Saturday, September 20, 2008

Hukum Seputar Malam Lailatul Qodar

Penulis: Fadlilatu Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-


Soal 1: Malam Lailatul Qodar itu jatuh pada hari ke berapa?

Jawab: Di dalam Al-Qur’an tidak diterangkan pada malam ke berapa malam Lailatul Qodar itu jatuh, tetapi di dalam hadits diterangkan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari awal di bulan Ramadhan menginginkan malam Lailatul Qodar, kemudian beliau beri’tikaf pada 10 hari pertengahannya dan mengatakan (yang artinya):

“Sesungguhnya malam Lailatul Qodar itu jatuh pada 10 hari akhir di bulan Ramadhan”. Beliau melihatnya dan beliau sujud di waktu shubuh di tempat yang berair bercampur tanah, kemudian pada malam ke-21 di saat beliau i’tikaf, turunlah hujan maka mengalirlah air hujan tersebut pada atap masjid karena masjid Nabi shallallahu alaihi wa sallam terbuat dari anjang-anjang. Beliau menjalankan sholat subuh bersama para sahabatnya kemudian beliau sujud. Anas bin Malik berkata: ‘Aku melihat bekas air dan tanah dikeningnya, maka beliau sujud ditempat yang berair bercampur tanah.” (HR. Bukhori no.669 dan 2016, Muslim no.1167, dan 216 dari shohabat Abu Sa’id Al-Khudri).

Hadits di atas menunjukkan bahwa malam Lailatul-Qodar pada saat itu jatuh pada malam yang ke-21. Sedangkan para sahabat Rosululloh melihat dalam mimpi mereka bahwa malam Lailatul-Qodar jatuh pada malam ke 27. (HR. Bukhori no.2015, Muslim no.1165 dari shohabat Abdulloh bin ‘Umar ).

Yang shohih dari perbedaan para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul-Qodar pada 10 hari terakhir adalah berpindah-pindah pada setiap tahunnya, terkadang pada tahun ini jatuh pada malam yang ke 21, kemudian pada tahun berikutnya jatuh pada malam yang ke 29, 25 atau 24.

Adapun hikmah berpindah-pindahnya malam Lailatul-Qodar supaya orang-orang yang malas menjalankan ibadah, mereka bersemangat untuk menjalankan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Romadlon. Hikmah yang lainnya juga yaitu agar menambah amal shalih seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Syaikh Utsaimin)


Soal 2 : Apa alamat/tanda malam Lailatul-Qodar?

Jawab: Lailatul-Qodar mempunyai beberapa alamat/tanda, baik secara langsung (yaitu pada malamnya) maupun setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya).

Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya) di antaranya:

1) Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul-Qodar dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya.

2) Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu.

3) Thuma’ninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang yang lainnya.

4) Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul-Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya):

“Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Romadlon) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya).

Kemudian hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya)

“Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)

5. Terkadang Alloh memperlihatkan malam Lailatul-Qodar kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para shahabat Rosululloh .

6. Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul-Qodar lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.

Adapun alamat setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya) di antaranya: Matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan:

“Sesungguhnya Rosululloh mengkabarkan kepada kami: “Sesungguhnya Matahari terbit pada hari itu dalam keaadaan tidak tersebar sinarnya”. (HR. Muslim no.762, 2/828)

Adapun alamat yang menyebutkan bahwa tidak ada atau sedikit gonggongan anjing pada malam Lailatul-Qodar adalah tidak benar, karena terkadang dijumpai pada 10 malam terakhir di bulan Romadlon anjing dalam keadaan menyalak/menggonggong. (Syaikh Utsaimin)

(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Fataawa Lajnah ad Da’imah, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan Majmu’Fataawa Syaikh Shalih Fauzan)

Monday, September 8, 2008

Mengerjakan Solat Tarawih Menurut Sunnah Nabi

Mengerjakan Solat Tarawih Menurut Sunnah Nabi
Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkat. Padanya terdapat malam lailatulqadar iaitu satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Padanyalah diturunkan al-Qur’an yang dijadikan panduan bagi seluruh umat Islam. Firman Allah S.W.T: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) itu pada malam al-Qadar. Apakah cara yang membolehkan engkau mengetahui kebesaran lailatulqadar itu? Lailatulqadar ialah malam yang paling baik berbanding 1000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan izin TUHAN mereka membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikutnya). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar.” – Surah al-Qadr: 1-5.

Pada bulan Ramadan ini jugalah Allah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada seluruh hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Ganjaran pahala kurniaan-Nya untuk hamba-Nya yang beribadah pada bulan Ramadan juga berlipat kali ganda melebihi bulan-bulan yang lain. Inilah bulan di mana pintu syurga dibuka seluas-luasnya manakala pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Sabda Rasulullah s.a.w. : "Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu syurga akan dibuka." - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1898.

Selanjutnya baginda bersabda: "Apabila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka jahanam ditutup." - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1899.

Oleh itu, amat rugi sekiranya amalan ibadah yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini tidak diterima oleh Allah kerana tidak menepati kehendak-Nya. Untuk memastikan segala amal ibadah kita di terima oleh Allah, ia perlu memenuhi dua syarat utama, iaitu:

1. Amal ibadah hendaklah dikerjakan semata-mata ikhlas kerana Allah. Apa yang dimaksudkan dengan ikhlas ialah tidak bercampur dengan unsur syirik dan khurafat.

2. Amal ibadah itu juga hendaklah dikerjakan mengikuti (ittiba’) sunnah Nabi s.a.w yang sahih. Haram sama sekali mencampur-adukkan ibadah dengan perkara bid'ah.

Solat tarawih merupakan satu sunnah yang amat dituntut bagi seluruh umat Islam untuk mengerjakannya pada malam bulan Ramadan. Sabda baginda : "Sesiapa solat pada malam Ramadan dengan keimanan sebenar dan mengharapkan ganjaran (daripada Allah), diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." – Hadis riwayat Imam Muslim di dalam Sahihnya, no: 759.

Berikut adalah tatacara mengerjakan solat tarawih menurut sunnah Nabi s.a.w. :

1. Waktu untuk mengerjakan solat tarawih.

Solat tarawih adalah solat sunat yang dikerjakan pada waktu malam pada bulan Ramadan, iaitu selepas mengerjakan solat Isyak dan sebelum masuk waktu solat Subuh. Namun, waktu paling afdal untuk dilaksanakan solat tarawih adalah sepertiga malam yang terakhir, iaitu bermula dari pukul 3.00 pagi sehingga sebelum masuk waktu subuh. Sabda Rasulullah s.a.w: "Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika masih tinggal sepertiga malam yang akhir. Allah berfirman: Sesiapa yang berdoa kepada-Ku pasti Aku akan makbulkannya, sesiapa yang meminta kepada-Ku pasti Aku akan memberinya dan sesiapa yang memohon ampun kepada-Ku pasti Aku akan mengampunnya." - Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, no: 1145

Walau bagaimana pun, sekiranya dilakukan secara berjemaah di masjid, umat Islam diperintahkan mengikut perbuatan imam serta waktu yang telah ditetapkan oleh pihak masjid. Tetapi, ada baiknya juga sekiranya masjid-masjid di Malaysia mempelbagaikan sunnah Nabi
s.a.w berkaitan solat tarawih. Setidak-tidaknya sekali-sekala mengerjakan majlis solat tarawih pada sepertiga malam yang akhir. Solat sunat tarawih ini kebiasaannya digandingkan dengan solat sunat witir sebagai penutupnya.

2. Jumlah rakaat solat tarawih.

Cara mengerjakan qiyam Ramadan ini adalah sama dengan qiamullail. Ia boleh dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat dan ia tidak mempunyai batasan jumlah rakaat yang maksimum. Malah, ia juga boleh digabungkan dengan hanya satu rakaat solat sunat witir. Abdullah bin Umar r.a berkata: "Sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah! Bagaimanakah cara melakukan solat malam? Baginda bersabda: Dua rakaat dua rakaat. Apabila engkau bimbang (waktu solat Subuh akan masuk), laksanakan terus solat witir sebanyak satu rakaat." - Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, no: 1137.

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah r.h menyatakan di dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa, jilid 22, muka surat 272:

"Mengenai solat qiyam Ramadan (solat tarawih), Nabi s.a.w tidak pernah menetapkan jumlah rakaatnya. Namun, baginda sendiri tidak pernah mengerjakannya melebihi 11 atau 13 rakaat sama ada pada bulan Ramadan atau bulan lain. Baginda melakukan solat qiyam dengan memanjangkan rakaatnya. Apabila Umar r.a mengumpulkan orang ramai untuk melakukan solat tarawih secara berjemaah yang diimami oleh Ubai bin Ka’ab r.a, dia (Ubai) telah melaksanakannya bersama mereka sebanyak 20 rakaat kemudian diikuti solat witir tiga rakaat. Beliau melakukan begitu sambil meringankan bacaan al-Quran selari dengan kadar penambahan rakaat supaya ia lebih ringan (tidak terlalu panjang solatnya) berbanding solat satu rakaat yang dipanjangkan rakaatnya. Setelah itu sebahagian generasi salaf melaksanakan solat tarawih sebanyak 40 rakaat diikuti solat witir sebanyak tiga rakaat. Sebahagian yang lain melaksanakannya sebanyak 36 rakaat diiuti tiga rakaat witir. Semua ini memang telah berlaku. Oleh itu, sesiapa sahaja yang beribadah pada malam Ramadan dengan apa sahaja jumlah rakaat, dia diira telah berbuat kebaikan. Paling afdal, perbezaan jumlah rakaat dikira berdasarkan kepada keadaan orang-orang yang mengerjakan solat itu. Jika keadaan mereka memungkinkan dilaksanakan solat tarawih dengan lama, ketika itu lebih afdal melaksanakan solat tarawih dengan 10 rakaat diikuti tiga rakaat witir sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi s.a.w dan salafussoleh.

Tetapi, jika tidak mungkin melaksanakan sedemikian, solat tarawih yang dilakukan sebanyak 20 rakaat lebih afdal dan itulah yang dilakukan oleh majoriti umat Islam kerana yang demikian itu adalah dipertengahan antara sepuluh rakaat dan empat puluh rakaat. Manakala jika solat tarawih dilaksanakan sebanyak 40 rakaat atau lebih, terdapat perbezaan ulama mengenainya sama ada dibolehkan atau dimakruhkan. Hal ini ditegaskan oleh beberapa orang imam muktabar seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Sesiapa yang beranggapan bahawa solat qiyam Ramadan (solat tarawih) mempunyai ketetapan jumlah rakaatnya daripada Nabi s.a.w tanpa boleh ditambah atau dikurangi jumlahnya, sebenarnya dia telah membuat satu kesilapan."

Diharapkan kenyataan Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah r.h ini akan meredakan polemik yang sering berlaku di Malaysia tentang jumlah rakaat solat tarawih sama ada 8 rakaat atau 20 rakaat. Ternyata kedua-duanya adalah benar di sisi syarak. Namun begitu hendaklah ianya dilaksanakan dengan thumakninah, bacaan yang tartil dan tidak tergesa-gesa. Tindakan sesetengah masjid yang ingin mengejar 20 rakaat namun solat tarawih tersebut dikerjakan secara gopoh-gapah adalah tidak wajar. Ingatlah bahawa rasulullah s.a.w. pernah menegur seorang sahabat yang melakukan solat secara gopoh-gapah dan beginda menyuruhnya untuk mengulangi solat.

Daripada Abu Hurairah r.a, dia berkata: Bahawa Nabi s.a.w masuk masjid dan masuk pula seorang lelaki lalu melakukan solat. Kemudian dia datang dan memberi salam kepada Nabi s.a.w.. Nabi s.a.w. membalas salamnya lalu bersabda: “Kembalilah dan solatlah, kerana sesungguhnya engkau belum bersolat.” Maka dia pun solat sekali lagi. Kemudian dia datang lagi dan memberi salam kepada Nabi s.a.w., maka baginda bersabda: “Kembalilah dan solatlah, kerana sesungguhnya engkau belum bersolat (tiga kali).” Lelaki itu berkata: “Demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik dari itu, maka ajarkanlah aku.” Baginda s.a.w.bersabda: “Apabila engkau berdiri untuk solat maka takbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Kemudian rukuklah hingga engkau tenang (thumakninah) dalam rukuk, kemudian bangkitlah (iktidal) hingga engkau tegak (lurus) berdiri.Kemudian sujudlah hingga engkau tenang (thumakninah) dalam sujud, lalu bangkitlah hingga engkau tenang (thumakninah) dalam duduk (duduk antara dua sujud). Kemudian sujudlah hingga engkau tenang (thumakninah) dalam sujud. Lakukan demikian dalam semua solatmu.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, no. 793.

Hanya sahaja Rasulullah s.a.w. mengerjakan solat tarawih dan solat qiamullail sebanyak 11 atau 13 rakaat sebagaimana hadis-hadis dibawah.

Abu Salamah r.a pernah bertanya kepada Aisyah r.a tentang solat malam Rasulullah s.a.w di bulan Ramadan. Aisyah menjawab: "Rasulullah s.a.w tidak pernah menambah rakaat solatnya di bulan Ramadan dan atau bulan lain melebihi sebelas rakaat. Baginda solat empat rakaat, jangan engkau tanya betapa bagus dan panjangnya solat baginda. Kemudian, baginda solat empat rakaat, jangan engkau tanya betapa bagus dan panjangnya solat baginda. Kemudian, baginda solat tiga rakaat (witir)." - Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1147.

Hadis di atas ini menunjukkan bahawa solat tarawih ini juga boleh dikerjakan empat rakaat-empat rakaat. Ianya boleh dikerjakan sebagaimana tatacara solat fardhu yang empat rakaat iaitu dengan dua tahiyat dan boleh juga dikerjakan sebanyak empat rakaat sekaligus dengan hanya satu tahiyat sahaja. Sekiranya ingin dilaksanakan dengan hanya satu tahiyat maka setiap rakaat hendaklah dibaca surah-surah atau ayat-ayat dari al-Qur’an.

Aisyah r.a berkata:

"Biasanya Nabi s.a.w solat di malam hari sebanyak 13 rakaat termasuk witir dan dua rakaat solat sunat fajar (solat sunat sebelum fardu Subuh)." - Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1140.

3. Solat tarawih boleh dilaksanakan secara berjemaah atau bersendirian.

Pada zaman Rasulullah s.a.w., baginda pernah mengerjakan solat tarawih ini secara berjemaah bersama para sahabat baginda pada beberapa malam. Kemudian baginda meninggalkannya lalu solat tarawih tersebut didirikan secara bersendirian kerana takut ianya akan diwajibkan. Hal ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah r.a: Bahawasanya Nabi s.a.w. bersolat di masjid, maka bersolat pulalah bersama-samanya beberapa orang. Pada malam yang kedua baginda bersolat lagi, maka banyaklah orang-orang yang mengikuti solatnya. Kemudian orang ramai berkumpul di masjid pada malam yang ketiga atau yang keempat, tetapi Nabi s.a.w. bersabda: Aku telah melihat apa yang kamu lakukan semalam. Tidak ada yang menghalangi aku keluar kepada kamu kecuali kerana aku takut ia diwajibkan ke atas kamu. Kejadian itu berlaku pada bulan Ramadhan. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya no: 1129

Bersolat tarawih secara bersendirian ini kekal sehingga pada zaman ‘Umar lalu beliau mengumpulkan orang ramai untuk mengerjakan solat tarawih ini secara berjemaah. Daripada ‘Abdul Rahman bin ‘Abdul Qari yang berkata: Pada satu malam di bulan Ramadan aku keluar bersama ‘Umar al-Khaththab r.a ke masjid. Di dapati orang ramai berselerakan. Ada yang solat bersendirian, ada pula yang bersolat dan sekumpulan (datang) mengikutinya. ‘Umar berkata: “Jika aku himpunkan mereka pada seorang imam adalah lebih baik.” Kemudian beliau melaksanakannya maka dihimpunkan mereka dengan (diimamkan oleh) Ubai bin Ka’ab. Kemudian aku keluar pada malam lain, orang ramai bersolat dengan imam mereka (yakni Ubai bin Ka’ab). Berkata ‘Umar: “Sebaik-baik bidaah adalah perkara ini, sedangkan yang mereka tidur (solat pada akhir malam) lebih dari apa yang mereka bangun (awal malam).” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya no: 2010

Hadis-hadis di atas membuktikan Rasulullah s.a.w pernah melaksanakan solat tarawih secara berjemaah dan juga bersendirian. Oleh itu, kedua-duanya cara solat sama ada secara berjemaah atau sendirian adalah sunnah Rasulullah s.a.w. Namun demikian menerusi hadis di bawah, Rasulullah s.a.w menegaskan kelebihan mengerjakan solat tarawih secara berjemaah sehingga selesai umpama mendapat ganjaran solat sepanjang malam dan inilah yang sewajarnya cuba kita usahakan untuk mendapatnya pada bulan Ramadan yang penuh berkat ini. Abu Dzar al-Ghafiri r.a berkata: "Kami berpuasa bersama Rasulullah s.a.w pada bulan Ramadan. Baginda tidak mengerjakan solat (tarawih) bersama kami sehingga tinggal lagi tujuh malam terakhir (bulan Ramadan). Lalu (pada malam itu) baginda mengerjakan solat (tarawih) bersama kami sehingga sepertiga malam. Kemudian, baginda tidak keluar mengerjakan solat (tarawih) bersama kami pada malam yang keenam (sebelum akhir Ramadan). Kemudian, baginda mengerjakan solat (tarawih) bersama kami pada pada malam kelima (sebelum akhir Ramadan) sehingga seperdua malam. Aku (Abu Dzar) berkata: Ya Rasulullah! Alangkah baiknya jika kamu memberi keringanan kepada kami untuk mengerjakan solat pada sisa-sisa malam ini. Rasulullah s.a.w menjawab: Sesungguhnya sesiapa yang mengerjakan solat tarawih bersama imam sehingga selesai, Allah menulis (ganjaran) baginya umpama mengerjakan solat sepanjang malam." - Hadis riwayat al-Nasaai di dalam Sunannya, no: 1587.

4. Bacaan dalam solat tarawih

Rasulullah s.a.w. tidak menetapkan bacaan ayat-ayat atau surah-surah yang tertentu pada rakaat-rakaat yang tertentu mahupun pada malam-malam yang tertentu untuk solat tarawih ini. Dalam hal ini imam diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih surah-surah yang hendak dibaca sesuai dengan kemampuannya dan keadaan jemaah yang mengikutinya. Sekiranya para jemaah mempu serta berkeinginan kepada bacaan yang panjang maka hendaklah solat tarawih tersebut dipanjangkan bacaannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh generasi al-Salafussoleh. Namun demikian sekiranya solat tarawih tersebut dididirikan dengan bacaan yang panjang akan menyebabkan para jemaah lari dari solat jemaah maka hendaklah imam tersebut meringankan bacaannya.

5. Berzikir di antara solat-solat tarawih

Mereka yang mengerjakan solat tarawih ini akan berehat untuk menghilangkan penat diselang-selang solat tersebut. Dari tatacara inilah solat qiyam ramadhan mendapat gelaran tarawih. Para ulamak sepakat tentang disyari’atkan untuk istirehat setelah selesai mengerjakan empat rakaat. Amalan inilah yang telah diwarisi daripada generasi al-Salafussoleh dan ianya berkemungkinan didasari daripada perkataan ‘Aisyah r.a ketika menggambarkan tatacara solat tarawih Rasulullah s.a.w.: “Baginda solat empat rakaat, jangan engkau tanya betapa bagus dan panjangnya solat baginda. Kemudian, baginda solat empat rakaat, jangan engkau tanya betapa bagus dan panjangnya solat baginda. Kemudian, baginda solat tiga rakaat (witir)." - Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1147.

Tidak disyari’atkan ada bacaan zikir-zikir, selawat-selawat mahupun doa-doa yang tertentu semasa waktu istirehat ini. Namun demikan sewajarnya tempoh tersebut dipergunakan untuk membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, zikir-zikir, doa-doa dan selawat yang sabit daripada hadis-hadis Nabi secara bebas tanpa penetapan bacaan atau kaifiat yang tertentu. Hanya sahaja yang lebih menepati sunnah adalah zikir, doa atau selawat tersebut dilakukan secara sendirian dan dengan suara yang perlahan. Tatacara berzikir sebeginilah yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. sebagaimana firman-Nya:

"Sebut serta ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri disertai perasaan takut (melanggar perintahnya) di samping tidak menguatkan suara, iaitu di pada waktu pagi dan petang. Janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai." – Surah al-A'raaf:205.

Berdasarkan ayat di atas, dapatlah kita fahami bahawa Allah sendiri telah memerintahkan kita sebagai hamba-Nya agar berzikir kepada-Nya dengan suara yang perlahan atau untuk lebih spesifik hanya diri sendiri yang mendengar zikir tersebut.

Selanjutnya Allah S.W.T. berfirman: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (dengan mereka). Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila Dia berdoa kepada-Ku. Oleh itu, mereka hendaklah menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku) dan mereka hendaklah beriman kepada-KU supaya mereka menjadi baik serta betul." – Surah al-Baqarah: 186.

Mengenai sebab penurunan ayat ini, al-Qurtubi telah menyatakan di dalam kitabnya Tafsir al-Qurthubi, jilid 1, muka surat 219:

Daripada al-Sholah bin Hakim bin Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi, daripada ayahnya, daripada datuknya, bahawa ada seorang Arab Badwi berkata kepada Rasulullah s.a.w:

Wahai Rasulullah! Apakah Rabb kami berada dekat dengan kami sehingga memadai hanya kami bermunajat (berbisik) kepada-Nya atau Dia berada jauh sehingga kami perlu menyeru-Nya (dengan suara kuat)? Baginda hanya berdiam diri. Tidak berapa lama kemudian, Allah turunkan ayat di atas 'wa idza sa’alaka ‘ibadi ‘anni fainni qorib'. Setelah itu, dinyatakan pula satu riwayat daripada Ahmad daripada Abu Musa al-Asya’ari r.a, dia telah berkata: Kami pernah bersama Nabi s.a.w dalam satu peperangan. Setiap kali kami melalui jalan mendaki atau menurun di suatu lembah, kami akan mengeraskan suara melaungkan takbir. Lalu baginda mendekati kami seraya bersabda: “Wahai sekalian manusia! Kasihanilah diri kamu semua kerana kamu tidak berdoa kepada sesuatu yang tuli dan bukan kepada sesuatu yang berada jauh. Sesungguhnya yang kamu seru itu lebih dekat berbanding seseorang antara kamu daripada tengkuk unta yang dinaikinya. Wahai Abdullah bin Qais, bagaimana jika aku ajarkan kepadamu satu kalimah daripada khazanah syurga, iaitu la haula wa la quwwata illa billah."

Demikianlah beberapa tatacara solat tarawih yangdiambil dari hadis-hadis Rasulullah. Semoga ianya dapat dijadikan pedoman bagi kita semua untuk melaksanakan solat tarawih ini sebagaimana yang telah diajarkan oleh baginda. Sesungguhnya mencontohi solat Rasulullah s.a.w. telah diwajibkan oleh baginda sendiri sebagaimana sabdanya: Solatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku bersolat. - Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, no. 631.

Apatah lagi mencontohi Rasulullah s.a.w. adalah bukti yang jelas yang menunjukkan kecintaan kita kepada Allah S.W.T. sebagaimana firman-Nya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. - ali ‘Imraan (3) : 31

Semoga dengan kesungguhan kita dalam mencontohi Rasulullah s.a.w kita akan termasuk dalam golongan yang mendapat rahmat Allah dan segala dosa kita diampunkan oleh-Nya.

Sumber: http://akob73.blogspot.com/

SIAPAKAH GOLONGAN YANG DIHALAU OLEH RASULULLAH?

Siapakah Golongan Yang Dihalau Oleh Rasulullah ?[1]


Penulis : Mohd Hairi Nonchi (Pendidikan Dengan Sains Sosial, UMS)


Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a di mana beliau berkata:


“Di suatu ketika Rasulullah s.a.w telah melalui sebuah kawasan perkuburan, seraya bersabda: “Salam sejahtera ke atas kamu, wahai perkampungan orang-orang beriman! Kita akan menyusul bersama kamu. Insya’Allah, aku berharap aku dapat melihat saudara-saudaraku”. Bertanya para sahabat yang hadir ketika itu: “Wahai Rasulullah! Bukankah kami ini saudara kamu?”.


Rasulullah s.a.w menjawab: “Tidak, kamu adalah sahabat-sahabat aku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang akan datang di kemudian hari (selepas kewafatanku) dan aku memimpin mereka ke telaga Hawdh” [2]. Para sahabat bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah kamu akan mengenali umat-umat yang akan datang selepas (kewafatan) kamu?”.


Rasulullah s.a.w menjawab: “Tidakkah seseorang yang memiliki seekor kuda yang berkaki putih di kalangan beberapa ekor kuda yang hitam dapat mengenali yang mana satukah kudanya?” (Jawab para sahabat) “Sudah tentu ya Rasulullah!”.


Rasulullah meneruskan: “Sesungguhnya mereka (umat Islam selepas kewafatan Rasulullah) akan datang di hari Kebangitan (Kiamat) dengan tanda-tanda keputihan di dahi, tangan dan kaki mereka disebabkan oleh kesan-kesan wudhu’, dan aku akan memimpin mereka ke arah telaga Hawdh.


Akan tetapi, ada di antara mereka yang akan dihalau daripada telaga Hawdh seperti unta-unta berkeliaran. Lalu aku memanggil-manggil akan mereka: “ Datanglah ke mari! (sebanyak 3 kali)”. Dan ketika itu seseorang (atau suatu suara) yang akan berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah menukar-nukar perkara (agama) selepas engkau”. Lalu aku akan berkata pula: “Jikalau begitu pergilah mereka, pergilah mereka, pergilah mereka!” [3]


Pengajaran Hadis :


Dalam hadis yang tertera di atas Rasulullah s.a.w telah mengkhabarkan kepada kita mengenai suasana yang bakal berlaku pada hari Kiamat di mana pada hari itu umatnya akan terbahagi kepada dua golongan, yang pertama adalah mereka yang berjaya mendatangi telaga al-Hawh, manakala yang kedua adalah mereka yang tercicir daripada memperolehi nikmat tersebut. Risalah ringkas ini akan menumpukan perbincangan mengenai siapakah golongan kedua yang malang itu.


Jika diperhatikan dalam matan (teks) hadis tersebut, Rasulullah s.a.w ada menyebut : “ …tanda-tanda keputihan di dahi, tangan dan kaki mereka disebabkan oleh kesan-kesan wudhu’...”.


Kenyataan baginda s.a.w ini mengisyaratkan kepada kita bahawa mereka semua adalah kelompok umatnya yang terdiri daripada golongan ahli ibadah. Namun, seperkara yang memeranjatkan kita ialah dalam hadis tersebut juga Rasulullah s.a.w ada menyebut: “ ada di antara mereka yang akan dihalau daripada telaga Hawdh seperti unta-unta berkeliaran..”.


Daripada pernyataan Rasulullah s.a.w ini maka dapat difahami bahawa dalam kalangan “orang-orang yang beribadah” itu akan ada sekelompok dari mereka yang akan dihalau dari telaga al-Hawdh Rasulullah s.a.w. Di sini timbul persoalan, siapakah mereka ? Mengapakah mereka dihalau oleh baginda s.a.w sedangkan mereka juga termasuk umat Nabi Muhammad s.a.w dan kalangan ahli ibadah?


Persoalan ini dapat dijawab dengan memerhatikan hujung matan (teks) hadis itu sendiri : “Mereka itu adalah orang-orang yang telah menukar-nukar perkara (agama) selepas engkau”. Dengan jawapan ini, maka tidak syak lagi bagi kita bahawa mereka adalah golongan ahli ibadah yang gemar melakukan amalan-amalan bid’ah di dalam agama.


Dengan penjelasan ini, ingin penulis mengambil kesempatan untuk memperingati kaum Muslimin dan Muslimat agar senantiasa memerhatikan amal ibadah yang kita kerjakan selama ini. Apakah ianya sesuatu yang bertsabitan dari al-Sunnah Rasulullah s.a.w yang sahih atau tidak. Hal ini perlu diberi perhatian oleh semua pihak memandangkan ianya melibatkan status kita di akhirat kelak, apakah kita termasuk dalam golongan yang selamat dan mendapat kemuliaan mendatangi telaga al-Hawdh itu atau sebaliknya.


Janganlah kerana kita termasuk dalam kategori “ahli ibadah” kita mengambil sikap sambil lewa, lantas cuai dan leka di dalam memerhatikan kesahihan amalan yang telah atau akan kita lakukan. Ingatlah, sekadar beribadah sahaja tidak akan mampu menyelamatkan kita dari menerima azab Allah. Dengan hanya beribadah sahaja tidak akan dapat menjanjikan pembelaan Rasulullah s.a.w di hadapan Mahkamah Allah kelak- jika ibadah yang dilakukan itu termasuk dalam amalan-amalan yang jauh dari petunjuk al-Sunnah Rasulullah.


Oleh itu, marilah kita bersama-sama berittiba’ (mengikuti) kepada Sunnah Rasulullah s.a.w yang sahih, dan menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan bid’ah dalam agama agar kita tidak termasuk dalam kelompok “yang akan dihalau daripada telaga Hawdh seperti unta-unta berkeliaran..” sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah s.a.w menerusi hadisnya di atas. Wallahu a’lam.





[1] Risalah ini adalah nukilan daripada risalah penulis yang bertajuk “Janganlah Mengubah Suai Ajaran Agama. Sila dapatkan risalah tersebut dengan menghubungi penulis melalui e-mail : mohd.hairi_nonchi@yahoo.com.my

[2] Telaga Hawdh adalah sebuah telaga minuman air yang disediakan oleh Allah s.w.t di hari akhirat kelak, khas untuk umat-umat Rasullullah s.a.w.

[3] Imam Malik, Al Muwwatha’, hadis no: 2.6-29. Dinukil daripada buku Zikir-zikir Selepas Solat Fardhu Sebagaimana Yang Diajarkan & Dilakukan Oleh Rasulullah s.a.w, Hafiz Firdaus Abdullah, Syarikat Jahabersa, Johor, cetakan kedua, 2005, ms. 1-3.

Monday, September 1, 2008

PEMBATAL PUASA

Allah SWT telah menjelaskan beberapa perkara yang membatalkan puasa demikian juga Rasulullah s.a.w menjelaskan perkara-perkara yang membatalkan puasa. Perkara-perkara yang dinaskan oleh syarak sahaja yang boleh menjadi pembatl puasa. Perkara-perkara itu adalah:


1- Makan dan minum dengan sengaja.


Dalilnya firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 187 (maksudnya):

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, kerana itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, iaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.


Demikian juga sabda Nabi s.a.w. (maksudnya):

"Apabila dia lupa lalu dia makan dan minum maka teruskanlah puasanya keran dia telah diberi makan dan minum oleh Allah" - [al-Bukhari]


2- Jimak dengan sengaja. Ini berdasarksan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 187 yang telah disebutkan. Demikian juga ijmak ulama'.


3- Sengaja muntah berdasarkan hadis Nabi s.a.w:

"Sesiapa yang terpaksa muntah (bukan sengaja) maka tidak perlu qadha tetapi yang sengaja muntah maka qadhalah" - [Abu Daud, at-Tarmizi, Ahmad dll, Sahih].


4- Haidh dan Nifas

Wanita yang didatangi haidh dan nafas sewaktu berpuasa maka batal puasanya dengan ijmak. Berkata Saidatina Aisyah R.Ha: "Maka kami diperintahkan mengqadha puasa (disebabkan haidh) dan tidak solat" - [al-Jamaah].


5- Masuknya air ke dalam batin rongga hidung berdasarkan sabda Nabi s.a.w:

"dan berlebih-lebihanlah dalam memasukkan air ke hidung kecuali engkau berpuasa" - [Riwayat al-Khamsah].


Ini kerana hidung berkongsi saluran makanan maka memasukkan sesuatu ain ke dalam hidung maka samala dengan makan. Ini tidak boleh diqiaskan dengan telinga, qubul dan dubur. Memasukkan ain ke dalam telinga, qubul dan dubur tidak membatalkan puasa.


6- Mengambil makanan bukan melalui saluran. Iaitulah orang yang menyuntik makanan ke dalam urat badannya seperti menyuntik glukosa tanpa keperluan perubatan kerana puasa itu menghalang makan dan minum, maka mereka yang menyuntik jarum memasukkan makanan walaupun tidak melalui mulut dianggap telah makan.


Kewajipan mereka yang membatalkan puasa:


Diwajibkan mereka mengqadha puasa pada hari-hari luar Ramadhan selama bukan hari yang diharamkan kecuali jimak diwajibkan juga membayar kaffaraha dengan tertib berikut:

1- Membebaskan hamba, jika tidak mampu;

2- Berpuasa 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu;

3- Memberi makan 60 orang miskin, seorang secupak.


Diwajibkan kaffarah pada lelaki tidak pada perempuan.

Hadis-hadis Sahih Mengenai Fadhilat Di Bulan Ramadhan

Disediakan oleh : Mohd Hairi Nonchi

(Pendidikan Dengan Sains Sosial, UMS)


Rasulullah s.a.w bersabda :

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan

dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala daripada Allah, dosanya yang telah lalu telah diampuni (oleh Allah)”

(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman – no: 38)


Rasulullah s.a.w bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya,

bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi

Allah daripada aroma (haruman) minyak kasturi”

(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum – no: 1894)


Rasulullah s.a.w bersabda :

“Sesungguhnya di syurga terdapat pintu yang dinamakan al-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada hari Kiamat. Tidak ada seseorang pun yang akan masuk melalui pintu ini kecuali mereka .Dikatakan: Mana orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka semua berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu ini selain mereka. Apabila mereka semua telah masuk, pintu ini akan ditutup dan tidak ada seorang pun yang akan masuk melaluinya”

(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum – no: 1896)


Abu Umamah r.a berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Ya Rasulullah! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang membolehkan aku memasuki syurga dengan cara itu. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu hendaklah berpuasa kerana sesungguhnya tidak ada satu cara pun yang mampu menandinginya”

(Diriwayatkan oleh Ibn Hibban – no: 3494)


Sabda Rasulullah s.a.w :

“(Allah s.w.t berfirman) : Sesungguhnya dia (hamba) meninggalkan makan dan minum serta syahwatnya kerana-KU. Puasa (yang dia kerjakan adalah) kerana-KU. Puasa adalah untuk-KU. Sedangkan, AKU memberi balasan setiap kebaikan itu dengan sepuluh kali ganda sehingga 700 kali ganda kecuali ibadah puasa. Ini kerana, ia (puasa) adalah untuk-KU dan (sudah tentu) AKU sendiri yang akan memberi balasannya”

(Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’, Kitab al-Shiyam – no: 603)


Sabda Rasulullah s.a.w :

“ Setiap amal kebaikan anak Bani Adam pahalanya (dicatat oleh malaikat) kecuali puasa. Sesungguhnya ia adalah untuk-KU dan AKUlah yang memberi pahala puasanya”

(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Libas – no: 5927)


Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani r.h berkata mengenai hadis di atas:

Ibadah puasa ini dianggap sebagai ibadah khusus untuk Allah kerana ia bebas daripada unsur riak. Ini kerana, perlaksanaannya tidak dapat dilihat oleh mata kasar manusia. Orang yang sedang berpuasa dan orang yang tidak berpuasa sama sahaja dari segi luarannya. Berbeza dengan ibadah seperti solat, membaca al-Quran, berzikir atau bersedekah yang mana perlaksanaannya dapat dilihat secara terbuka dan membuka ruang timbulnya perasaan riak. Oleh itu al-Imam al-Qurtubi r.h berkata: Disebabkan semua amal perbuatan yang ada ini dapat dimasuki unsur riak, sedangkan puasa itu hanya dilakukan semata-mata kerana Allah, tidak hairanlah Allah menisbbahkan puasa itu kepada diri-Nya”

(Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Baari, jilid 11, halaman 20)



Sebar-sebarkanlah risalah ini. Rasulullah s.a.w bersabda

“Sesiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan

memperoleh pahala (sama) seperti pelakunya ”

(Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmizi, Ibn Hibban, al-Baihaqi

dan at-Thabrani daripada Ibnu Mas’ud al-Badri r.a)

Hadis-Hadis Lemah & Palsu Berkaitan Dengan Bulan Ramadhan

Disediakan oleh : Mohd Hairi Nonchi (Pendidikan Dengan Sains Sosial)


“Seandainya hamba-hamba itu mengetahui apa yang ada pada bulan Ramadhan, nescaya umat berangan-angan agar Ramadhan setahun penuh. Sesungguhnya,
syurga dihiasi untuk Ramadhan dari hujung tahun ke tahun berikutnya”


Hadis ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 1886, Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at 2/188, Abu Ya’la dalam Musnadnya sebagaimana di dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (qaf 46/alif – ba/nashkah manuskrip) dari jalan Jarir bin Ayub a-Bajali dari Sya’bi dari Nafi’ bin Bardah dari Abu Mas’ud al-Ghifari. Hadis ini bertaraf maudhu’ (palsu). Kecacatannya berpangkal kepada Jarir bin Ayyub.Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisan al-Mizan 2/101 dan berkata: “Dia terkenal dengan kelemahannya”. Kemudian Ibnu Hajar menukil ucapan Abu Nu’aim mengenainya : “Dia pemalsu hadis”. Manakala dari al-Bukari, beliau berkata: “Dia meriwayatkan hadis mungkar” dan dari al-Nasaa’i: “Dia matrukul hadis (ditinggalkan hadisnya)”. Ibnu al-Jauzi menghukuminya sering memalsukan hadis.


“Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajipan dan solat malam sebagai sunnah. Barangsiapa bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalamnya dengan suatu kebaikan, maka dia seperti menunaikan suatu kewajipan pada bulan lain (selain ramadhan)... Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah kemerdekaan daripada neraka...”


Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, no: 1887, al-Muhamili dalam Amalinya, no: 293, al-Ashbahani dalam at-Targhib (qaf/178, ba/nashkah manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid bin Jad’an dari Sa’id bin al-Musayyib dari Salman. Sanad hadis ini dha’if, kerana kelemahan Ali bin Zaid. Ibnu Sa’ad berkata: “Dia dha’if, tidak dapat dijadikan hujah”. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Dia tidak kuat” Ibn Ma’in berkata: “Dia dha’if”. Ibnu Abi Haithamah berkata: “Dia dha’if dalam segala hal”. Ibnu Khuzaimah berkata: “Aku tidak berhujah dengannya kerana hafalannya buruk”. Demikian dalam Tahzibut Tahzib 7/322-323. Ibnu Hajar berkata dalam al-Athraf: “Tidak diperselisihkan tentang Alibin Zaid Ja’dan, dia adalah dha’if”. Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim) di dalam I’lalul Hadith 1/249: “Hadis ini mungkar”.


“Puasalah kalian, nescaya kalian sihat”


Ini adalah potongan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam al-Kamil 7/2521 dari jalan Nahsyal bin Said dari ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas r.a. Nahsyal adalah matruk (tertolak), dia berdusta dan ad-Dhahhak tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas r.a. Diriwayatkan pula oleh Thabarani dalam al-Ausath (1/qaf – 60/alif – Majmu’ al-Bahrain). Demikian juga Ibnu Bukhait dalam Juz’unya sebagaimana dalam Syarah al-Ihya’ 7/401 dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abu Daud dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abu Salih dari Abu Hurairah r.a. Sanad hadis ini adalah dha’if. Abu Bakar al-Athram berkata: “Aku mendengar Ahmad berkata: Mereka (orang-orang Syam) meriwayatkan beberapa hadis mungkar dari Zuhair”. Abu Hatim berkata: “Hafalan Zuhair buruk”. Hadisnya ketika di Syam lebih mungkar daripada hadisnya di Iraq kerana hafalannya buruk. Al-Ajali berkata: “Hadis-hadis yang dirwayatkan oleh penduduk Syam darinya tidak menakjubkan aku”. Demikian dalam Tahzib al-Kamal 9/417.


Tidur orang yang berpuasa adalah ibadat, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni


Hadith ini adalah hadis maudhu’ (palsu). Hadis ini diriwayatkan oleh al-imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Imam, kemudian dinukil oleh al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami’ al-Shaghir 1404/1981, 2/678. Menurut al-Imam al-Suyuti hadis di atas berdarjat dhaif. Namun kenyataannya ini telah menyelisih pandangan para ulama’ tahqiq yang lain yang lebih cenderung mengatakan bahawa ianya adalah hadis palsu. Tambahan pula, imam al-Suyuti yang menukilkan hadis tersebut daripada imam al-Baihaqi tidak menyebut akan komentar yang telah dilakukan oleh imam al-Baihaqi ke atas beberapa rawi yang terdapat dalam sanad tersebut yang antara lainnya menyebut bahawa di dalam sanad hadis tersebut terdapa beberapa rawi yang dianggap dha’if dan dha’if jiddan (tersangat dhaif), antaranya Ma’ruf bin Hisan (dha’if) dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’i (sangat dha’if).


Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahawa Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah pemalsu hadis. Yahya bin Ma’in mengatakan : “Sulaiman bin Amr al-Nakha’i dikenali sebagai pemalsu hadis” bahkan di dalam kesempatan lainnya beliau mengatakan: “Sulaiman bin Amr adalah manusia yang paling dusta di dunia ini”. Imam al-Bukhari mengatakan: “Sulaiman bin Amr adalah matruk (tertolak)”. Yazid bin Harun mengatakan: “Siapa pun tidak halal meriwayatkan hadis dari Sulaiman bin Amr”. Imam Ibnu Adiy menuturkan: “Para ulama’ sepakat bahawa Sulaiman bin Amr adalah seorang pemalsu hadis”. Ibnu Hibban mengatakan: “Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah orang Bagdhad, yang secara lahiriahnya, dia adalah seorang yang salih, tetapi ia memalsukan hadis”. Imam al-Hakim tidak meragukan lagi bahawa Sulaiman bin Amr adalah pemalsu hadis.


Orang yang melakukan solat solat tarawih pada malam pertama, akan diampuni segala dosanya sehingga jadilah dia bagaikan seorang anak yang baru keluar dari perut ibunya ... (sehinggalah) .... Pada malam ketiga puluh, Allah berfirman : Makanlah buah-buahan syurga, mandilah dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga al-Kautsar.....”


Hadis mengenai kelebihan bagi setiap malam solat Tarawih yang disandarkan kepada ‘Ali bin Abi Talib r.a. ini dinukilkan daripada kitab Durrat al-Nashihin (bab Kelebihan Puasa) susunan Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syaakir al-Khaubawiyyi pada sekitar kurun ke-13 Hirah. Para ulama’ Hadis dan ulama tahqiq (penganalisa hadis) mengatakan bahawa hadis ini adalah palsu. Kepalsuannya dapat dinilai menerusi beberapa sudut, antaranya:


· Hadis ini tidak dapat dikesan sumber periwayatannya. Ia tidak dibukukan oleh mana-mana imam hadis di zaman awal Islam seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lain-lain. Pengarangnya bukan sahaja gagal mengemukakan mana-mana tokoh yang meriwayatkan hadis ini, malah pengarangnya sendiri bukan seorang ahli hadis yang boleh dipertanggungjawabkan atas riwayat ini.


· Hadis ini tidak memiliki isnad (barisan para perawi yang mendengar dan meriwayat daripada siapa hadith tersebut diperolehinya – yakni dari Ali bin Abi Talib). Isnad dalam ilmu hadis sangat penting kerana ia adalah bagai tali yang mengikat antara sahabat yang mengkhabarkan suatu hadis dan tokoh terkemudian yang membukukannya secara formal. Berkata Ibnu Syihab az-Zuhri (w 124H): Isnad adalah sebahagian dari agama, jikalau tidak ada isnad maka sesiapa jua boleh berkata-kata (apa sahaja yang dikehendakinya lalu dianggapnya sebagai hadis)” (Dr Mustafa as-Siba’i – as-Sunnah wa Makanatuha, ms. 57). Setiap riwayat wajib mempunyai isnad, iaitu barisan perawi-perawi hadis yang membawa riwayat atau hadis tersebut. Dari isnad inilah dapat dianalisa status sesuatu riwayat/ hadis, sama ada ia sahih atau sebaliknya. Dan sememangnya salah satu daripada sifat hadis maudhu’ adalah ia tidak memiliki isnad seperti hadis di atas.


· Dalam teks hadis ini terkandung beberapa keanehan. Pertama, adalah beberapa pertanyaan para sahabat tentang keutamaan solat tarawih di malam-malam Ramadhan padahal sepertimana yang kita ketahui nama atau istilah “solat tarawih” tidak pernah dikenali di zaman Nabi s.a.w. Kedua adalah ganjaran yang diberikan di malam ke-4, di mana disebut bahawa seseorang itu akan mendapat pahala sebagaimana seorang yang membaca kitab Zabur, Taurat, Injil dan al-Quran. Hal ini dimungkiri kerana zaman Nabi, telah sedia dikenal pasti melalui nas-nas al-Qur’an dan ajaran baginda s.a.w bahawa kitab-kitab Zabur, Taurat dan Injil telah pun ditukar dan diubahsuai maksud kandungannya sehingga ia tidak lagi dikira sah sebagai kitab Allah. Maka bagaimanakah mungkin seseorang itu akan diberi ganjaran pahala apabila dia membaca kitab yang telah diselewengi kebenarannya?


· Hadis fadhilat ini menjanjikan ganjaran yang sangat berlebih-lebihan sehingga sukar untuk diterima kebenaran. Malah, sifat hadis sebeginilah yang dikenal pasti oleh para ahli sebagai memiliki ciri-ciri hadis maudhu’. Dr. Ajaj al-Khatib telah mengarisi hakikat ini di dalam bukunya Usul al-Hadith, ms. 519 : “Antara ciri matan (kandungan teks) hadis maudhu’ tersebut memuatkan balasan yang berlipat ganda atas suatu amal kecil atau (memberi) ancaman yang sangat berat atas tindakan yang tidak seberapa. Ini biasanya banyak terjadi dalam hadis-hadis yang diriwayatkan oleh tukang cerita”. Justeru, kita lihat hadis ini telah menjanjikan ganjaran yang sangat berganda atas suatu amalan sunat dan ganjaran tersebut melebihi apa-apa amalan lain yang lebih mulia, sekalipun yang wajib dan fardhu.


· Hadis ini juga memiliki sifat yang sangat sukar dicerna oleh akal seorang mukmin yang sihat lagi dewasa. Hadis ini seakan-akan sebagaimana yang telah dibayangi oleh al-Imam Ibnu Jawzi (w.597H) dalam bahagian muqaddimah dari kitabnya al-Maudhu’ath: Bila engkau melihat suatu hadis yang bertentangan dengan akal atau yang menyimpang dari nas yang sahih, atau yang bertentangan dengan prinsip, maka ketahuilah bahawa hadis itu maudhu’ (palsu)”


Demikianlah beberapa buah hadis mengenai ramadhan berdarjat dha’if dan maudhu’ yang sangat masyhur disebarkan dalam masyarakat kita. Mungkin ada pihak yang beranggapan bahawa sekalipun hadis-hadis ini terkenal dengan sifat-sifat maudhu’ atau kedha’ifannya, namun tidaklah menjadi kesalahan untuk menyebarkannya kepada orang awam dalam rangka mengajak mereka kepada kebaikan kerana ia mengandungi objektif-objektif yang baik dan terpuji. Sungguh, pendapat ini adalah tertolak dan disanggah kerana menyebar hadis-hadis yang sudah jelas akan kepalsuan dan kedhai’fannya adalah haram hukumnya mengikut ketentuan al-Qur’an dan al-Hadis yang sahih.


Ini adalah kerana, hadis palsu sebenarnya adalah suatu kedustaan, apatah lagi kedustaan tersebut disandarkan kepada agama yang hak miliknya hanya pada Allah s.w.t. Hanyalah Allah sahaja yang berhak menyatakan sesuatu mengenai urusan agama-Nya, melalui wahyu al-Qur’an dan melalui lisan Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad s.a.w. Oleh itu, orang yang sengaja menyebarkan hadis-hadis palsu dalam keadaan dia menyedari akan kepalsuannya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berdusta ke atas baginda s.a.w sebagaimana sabdanya:


“Barangsiapa yang menyebutkan sesuatu (hadis) dariku sedangkan aku tidak pernah menyebutnya, maka dia telah menempah tempat duduknya di dalam neraka” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari – no: 109)


“Sesiapa yang meriwayatkan satu hadis mengenaiku sedangkan dia (sudah) mengetahui kepalsuannya maka dia tergolong (dalam kalangan) orang-orang yang berdusta” (Diriwayatkan oleh Muslim 1/222 – no :1)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails