Thursday, July 30, 2009

Siapakah ulama yang benar-benar menjaga agama ini?

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az-Zumar: 9)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui." (Al-Anbiya': 7)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Allah menyatakan bahawasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyetakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali-Imran: 18)

Demikianlah kedudukan ulama diangkat, mereka merupakan orang-orang yang paling takut diantara manusia, mereka merupakan tempat pertanyaan bagi orang yang tidak mengetahui dan merekalah orang-orang yang mengenali Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, dan perbuatanNya sehingga membuat mereka paling takut dengan Allah.

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah kerana kurnia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan kecuali sebahagian kecil sahaja (di antara kamu)." (An-Nisa': 83)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadalah: 11)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114)

Imam Ibn Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata:

"Jelas maksudnya menunjukkan keutamaan ilmu, sebab Allah tidaklah memerintahkan NabiNya untuk meminta tambahan apa-apa selain ilmu. Yang dimaksudkan dengan ilmu di sini ialah ilmu syar'i yang berguna untuk memperlihatkan apa yang wajib bagi seorang mukallaf berupa perintah agama dalam ibadah dan muamalatnya, serta ilmu tentang Allah dan sifatNya, juga apa yang wajib ditegakkannya berupa perintah dan mensucikanNya dari kekurangan. Itu semua berasaskan pada tafsir, hadis dan fiqh." (Fathul Bari 1/141)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam berkata:

"Siapa yang Allah kehendaki baginya kebajikan maka Dia akan membuatnya faqih (mahir) tentang agama. Saya hanyalah Qasim (pembagi), Allah yang memberi. Serta senantiasa ada dari umat ini orang-orang yang tegak di atas perintah Allah tanpa memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah." (Hadis riwayat Bukhari)

Imam Ibn Hajar rahimahullah berkata:

"Telah dipastikan bahawa mereka yang dimaksudkan ialah ulama atsar. Imam Ahmad berkata: Kalau mereka itu bukan ahli hadis, maka saya tidak tahu lagi siapa mereka." (Fathul Baari 1/164)

Beliau rahimahullah berkata lagi:

"Pemahaman yang dapat diambil dari hadis ini: Sesungguhnya siapa yang tidak faqih tentang agama Islam, ertinya tidak mempelajari asas-asas Islam dan cabang-cabangnya, maka dia telah diharamkan dari kebajikan. Abu Ya'la telah mengeluarkan hadis Mu'awiyah dari jalur lain yang dhaif (lemah), di mana dia tambahkan pada akhirnya:

"...Sedangkan sesiapa yang tidak mahu memahirkan di dalam agama, maka Allah tidak mempedulikannya."

Namun, maknanya benar kerana orang yang tidak mengetahui urusan agama bererti tidak faqih dan tidak pula mempelajari fiqh, maka benarlah jika dikatakan bahawa dia tidak dikehendaki mendapatkan kebajikan. Di sini ada penjelasan yang jelas tentang keutamaan tafaquh fiddin (memahirkan di dalam agama) di atas seluruh ilmu lainnya." (Fathul Baari 1/165)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dihadapkan Nuh pada hari kiamat. Maka baginda ditanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (tugas kerasulan)?' Beliau menjawab: 'Ya wahai Tuhanku.' Lalu umatnya ditanya: 'Adakah dia telah menyampaikan kepada kalian?' Mereka menjawab: 'Tidak ada seorang pun pemberi peringatan yang datang kepada kami.' Maka dikatakan kepada Nuh: 'Siapakah saksimu?' (Nabi Nuh) menjawab: 'Muhammad dan umatnya.' Maka kalianpun dihadapkan dan memberikan persaksian.

Kemudian Rasulullah membaca:

Maksudnya: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang wasath (pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu." (Al-Baqarah: 143) (Hadis riwayat Bukhari)

Imam Ibn Hajar rahimahullah berkata:

"Al-Wasath ialah adil, sebagaimana telah lalu dalam tafsir surah Al-Baqarah. Kesimpulan isi ayat ini adalah penyebutan tentang nikmat pemberian hidayah dan keadilan. Adapun ucapannya 'dan apa yang diperintahkan...' kesesuaiannya dengan hadis tema ini tidak jelas. Sepertinya dari sudut sifat tersebut, yakni keadilan. Sebab ia meliputi semuanya berdasarkan zahir penyempaian yang mengisyaratkan bahawa ia merupakan sebuah keumuman yang diinginkan dengannya sesuatu yang khusus atau keumuman yang dikhususkan. Kerana orang jahil tidak termasuk orang-orang yang adil, tidak pula sebagai ahli bid'ah. Maka ketahuilah bahawa yang dimaksukan dengan sifat tersebut adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Merekalah ahli ilmu syar'i." (Fathul Baari 16/133)

Wahb bin Munabbih berkata: "Seorang faqih yang menjaga kesucian, zuhud dan komitmen kepada sunnah itulah pengikut para nabi di setiap zaman." (Al-Ibanah, Ibn Baththah, 1/201)

Sufyan bin 'Uyainah berkata: "Manusia yang paling utama kedudukannya di hari kiamat adalah yang menjadi perantara Allah dengan makhluknya." Maksudnya Rasulullah dan ulama. (Ibid 1/202)

Salamah bin Sa'id berkata: "Dahulu dikatakan ulama itu penerang semua zaman. Setiap ulama adalah lampu bagi zamannya. Penduduk masa itu mengambil cahaya dari dirinya. Dikatakan juga: Ulama menghapus tipu daya syaitan." (Ibid 1/203)

Imam Ibn Baththah Al-'Akbari berkata:

"Semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang yang menghidupkan kebenaran dan sunnah serta mematikan kebatilan dan bid'ah, di mana penduduk masa itu mengambil cahaya dari pancaran ilmunya, serta dia mampu menguatkan hati para saudaranya yang beriman." (Ibid)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram." (Ali-Imran: 106)

Ibn 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata:

"Orang-orang yang putih berseri mukanya ialah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ulama, sedangkan orang-orang yang hitam muram wajahnya adalah ahli bid'ah dan dholal (kesesatan)." (Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah, Imam Al-Lalika'i 1/71)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu." (An-Nisa: 59)

Ibn 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata tentang firman Allah '...dan ulil amri di antara kamu.':

"Yakni ahli fiqh, ahli dalam agama Islam dan orang-orang yang taat kepada Allah, orang-orang yang mengajarkan makna-makna agama kepada manusia, beramar makruf dan nahi mungkar, maka Allah mewajibkan para hamba untuk mentaati mereka." (Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah 1/73)

Ketahuilah sesungguhnya kebajikan dan kebahagiaan bergantung pada keberadaan ulama. Jika ulama-ulama telah pergi, maka akan tersebarlah kejahilan dan musibah. Maka akan berlakulah orang-orang jahil menjadi pemimpin kepada masyarakat yang jahil. Mereka ini sesat lagi menyesatkan.

Umar bin 'Abdul 'Aziz menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm:

"Lihatlah mana hadis rasulullah kemudian tulislah, kerana sesungguhnya saya bimbang hilangnya ilmu dan perginya ulama. Janganlah engkau menerima selain hadis Nabi dan sebarkanlah ilmu. Duduklah sehingga orang yang tidak tahu menjadi tahu, kerana sesungguhnya ilmu tidaklah terhapus sehingga ia (sebelumnya) berupa sesuatu yang rahsia." (Fathul Baari 1/194)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan begitu sahaja dari para hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama. Sehingga ketikamana tidak tersisa lagi seorang alim, maka orang-orang pun mengambil orang-orang jahil sebagai pemimpin. Mereka ditanya lalu mereka memberi fatwa. Mereka sesat lagi menyesatkan." (Hadis riwayat Bukhari)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Bagaimana kalian ketika kalian telah diselimuti dengan fitnah, yang di dalamnya orang dewasa hidup menjadi renta dan anak-anak hidup menjadi dewasa, sehingga manusia menjadikannya sebagai adat kebiasaan yang apabila diubah, maka mereka mengatakan: 'Adat diubah!' Orang-orang bertanya: 'Bilakah hal itu akan terjadi, wahai Abu Abdirrahman (gelaran Ibn Mas'ud)?" Ibn Mas'ud menjawab: 'Di saat semakin banyak para pembaca Al-Quran akan tetapi sedikit yang memahami, banyak pemimpin dan sedikit anak-anak kalian, lantas kalian mencari dunia dengan amalan akhirat." (Riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, ms. 453)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Wahai hamba Allah, apakah kalian tahu bagaimana Islam itu berkurang dari manusia? Mereka menjawab: 'Ya, sebagaimana lemak binatang ternak berkurangan, sebagaimana lunturnya warna pakaian dan sebagaimana duit menjadi hitam kerana lama disimpan.' Beliau berkata: 'Ini di antaranya. Namun lebih dari itu ialah pemergian ulama. Di suatu kawasan terdapat dua alim, satu meninggal maka hilanglah setengah ilmu mereka dan satu lagi meninggal maka hilanglah seluruh ilmu mereka. Pemergian ulama merupakan pemergian ilmu." (Ibid, ms. 454)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Tidak datang kepada kalian satu hari yang baru melainkan ia lebih buruk daripada hari sebelumnya, begitulah sampai tegak hari kiamat. Saya tidak memaksudkan kemewahan hidup yang dimilikinya atau harta yang bernilai baginya. Akan tetapi, tidaklah datang kepada kalian hari yang baru melainkan hari itu lebih sedikit ilmunya daripada hari sebelumnya. Kalau ulama telah pergi maka manusiapun duduk terdiam, mereka tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Ketika itulah mereka binasa."

Dari jalur Asy-Sya'bi, Ibn Mas'ud berkata: "Tidak datang kepada kalian masa yang baru melainkan dia lebih buruk daripada sebelumnya. Saya tidak maksudkan seorang pemimpin yang lebih baik dari pemimpin lainnya atau satu tahun yang lebih baik dari tahun lainnya. Akan tetapi ulama dan fuqaha kalian pergi lalu kalian tidak lagi mendapatkan pengganti mereka. Kemudian datanglah suatu kaum yang berfatwa dengan akal mereka semata-mata."

Dalam lafaz lain: "Itu bukanlah tentang banyaknya melimpah hujan atau sedikitnya, akan tetapi tentang pemergian ulama. Kemudian muncullah suatu kaum yang memberikan fatwa dalam semua perkara dengan akal mereka, sehingga dia merosakkan Islam dan merobohkannya." (Fathul Baari 13/21)

Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Bagaimana engkau kalau engkau tetap hidup sampai suatu zaman yang saat itu engkau menyaksikan suatu kaum yang tidak dapat membezakan antara kebenaran dengan kebatilan, tidak juga antara seorang yang beriman dengan yang kafir, tidak juga antara jahil dengan yang alim, tidak mengenal perkara makruf dan tidak mengenal yang mungkar."

Ibn Baththah memberi komentar di atas:

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Hal itu telah sampai kepada kita dan kita telah mendengarkannya, kita telah mengetahui kebanyakannya dan menyaksikannya. Andaikata seseorang yang telah Allah berikan baginya akal sihat dan pandangan tajam menatap dengan teliti, memikirkan baik-baik keadaan Islam dan umatnya, menilai umat berdasarkan metodologi yang lurus, maka tentu akan menjadi jelas baginya bahawa kebanyakan manusia telah berpaling dan menyimpang dari jalan yang terang dan hujjah yang benar.

Banyak manusia pada waktu ini telah berubah dengan memandang baik apa yang dahulu mereka pandang buruk, mereka menghalalkan apa yang dulunya mereka memandang haram, serta mereka telahpun mahu menerima apa yang tadinya mereka ingkari.

Ini -semoga Allah merahmatimu- bukanlah akhlak kaum muslimin dan bukan pula tindakan mereka yang benar-benar mengatahui agama Islam ini, serta mereka bukanlah ahli Iman dan yakin akan Islam." (Al-Ibanah 1/188)

Kita lihat apa yang dikatakan oleh Al-Imam Ibn Baththah Al-'Akbari terhadap apa yang dikatakan oleh Fudhail bin 'Iyadh radhiallahu 'anhu, iaitu di waktu itu telah pun berlaku manusia yang tidak dapat membezakan yang mana baik dan buruknya, yang mana benar dan batilnya, yang mana iman dan yang mana kufurnya dan begitulah seterusnya padahal Ibn Baththah berada di abad yang keempat. Bagaimana pula jika kita ukur dengan waktu kita pada hari ini? Sudah tentu lebih jauh hebat kejahilan yang dihadapi pada hari ini. Sungguh pada hari ini ramainya kelompok-kelompok Islam yang cuba menisbahkan diri mereka dengan kebenaran akan tetapi mereka yang sebenarnya jauh dari kebenaran.

Ibn Qutaibah rahimahullah berkata:

"Andaikata mereka mengembalikan apa yang tidak jelas dari Al-Quran dan As-Sunnah kepada ulama ahlinya, maka tentu akan jelas perkaranya bagi mereka dan penyelesaian akan lebih kelihatan luas. Akan tetapi yang menghalangi itu adalah mencari kedudukan, ingin mendapatkan pendokong, serta manusia itu laksana sekelompok burung yang sebahagiannya mengikuti sebahagian lainnya. Sekiranya muncul seorang mengaku sebagai nabi -padahal mereka sedar bahawa Rasulullah adalah penutup para nabi- atau mengaku sebagai Tuhan, nescaya kita akan melihat ada yang menjadi pengikut dan pendokongnya." (Takwil Mukhtalafi Hadis, ms. 43)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di setiap masa kekosongan rasul, ulama-ulama yang tinggal mengajak menjauhi kesesatan kepada hidayah, bersabar menanggung gangguan. Mereka menghidupkan orang-orang mati dengan Kitabullah, menjadikan orang buta melihat dengan cahaya Allah. Sudah berapa banyak korban Iblis yang mereka selamatkan, berapa banyak orang sesat tak berharga yang memberi petunjuk.

Aduhai alangkah indah prestasi mereka untuk manusia tapi alangkah buruk balasan manusia kepada mereka. Mereka membersihkan Kitabullah dari perubahan orang-orang yang melampaui batas, muslihat ahli batil, dan takwil orang-orang yang jahil: Yakni orang-orang yang mengibarkan bendera bid’ah dan melepaskan ikatan fitnah. Mereka itu berselisih tentang Al-Quran, menyelisihi Al-Quran, dan bersepakat untuk meninggalkan Al-Quran. Mereka mengatakan terhadap Allah, tentang Allah, dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berbicara dengan ayat mutasyabih (samar-samar) dan menipu orang bodoh dengan kesamaran itu. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.” (Ar-Radd ‘Ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyah, ms. 6)

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhufairi berkata:

“Maka ulama rabbani sebagaimana yang disifatkan oleh Al-Ashbahani -ringkasnya- adalah orang-orang yang alim tentang syariat Islam, mengikuti Sunnah, dan beragama kepada Allah dengan Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salafus soleh.

Adapun ahli kalam, mereka itu bukan ulama semisal dengan mereka di zaman kita ini adala orang-orang yang mendapat gelaran cendikiawan muslim, pemikir, ahli waqi’ (realiti), atau politik. Maka bagaimana kita akan merasa aman terhadap agama dan aqidah kita di saat kita berpegang kepada orang yang seperti mereka itu atau kita membawa para pemuda dan orang-orang kepada mereka?

Kemudian orang yang mengetahui sejarah umat Islam sejak terbitnya fajar Islam, anak jelas kelihatan baginya bagaimana Allah menjaga agama-Nya setelah pemergian Nabi, ulama Ahli Sunnah dan Ahli Hadis.

Merekalah yang melakukan perjalanan dari satu negeri ke negari lainnya untuk mengumpulkan hadis Rasulullah kemudian membukukannya dalam lembaran-lembaran dengan berbagai-bagai ragam seperti Musnad, Majma’, Mushannaf, Sunan, Muwatto’, kitab-kitab Zawa’id, dan Mu’jam. Mereka menjaga hadis-hadis Rasulullah dari pemalsuan para pemalsu dan kebohongan dari para pembohong, membezakan antara yang sahih dengan yang cacat. Mereka meletakkan kaedah-kaedah hadis, yang dengannya dapat dibezakan antara hadis yang dapat diterima atau ditolak dan dengannya para perawi dapat dikenalpasti. Mereka tuliskan nama-nama orang yang tsiqah, dhaif, atau pemalsu. Mereka menukilkan pemerhatian para imam jarah wat ta’dil (cercaan dan pujian) tentang orang-orang itu. Bahkan mereka menyendirikan riwayat satu orang rawi; riwayat penduduk Syam, penduduk ‘Iraq, penduduk Hijaz, riwayat seseorang sebelum pemikirannya kacau dan sesuadahnya dan seterusnya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengetahui ilmu ini, pembahagian, jenis, dan kitab-kitab yang menuliskan tentangnya, tentu akan merasa kagum melihat betapa besar bantuan mereka terhadap hadis Nabi.

Mereka pulalah yang berdiri tegak menjelaskn aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan semua babnya, membantah ahli bid’ah dan penyimpang, memperingatan dari ahlul ahwa dan bid’ah, melarang duduk dan berbicara dengan mereka, tidak membalas salam mereka. Bahkan mereka melarang menikah dengannya sebagai penyandaran bagi dia dan orang-orang sepertinya. Mereka menulis karangan yang sangat banyak tentang ini (berkenaan sikap ahli sunnah terhadap ahli bid’ah).

Merekalah yang banyak bergerak mengumpulkan hadis-hadis dan atsar untuk mentafsirkan Al-Quran seperti Tafsir Abi Hatim, Ash-Shan’ani, An-Nasai. Dan diantara mereka ada yang mentafsirkan Al-Quran secara sempurna, seperti Tafsir At-Thabari, Ibn Katsir, dan lainnya. Mereka meletakkan kaedah-kaedah penafsiran Al-Quran, serta membezakan antara tafsir dengan atsar dan antara tafsir dengan rakyi (akal).

Merekalah yang menyusun kitab fiqh lantas menulis kesemua babnya, membahas permasalahannya, menjelaskan hukum syariat yang berhubungan dengan amalan disertai dalil-dalilnya dengan terperinci dari Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias. Mereka meletakkan kaedah-kaedah fiqh yang menggabungkan persoalan furu’ (cabang) yang banyak namun disatukan oleh satu ‘illah (sebab). Mereka meletakkan usul fiqh yang menjadi dasar penimbang hukum furu’ syariat.

Merekalah yang menulis tentang sirah, tarikh, adab, zuhud, pelembut hati, bahasa, nahu dan selainnya dalam bidang yang sangat banyak.

Ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun hanyalah mewariskan ilmu. Ulama Ahlus Sunnah telah mendapatkan jatah yang paling sempurna dari ilmu tersebut. Mereka mengumpulkan ilmu, menjelaskan agama kepada manusia, membela sunnah dan aqidah yang murni untuk umat. Mereka itu seperti Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai, Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, ‘Ali bin AlMadini, Yahya bin Sa’id Al-Qahthan, Asy-Syafi’i, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, ‘Abdurrahaman bin Mahdi, Ibn Khuzaimah, Ad-Daruqutni, Ibn Qudamah Al-Maqdisi, Ibn Abdil Barr, Al-Khatib Al-Baghdadi, dan banyak lagi.

Demikian juga orang-orang yang menelusuri jejak para ulama itu seperti Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah beserta murid-muridnya: Aibnul Qayyim, Adz-Dzahabi, dan Ibn ‘Abdil Hadi, yang telah mengarang banyak sekali kitab yang bermutu, membela aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, menerangkan agama Islam yang sahih disertai dalil-dalilnya yang tegas dan bukti memuaskan.

Sampai sekarang ni, para penuntut ilmu masih menuntut ilmu fiqh melalui kitab-kitab mereka ini dan mengambil darinya. Bahkan sekalipun dipelbagai universiti dan majlis ta’lim. Semuanya menjadikan karangan para ulama tersebut sebagai silibus pembelajaran.

Demikian pula orang-orang yang berjalan mengikuti manhaj mereka, seperti Mujaddid Dakwah Tauhid Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, anak-anak dan para ulama Najd, murid-muridnya beserta orang-orang yang menempuh jalan yang sama dari para ulama dunia Islam, seperti Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani, ulama India, ulama Mesir (Muhibuddin Al-Khatib, Ahmad Syakir, Muhammad Hamid Al-Faqi), ulama Sudan, Maghribi dan Syam. Semuanya bangkit menyebarkan hadis dan aqidah salafiyah di masing-masing negeri mereka...

Di antara ulama kotemporari kita -sebagai contoh, tidak meliputi kesemuanya-:

1 - Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Bekas Mufti Kerajaan Arab Saudi.
2 - syeikh Muhaddis Muhammad Nasiruddin Al-Albani.
3 - Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah ‘Alu Asy-Syaikh.
4 - Syeikh Shalih Al-Athram.
5 - Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
6 - Syeikh Shalih Al-Fauzan
7 - Syeikh Abdullah Al-Ghadayyan.
8 - Syeikh Al-Luhaidan.
9 - Syeikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
10 - Syeikh At-Tuwaijiri.
11 - Syeikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad.
12 - Syeikh Hammad Al-Anshari.
13 - Syeikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.
14 - Syeikh Muhammad Aman Al-Jami.
15 - Syeikh Ahmad Yahya An-Najmi.
16 - Syeikh Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.
17 - Syeikh Shalih As-Suhaimi.
18 - Syeikh Shalih Al-‘Abud, dan para ulama negeri Islam lainnya.

Kita memohon kepada Allah Dat yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri untuk selalu menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati yang telah meninggal, memberi kita taufiq agar dapat menempuh jalan mereka, serta mengumpulkan kita dan mereka bersama Nabi Muhammad contoh teladan kita di dalam Firdaus tertinggi.” (Dinukil dari ‘Hujah Atas Pengekor Hawa & Pengkhianat Sunnah, Asy-Syeikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zufairi, Pustaka Al-Haura, ms. 104-111. Judul Aslinya: Sillu As-Suyuf wa Al-Alsinah ‘ala Ahli Al-Ahwa wa Ad’iya As-Sunnah.)

Wednesday, July 29, 2009

Berbahagia Orang Yang Sakit

“Sudah sebulan saya tak sakit-sakit.” “Eh, peliknya awak ni, orang lain semua nak sihat, awak pula nak sakit.” “Bukan apa, waktu kita sakit nilah Allah datangkan pengampunanNya.” “Habis tu awak nak sakit selalu ke?” “Taklah juga, awak tau tak nikmat sihat kita akan dapat rasakan apabila kita sembuh dari penyakit? Bahkan orang yang sakit dia akan mendapat pahala dan dihapuskan dosa-dosanya.” “Owh, first time plak aku dengar ni.”

Dialog di atas sepintas lalu saya gambarkan orang yang tahu hakikat sakit dan orang yang tak tahu hakikat sakit. Bukan bererti hendak minta penyakit. Tetapi orang yang tahu hakikat sakit, mereka mengetahui bahawa akan ada ganjaran disebalik penyakit yang menimpanya itu. Memanglah sakit ini kalau boleh semua orang tidak mahu terkena darinya. Semua orang kalau boleh hendak lari daripadanya. Akan tetapi tahukah kita setiap penyakit ada ubatnya?

Terdapat sebuah hadis di dalam sahih Bukhari, dari hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga menurunkan penawar (ubat) baginya.”

Di dalam sahih Muslim diriwayatkan dari hadis Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Setiap penyakit ada ubatnya. Jika suatu ubat penawar sesuai untuk penyakit (tersebut), maka ia akan sembuh dengan izin Allah.”

Pada hari ini ramai yang menyangka ada penyakit yang tidak ada ubatnya. Akan tetapi Nabi menjelaskan kepada kita bahawa setiap penyakit ada ubatnya. Sama ada penyakit yang lahir seperti selesema, batuk-batuk, demam panas, dan sebagainya mahupun penyakit batin seperti jahil, malas, cemburu, dengki dan sebagainya.

Biasanya orang kata mencegah lebih baik daripada mengubatinya. Betul apa yang dikatakan itu. Kadang-kadang kita hanya tahu mencari ubat, tetapi lupa untuk mencegahnya. Kalau kita ada komputer, bukankah lebih baik kalau ada anti-virus untuk mencegah dari terkena virus daripada sudah terkena baru hendak mencari anti-virus atau komputer akan diformat semula.

Kadang-kadang ada juga sebahagian orang bersungguh-sungguh ingin mencegah dan berjaga-jaga dari terkena apa-apa penyakit. Akan tetapi akhirnya dia terkena juga penyakit. Ketahuilah, penyakit merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Sebagaimana mati itu pasti, begitu juga penyakit itu pasti akan mengena pada siapa-siapa yang dikehendakiNya.

Firman Allah Ta’ala:

Maksudnya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)

Ibn ‘Abbas radiallahu ‘anhuma seorang sahabat yang terkenal dalam kehebatan ilmu tafsirnya menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Kami akan menguji kamu dengan kesulitan, kesenangan, kesihatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibn Jarir At-Thabari, no: 24588)

Firman Allah Ta’ala:

Maksudnya: “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang soleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Al-A’raaf: 168)

Ibn Jarir rahimahullah berkata: “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam kehudupan dan kelapangan rezeki. Ini bermaksud dengan kebaikan-kebaikan. Sedangkan yang buruk-buruk adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah dan sedikitnya harta, agar mereka kembali, iaitu kembali taat kepada Rabb, agar kembali kepada Allah dan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat yang mereka lakukan.” (Tafsir Ibn Katsir, 2/289)

Allah menciptakan makhluknya untuk memberikan cubaan dan ujian, lalu dengan kesenangan tersebut dia bersyukur manakala dengan kesusahan pula dia perlu tabah dan sabar. Demikian itu merupakan sifat orang yang beriman ketika dilanda kesenangan dan kesusahan. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Jika dia mendapat kegembiraan maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2999)

Ketahuilah dengan penyakit itu dosa akan dihapuskan. Setiap orang pasti bersalah. Manusia yang tiada kesalahan hanyalah Rasulullah dan Malaikat. Mereka ini maksum dari kesalahan dan dosa. Maka kesalahan dapat diangkat (dihapuskan) dengan datangnya kesakitan (penyakit).

Firman Allah Ta’ala:

Maksudnya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syuura: 30)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersama dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (Hadis riwayat Bukhari, no: 5660 dan Muslim no: 2571)

“Tidaklah seorang yang beriman merasa sakit terus-menerus, kepayahan, penyakit dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2573)

Selain orang yang ditimpa kesusahan atau penyakit mendapat keampunan dosa-dosanya, mereka juga akan mendapat pahala, bahkan diangkat derajatnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan: Inna lillahi wainna ilaihi Raaji`uun, Allahu’jurni fii musibati wa akhlif lii khairaa minha (Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya, Ya Allah, berikanlah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya) melainkan Allah memberikan pahala dalam musibahnya itu dan menggantikannya dengan yang lebih baik baginya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 918)

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya kerana itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2572)

Selain itu penyakit akan menyebabkan terselamat dari api neraka. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (Hadis riwayat Al-Bazzar, Silsilah al-Ahaadits as-Sahihah, no: 1821)

Bahkan tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci penyakit, kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah melawat orang yang sakit demam, lalu dia berkata: “Tidak ada berkat padanya.” Lalu Rasulullah bersabda:

“Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, kerana sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam (manusia) sebagaimana tunggul api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2575)

Maka oleh itu, sedarlah kita disaat kesihatan masih dibadan, janganlah melupakan Yang Maha Menciptakan. Janganlah kita lalai dari mengingatiNya, melakukan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya. Allah menurunkan musibah dan penyakit tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengingatkan kembali kepada kita nikmat sihat. Kemana kita pergunakan nikmat tersebut? Berapa banyakkah amalan yang telah kita lakukan diwaktu masih sihat?

Disaat hambaNya melupakanNya, maka Allah menurunkan penyakit, maka pada waktu itulah akan terasa kelemahan, kehinaan dan ketidakmampuannya sebagai seorang hamba, yang hanya mampu menikmati kesihatan percuma, yang tidak mampu memikul kesakitan. Sehingga mereka kembali kepada TuhanNya, maka Allah mengampunkanNya dengan kesabaran dan ketabahan yang dimilikinya. Ini juga merupakan antara hikmah disebalik penyakit yang dialami oleh seseorang. Ubatnya adalah hendaklah dia kembali kepada TuhanNya dan jangan melalaikanNya.


Demikian peringatan yang ringkas bagi kita semua kerana kita semua tidak terlepas dari ancaman berbagai-bagai penyakit. Maka kita perlu mengambil kesedaran ini untuk menyucikan hati darinya kerana keadaan sihat boleh mengundang sikap sombong, bangga, dengki dan lain-lain. Dengan datangnya penyakit pada dirinya, maka dirinya kembali menjadi lembut, sifat-sifat sombong, bangga dan dengki juga akan hilang darinya serta dia akan meneruskan kegiatan-kegiatan yang berfaedah daripada melakukan kegiatan yang merugikan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Hati dan roh dapat mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak dapat dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan roh bergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.”

Beliau berkata lagi: “Kalau bukan kerana cubaan dan musibah dunia, nescaya manusia terkena penyakit kesombongan, ujub (bangga diri) dan keras hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia mahupun di akhirat. Di antara rahmat Allah, kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga kebersihan ‘ubudiyahnya. Maha suci Allah Yang Merahmati manusia dengan musibah dan ujian.” (Ibid)

Sekiranya kita ditimpa penyakit, maka hendaklah kita mencari ubat sebagaimana sabda Rasulullah “Setiap penyakit ada ubatnya.” Akan tetapi ada dua perkara yang penting perlu diberi perhatian:

1 – Ubat tersebut hanya sebagai sarana kesembuhan dan begitu juga dengan doktor yang mengubatinya. Yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah Ta’ala.

2 – Ikhtiar tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang haram dan syirik seperti yang dibuat oleh bomoh-bomoh dan sebagainya, begitu juga tidak boleh berubat menggunakan ubat yang terlarang atau barang-barang yang haram. Ini kerana Allah tidak menjadikan penyembuhan dari cara dan barang yang haram.

Wallahua'laam

Thursday, July 23, 2009

FATWA-FATWA ULAMA BERKENAAN MENJATUHKAN PEMERINTAH

1. Fatwa Samahatus Syeikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baaz

Soalan 1:


Samahat al-Syeikh, ada yang berpendapat bahawa perbuatan sesetengah pemimpin melakukan maksiat dan dosa besar, mewajibkan kita berusaha untuk menjatuhkannya dan melakukan reformasi walaupun perbuatan akan membawa mudarat kepada orang Islam dalam negeri tersebut. Peristiwa yang dialami oleh Negara-neraga Islam cukup banyak, apa pendapat syeikh?

Jawapan:

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam, serta selawat Allah ke atas Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, keluarganya dan sahabat-sahabat serta mereka yang mengikuti hidayahnya.

Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Maksudnya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Surah an-Nisa': 59)

Ayat ini mewajibkan taat kepada pemimpin yang meliputi para umara dam ulama. Dalam satu hadis, Nabi sallallahu 'alaihi wasallam menegaskan bahawa ketaatan ini merupakan sesuatu yang wajib, dan menjadi fardu dalam perkara-perkara yang makruf.

Nas daripada as-Sunnah menerangkan makna dan menyokong ayat tersebut bahawa yang dimaksudkan dengan taat itu ialah ketaatan mereka pada perkara yang makruf. Maka wajib bagi umat Islam taat pada pemimpin mereka dalam perkara yang makruf, dan bukan pada perkara maksiat. Apabila pemimpin menyuruh melakukan maksiat, mereka tidak boleh ditaati, tetapi tidak harus menderhakai atau cuba menggulingkan mereka berdasarkan sabda Nabi sallallahu 'alaihi wasallam:

ألا مَنْ وَلِيَ عليهِ وَالٍ ، فرآهُ يَأْتي شَيئا مِنْ مَعصيةِ اللهِ ، فليكره ما يأتي من معصية الله، ولا يَنْزِعَنَّ يَدا من طَاعَةٍ

Maksudnya: "Barang siapa yang diperintahkan oleh seorang pemerintah, kemudian ia melihatnya melakukan maksiat kepada Allah Ta'ala, hendaklah ia membenci perkara maksiat tersebut, tetapi tidak boleh mencabut ketaatannya kepada pemimpin tadi." (Hadis riwayat Muslim)

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Maksudnya: "Barang siapa yang keluar daripada ketaatan, serta berpisah daripada jemaah, lalu ia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliah." (Hadis riwayat Muslim)

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Maksudnya: "Wajib ke atas seseorang itu, dengar dan taat apa yang dia suka ataupun benci, kecuali apabila dia diarah melakukan maksiat. Pada ketika itu tidak perlulah ia dengar dan taat." (Hadis riwayat Muslim)

Para sahabat pernah bertanya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, apabila baginda menyebut tentang terdapat segolongan pemerintah yang kamu mendapat kebaikan dan kemungkaran daripada mereka. "Apa yang patut kami lakukan?" Baginda bersabda:

أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

Maksudnya: "Tunaikanlah hak mereka, dan pohonkanlah kepada Allah hak kamu." (Hadis riwayat Bukhari)

Ubadah bin al-Samit berkata: "Kami berbaiah kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam untuk memberi ketaatan dalam keadaan kami suka atau benci, dalam keadaan susah dan senang, kami akan mengutamakan Rasulullah ke atas diri kami sendiri dan kami tidak merampas hak pemerintah." Kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kecuali jika kamu dapati kekafiran yang jelas, yang ada dalil dan bukti daripada Allah Ta'ala."

Ini merupakan dalil bahawa tidak harus menderhakai pemerintahan serta cuba menjatuhkan mereka, kecuali jika terhadap kekurufan yang nyata yang terdapat dalil daripada Allah Ta'ala. Ini kerana cubaan untuk menjatuhkan seseorang pemimpin boleh menyebabkan kerosakan yang besar serta keburukan yang dapat menggugat keamanan serta mengabaikan kewajipan. Pada ketika itu tiada orang dapat menghalang kezaliman dan membantu mereka yang dizalimi, serta keadaan menjadi kacau-bilau dan keamanan tidak lagi wujud.

Oleh itu, cubaan untuk menggulingkan seseorang pemimpin boleh membawa padah yang buruk serta keburukan yang nyata. Kecuali pada ketika umat Islam melihat kekufuran yang nyata, yang ada dalil daripada Allah tentang kekufuran mereka itu. Pada ketika itu haruslah menjatuhkan pemerintah tadi jika mereka mempunyai kekuatan. Tetapi jika mereka tidak mempunyai kekuatan, ataupun perbuatan mereka menjatuhkan pemerintah tadi boleh membawa kepada kerosakan yang lebih besar, maka tidak harus bagi mereka menjatuhkannya demi menjaga maslahah umum, berdasarkan kaedah syarak yang disepakati iaitu: Tidak harus menjatuhkan kejahatan dengan sesuatu yang lebih buruk daripadanya, bahkan mesti menolak keburukan itu dengan sesuatu yang dapat menghapuskannya atau meringankannya. Adapun menolak keburukan dengan keburukan yang lebih besar, maka hal ini tidak harus dengan ijmak (kesepakatan) para ulama.

Jika kumpulan yang melucutkan jawatan pemerintah yang melakukan kekufuran yang nyata itu mempunyai kekuatan untuk berbuat demikian dan menggantikannya dengan seorang pemerintah yang soleh dan baik tanpa membabitkan sebarang kemusnahan terhadap orang Islam, maka hal itu dibenarkan.

Tetapi jika perbuatan mereka itu mendatangkan kerosakan, menggugat keamanan, menzalimi orang ramai, serta lain-lain keburukan maka perbuatan itu tidak diharuskan. Bahkan mereka diwajibkan bersabar, dengar dan taat di dalam perkara yang makruf. Menasihati pemimpin serta menyeru mereka ke arah kebaikan. Mereka juga mesti berusaha meringankan atau mengurangkan kejahatan tersebut serta memperbanyakkan kebaikan.

Inilah jalan sebenar yang mesti diikuti untuk mendapatkan kemaslahatan bagi umat Islam. Ia juga dapat mengurangkan kejahatan dan menambah kebaikan selain daripada dapat menjaga keamanan dan menyelamatkan orang Islam daripada terjerumus ke dalam keburukan yang lebih besar. Kita pohon taufik dan inayah daripada Allah Ta'ala.

Soalan 2:

Kita telah mengetahui bahawa hakikat ini merupakan asas di dalam ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah. Tetapi yang menyedihkan ialah terdapatnya satu golongan daripada mereka yang mengganggap perkara ini sebagai pemikiran yang lemah serta melambangkan penghinaan kepada Islam, walaupun hal ini telah diperjelaskan. Hasil daripada itu mereka menyeru para pemuda supaya menggunakan kekerasan sebagai cara untuk membuat perubahan. Betulkah begitu?

Jawapan:

Pendapat seperti ini merupakan satu kesilapan serta menandakan kefahaman penuturnya cetek. Ini berlaku kerana mereka tidak memahami al-Sunnah serta tidak mengetahui sebagaimana sepatutnya. Mereka hanya dibuai semangat kosong serta ghairah untuk membuang kemungkaran walaupun mereka tersungkur sebagaimana golongan Khawarij dan Muktazilah yang terdahulu. Kecintaan serta keghairahan mereka untuk menegakkan kebenaran itu membawa mereka terjerumus ke dalam kebatilan sehingga mereka sanggup mengkufurkan orang Islam dengan sebab melakukan maksiat ataupun mereka kekal di dalam nereka kerana maksiat tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Muktazilah.

Golongan Khawarij mengkafirkan mereka yang melakukan maksiat dan menganggap mereka kekal di dalam neraka. Manakala golongan Muktazilah pula bersetuju dengan mereka pada kesudahan mereka, bahawa mereka kekal di dalam neraka. Tetapi mereka mengatakan bahawa di dunia mereka berada pada satu tingkat di antara dua tingkat. Semua itu merupakan kesesatan. Sebenarnya pendapat Ahli Sunnah lebih tepat, iaitu mereka yang melakukan maksiat tidak jatuh kufur selagi mana ia tidak menghalalkannya.

Apabila ia berzina, ia tidak kufur, begitu juga jika ia mencuri atau minum arak. Tetapi ia dianggap melakukan maksiat lemah imannya serta fasiq. Ia mesti dihukum dengan hukum hudud. Ia tidak jatuh kufur kecuali jika ia menghalalkan perbuatan maksiat tersebut dan berkata: "Perbuatan itu halal."

Apa yang dikatakan oleh golongan Khawarij itu merupakan batil, begitu juga dengan perbuatan mereka mengkafirkan manusia. Oleh itu, golongan seperti mereka inilah dikatakan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sebagai:

يَمْرُقُونَ مِنْ الإِسْلامِ ثًمَّ يَعُوْدُوْنَ فِيهِ

Maksudnya: "Mereka keluar daripada ajaran Islam dan tidak kembali kepadanya."

Mereka memerangi golongan Islam tetapi membiarkan penyembah berhala. Inilah keadaan golongan Khawarij dengan sebab sifat melampau, kejahilan serta kesesatan mereka. Tidak sepatutnya ajaran golongan Khawarij dan Muktazilah tadi manjadi ikutan.

Bahkan mereka wajib mengikuti landasan Ahli Sunnah Wal Jamaah yang berdasarkan dalil syarak iaitu nas al-Quran dan hadis sebagaimana ia diturunkan. Tidak sepatutnya mereka menderhakai pemerintah hanya dengan sebab kemaksiatan yang dilakukannya. Bahkan menjadi tugas mereka untuk menasihati pemerintah tersebut sama ada secara lisan ataupun bertulis dengan cara yang baik serta berhikmah dan dengan perdebatan yang bermanfaat sehingga mereka berjaya, sehinggalah keburukan tadi hilang atau berkurangan, dan timbulnya kebaikan sebagaimana firman Allah Ta'ala:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maksudnya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Surah Ali 'Imran: 159)

2. Fatwa Syeikh Muhammad Ibn Shalih Al-'Utsaimin

Soalan 1:

Terdapat kemusykilan dikalangan pemuda Islam tentang cara untuk berhadapan dengan kemungkaran yang bertebaran di banyak negara Islam. Adakah mereka patut menghadapinya dengan cara yang kasar sebagaimana yang dilakukan oleh segelintir pemuda, ataupun berhadapan dengannya dengan cara yang lain tetapi tidak mendatangkan hasil, terutamannya apabila negara tersebut tidak mengamalkan hukum dan syariat Allah seperti yang sepatutnya. Apakah nasihat tuan kepada mereka?

Jawapan:

Saya berpendapat bahawa mereka sepatutnya menerangkan Islam yang sebenarnya meliputi bidang aqidah, amalan ibadat serta akhlak. Sepatutnya mereka tidak menyerang golongan tersebut sehingga membuatkan mereka lari. Pada pendangan saya jika Islam dipersembahkan dengan cara yang sebaiknya, fitrah manusia tentu akan menerimanya, walaubagaimana sekalipun keadaan mereka kerana agama Islam itu sesuai dengan fitrah manusia yang suci. Sebaliknya perbuatan mencela sejarah silam nenek moyangnya, menjadikan mereka lari dan benci terhadap dakwah yang benar itu. Allah Ta'ala berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ

Maksudnya: "Janganlah kamu mencela mereka yang menyembah selain daripada Allah. Akibatnya mereka akan mencela Allah secara liar tanpa sebarang pengetahuan. Dan begitulah kami hiaskan bagi setiap umat itu amalan mereka." (Surah Al-An'aam: 108)

Oleh itu, aku berpendapat, bagi saudaraku para pendakwah dalam masyarakat sebarang begini supaya mengambil berat dalam menerangkan kebenaran dan kebatilan seperti asalnya tanpa mencemuh secara langsung amalan mereka.

Soalan 2:

Apakah hukumnya mengadakan mogok bekerja dengan tujuan untuk menjatuhkan sistem sekular yang sedang dilaksanakan dalam sesebuah negara Islam, dan apakah hukum memprotes seperti mana dalam hadis mengenai seorang yang disakiti oleh jirannya, lantas ia mengadu kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia mengeluarkan barangan rumahnya di halaman (sebagaimana tanda protes).

Jawapan:

Soalan ini sebenarnya membahayakan pemudi-pemudi islam kerana mogok bekerja tidak digariskan oleh syarak. Persoalan ini juga sebenarnya membawa kemudaratan yang lebih besar sungguhpun perkara yang dikemukakan agak penting. Tidak dinafikan bahawa perkara ini boleh memberi tekanan kepada kerajaan yang memerintah. Namun perkara yang penting di sini ialah menjatuhkan sistem sekular. Justeru, perlu disahkan terlebih dahulu bahawa sistem yang sedia terpakai itu ialah sistem sekular. Sekiranya telah disahkan perkara tersebut, hendaklah kita ketahui bahawa tidak harus bagi kita mengingkari pemerintah melainkan dengan syarat-syarat tertentu sepertimana yang telah dijelaskan oleh Nabi sallallahu 'alaihi wasallam:

Hadis daripada Ubadah bin Samit radiallahu 'anhu:

"Kami telah memberi baiah untuk taat setia kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dalam perkara yang kami suka ataupun yang kami tidak suka, kegembiraan kami ataupun kedudukan kami dan mendahului baginda daripada diri-diri kami dan bahawa kami tidak bantah arahan ahlinya, sabdanya: "Melainkan sekiranya engkau melihat kekufuran yang nyata berdasarkan kepada dalil-dalil daripada Allah."

- Syarat yang pertama: Hendaklah engkau mengetahui dengan yakin bahawa pemerintah telah melakukan kekufuran.

- Syarat yang kedua: Hendaklah pemerintah telah melakukan kekufuran, sekiranya dia telah melakukan kefasiqan maka tidak harus keluar daripada pemerintahannya.


- Syarat yang ketiga: Hendaklah kekufuran itu kekufuran yang nyata, tiada keraguan serta tidak boleh ditakwilkan.

- Syarat yang keempat: Hendaklah kekufuran itu dibuktikan dengan nas yang pasti, sama ada daripada al-Quran, sunnah atau ijmak.


- Syarat yang kelima: Hendaklah pihak yang menentang kerajaan mempunyai kekuatan yang secukupnya untuk menjatuhkan kerajaan yang sedia ada. Jika perkara yang sebaliknya berlaku, akan berlakulah kemudaratan yang lebih besar. Oleh itu, hendaklah mereka terus berdiam diri di bawah kerajaan yang memerintah di samping memperkukuhkan kekuatan untuk menegakkan agama Islam.

Demikianlah lima syarat yang mesti dipenuhi untuk menjatuhkan sistem sekular dalam sesebuah negara. Sekiranya mogok bekerja dilakukan selepas kelima-lima syarat di atas dipenuhi, maka tidak menjadi kesalahan untuk menjatuhkan kerajaan sekular yang memerintah. Sebaliknya, jika salah satu syarat yang telah disebutkan tadi tidak dipenuhi, maka tidak harus diadakan mogok bekerja dan tidak harus menjatuhkan sistem yang sedia terpakai.

3. Fatwa Syeikh Shalih Fauzan Al-Fauzan

Soalan 1:

Apa yang berlaku dalam sesetengah masyarakat ilmuwan Islam hari ini ialah tersebarnya pengaruh fahaman sesat puak Khawarij dan Muktazilah, ada antara mereka yang mengkafirkan pihak lain serta membenarkan kekerasan terhadap umat Islam, apa pendapat anda dalam hal ini?

Jawapan:

Ini suatu dasar yang salah kerana Islam melarang kita menggunakan kekerasan (keganasan) dalam berdakwah. Allah berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Maksudnya: "Serulah ke jalan Tuhan-Mu dengan bijaksana dan pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka dengan cara yang lebih baik." (Surah An-Nahl: 125)

Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimassalam apabila berdepan dengan Fir'aun:

فَقُولا لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maksudnya: "Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah lembut, semoga ia beringat atau takut." (Surah Taha: 44)

Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan dan ia tidak akan memberi manfaat, malah yang sebaliknya akan berlaku. Ia akan memberi kesan yang lebih buruk kepada umat Islam.

Dakwah perlu dilaksanakan dengan penuh kebijaksanaan, dengan cara yang terbaik serta dengan mendekati orang yang didakwah. Penggunaan kekerasan dan paksaan tidak terdapat dalam teknik penyampaian dakwah. Maka wajiblah umat Islam mengikut sunnah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan panduan al-Quran dalam menyampaikan dakwah.

Isu "takfir" (mengkafirkan orang lain) ada kaitannya dengan syarak. Ulama Ahli Sunnah wal Jamaah telah menjelaskan sebab-sebab yang boleh menjadikan seseorang itu kafir dengan bukti yang jelas.

Soalan 2:

Amat dikesali, di sana ada yang mengharuskan kederhakaan kepada sesebuah kerajaan tanpa sebab-sebab yang dibolehkan oleh syarak, apakah dasar yang harus kami ikuti apabila berurusan dengan pemerintah Islam dan pemerintah bukan Islam?

Jawapan:

Pemerintah Islam wajib ditaati dan dipetuhi. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Maksudnya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Surah an-Nisa': 59)

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam pula menyebut dalam hadisnya yang bermaksud:

“Aku berpesan kepada kamu agar bertakwa kepada Allah dan mentaati pemimpin kamu, sesungguhnya barangsiapa yang hidup selepas kamu akan melihat banyak perpecahan (perselisihan), maka hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa’ al-Rasyidin selepasku, berpegang teguhlah kamu dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham (jangan lepaskan ia).”

Hadis ini menepati ayat yang sebelumnya. Dalam hadis yang lain, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi dengan maksudnya:

“Barangsiapa yang mentaati pemerintah, sesungguhnya ia telah mentaati aku, barangsiapa yang mengingkari pemerintah, sesungguhnya ia telah mengingkari aku.”

Terdapat juga hadis-hadis lain yang menuntut kita agar mentaati pemerintah antaranya ialah:

“Dengar dan taatlah walaupun hartamu dirampas dan dipukul belakangmu.”

Pemerintah Islam wajib ditaati selagi mana ia mentaati perintah Allah. Sekiranya dia menyuruh maksiat, maka dia tidak perlu ditaati (maksiat tersebut).

Adapun berurusan dengan pemerintah yang bukan Islam berbeza mengikut keadaan-keadaan yang tertentu. Sekiranya orang Islam mempunyai kekuatan dan keupayaan untuk memeranginya, maka ia perlu ditumbangkan, kemudian pemerintah Islam perlu dilantik. Ini dianggap sebagai usaha jihad di jalan Allah.

Sebaliknya, jika orang Islam tidak mampu menumbangkannya, maka tidak harus menentangnya kerana ia akan lebih memudaratkan dan melemahkan umat Islam.

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berada di Makkah selama 13 tahun selepas pelantikannya sebagai Rasul dan Makkah pada waktu itu di bawah pemerintah orang kafir. Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersama-sama sahabat-sahabatnya tidak memberontak dan tidak memerangi orang kafir pada waktu itu. Peperangan tidak dibenarkan melainkan selepas hijrah Nabi ke Madinah, selepas terbentuknya daulah Islamiyyah dan jemaah Islam yang berupaya memerangi orang kafir. Inilah dasar Islam.

Orang Islam perlu berpegang dengan agama Islam dan mempertahankan akidah mereka jika mereka berada di bawah pemerintahan bukan Islam yang tidak mampu ditumpaskannya. Mereka tidak perlu membahayakan diri mereka dengan menentang orang kafir kerana ia akan melemahkan gerakan dakwah. Jika mereka telah mempunyai kekuatan untuk berjihad, mereka perlu berjuang di jalan Allah mengiku landasan syariah.

Soalan 3:

Terdapat juga dalam kalangan pelajar yang mengambil mudah dengan mengatakan seseorang Muslim itu murtad. Ada juga yang mengajak orang lain melaksanaan hukumuan hudud ke atas orang yang murtad apabila sultan tidak melaksanaankan hukuman hudud tersebut?

Jawapan:

Melaksanakan hukum hudud adalah sesuatu yang baik bagi pemerintahan Islam. Tetapi tidak semua orang boleh melaksanakannya kerana mungkin akan tercetus huru-hara, pemberontakan, fitnah dan perpecahan dalam masyarakat. Nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

تَعَافَوا الحُدُودَ فِيمَا بَيْنَكُمْ، فَإِذَا أُبْلِغَتْ الحُدُودُ السُّلْطَانَ، فَلَعَنَ اللهُ الشَّافِعَ وَالمُشَفّعَ

Maksudnya: "Maafkanlah kesalahan hudud di antara kamu, apabila telah sampai kes hudud kepada sultan, maka Allah akan melaknati penerima sogokan dan pemberi sogokan (orang yang cuba menggagalkan pelaksanaannya).”

Antara tugas-tugas pemerintah dalam Islam ialah melaksanakan hukuman hudud apabila telah sabit mengikuti syariat dalam mahkamah akan kesalahan orang yang melakukan jenayah seperti kesalahan murtad, mencuri dan sebagainya.

Kesimpulannya, pelaksanaan hudud adalah budi bicara pemerintahan, sekiranya tidak berlaku maka cukuplah dengan menyuruh melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran serta berdakwah ke jalan Allah dengan penuh hikmah, pengajaran yang baik dan berhujah dengan cara yang terbaik. Dalam hal ini, tidak harus bagi individu untuk melaksanakan hudud kerana ia akan menimbulkan huru-hara, fitnah dan pemberontakan. Ia juga akan lebih membawa kemusnahan daripada kebaikan. Antara kaedah-kaedah syarak ialah: “Kejahatan (kerosakan) lebih utama dihindarkan untuk mendapatkan kebaikan.”

Selesai nukilan fatwa-fatwa ulama.

*Fatwa-fatwa di atas di ambil dari buku “Sistem Politik Islam Menurut Pandangan Al-Quran, Al-Hadis dan Pendapat Ulama Salaf,” Karya Khalid Ali Muhammad Al-‘Anbariy, Terbitan Telaga Biru, Rujuk Lampiran; Fatwa Samahatus Syeikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baaz, no: 1 & 2. Fatwa Syeikh Muhammad Ibn Shalih Al-'Utsaimin, no: 1 & 7. Fatwa Syeikh Shalih Fauzan Al-Fauzan, no: 6, 8 & 11. Judul Asli: Fiqh As-Siyasah Asy-Syar’iyyah Fii Dhaw`i Al-Qur’an wa As-Sunnah wa Aqwal Salaf Al-Ummah.

Monday, July 20, 2009

Syarat Dan Kaedah Berdakwah Kepada Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah


Oleh: 'Abdullah bin 'Abdul Hamid Al-Atsari

Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahawasanya dakwah kepada aqidah salafus soleh tidak menjadi tercapai kecuali dengan tiga syarat:

Pertama: Salamah Al-Mu'taqid (Aqidah yang selamat)

Selamat aqidahnya bermaksud hendaklah kita beraqidah sebagaimana aqidah salaf tentang Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Nama-nama dan sifat-sifat serta semua yang berkaitan dengan masalah aqidah dan keimanan.

Kedua: Salamah Al-Manhaj (Manhaj yang selamat)

Yakni memahami Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus soleh. Selain itu, mengikuti perinsip dan kaedah yang telah ditetapkan ulama salaf.

Ketiga: Salamah Al-'Amal (Amalan yang selamat)

Seorang yang berdakwah mengajak ummat kepada Islam yang benar wajib beramal dengan benar iaitu beramal semata-mata ikhlas kerana Allah dan mengikuti (ittiba') contoh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan tidak mengadakan bid'ah, baik dalam keyakinan, perbuatan mahupun perkataan.

Sesungguhnya dakwah kepada jalan Allah Ta'ala merupakan amal yang paling mulia dan ibadah yang paling tinggi, serta merupakan kekhususan dari para utusan Allah 'alaihissalam dan tugas dari para wali (Allah) dan orang-orang soleh yang paling istimewa.

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Siapakah yang paling baik perbuatannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal soleh dan berkata: 'Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang berserah diri." (Al-Fussilat: 33)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kita tentang bagaimana sepatutnya kita menjalankan dakwah ini kepada manusia dan bagaimana metode menyampaikannya. Di dalam sejarah contoh kehidupan baginda sallallahu 'alaihi wasallam, banyak pelajaran yang dapat kita ambil bagi orang yang menghendakinya.

Dengan demikian, wajiblah bagi para pendakwah dalam menyerukan aqidah salaf agar mengikuti manhaj Nabi sallallahu 'alaihi wasallam dalam berdakwah. Tidak diragukan lagi bahawa di dalam manhaj baginda sallallahu 'alaihi wasallam terdapat keterangan dan penjelasan yang benar tentang uslub (metode) berdakwah kepada Allah sehingga mereka tidak memerlukan lagi metode-metode bid'ah yang diada-adakan oleh sebahagian manusia, yang menyelisihi manhaj dan contoh kehidupan baginda.

Oleh kerana itu, wajib bagi para pendakwah untuk meyeru ke jalan Allah Ta'ala seperti yang telah dilakukan generasi salafus soleh dengan memperhatikan perbezaan waktu dan tempat.

Bertolak dari pemahaman yang benar ini, saya berusaha untuk menyebutkan sebahagian kaedah dan landasan bagi para pendakwah dengan harapan semoga hal ini bermanfaat dalam pembaikan ummat yang kita idamkan:


Kaedah dan Landasan Para Pendakwah

1 – Ketahuilah bahawa dakwah kepada Allah Ta'ala merupakan jalan keselamatan, baik di dunia mahupun di akhirat. "Sungguh seseorang yang diberikan hidayah oleh Allah melalui jalan kamu itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah (pilihan)." (Muttafaqun 'Alaih). Pahala akan diperolah hanya dengan berdakwah, tidak berkaitan dengan respon (objek dakwah). Para pendakwah tidak dituntut untuk merealisasikan kemenangan agama Islam kerana hal itu adalah urusan Allah dan berada di tanganNya. Akan tetapi, pendakwah dituntut untuk mencurahkan kemampuannya dalam berdakwah. Bagi pendakwah, mempersiapkan diri merupakan syarat. Pertolongan Allah merupakan janji. Sementara dakwah merupakan salah satu bentuk jihad. Oleh kerana itu, terdapat titik pertemuan antara dakwah dan jihad dalam tujuan dan hasil.

2 – Menegaskan dan memperdalamkan manhaj salafus soleh yang tertuang dalam manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang terkenal dengan wasatiyah (pertengahan), syumuliyah (menyeluruh), i'tidal (moderat), serta jauh dari ifrat (berlebihan) dan tafrit (meremehkan). Landasannya adalah ilmu syar'i yang konsisten terhadap Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih. Landasan inilah yang memelihara dari ketergelinciran -dengan anugerah dari Allah- dan memberikan cahaya bagi orang yang bertekad bulat untuk berjalan di atas jalan para Nabi.

3 – Berupaya mewujudkan jamaah kaum muslimin (kesatuan umat Islam) dan menyatukan kalimat mereka di atas kebenaran, yang bersumber dari manhaj yang menyatakan: "Kalimah Tauhid merupakan asas untuk menyatukan barisan." Selain itu, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang boleh memecah-belah kelompok-kelompok Islam pada saat ini seperti tahazzub (membina parti-parti) yang tercela, yang mencerai-beraikan barisan kaum Muslimin, bahkan menjauhkan antara hati mereka. Pemahaman yang benar bagi setiap jamaah dakwah kepada Allah adalah satu jamaah dari kaum Muslimin tidak dapat disebut jamaah kaum Muslimin.

4 – Kecintaan dan ketaatan (wala') wajib untuk agama bukan untuk para tokoh kerana kebenaran akan kekal sedangkan para tokoh akan wafat. Kenalilah kebenaran itu, nescaya kamu akan mengenal penganutnya.

5 – Menyeru untuk saling tolong-menolong dan menyeru kepada segala sesuatu yang dapat mewujudkannya serta menjauhi dari perselisihan dan dari segala sesuatu yang dapat menyebabkan perselisihan tersebut. Hendaklah satu sama lain harus tolong-menolong dan nasihat-menasihati dalam hal yang kita perselisihkan selama hal tersebut dalam masalah khilafiyyah dengan tanpa saling membenci. Prinsip yang harus ditegakkan di antara kelompok-kelompok Islam adalah saling bekerjasama dan bersatu. Jika hal tersebut tidak dapat diwujudkan, hendaklah sentiasa tolong-menolong. Jika itu juga tidak dapat diwujudkan, hendaklah hidup damai dan berdampingan. Jika itu pun tidak, pilihan yang keempat adalah kebinasaan.

6 – Tidak fanatik kepada jamaah yang dianutinya. Bersikap menyambut apa sahaja upaya yang terpuji yang telah diberikan oleh orang lain, selama mana sesuai dengan syari'at dan jauh dari ifrat dan tafrit.

7 – Perselisihan dalam masalah furu' (cabang-cabang) syariat menuntut sikap lapang dada dan dialog, bukan permusuhan dan pembunuhan.

8 – Melakukan pemeriksaan diri, sentiasa membuat pembetulan, dan penilaian yang berkesinambungan.

9 – Mempelajari adab perselisihan pendapat dan mendalami dasar-dasar diskusi, serta menyatakan bahawa kedua-duanya penting dan perlu sehingga wajib dimiliki sarananya.

10 – Jauh dari sikap memvonis secara umum dan berhati-hati dalam masalah ini, serta jauh dari sikap tidak adil dalam menghukumi setiap peribadi. Termasuk keadilan adalah menghukumi berdasarkan makna-makna (yang tersirat), bukan dari yang tersurat.

11 – Membezakan antara tujuan dan sarana. Contohnya dakwah adalah tujuan, sedangkan pergerakan, jamaah, markas dan lain-lain merupakan sarana.

12 – Teguh dalam tujuan dan fleksibel dalam sarana berdakwah sesuai dengan yang diperbolehkan syari'at.

13 – Memperhatikan masalah prioriti dan menyusun segala sesuatu secara berurutan sesuai dengan kepentingannya. Jika ada suatu masalah sekunder, maka harus memperhatikan waktu, tempat dan kondisi yang tepat.

14 – Tukar-menukar pengalaman di antara pendakwah adalah hal yang penting, disamping itu dapat membangun bangunan berdasarkan pengalaman orang lain. Seorang pendakwah hendaklah jangan memulai dakwahnya dari kosong. Bukanlah dia orang pertama yang tampil berkhidmat kepada agama ini dan juga bukan orang yang terakhir. Sebab, sekali-kali tidak akan ada orang yang tidak perlu nasihat dan petunjuk, juga tidak akan ada orang yang memonopoli seluruh kebenaran atau sebaliknya.

15 – Menghormati para ulama ummat yang dikenal dengan ketekalannya terhadap As-Sunnah dan aqidah yang benar, mengambil ilmu darinya, menghormatinya, tidak bersikap sombong padanya, menjaga kehormatannya, tidak menduh mereka. Sebab, setiap ulama ada benar dan salahnya. Kesalahan dari ulama tersebut ditolak, tanpa mengurangi keutamaan dan kedudukannya, selama dia seorang mujtahid.

16 – Berbaik sangka kepada kaum Muslimin dan membawa perkataannya kepada pengertian yang terbaik serta menutup kecacatan mereka, tanpa meremehkan untuk memberikan penjelasan kepada mereka yang berkenaan.

17 – Jika kebaikan seseorang lebih banyak, janganlah disebut kejelekannya, kecuali ada maslahatnya. Jika kejelekannya lebih banyak, janganlah kebaikannya disebut, kerana takut menjadikan rancu perkaranya bagi orang awam.

18 – Menggunakan kata-kata yang syar’i kerana lebih tepat dan sesuai, serta menjauhi kata-kata asing dan pelik, seperti musyawarah (syura) bukan demokrasi.

19 – Sikap yang benar atas mazhab-mazhab fiqh ialah bahawasanya mazhab-mazhab tersebut merupakan kekayaan fiqh yang agung. Oleh sebab itu, wajib bagi kita mempelajarinya, mengambil manfaat darinya, dan tidak fanatik dan tidak pula menolaknya secara keseluruhan. Hendaklah kita menjauhi pendapat yang lemah dan mengambil hak dan benar menurut tuntutan al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus soleh.

20 – Menetapkan sikap yang benar terhadap dunia Barat dan peradabannya, iaitu dengan mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan hasil kajian mereka sesuai dengan kaedah-kaedah dan ketentuan-ketentuan agama kita yang agung ini.

21 – Mengakui pentingnya musyawarah dalam berdakwah dan kewajipan pendakwah mempelajari tentang fiqh musyawarah.

22 – Contoh teladan yang baik. Seorang pendakwah merupakan cermin dan contoh hidup dalam misi dakwahnya.

23 – Mengikuti metode hikmah dan nasihat yang baik serta menjadikan firman Allah berikut ini sebagai neraca dalam berdakwah dan hikmah untuk diikuti.

Maksudnya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik...” (An-Nahl: 125)

24 – Berhias diri dengan kesabaran kerana itu merupakan sifat dari para Nabi dan utusan Alla serta penguat hasil dalam dakwahnya.

25 – Jauh dari tasyaddud (menyukarkan) dan berhati –hati dari penyakit tasyaddud dan akibatnya yang negatif. Selain itu, berbuat kemudahan dan berlemah lembut dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh syariat.

26 – Seorang Muslim selalu mencari kebenaran. Keberanian untuk mengatakan kebenaran sangat diperlukan dalam berdakwah. Jika kamu lemah untuk mengatakan yang benar, janganlah mengatakan yang batil.

27 – Berhati-hat terhadap futur (patah semangat) dan hasilnya yang negatif, serta tidak lalai dalam mempelajari sebab dan penyelesaiannya.

28 – Waspada terhadap segala khabar angin dan tidak menyebarluaskannya, selain itu, waspa terhadap hal-hal negatif yang ditimbulkannya pada masyarakat Islam.

29 – Pengukur keistimewaan seseorang adalah takwa dan amal soleh, serta menjauhi segala fanatisme jahiliyyah, seperti fanatisme daerah, keluarga, kelompok, maupun jamaah.

30 – Manhaj yang utama dalam berdakwah adalah memulai dengan mengemukakan hakikat Islam dan manhajnya, bukan mendatangkan syubhat lalu membantahnya. Kemudian, memberikan kepada manusia neraca kebenaran, mengajak mereka pada asas-asas agama, dan berbicara menurut kemampuan akal fikiran mereka. Mengetahui celah untuk memasuki jiwa mereka merupakan pintu masuk untuk memberikan hidayah kepada mereka.

31 – Pendakwah-pendakwah dan pergerakan Islam hendaklah sentiasa menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala, mempersembahkan upaya kemanusiaan, meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahawa Allah lah yang membimbing dan mengarahkan perjalanan dakwah serta Dialah yang akan melimpahkan taufik pagi para da’i. Sesungguhnya agama dan segala urusan adalah milik Allah Ta’ala.

Demikian beberapa kaedah dan manfaat yang merupakan buah fikiran dari pengalaman kebanyakan para ulama dan pendakwah. Hendaklah kita meyakini bahawa seandainya para pendakwah mengetahui kaedah-kaedah ini adan mengamalkannya, pasti mereka akan mendapat kebaikan yang banyak dalam perjalanan dakwah.

Hendaklah semua pendakwah mengetahui bahawa tidak ada kebaikan bagi mereka dan tidak akan berhasil dalam dakwahnya kecuali dengan menjalinkan hubungan dengan Allah Ta’ala, bertawakkal kepadaNya dalam segala urusan, memohon taufikNya, niat yang ikhlas, bersih dari keinginan hawa nafsu dan menjadikan semua perkara hanya milik Allah Ta’ala.


*Dinukil serta disunting dari “Intisari ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” oleh ‘Abdullah bin Hamid al-Atsari, Keluaran Pustaka Imam Asy-Syafi’i, halaman 251-258. Judul aslinya “Al-Wajiz fii ‘Aqidatis Salafish Shaalih Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah”.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails