi kera dan babi." (hadits dha'if)

6. Hadits Abu Umamah Al-Bahili

Hadits ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga oleh At-Tirmizi bahwa Rasulullah telah bersabda. "Ada sekelompok dari umatku yang begadang dengan suguhan makanan dan minuman serta hiburan dan permainan, kemudian esok harinya mereka menjadi kera dan babi, lalu dikirimkan angin terhadap orang-orang yang hidup di antara mereka, kemudian angin itu menghamburkan mereka sebagaimana telah menghamburkan orang-orang sebelum kalian lantaran mereka telah menghalalkan khamr, menabuh rebana, dan mengambil hamba-hamba wanita untuk menyanyi."

Di dalam sanad hadis ini terdapat Farqad As-Sabakhi yang termasuk pembesar kaum Salih, namun demikian ia tidaklah kuat dalam hal hadis. At-Tirmizi mengatakan: "Yahya bin Asa'id melemahkannya namun ada juga perawi-perawi yang mengambil riwayat darinya."

Ibnu Abi Dunya berkata : Abdullah bin Umar Al-Jusyami menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman, katanya: "Farqad As-Sabakhi menceritakan kepada kami: telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa'id bin Al-Musayyab, katanya: telah menceritakan kepadaku Ashum bin Amru Al-Bajali dari Abu Umamah dari Rasulullah bahawa baginda bersabda : "Akan ada suatu kaum dari umat ini yang menghabiskan malamnya di atas makanan, minuman dan hiburan. Lalu pada pagi harinya mereka telah diubah bentuknya menjadi kera dan babi. Dan pasti mereka itu akan terbenam ditelan bumi, sehingga pada esok harinya orang-orang pun bercerita, "Kampung si fulan terbenam malam tadi, Bani Fulan terbenam ditelan bumi tadi malam!" Dan pasti akan dikirimkan (dijatuhkan) batu-batuan dari langit terhadap mereka sebagaimana pernah dijatuhkan terhadap kaum Nuh, atas kabilah-kabilah yang ada di dalamnya dan atas kampung-kampung (rumah) yang ada di dalamnya. Pasti akan dikirimkan pula kepada mereka angin pemusnah yang pernah membinasakan bangsa 'Ad, kerana mereka meminum khamr, memakan riba', menjadikan budak-budak wanita untuk menyanyi, dan memutuskan tali kekeluargaan." (Hadits dha'if ).

Di dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan riwayat hadis dari Ubaidillah bin Zahr, dari Ali bin Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda : "Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam, dan memerintahku untuk membinasakan seruling, gendang, alat-alat muzik senar dan patung-patung (berhala) yang disembah di masa jahiliyah." (Hadits dha'if ).

Al-Bukhari mengatakan: "Ubaidillah bin Zahr itu tsiqat (terpecaya)." (sekian banyak ulama menyatakan dha'if. Lihat At-Tahdzib, VII/13). Ali bin Yazid adalah dha'if dan Al-Qasim bin Abdurrahman Abu Abdurrahman adalah tsiqat.

At-Tirmizi dan Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan dengan sanad yang sama seperti ini bahawa Nabi telah bersabda, "Janganlah engkau jual qainah (hamba wanita menjadi biduanita), jangan membelinya dan jangan mengajarinya. Tiada kebaikannya dalam memperdagangkannya dan harganya itu haram. Berhubungan dengan hal ini maka turunlah ayat: "Di antara manusia ada orang yang membeli lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah." (Luqman : 6). (Hadits ini dha'if kerana kedha'ifan perawinya, iaitu Abdullah bin Zahr dan Ali bin Yazid. Al-Albani mendha'ifkannya dalam Dha'iful Jami' (6189) hal. 893 -894)

7. Hadits Aisyah radhiallahu 'anha

Ibnu Abi Dunya berkata : Al-Hasan bin Mahbub menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadhar iaitu Hasyim bin Al-Qasim, katanya: telah menceritakan kepada kami Abu Ma'syar dari Muhammad bin Al-Munkadir dari "Aisyah radhiallahu'anha bahawa dia berkata : Rasulullah telah bersabda: "Pada umatku nanti akan terjadi tanah runtuh, pengubahan bentuk dan pelemparan”, "Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, sedangkan kaum itu masih mengatakan Laa ilaaha ilallah?" Baginda menjawab, "Jika telah tampak biduanita-biduanita, telah muncul perzinaan, diteguknya khamr dan dipakainya kain sutera ,maka di sinilah hal itu terjadi." (Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadis ini dalam Dzammul Malalhi, hadits no. 3. Sanad hadits ini dha'if, namun banyak syawahid (bukti atau penguat dari hadis lain) yang mengangkat darjat hadis ini ke tingkat hasan lighairihi).

Ibnu Abi Dunya juga meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Nashih, katanya : Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdullah Al-Juhani, katanya: telah menceritakan kepadaku Abul A'la dari Anas bin Malik bahwa ia pernah mengunjungi 'Aisyah radhiallahu'anha beserta seorang teman. Orang itu berkata, "Ya Ummul Mukminin, ceritakanlah kami tentang gempa!" 'Aisyah radhiallu'anha menjawab, "Itu merupakan nasihat (pelajaran), rahmat dan berkat bagi orang-orang mukmin serta merupakan hukuman, azab serta kemurkaan terhadap orang-orang kafir," Anas berkata, "Aku tiada mendengar satu hadis pun setelah Rasulullah (wafat) yang membuatku sangat bergembira daripada hadits ini." (Sanad hadits ini dha'if).

8. Hadits Ali Radhiyallahu’anhu.

Ibnu Abi Dunya berkata: telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' bin Tsaqlab, katanya: Farj bin Fadhalah menceritakan kepada kami riwayat dari yahya bin Sa'id, dari Muhammad bin Ali, dari Ali radhiallahu'anhu, katanya Rasulullah telah bersabda: "Jika umatku telah melakukan lima belas perilaku, maka ia layak mendapatkan bala' (bencana)," Ditanyakan, "Apakah kelima belas perilaku itu ya Rasulullah" Baginda menjawab, "Jika kekayaan hanya berputar pada kalangan tertentu, amanat menjadi barang rampasan, zakat menjadi hutang; seorang lelaki (suami) menuruti pada isterinya dan menderhakai ibunya; berbuat baik kepada teman namun kasar terhadap ayahnya sendiri; ditinggikannya suara-suara di masjid; yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka; seseorang dimuliakan kerana ditakuti kejahatannya; diminumnya khamr; dipakainya kain sutera, mengambil para biduanita; dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat orang-orang terdahulu. Maka kalau sudah demikian, tunggulah datangnya angin merah, tanah runtuh dan pengubahan bentuk." (Di dalam sanad hadits ini terdapat Al-Farj bin Fadhalah yang oleh sebagian ahli hadits dinyatakan dha'if mengenai hafalannya, namun Al-Albani mensahihkan hadits ini dalam Takhrijul Misykat, 5451).

Abdul Jabbar bin Ashim menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Asysy dari Abdurrahman At-Tamimi, dari Abbad bin Abu Ali, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu dari Nabi bahawa baginda telah bersabda: "Segolongan dari umatmu nanti akan ada yang diubah menjadi kera, ada yang dihantam oleh angin yang membinasakan. Itu semua disebabkan kerana mereka meneguk khamr, memakai kain sutera, mengambil biduanita-biduanita, dan bermain muzik." (Di dalam sanad hadits ini terdapat Abbad bin Abi Ali yang sebagaimana dikomentari oleh Ibnu Al Qatthan disangsikan adalahnya (Al Mizan, 2: 370), Ibnu Hajar dalam At-Taqrib (7137) hal. 290 menyatakan maqbul (dapat diterima) jika ada penguatnya, dan jika tidak maka ia lemah hadisnya. Juga terdapat Ismail bin Asyasy di mana riwayatnya selain dari ulama Syam adalah dha'if (An Nizab, 1:240), sedangkan dalam riwayat ini bukan dari ulama Syam. Dengan demikian dha'if).

9. Hadits Anas Radhiyallahu’anhu

Ibnu Abi Dunya berkata : Abu Amru harun bin Umar Al Qursyi menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Al-Khasib bin Katsir dari Abu Bakar Al-Hudzali, dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu yang berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda : "Pada umatku ini akan terjadi pembenaman, pelemparan dan pengubahan bentuk. Itu terjadi jika umat tersebut telah meneguk khamr, mengambil biduanita-biduanita dan bermain muzik." (Sanad hadis ini rosak kerana ada Abu Bakar Al-Hudzali. Disebutkan bahawa namanya adalah Sulami bin Abdullah dan ada yang mengatakannya namanya Rauh. Dia seorang yang hadisnya ditinggalkan (matrukul hadis) sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At Taqrib (8002) hal. 625).

Ibnu Abi Dunya juga mengatakan : Abu Ishaq Al-Azdi telah memberitahukan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Uwais, katanya: telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari salah satu putera Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dan juga dari yang lainnya, dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu bahwa ia berkata: Rasulullah Radhiallahu’anhu telah bersabda: "Pada umat ini kelak ada orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan makanan, minuman dan muzik. Lalu esok harinya mereka diubah bentuk menjadi kera dan babi." (Di dalam sanad hadis ini terdapat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam yang dha'if seperti disebutkan dalam Taqribut Tahdzib (3867) hal. 340. Juga terdapat rawi yang tidak jelas, karena tidak ada namanya. Dengan demikian sanad hadis ini dha'if. Namun dengan syawahid yang ada, ia dapat naik derajat menjadi hasan lighairihi).

10. Hadits Abdurrahman bin Sabith

Ibnu Abi Dunya berkata : Ishaq bin Ismail telah menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Jarir : dari Aban bin Taghlab, dari Amru bin Murrah, dari Abdurrahman bin Sabith, bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda: "Pada umatku nanti akan terjadi pembenaman (tanah runtuh), penglemparan dan pengubahan bentuk." Para sahabat bertanya: "Bila hal itu akan terjadi, ya Rasulullah?" Baginda menjawab, "Jika mereka telah bermaharajalelakan muzik dan menghalalkan khamr." (Hadis ini mursal, kerana yang membawakan hadis ini adalah seorang dari kalangan Tabi'in (yang tidak pernah bertemu Nabi), iaitu Abdurrahman bin Sabith, meskipun ia sebenarnya tsiqat. Ia banyak meriwayatkan hadits secara mursal, sebagaimana dikatakan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At Taqrib (3867) hal. 340).

11. Hadits Al Ghazi bin Rabi'ah

Ibnu Abi Dunya berkata: Abdul Jabbar bin Ashim telah menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayasy, dari Ubaidullah bin Ubaid, dari Abul Abbas Al-Hamdani, dari Umarah bin Rasyid, dari Al-Ghazi bin Rabi'ah -yang mengangkat (menyambungkan) hadis ini kepada Nabi- bahwa baginda mengatakan: "Suatu kaum nanti pasti akan berubah menjadi kera dan babi sedang mereka masih berada di atas dipan-dipan mereka. Itu disebabkan kerana mereka meneguk khamr, bermain muzik dan mengambil biduanita." (Hadits mursal, kerana Al-Ghazi adalah seorang dari kalangan Tabi'in).

Ibnu Abi Dunya berkata: Abul Jabbar bin Ashim telah menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Al-Mughirah bin Al-Mughirah dari Shalih bin Khalid -yang mengangkat (marfu') hadis tersebut kepada Nabi- bahawa baginda bersabda: "Akan ada manusia dari umatku ini yang menghalalkan sutera, khamr dan musik. Dan pasti Allah akan mendatangkan gunung yang besar sehingga gunung itu melalap mereka, dan sebahagian dari mereka diubah bentuk menjadi kera dan babi." (Hadits mursal).

Ibnu Abi Dunya berkata: Harun bin Ubaid telah menceritakan kepada kami, katanya: Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami, katanya: telah menceritakan kepada kami Asyras Abu Syaiban Al-Hudzali yang berkata: aku pernah berkata kepada Farqad As-Sabakhi: Beritahukan kepadaku wahai Abu Ya'qub mengenai kejadian-kejadian aneh yang aku baca dalam Taurat, bahawa akan ada pengubahan bentuk, pembenaman dan penglemparan pada uamt Muhammad ini yang termasuk ahlu kiblat! Wahai Abu Ya'qub, apa sebenarnya perbuatan mereka itu?" Ia menjawab: "Itu disebabkan kerana mereka mengambil biduanita-biduanita untuk menyanyi, menabuh rebana (bermain muzik) serta memakai pakaian sutera dan emas. Jika kamu hidup hingga dapat melihat tiga perbuatan, maka yakinlah, bersiap-siaplah dan berhati-hatilah!" Aku bertanya, "Apa itu?" Ia menjawab, "Jika kaum lelaki bersama kaum lelaki (gay) dan kaum perempuan bersama kaum perempuan (homoseks) dan bangsa Arab sudah suka terhadap bejanan orang A'jam, maka itulah saatnya!" Aku bertanya kepadanya, "Apakah khusus orang Arab?" Ia menjawab, "Tidak, namun seluruh ahlu kiblat." Selanjutnya dia berkata: "Demi Allah, orang-orang seperti itu pasti akan dilempari batu dari langit yang akan menghancurkan mereka dalam keadaan sedang di jalanan dan di tengah-tengah kabilah mereka seperti yang pernah menimpa kaum Luth; yang lain diubah bentuk mereka menjadi kera dan babi seperti yang pernah terjadi pada Bani Israil; dan sebahagian lagi dari mereka dibenamkan ke dalam bumi seperti yang pernah menimpa Qarun. Banyak sekali khabar (hadis) yang menjelaskan tentang adanya al-maskh (pengubahan bentuk) pada umat ini yang bersifat muqayyad, namun kebanyakan hadis menyebutkan akan menimpa orang-orang yang bergelimang dengan nyanyian dan para peminum khamr, dan sebagaimana bersifat muthlaq. Salim bin Abu Al-Ja'd mengatakan: Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman di mana ketika itu orang-orang berkumpul di depan pintu rumah seorang lelaki untuk menunggu keluarnya lelaki dari dalam rumahnya untuk menemui mereka lalu mereka meminta keperluan kepadanya, lalu lelaki itupun keluar dalam keadaan sudah berubah bentuk menjadi kera atau babi. Dan seorang lelaki akan melewati dan bertemu dengan lelaki lain di kedainya yang sedang berjualan, lalu ia kembali sudah berubah menjadi kera atau babi."

Malik bin Dinar berkata :"Telah sampai kepadaku bahawa pada akhir zaman nanti akan ada badai dan kegelapan, lalu orang-orang pun meminta tolong kepada ulama-ulama mereka, namun ternyata para ulama itu mendapati mereka telah berubah bentuk." Sebagian ulama mengatakan: "Jika hati itu telah bersifat dengan makar, tipuan dan kefasikan serta telah tercelup dengan hal itu secara sempurna, maka orangnya telah berperilaku seperti perilaku haiwan yang disifati dengan sifat tersebut, diantaranya adalah kera, babi dan sejenisnya. Selanjutnya pensifatan itu terus meningkat sehingga tampaklah di raut mukanya secara remang-remang. Selanjutnya semakin menguat dan bertambah terus sehingga tampak secara jelas di raut muka. Kemudian menguat lagi sehingga paras yang tampak itu terbalik (berubah bentuk) sebagaimana unsur batinnya pun sudah terlebih dahulu terbalik."

Barangsiapa yang memiliki pandangan yang jeli, maka ia akan dapat melihat bahawa sebenarnya paras manusia itu merupakan metamorfosis (penyerupaan) dari paras haiwan di mana secara batin mereka berakhlak dan berperilaku seperti perilaku haiwan tersebut. Maka jika engkau melihat seorang yang curang, suka mengelabuhi, penipu dan pengkhianat, tentu di wajahnya terlihat adanya hasil metamorfosis dari kera. Di raut muka orang-orang Rafidhah (Syi'ah) akan anda lihat wajahnya terlihat adanya hasil metamorfosis dari wajah anjing. Yang lahir (zahir) itu selalu terkait dengan yang batin. Maka jika sifat-sifat tercela itu mendominasi jiwa, maka paras yang lahir pun akan ketara pula.

Oleh kerana itu Nabi menakut-nakuti makmum yang mendahului imam dalam solat berjama'ah bahawa Allah akan menjadikan parasnya sebagai paras keledai, kerana secara batin ia memang menyerupai keledai. Sebab, jika ia mendahului imam, maka solatnya akan rosak dan pahalanya akan gugur. Maka makmum yang seperti itu, bodohnya seperti keledai. Jika hal ini sudah dapat difahami, maka sebenarnya manusia yang paling layak untuk dimetamorfosis adalah manusia-manusia yang disebutkan oleh hadis-hadis di atas. Merekalah manusia yang paling cepat dimetamorfosis menjadi kera dan babi kerana adanya keserupaan batin antara mereka dengan binatang itu. Hukuman-hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala -na'udzu billah- berjalan sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Telah kami kupas masalah keserupaan orang-orang yang menyanyi serta yang terfitnah dengan mendengarkan lagu-lagu syaitan serta telah kami hantam habisan- habisan dalam kitab kami yang cukup besar yang mengupas masalah ini. Kami sebutkan pula perbezaan antara apa yang cukup besar dapat digerakkan dari mendengarkan bait-bait dan apa yang bisa digerakkan dari mendengarkan ayat-ayat. Barangsiapa yang ingin lebih jauh lagi memahami hal ini, maka silakan baca buku tersebut. Masalah ini memang sengaja kami kupas sedikit dalam buku ini, kerana hal ini termasuk di antara perangkap syaitan.

Wabillahit taufiq.

(Buku yang dimaksudkan Ibnul Qayyim tersebut sekarang sudah diterbitkan dengan judul "Al-Kalam 'ala Masalitis Sama" yang ditahqiq oleh Syaikh Rasyid Abdul Haziz Al-Hamd). (Dikutip dari terjemah kitab Ighotsatul Lahfan, Edisi Indonesia Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya, karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.)

Sumber: http://ashthy.wordpress.com

Khamis, 30 Julai 2009

Siapakah ulama yang benar-benar menjaga agama ini?

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az-Zumar: 9)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui." (Al-Anbiya': 7)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Allah menyatakan bahawasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyetakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali-Imran: 18)

Demikianlah kedudukan ulama diangkat, mereka merupakan orang-orang yang paling takut diantara manusia, mereka merupakan tempat pertanyaan bagi orang yang tidak mengetahui dan merekalah orang-orang yang mengenali Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, dan perbuatanNya sehingga membuat mereka paling takut dengan Allah.

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah kerana kurnia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan kecuali sebahagian kecil sahaja (di antara kamu)." (An-Nisa': 83)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadalah: 11)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114)

Imam Ibn Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata:

"Jelas maksudnya menunjukkan keutamaan ilmu, sebab Allah tidaklah memerintahkan NabiNya untuk meminta tambahan apa-apa selain ilmu. Yang dimaksudkan dengan ilmu di sini ialah ilmu syar'i yang berguna untuk memperlihatkan apa yang wajib bagi seorang mukallaf berupa perintah agama dalam ibadah dan muamalatnya, serta ilmu tentang Allah dan sifatNya, juga apa yang wajib ditegakkannya berupa perintah dan mensucikanNya dari kekurangan. Itu semua berasaskan pada tafsir, hadis dan fiqh." (Fathul Bari 1/141)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam berkata:

"Siapa yang Allah kehendaki baginya kebajikan maka Dia akan membuatnya faqih (mahir) tentang agama. Saya hanyalah Qasim (pembagi), Allah yang memberi. Serta senantiasa ada dari umat ini orang-orang yang tegak di atas perintah Allah tanpa memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah." (Hadis riwayat Bukhari)

Imam Ibn Hajar rahimahullah berkata:

"Telah dipastikan bahawa mereka yang dimaksudkan ialah ulama atsar. Imam Ahmad berkata: Kalau mereka itu bukan ahli hadis, maka saya tidak tahu lagi siapa mereka." (Fathul Baari 1/164)

Beliau rahimahullah berkata lagi:

"Pemahaman yang dapat diambil dari hadis ini: Sesungguhnya siapa yang tidak faqih tentang agama Islam, ertinya tidak mempelajari asas-asas Islam dan cabang-cabangnya, maka dia telah diharamkan dari kebajikan. Abu Ya'la telah mengeluarkan hadis Mu'awiyah dari jalur lain yang dhaif (lemah), di mana dia tambahkan pada akhirnya:

"...Sedangkan sesiapa yang tidak mahu memahirkan di dalam agama, maka Allah tidak mempedulikannya."

Namun, maknanya benar kerana orang yang tidak mengetahui urusan agama bererti tidak faqih dan tidak pula mempelajari fiqh, maka benarlah jika dikatakan bahawa dia tidak dikehendaki mendapatkan kebajikan. Di sini ada penjelasan yang jelas tentang keutamaan tafaquh fiddin (memahirkan di dalam agama) di atas seluruh ilmu lainnya." (Fathul Baari 1/165)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dihadapkan Nuh pada hari kiamat. Maka baginda ditanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (tugas kerasulan)?' Beliau menjawab: 'Ya wahai Tuhanku.' Lalu umatnya ditanya: 'Adakah dia telah menyampaikan kepada kalian?' Mereka menjawab: 'Tidak ada seorang pun pemberi peringatan yang datang kepada kami.' Maka dikatakan kepada Nuh: 'Siapakah saksimu?' (Nabi Nuh) menjawab: 'Muhammad dan umatnya.' Maka kalianpun dihadapkan dan memberikan persaksian.

Kemudian Rasulullah membaca:

Maksudnya: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang wasath (pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu." (Al-Baqarah: 143) (Hadis riwayat Bukhari)

Imam Ibn Hajar rahimahullah berkata:

"Al-Wasath ialah adil, sebagaimana telah lalu dalam tafsir surah Al-Baqarah. Kesimpulan isi ayat ini adalah penyebutan tentang nikmat pemberian hidayah dan keadilan. Adapun ucapannya 'dan apa yang diperintahkan...' kesesuaiannya dengan hadis tema ini tidak jelas. Sepertinya dari sudut sifat tersebut, yakni keadilan. Sebab ia meliputi semuanya berdasarkan zahir penyempaian yang mengisyaratkan bahawa ia merupakan sebuah keumuman yang diinginkan dengannya sesuatu yang khusus atau keumuman yang dikhususkan. Kerana orang jahil tidak termasuk orang-orang yang adil, tidak pula sebagai ahli bid'ah. Maka ketahuilah bahawa yang dimaksukan dengan sifat tersebut adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Merekalah ahli ilmu syar'i." (Fathul Baari 16/133)

Wahb bin Munabbih berkata: "Seorang faqih yang menjaga kesucian, zuhud dan komitmen kepada sunnah itulah pengikut para nabi di setiap zaman." (Al-Ibanah, Ibn Baththah, 1/201)

Sufyan bin 'Uyainah berkata: "Manusia yang paling utama kedudukannya di hari kiamat adalah yang menjadi perantara Allah dengan makhluknya." Maksudnya Rasulullah dan ulama. (Ibid 1/202)

Salamah bin Sa'id berkata: "Dahulu dikatakan ulama itu penerang semua zaman. Setiap ulama adalah lampu bagi zamannya. Penduduk masa itu mengambil cahaya dari dirinya. Dikatakan juga: Ulama menghapus tipu daya syaitan." (Ibid 1/203)

Imam Ibn Baththah Al-'Akbari berkata:

"Semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang yang menghidupkan kebenaran dan sunnah serta mematikan kebatilan dan bid'ah, di mana penduduk masa itu mengambil cahaya dari pancaran ilmunya, serta dia mampu menguatkan hati para saudaranya yang beriman." (Ibid)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram." (Ali-Imran: 106)

Ibn 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata:

"Orang-orang yang putih berseri mukanya ialah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ulama, sedangkan orang-orang yang hitam muram wajahnya adalah ahli bid'ah dan dholal (kesesatan)." (Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah, Imam Al-Lalika'i 1/71)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu." (An-Nisa: 59)

Ibn 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata tentang firman Allah '...dan ulil amri di antara kamu.':

"Yakni ahli fiqh, ahli dalam agama Islam dan orang-orang yang taat kepada Allah, orang-orang yang mengajarkan makna-makna agama kepada manusia, beramar makruf dan nahi mungkar, maka Allah mewajibkan para hamba untuk mentaati mereka." (Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah 1/73)

Ketahuilah sesungguhnya kebajikan dan kebahagiaan bergantung pada keberadaan ulama. Jika ulama-ulama telah pergi, maka akan tersebarlah kejahilan dan musibah. Maka akan berlakulah orang-orang jahil menjadi pemimpin kepada masyarakat yang jahil. Mereka ini sesat lagi menyesatkan.

Umar bin 'Abdul 'Aziz menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm:

"Lihatlah mana hadis rasulullah kemudian tulislah, kerana sesungguhnya saya bimbang hilangnya ilmu dan perginya ulama. Janganlah engkau menerima selain hadis Nabi dan sebarkanlah ilmu. Duduklah sehingga orang yang tidak tahu menjadi tahu, kerana sesungguhnya ilmu tidaklah terhapus sehingga ia (sebelumnya) berupa sesuatu yang rahsia." (Fathul Baari 1/194)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan begitu sahaja dari para hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama. Sehingga ketikamana tidak tersisa lagi seorang alim, maka orang-orang pun mengambil orang-orang jahil sebagai pemimpin. Mereka ditanya lalu mereka memberi fatwa. Mereka sesat lagi menyesatkan." (Hadis riwayat Bukhari)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Bagaimana kalian ketika kalian telah diselimuti dengan fitnah, yang di dalamnya orang dewasa hidup menjadi renta dan anak-anak hidup menjadi dewasa, sehingga manusia menjadikannya sebagai adat kebiasaan yang apabila diubah, maka mereka mengatakan: 'Adat diubah!' Orang-orang bertanya: 'Bilakah hal itu akan terjadi, wahai Abu Abdirrahman (gelaran Ibn Mas'ud)?" Ibn Mas'ud menjawab: 'Di saat semakin banyak para pembaca Al-Quran akan tetapi sedikit yang memahami, banyak pemimpin dan sedikit anak-anak kalian, lantas kalian mencari dunia dengan amalan akhirat." (Riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, ms. 453)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Wahai hamba Allah, apakah kalian tahu bagaimana Islam itu berkurang dari manusia? Mereka menjawab: 'Ya, sebagaimana lemak binatang ternak berkurangan, sebagaimana lunturnya warna pakaian dan sebagaimana duit menjadi hitam kerana lama disimpan.' Beliau berkata: 'Ini di antaranya. Namun lebih dari itu ialah pemergian ulama. Di suatu kawasan terdapat dua alim, satu meninggal maka hilanglah setengah ilmu mereka dan satu lagi meninggal maka hilanglah seluruh ilmu mereka. Pemergian ulama merupakan pemergian ilmu." (Ibid, ms. 454)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Tidak datang kepada kalian satu hari yang baru melainkan ia lebih buruk daripada hari sebelumnya, begitulah sampai tegak hari kiamat. Saya tidak memaksudkan kemewahan hidup yang dimilikinya atau harta yang bernilai baginya. Akan tetapi, tidaklah datang kepada kalian hari yang baru melainkan hari itu lebih sedikit ilmunya daripada hari sebelumnya. Kalau ulama telah pergi maka manusiapun duduk terdiam, mereka tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Ketika itulah mereka binasa."

Dari jalur Asy-Sya'bi, Ibn Mas'ud berkata: "Tidak datang kepada kalian masa yang baru melainkan dia lebih buruk daripada sebelumnya. Saya tidak maksudkan seorang pemimpin yang lebih baik dari pemimpin lainnya atau satu tahun yang lebih baik dari tahun lainnya. Akan tetapi ulama dan fuqaha kalian pergi lalu kalian tidak lagi mendapatkan pengganti mereka. Kemudian datanglah suatu kaum yang berfatwa dengan akal mereka semata-mata."

Dalam lafaz lain: "Itu bukanlah tentang banyaknya melimpah hujan atau sedikitnya, akan tetapi tentang pemergian ulama. Kemudian muncullah suatu kaum yang memberikan fatwa dalam semua perkara dengan akal mereka, sehingga dia merosakkan Islam dan merobohkannya." (Fathul Baari 13/21)

Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Bagaimana engkau kalau engkau tetap hidup sampai suatu zaman yang saat itu engkau menyaksikan suatu kaum yang tidak dapat membezakan antara kebenaran dengan kebatilan, tidak juga antara seorang yang beriman dengan yang kafir, tidak juga antara jahil dengan yang alim, tidak mengenal perkara makruf dan tidak mengenal yang mungkar."

Ibn Baththah memberi komentar di atas:

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Hal itu telah sampai kepada kita dan kita telah mendengarkannya, kita telah mengetahui kebanyakannya dan menyaksikannya. Andaikata seseorang yang telah Allah berikan baginya akal sihat dan pandangan tajam menatap dengan teliti, memikirkan baik-baik keadaan Islam dan umatnya, menilai umat berdasarkan metodologi yang lurus, maka tentu akan menjadi jelas baginya bahawa kebanyakan manusia telah berpaling dan menyimpang dari jalan yang terang dan hujjah yang benar.

Banyak manusia pada waktu ini telah berubah dengan memandang baik apa yang dahulu mereka pandang buruk, mereka menghalalkan apa yang dulunya mereka memandang haram, serta mereka telahpun mahu menerima apa yang tadinya mereka ingkari.

Ini -semoga Allah merahmatimu- bukanlah akhlak kaum muslimin dan bukan pula tindakan mereka yang benar-benar mengatahui agama Islam ini, serta mereka bukanlah ahli Iman dan yakin akan Islam." (Al-Ibanah 1/188)

Kita lihat apa yang dikatakan oleh Al-Imam Ibn Baththah Al-'Akbari terhadap apa yang dikatakan oleh Fudhail bin 'Iyadh radhiallahu 'anhu, iaitu di waktu itu telah pun berlaku manusia yang tidak dapat membezakan yang mana baik dan buruknya, yang mana benar dan batilnya, yang mana iman dan yang mana kufurnya dan begitulah seterusnya padahal Ibn Baththah berada di abad yang keempat. Bagaimana pula jika kita ukur dengan waktu kita pada hari ini? Sudah tentu lebih jauh hebat kejahilan yang dihadapi pada hari ini. Sungguh pada hari ini ramainya kelompok-kelompok Islam yang cuba menisbahkan diri mereka dengan kebenaran akan tetapi mereka yang sebenarnya jauh dari kebenaran.

Ibn Qutaibah rahimahullah berkata:

"Andaikata mereka mengembalikan apa yang tidak jelas dari Al-Quran dan As-Sunnah kepada ulama ahlinya, maka tentu akan jelas perkaranya bagi mereka dan penyelesaian akan lebih kelihatan luas. Akan tetapi yang menghalangi itu adalah mencari kedudukan, ingin mendapatkan pendokong, serta manusia itu laksana sekelompok burung yang sebahagiannya mengikuti sebahagian lainnya. Sekiranya muncul seorang mengaku sebagai nabi -padahal mereka sedar bahawa Rasulullah adalah penutup para nabi- atau mengaku sebagai Tuhan, nescaya kita akan melihat ada yang menjadi pengikut dan pendokongnya." (Takwil Mukhtalafi Hadis, ms. 43)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di setiap masa kekosongan rasul, ulama-ulama yang tinggal mengajak menjauhi kesesatan kepada hidayah, bersabar menanggung gangguan. Mereka menghidupkan orang-orang mati dengan Kitabullah, menjadikan orang buta melihat dengan cahaya Allah. Sudah berapa banyak korban Iblis yang mereka selamatkan, berapa banyak orang sesat tak berharga yang memberi petunjuk.

Aduhai alangkah indah prestasi mereka untuk manusia tapi alangkah buruk balasan manusia kepada mereka. Mereka membersihkan Kitabullah dari perubahan orang-orang yang melampaui batas, muslihat ahli batil, dan takwil orang-orang yang jahil: Yakni orang-orang yang mengibarkan bendera bid’ah dan melepaskan ikatan fitnah. Mereka itu berselisih tentang Al-Quran, menyelisihi Al-Quran, dan bersepakat untuk meninggalkan Al-Quran. Mereka mengatakan terhadap Allah, tentang Allah, dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berbicara dengan ayat mutasyabih (samar-samar) dan menipu orang bodoh dengan kesamaran itu. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.” (Ar-Radd ‘Ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyah, ms. 6)

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhufairi berkata:

“Maka ulama rabbani sebagaimana yang disifatkan oleh Al-Ashbahani -ringkasnya- adalah orang-orang yang alim tentang syariat Islam, mengikuti Sunnah, dan beragama kepada Allah dengan Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salafus soleh.

Adapun ahli kalam, mereka itu bukan ulama semisal dengan mereka di zaman kita ini adala orang-orang yang mendapat gelaran cendikiawan muslim, pemikir, ahli waqi’ (realiti), atau politik. Maka bagaimana kita akan merasa aman terhadap agama dan aqidah kita di saat kita berpegang kepada orang yang seperti mereka itu atau kita membawa para pemuda dan orang-orang kepada mereka?

Kemudian orang yang mengetahui sejarah umat Islam sejak terbitnya fajar Islam, anak jelas kelihatan baginya bagaimana Allah menjaga agama-Nya setelah pemergian Nabi, ulama Ahli Sunnah dan Ahli Hadis.

Merekalah yang melakukan perjalanan dari satu negeri ke negari lainnya untuk mengumpulkan hadis Rasulullah kemudian membukukannya dalam lembaran-lembaran dengan berbagai-bagai ragam seperti Musnad, Majma’, Mushannaf, Sunan, Muwatto’, kitab-kitab Zawa’id, dan Mu’jam. Mereka menjaga hadis-hadis Rasulullah dari pemalsuan para pemalsu dan kebohongan dari para pembohong, membezakan antara yang sahih dengan yang cacat. Mereka meletakkan kaedah-kaedah hadis, yang dengannya dapat dibezakan antara hadis yang dapat diterima atau ditolak dan dengannya para perawi dapat dikenalpasti. Mereka tuliskan nama-nama orang yang tsiqah, dhaif, atau pemalsu. Mereka menukilkan pemerhatian para imam jarah wat ta’dil (cercaan dan pujian) tentang orang-orang itu. Bahkan mereka menyendirikan riwayat satu orang rawi; riwayat penduduk Syam, penduduk ‘Iraq, penduduk Hijaz, riwayat seseorang sebelum pemikirannya kacau dan sesuadahnya dan seterusnya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengetahui ilmu ini, pembahagian, jenis, dan kitab-kitab yang menuliskan tentangnya, tentu akan merasa kagum melihat betapa besar bantuan mereka terhadap hadis Nabi.

Mereka pulalah yang berdiri tegak menjelaskn aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan semua babnya, membantah ahli bid’ah dan penyimpang, memperingatan dari ahlul ahwa dan bid’ah, melarang duduk dan berbicara dengan mereka, tidak membalas salam mereka. Bahkan mereka melarang menikah dengannya sebagai penyandaran bagi dia dan orang-orang sepertinya. Mereka menulis karangan yang sangat banyak tentang ini (berkenaan sikap ahli sunnah terhadap ahli bid’ah).

Merekalah yang banyak bergerak mengumpulkan hadis-hadis dan atsar untuk mentafsirkan Al-Quran seperti Tafsir Abi Hatim, Ash-Shan’ani, An-Nasai. Dan diantara mereka ada yang mentafsirkan Al-Quran secara sempurna, seperti Tafsir At-Thabari, Ibn Katsir, dan lainnya. Mereka meletakkan kaedah-kaedah penafsiran Al-Quran, serta membezakan antara tafsir dengan atsar dan antara tafsir dengan rakyi (akal).

Merekalah yang menyusun kitab fiqh lantas menulis kesemua babnya, membahas permasalahannya, menjelaskan hukum syariat yang berhubungan dengan amalan disertai dalil-dalilnya dengan terperinci dari Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias. Mereka meletakkan kaedah-kaedah fiqh yang menggabungkan persoalan furu’ (cabang) yang banyak namun disatukan oleh satu ‘illah (sebab). Mereka meletakkan usul fiqh yang menjadi dasar penimbang hukum furu’ syariat.

Merekalah yang menulis tentang sirah, tarikh, adab, zuhud, pelembut hati, bahasa, nahu dan selainnya dalam bidang yang sangat banyak.

Ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun hanyalah mewariskan ilmu. Ulama Ahlus Sunnah telah mendapatkan jatah yang paling sempurna dari ilmu tersebut. Mereka mengumpulkan ilmu, menjelaskan agama kepada manusia, membela sunnah dan aqidah yang murni untuk umat. Mereka itu seperti Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai, Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, ‘Ali bin AlMadini, Yahya bin Sa’id Al-Qahthan, Asy-Syafi’i, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, ‘Abdurrahaman bin Mahdi, Ibn Khuzaimah, Ad-Daruqutni, Ibn Qudamah Al-Maqdisi, Ibn Abdil Barr, Al-Khatib Al-Baghdadi, dan banyak lagi.

Demikian juga orang-orang yang menelusuri jejak para ulama itu seperti Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah beserta murid-muridnya: Aibnul Qayyim, Adz-Dzahabi, dan Ibn ‘Abdil Hadi, yang telah mengarang banyak sekali kitab yang bermutu, membela aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, menerangkan agama Islam yang sahih disertai dalil-dalilnya yang tegas dan bukti memuaskan.

Sampai sekarang ni, para penuntut ilmu masih menuntut ilmu fiqh melalui kitab-kitab mereka ini dan mengambil darinya. Bahkan sekalipun dipelbagai universiti dan majlis ta’lim. Semuanya menjadikan karangan para ulama tersebut sebagai silibus pembelajaran.

Demikian pula orang-orang yang berjalan mengikuti manhaj mereka, seperti Mujaddid Dakwah Tauhid Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, anak-anak dan para ulama Najd, murid-muridnya beserta orang-orang yang menempuh jalan yang sama dari para ulama dunia Islam, seperti Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani, ulama India, ulama Mesir (Muhibuddin Al-Khatib, Ahmad Syakir, Muhammad Hamid Al-Faqi), ulama Sudan, Maghribi dan Syam. Semuanya bangkit menyebarkan hadis dan aqidah salafiyah di masing-masing negeri mereka...

Di antara ulama kotemporari kita -sebagai contoh, tidak meliputi kesemuanya-:

1 - Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Bekas Mufti Kerajaan Arab Saudi.
2 - syeikh Muhaddis Muhammad Nasiruddin Al-Albani.
3 - Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah ‘Alu Asy-Syaikh.
4 - Syeikh Shalih Al-Athram.
5 - Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
6 - Syeikh Shalih Al-Fauzan
7 - Syeikh Abdullah Al-Ghadayyan.
8 - Syeikh Al-Luhaidan.
9 - Syeikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
10 - Syeikh At-Tuwaijiri.
11 - Syeikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad.
12 - Syeikh Hammad Al-Anshari.
13 - Syeikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.
14 - Syeikh Muhammad Aman Al-Jami.
15 - Syeikh Ahmad Yahya An-Najmi.
16 - Syeikh Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.
17 - Syeikh Shalih As-Suhaimi.
18 - Syeikh Shalih Al-‘Abud, dan para ulama negeri Islam lainnya.

Kita memohon kepada Allah Dat yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri untuk selalu menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati yang telah meninggal, memberi kita taufiq agar dapat menempuh jalan mereka, serta mengumpulkan kita dan mereka bersama Nabi Muhammad contoh teladan kita di dalam Firdaus tertinggi.” (Dinukil dari ‘Hujah Atas Pengekor Hawa & Pengkhianat Sunnah, Asy-Syeikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zufairi, Pustaka Al-Haura, ms. 104-111. Judul Aslinya: Sillu As-Suyuf wa Al-Alsinah ‘ala Ahli Al-Ahwa wa Ad’iya As-Sunnah.)

Rabu, 29 Julai 2009

Berbahagia Orang Yang Sakit

“Sudah sebulan saya tak sakit-sakit.” “Eh, peliknya awak ni, orang lain semua nak sihat, awak pula nak sakit.” “Bukan apa, waktu kita sakit nilah Allah datangkan pengampunanNya.” “Habis tu awak nak sakit selalu ke?” “Taklah juga, awak tau tak nikmat sihat kita akan dapat rasakan apabila kita sembuh dari penyakit? Bahkan orang yang sakit dia akan mendapat pahala dan dihapuskan dosa-dosanya.” “Owh, first time plak aku dengar ni.”

Dialog di atas sepintas lalu saya gambarkan orang yang tahu hakikat sakit dan orang yang tak tahu hakikat sakit. Bukan bererti hendak minta penyakit. Tetapi orang yang tahu hakikat sakit, mereka mengetahui bahawa akan ada ganjaran disebalik penyakit yang menimpanya itu. Memanglah sakit ini kalau boleh semua orang tidak mahu terkena darinya. Semua orang kalau boleh hendak lari daripadanya. Akan tetapi tahukah kita setiap penyakit ada ubatnya?

Terdapat sebuah hadis di dalam sahih Bukhari, dari hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga menurunkan penawar (ubat) baginya.”

Di dalam sahih Muslim diriwayatkan dari hadis Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Setiap penyakit ada ubatnya. Jika suatu ubat penawar sesuai untuk penyakit (tersebut), maka ia akan sembuh dengan izin Allah.”

Pada hari ini ramai yang menyangka ada penyakit yang tidak ada ubatnya. Akan tetapi Nabi menjelaskan kepada kita bahawa setiap penyakit ada ubatnya. Sama ada penyakit yang lahir seperti selesema, batuk-batuk, demam panas, dan sebagainya mahupun penyakit batin seperti jahil, malas, cemburu, dengki dan sebagainya.

Biasanya orang kata mencegah lebih baik daripada mengubatinya. Betul apa yang dikatakan itu. Kadang-kadang kita hanya tahu mencari ubat, tetapi lupa untuk mencegahnya. Kalau kita ada komputer, bukankah lebih baik kalau ada anti-virus untuk mencegah dari terkena virus daripada sudah terkena baru hendak mencari anti-virus atau komputer akan diformat semula.

Kadang-kadang ada juga sebahagian orang bersungguh-sungguh ingin mencegah dan berjaga-jaga dari terkena apa-apa penyakit. Akan tetapi akhirnya dia terkena juga penyakit. Ketahuilah, penyakit merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Sebagaimana mati itu pasti, begitu juga penyakit itu pasti akan mengena pada siapa-siapa yang dikehendakiNya.

Firman Allah Ta’ala:

Maksudnya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)

Ibn ‘Abbas radiallahu ‘anhuma seorang sahabat yang terkenal dalam kehebatan ilmu tafsirnya menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Kami akan menguji kamu dengan kesulitan, kesenangan, kesihatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibn Jarir At-Thabari, no: 24588)

Firman Allah Ta’ala:

Maksudnya: “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang soleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Al-A’raaf: 168)

Ibn Jarir rahimahullah berkata: “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam kehudupan dan kelapangan rezeki. Ini bermaksud dengan kebaikan-kebaikan. Sedangkan yang buruk-buruk adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah dan sedikitnya harta, agar mereka kembali, iaitu kembali taat kepada Rabb, agar kembali kepada Allah dan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat yang mereka lakukan.” (Tafsir Ibn Katsir, 2/289)

Allah menciptakan makhluknya untuk memberikan cubaan dan ujian, lalu dengan kesenangan tersebut dia bersyukur manakala dengan kesusahan pula dia perlu tabah dan sabar. Demikian itu merupakan sifat orang yang beriman ketika dilanda kesenangan dan kesusahan. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Jika dia mendapat kegembiraan maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2999)

Ketahuilah dengan penyakit itu dosa akan dihapuskan. Setiap orang pasti bersalah. Manusia yang tiada kesalahan hanyalah Rasulullah dan Malaikat. Mereka ini maksum dari kesalahan dan dosa. Maka kesalahan dapat diangkat (dihapuskan) dengan datangnya kesakitan (penyakit).

Firman Allah Ta’ala:

Maksudnya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syuura: 30)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersama dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (Hadis riwayat Bukhari, no: 5660 dan Muslim no: 2571)

“Tidaklah seorang yang beriman merasa sakit terus-menerus, kepayahan, penyakit dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2573)

Selain orang yang ditimpa kesusahan atau penyakit mendapat keampunan dosa-dosanya, mereka juga akan mendapat pahala, bahkan diangkat derajatnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan: Inna lillahi wainna ilaihi Raaji`uun, Allahu’jurni fii musibati wa akhlif lii khairaa minha (Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya, Ya Allah, berikanlah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya) melainkan Allah memberikan pahala dalam musibahnya itu dan menggantikannya dengan yang lebih baik baginya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 918)

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya kerana itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2572)

Selain itu penyakit akan menyebabkan terselamat dari api neraka. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (Hadis riwayat Al-Bazzar, Silsilah al-Ahaadits as-Sahihah, no: 1821)

Bahkan tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci penyakit, kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah melawat orang yang sakit demam, lalu dia berkata: “Tidak ada berkat padanya.” Lalu Rasulullah bersabda:

“Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, kerana sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam (manusia) sebagaimana tunggul api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2575)

Maka oleh itu, sedarlah kita disaat kesihatan masih dibadan, janganlah melupakan Yang Maha Menciptakan. Janganlah kita lalai dari mengingatiNya, melakukan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya. Allah menurunkan musibah dan penyakit tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengingatkan kembali kepada kita nikmat sihat. Kemana kita pergunakan nikmat tersebut? Berapa banyakkah amalan yang telah kita lakukan diwaktu masih sihat?

Disaat hambaNya melupakanNya, maka Allah menurunkan penyakit, maka pada waktu itulah akan terasa kelemahan, kehinaan dan ketidakmampuannya sebagai seorang hamba, yang hanya mampu menikmati kesihatan percuma, yang tidak mampu memikul kesakitan. Sehingga mereka kembali kepada TuhanNya, maka Allah mengampunkanNya dengan kesabaran dan ketabahan yang dimilikinya. Ini juga merupakan antara hikmah disebalik penyakit yang dialami oleh seseorang. Ubatnya adalah hendaklah dia kembali kepada TuhanNya dan jangan melalaikanNya.


Demikian peringatan yang ringkas bagi kita semua kerana kita semua tidak terlepas dari ancaman berbagai-bagai penyakit. Maka kita perlu mengambil kesedaran ini untuk menyucikan hati darinya kerana keadaan sihat boleh mengundang sikap sombong, bangga, dengki dan lain-lain. Dengan datangnya penyakit pada dirinya, maka dirinya kembali menjadi lembut, sifat-sifat sombong, bangga dan dengki juga akan hilang darinya serta dia akan meneruskan kegiatan-kegiatan yang berfaedah daripada melakukan kegiatan yang merugikan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Hati dan roh dapat mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak dapat dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan roh bergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.”

Beliau berkata lagi: “Kalau bukan kerana cubaan dan musibah dunia, nescaya manusia terkena penyakit kesombongan, ujub (bangga diri) dan keras hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia mahupun di akhirat. Di antara rahmat Allah, kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga kebersihan ‘ubudiyahnya. Maha suci Allah Yang Merahmati manusia dengan musibah dan ujian.” (Ibid)

Sekiranya kita ditimpa penyakit, maka hendaklah kita mencari ubat sebagaimana sabda Rasulullah “Setiap penyakit ada ubatnya.” Akan tetapi ada dua perkara yang penting perlu diberi perhatian:

1 – Ubat tersebut hanya sebagai sarana kesembuhan dan begitu juga dengan doktor yang mengubatinya. Yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah Ta’ala.

2 – Ikhtiar tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang haram dan syirik seperti yang dibuat oleh bomoh-bomoh dan sebagainya, begitu juga tidak boleh berubat menggunakan ubat yang terlarang atau barang-barang yang haram. Ini kerana Allah tidak menjadikan penyembuhan dari cara dan barang yang haram.

Wallahua'laam

𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻

Tulisan: Su Han Wen Shu Sumber: Facebook   𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻 ...